
Laura Collins meninggalkan Jason dengan kesal. Dia ingin sekali pergi dari mansion, jika tidak mengingat Jika Natali saat ini sedang menunggu di ruang tamu. Laura menarik nafas panjang, dan mengukir senyuman sebelum menemui Natali.
"Nyonya, makan malam sudah siap." Ujar Butler Bernard dengan hormat.
Laura menarik nafas panjang dan menghembuskannya lagi dengan kesal. Dia menatap butler Bernard dengan lekat, seakan menyelidiki dibalik sorot mata pria setengah baya yang sudah mengabdi pada keluarganya puluhan tahun. Laura yakin, banyak sekali rahasia yang tersimpan dari sorot mata itu.
"Katakan padaku, Bernard. Jason...., bagaimana dia saat ini?" Pertanyaan Laura ambigu. Dia tidak menjurus pada suatu pertanyaan yang khusus.
"Tuan muda selalu sehat. Dia makan dan tidur dengan teratur. Anda tidak perlu khawatir mengenai hal itu." Ujar butler Bernard dengan hormat.
"Aku mengkhawatirkan dirinya, Bernard. Sisa waktunya hanya sebentar Lagi untuk dinobatkan sebagai pewaris Madison. Jika saat waktu itu tiba, Jason tidak memiliki istri dengan kekuatan yang mendukung, maka semuanya akan sia-sia saja. Jika saja saat itu tiba dia sudah memiliki seorang anak, maka kedudukannya akan lebih kokoh." Desah Laura dengan cemas.
Keluarga Madison secara turun temurun, menganut paham bagaikan sebuah kerajaan. Menjadi pewaris harus diusia tiga puluh dua, Dan menduduki tahta diusia tiga puluh tiga tahun. Semua jenis bisnis yang menggunakan nama keluarga Madison corp, otomatis berada dibawah kendalinya, meskipun tuan besar masih bisa berkuasa dibalik layar.
Jika Jason gagal, maka Laurent yang harus berjuang, bertarung dengan semua sepupu lainnya, membuktikan mereka layak menjadi pewaris. Dan akan ada pertemouran berdarah perebutan kekuasaan. Sayangnya, Laurent tidak tertarik dengan bisnis yang dilakukan keluarga Madison. Anak gadisnya tidak memiliki ambisi menjadi penerus takhta
"Anda tidak perlu cemas nyonya. Tuan muda tahu apa yang dia lakukan, anda hanya perlu mendukung dan melindungi dirinya dari serangan lawan." Sahut Butler Bernard dengan tenang.
"Aku ibunya Bernard, meskipun aku tidak pernah memaafkan Darrel Madison, tapi aku tak akan membiarkan anakku gagal menjadi pewaris. Itu adalah hak lahir nya! Hanya saja aku takut jika dia..." Laura kembali mendesah.
"Ada yang anda khawatirkan nyonya?" Tanya butler Bernad dengan heran.
"Katakan padaku apakah Jason seorang Gay?"
Pertanyaan Laura membuat butler Bernard terhenyak. Bagaimana mungkin wanita dihadapannya ini berpikir seperti itu. Jika saya dia tahu, bagaimana posesifnya Jason pada Lia. Bagaimana menggilanya Jason ketika Lia tersesat dan bagaimana romantisnya pernyataan cinta Jason. Nyonya besar tidak akan berani berpikir seperti ini.
"Tuan muda bukan Gay, saya bisa menjamin hal itu. Anda hanya harus percaya padanya."
"Kau menyembunyikan sesuatu dari ku Bernard?" Tanya Laura menyelidik.
"Saya tidak berani nyonya. Saya hanya mengatakan hal yang perlu dikatakan saja. Saat ini sebaiknya nyonya besar membawa tamu anda makan malam dan membawa nya kembali. Malam semakin larut." Butler Bernard mengundurkan diri.
...💖💖💖...
Jason kembali ke dalam ruang rahasia dimana dia meninggalkan Lia. Gadis itu tampak duduk termenung di atas sofa. Kehadiran Jason hanya dia pandangi dengan sendu. Saat ini, dimata Jason, Lia tampak sangat rapuh.
Jason memandang Lia dengan rasa bersalah. Dia merengkuh tubuh gadis itu untuk bersandar dalam pelukannya. Jason mengusap tetesan air mata yang mengalir di pipi Lia. Hatinya merasa terenyuh melihat wajah Lia yang tampak sedih.
"Kenapa kau menangis?" Tanya Jason.
"Aku bingung kenapa aku harus berada disini, bersembunyi seperti ini, sangat memalukan." Lia terisak.
"Kenapa aku harus bersembunyi? Kenapa aku harus takut dan malu bertemu dengan ibu mu? Aku membuat diriku sendiri seakan begitu memalukan dan tidak pantas berada di sisi mu." Ujar Lia kesal sambil memandang Jason dengan air mata yang berlinang.
"Ini bukan salahmu, Lia ku sayang. Ini salahku yang terlalu memperhitungkan segala sesuatu, khawatir terhadap dirimu bahkan dengan segala kemungkinan terkecil. Ini salahku yang menikahi mu dengan cara seperti ini." Ujar Jason sambil membelai rambut Lia.
"Aku saat ini merasa bagaikan wanita simpanan. Seakan aku adalah aib bagi dunia mu." Lia menyandarkan kepalanya di dada Jason.
"Jangan pernah berpikir seperti itu. Aku hanya memiliki dirimu seorang. Hanya kau wanita yang pernah mengisi hati ku." Jason menciumi pucuk kepala Lia.
"Maafkan aku Jason, seharusnya aku dengan berani dan tanpa ragu, menemui orang tua mu. Seharusnya aku tidak kebingungan seperti tadi."
"Apakah saat ini kau mau aku mengejar ibu ku dan membawanya kehadapanmu?" Tanya Jason.
"Tidak. Tentu saja tidak untuk malam ini. Aku tidak akan menemuninya dengan perasaanku yang seperti ini."ujar Lia dengan lirih.
"Baiklah aku akan membawamu kepadanya, besuk sepulang dari kantor." Ujar Jason.
Lia menenangkan dirinya dengan bersandar pada Jason. Mata Lia memperhatikan isi dari ruangan tersebut. Ruangan tertutup yang cukup luas dengan dinding tebal.
Di dalam ruangan tersebut terdapat lemari berisi dokumen, yang Lia tidak mengerti dokumen apa saja. Yang pasti itu sangat penting, karena tersimpan ditempat ini. Ada banyak patung besar dan kecil, yang terbuat dari emas murni. Benda-benda antik peninggalan kuno, juga lukisan.
Berderet lukisan indah di sana, yang Lia yakini pasti lukisan asli dari pelukis ternama. Komposisi warna dan guratannya yang tampak hidup. Diantara semua lukisan indah itu ada dua lukisan yang menarik perhatian Lia.
Satu adalah lukisan diri Jason. Tampak sangat gagah dan hidup. Detail yang sangat luar biasa. Yang mengherankan adalah, kenapa lukisan diri itu harus disimpan di ruangan tersembunyi, bukan diletakan di ruang kerja misalnya.
Sedangkan yang satunya lagi, entah lukisan apa itu. Tampak seperti cat merah kecoklatan yang dilempar begitu saja diatas kanvas bercorak putih dengan detail bunga. Karya seni yang satu itu begitu menarik perhatian Lia. Bukan saja karena merasa heran kenapa tumpahan cat merah itu disebut karya seni, tetapi lebih herannya kenapa disimpan ditempat ini, bagaikan benda berharga.
Lia melepaskan diri dari pelukan Jason dan beranjak mendekati karya seni itu. Dia memperhatikan detail yang tak dimengertinya. Kaya seni itu tidak tampak menggambarkan sesuatu bentuk khusus, hanya bentuk abstrack.
Lukisan yang awalnya dia pikir kanvas, namun setelah diteliti dan diperhatikan, benda itu adalah kain. Dan dibawah kain tersebut ada tertulis tanggal. Beberapa bulan dari hari ini. Lia menoleh pada Jason sambil menunjuk pada karya seni itu.
"Ini apa? Tidak tampak seperti lukisan berharga."
Jason menghampiri Lia yang masih dengan heran memperhatikan karya seni itu.
"Tentu saja ini adalah karya seni yang paling berharga milikku. Seluruh kekayaan dunia pun tidak akan bisa membeli benda ini." Ujar Jason dengan lembut.
"Sebegitu berharganya kah?" Lia merasa heran, lukisan bukan lukisan. Karya seni abstrak yang tidak memiliki bentuk khusus.
Jason memeluk Lia dari belakang dan berbisik dengan lembut, sehingga pipi Lia merona merah dan jantungnya berdebar kencang. Matanya kembali memandang pada karya seni tersebut. Perkataan Jason mengantarkannya pada malam pertama mereka, dimana Lia dan Jason sama-sama melepaskan keoriginalan mereka.
"Karena karya seni itu adalah hasil cinta kita. Hal yang tak akan pernah tergantikan dengan apapun juga. Malam pertama kita."
Lia tidak dapat berkata apa-apa lagi. Dia tidak menyangka jika Jason bisa memikirkan hal seperti itu. Lia, bingung apakah dia harus tersanjung atau malu dengan tindakan suaminya. Hal seperti ini apakah sebuah tanda cinta yang luar biasa atau maniax.
Dan dihadapan karya seni itu, Jason melepaskan gaun yang di kenakan Lia. Dia menciumi leher Lia dengan lembut. Perlahan Ciuman itu mendarat di punnggung Lia, meninggalkan jejak merah dimana-mana.
Perlahan, Jason yang sudah ahli, melepaskan bra Lia dan meremas dada Lia yang semakin membesar. Lia terengah dengan setiap serangan yang dilakukan oleh Jason. Sebelum Pria itu membalikan tubuh Lia menghadap ke arahnya, gadis itu masih sempat memandang karya seni yang di pigura dengan sangat apik disana.
Denggan posisi berdiri, Jason memegangi pinggul Lia dan membawa rajawali kembali masuk dalam sarang segitiga emas. Mendorong dengan perlahan sambil tak hentinya menciumi bibir Lia. Saar Rajawali melesak sepenuhnya, dia berhenti sesaat hanya untuk mencium dada Lia. Tindakan itu membuat Lia menggila menanti sensasi yang akan membawanya melayang.
Gerakan lembut sang Rawali perkasa membuat kedua insan mengerang. Penyatuan mereka seakan memamerkan kehebatan di bawah karya seni. Jason memandang karya seni itu dengan senyum kepuasan.
...💖💖💖💖💖💖💖...
Hayoooo karya seni apa itu coba?
Kakak Ambu Ju, bagaimana... teka-teki nya sudah terjawab belum ?