
Keesokan harinya. Erick dan Laurent naik ke atas bukit menuju ke kastil keluarga Madison. Erick membawa rangkaian bunga tersebut sesuai permintaan Laurent, yang akan ia letakan menghiasi kamar mereka.
"Kau yakin, akan bertemu daddy?" tanya Laurent.
"Tentu saja. Aku bagaimanapun bersalah telah menikahi anak orang tanpa meminta izin." ujar Erick dengan tegas.
"Erick ... aku yang membuat masalah, kau yang menanggung akibatnya."
"Hahhaha ... tapi aku juga tidak menolak menanggung semua itu, bukan. Setidaknya hati kecilku mengatakan iya daripada otak ku yang keras kepala." Erick terkekeh.
Mereka tiba di atas bukit, di mana tuan besar dan kedua istrinya sudah ada di sana. Laurent tak menyangka jika ternyata Laura juga sudah kembali.
Mereka menyiapkan sarapan pagi di ruang terbuka, di sana sudah ada juga Jason dan Lia dan baby Leon.
Lia memandang Laurent dan Erick dengan bahagia. Senyuman bahagia untuk mereka tapi sikut kecilnya menyodok Jason dengan keras.
"Aow! Aaan sih?" tanya Jasin tak mengerti sambil mengusap lengannya.
"Itu ...," bibir Lia manyun ke arah Erick.
"Iya itu Erick dan Laurent. Kan kita sudah tahu mereka berduaan semalaman, kenapa? Kau mau juga berduaan di kapala seperti mereka?" tanya Jason menggoda.
"Idihhh ... bukan itu."
"Lalu apa,"
"Lihat Erick."
"Kenapa aku harus melihat dia?"
"Kau ini! Iiiihhh..." Lia mencubit suaminya.
"Aow! Kalau kau ganas begini karena Erick datang, aku usir saja dia ya?!" Jason sudah siap berdiri ke arah Erick.
"Duduk!" bisik Lia tegas, dia menarik lengan Jason.
"Katanya ...."
"Bungaaa, My Honey."
"Bunga?" Jason menoleh ke arah besarnya rangkaian bunga yang di berikan Erick kepada seorang pelayan.
"Kau tidak pernah memberiku bunga sebesar itu." ujar Lia manja.
"Untuk apa, kau juga tak akan menyukainya, kan?"
"Siapa bilang aku tak akan menyukainya, dasar pelit." ujar Lia dengan gemas.
"Majukan bibirmu terus, aatau aku hisap di depan mereka semua." ancam Jason.
"Pelit! Pelit! Gak romantis!"
Jason menarik tubuh Lia dengan gemas. Namun dengab cepat kedua tangan wanita itu sudah menahan dada dan bibir Jason.
"Panggung ini sementara untuk Erick. Kenapa kalian selalu mencari perhatian?" bisik Camila.
"Maaf, Nyonya Muda. Suamiku tidak tahan." Lia cekikikan melihat raut wajah kesal Jason.
"Ssttt. Dengar apa yang akan dikatakan oleh Erick dan tuan besar." Bisik Camila lagi.
Pandangan mereka semua tertuju pada Erick yang berdiri berdampingan dengan Laurent di hadapan tuan besar dan nyonya besar.
Nampak wajah kedua orang tua Laurent datar menatap ke arah mereka. Menyimpan semua prasangka apakah senang atau tidak senang dengan kehadiran Erick.
"Tuan dan Nyonya besar, maafkan saya yang sudah berani menikahi putri anda tanpa restu. Semua itu salah saya. Ini semua terjadi karena rasa cinta dan keinginan memiliki Laurent yang terlalu kuat, menghilangkan akal sehat saya." Erick menghela napas melihat tatapan tuan besar dan nyonya besar yang tampak datar.
"Saya tahu posisi saya tidak pantas untuk menikahi Laurent. Namun semua perasaan ini tulus dan sampai kapanpun, saya berjanji akan menjaga dan melindungi Laurent. Jika posisi saya yang hanya sebagai wakil CEO terlalu memalukan, maka saya bersedia mengundurkan diri untuk memulai karier sendiri, membangun sebuah perusahaan yang tidak akan memalukan Laurent."
Semua diam mendengar perkataan Erick. Mereka kagum dengan niatan baik dari Erick dan semangat yang menggebu.
"Jika aku menyuruhmu memilih antara Laurent dan orang tuamu?" Pertanyaan tuan besar membuyarkan keheningan.
"Maafkan saya. Keduanya merupakan bagian yang terpenting dalam hidup saya. Mommy dan adik saya adalah bagian hidup yang tak dapat saya hilangkan. Tanpa mereka tidak ada Erick seperti saat ini. Dan Laurent adalah masa depan saya, di mana masa muda akan kami lalui dengan penuh impian dan masa tua akan kami lalui dengan penuh kenangan. Laurent satu dan selamanya!" ucap Erick dengan tegas.
"Aku pikir kau tidak pantas Laurent .... tetapi melihat usaha dan tekad mu, apalagi anak manja itu tidak dapat tidur tanpa dirimu ... lakukan apapun yang kalian suka. Dengan syarat akan ada pernikahan ulang. Kalian anak-anak tidak tahu diri, menikah tanpa kehadiran orang tua. Semoga Daniel tidak berbuat hal seperti itu." gerutu tuan besar.
Erick tersenyum bahagia, begitu juga dengan Laurent. Wanita itu loncat dalam pelukan Erick yang memutar tubuhnya dengan bahagia.
"Sudah! Duduk kalian, jangan membuat pusing kita yang melihatnya," ujar Laura dengan senyuman.
Mereka semua menikmati sarapan pagi, hanya Daniel yang tidak ada di tempat itu. Namun suasana bahagia tampak menghiasi keluarga Madison yang mulai bersatu kembali.
Suara rengekan Leon, membuat tuan besar melambaikan tangan pada Adonia. Pelayan itu meletakan Leon di pangkuan kakeknya. Tuan besar memegang dot susu dan memperhatikan wajah cucunya yang sangat kuat menyedot susu.
"Kau harus setangguh singa untuk melindungi keluargamu Madison kecil." ucapnya lirih.
Seolah mengerti apa yang diucapkan kakeknya, Leon menepuk tangan Darrel dan menggenggam satu jari besar pria itu.
Tuan besar terkekeh. "Bagus! Bagus! Kau cerdas, sudah janji mengucapkan janji." Tuan besar menggoyangkan perlahan tangan Leon yang menggenggam jarinya