
Sudah dua minggu, Lia mengikuti Jason bekerja. Sudah satu minggu juga Lia berkompromi dengan sifat Jason yang mengekang dirinya. Jatah bicara tiga detik berhasil di negosiasi menjadi tiga menit. Bahkan untuk hal yang penting bisa lebih dari sepuluh menit, dengan menjaga jarak dan tanpa sentuhan.
Awalnya Jason tidak mengijinkan hal itu terjadi. Tapi, bukan Lia namanya kalau dia tidak cerdik. Lia berhasil membuat Jason menyerah dengan cara yang elegant. Setiap lima menit dia sengaja mengganggu Jason dengan pertanyaan sepele. Bayangkan setiap lima menit. Belum lagi ketika Jason sibuk membahas hal-hal penting dengan Erick.
Akhirnya Jason menyerah.
"Baiklah. Kali ini aku mengalah. Kau bisa berbicara dengan Pedro tidak lebih dari tiga menit. Tanpa tatapan mata, tanpa sentuhan!"
"Kalau aku tidak menatap dirinya, nanti dia pikir aku takut atau... malah dia mengira aku menyukainya." Protes Lia.
*Bagaimana bisa coba berbicara dengan menunduk terus*?
"Huh! Kau tahu maksudku. Aku tidak suka kau berada di dekat pria lain terlalu lama." Ujar Jason dengan kesal.
Wanita yang dia pilih dan membuat dirinya jatuh hati, bukanlah wanita lemah yang dengan mudahnya menuruti perkataan Jason. Hidup sudah menempa Lia menjadi orang yang tangguh. Dan rasa percaya diri yang dia miliki hanya untuk menutupi rasa sepi hidup tanpa orang tua dan terpisah dari kakaknya sejak kecil.
"Aku tahu. Tapi kau harus belajar percaya padaku." Rayu Lia sambil mengalungkan tangannya di leher Jason. Lia sekarang sudah semakin berani. Bukan saja bernegosiasi tetapi juga dalam hal merayu.
Seperti sabtu malam ini di Mansion. Setelah makan malam, Jason bergegas kembali ke ruang kerjanya di lantai atas. Dia mengatakan ada hal penting yang harus dia bahas dengan Erick.
Tanpa menunggu Lia, Jason menaiki tangga dengan tergesa. Tentu saja Lia kesal sekali. Halloooo ini hari sabtu dan sudah jam tujuh tiga puluh malam, bagaimana bisa coba mereka membahas masalah penting. Apakah tidak ada jedah istirahat untuk otak?
"Tuan muda memang seperti itu, nona. Lebih parah lagi sebelum anda muncul." Kata Butler Bernard yang tiba-tiba berdiri di samping Lia sambil melihat Jason naik ke lantai atas.
"Benarkah? Lalu apa kau tidak pernah menghentikannya?"
Butler Bernard angkat bahu.
"Untuk hal itu, mana mau dia mendengarkan saya. Bahkan orang tua dan adiknya pun tidak dapat mencegah dirinya, jika menyangkut pekerjaan." Sahut Butler Bernard.
"Apa dia tidak pernah pergi ke club?" Lia penasaran.
"Tentu sajaa pernah. Tuan muda adalah seorang pangeran impian. Dia mendapatkan banyak undangan pesta bangsawan. Bukan sembarang club." Sahut Butler Bernard dengan pongah.
"Tapi hampir setahun belakangan ini dia tidak pernah tampil di depan umum, itu semua karena anda, nona." Nada bicara butler Bernard sebenarnya terdengar seperti menyalahkan. Tetapi bagi Lia dia anggap itu suatu pujian.
"Good Night, butler Bernard." Lia meninggalkan butler Bernard. Dalam pikirannya saat ini terdapat rencana nakal.
Lia masuk ke dalam kamarnya, mengganti pakaian dengan lingerie. Sesaat dia menatap ke dalam cermin dan merasa malu dengan pantulan dirinya disana. Tetapi tidak salah kan jika dia melakukan ini pada suaminya?
Lia mengenakan kimono satin berwarna biru gelap dan dia berjalan masuk ke dalam ruang kerja Jason. Rambutnya tergerai halus di belakang punggung. Kimono panjang yang dia kenakan, tersibak sempurna seiring langkah kakinya yang perlahan.
Jason tampaknya tidak menyadari saat Lia membuka pintu dan masih berdiri mematung di depan daun pintu yang terbuka. Pria itu nampaknya masih fokus dengan percakapannya bersama Erick.
Sayang sekali Lia tidak bisa mendengar jawaban dari Erick, karena Jason mengenakan hadphone. Jason tampak sangat memperhatikan laporan Erick, hingga tidak menyadari kehadiran Erick.
Lia menutup pintu dengan keras. Bum! Berhasil! Jason mendengarkan dan mengalihkan pandangan kearah dirinya. Mata pria itu tampak terpaku menatap Lia, yang masih berdiri dengan senyuman tipis terukir di wajahnya.
Saat ini pandangan Jason terpana pada Lia. Gadis itu bagaikan seorang dewi dengan keanggunannya. Tingginya yang semampai dengan warna kulit putih bersih, begitu sempurna terbalut dalam gaun kimono berwarna biru gelap.
Pandangan Jason nanar melihat Lia yang melangkah dengan perlahan. Seiring dengan langkah kakinya yang perlahan, menyibakan belahan kimono, tampak paha putih dan halus. Dada Jason berdesir. Dia tidak lagi dapat fokus dengan perkataan Erick. Bahkan ketika Erick memanggilnya berkali-kali, mata Jason hanya terpana pada Lia yang mendekatinya.
Lia duduk di hadapan Jason dengan anggun. Dia tersenyum sambil menopang dagu pada kedua tangannya. Mata dan bibir Lia tersenyum pada Jason yang masih menatapnya seakan tanpa berkedip.
"Lanjutkan." Kata Lia dengan menggerakan tangannya.
Jason tersadar jika saat ini, Erick masih berbicara padanya. Dan tampak sekali wajah kesal Erick, karena Jason tidak memperhatikannya. Erick menangkap, jika Jason saat itu perhatiannya terganggu oada hal lain.
"Ulangi laporanmu." Perintah Jason sambil kembali menatao wajah Erick dari balik layar laptop.
Tepat disaat Jason mengalihkan perhatiannya pada Erick, di saat itu, lagi-lagi Lia melancarkan serangannya. Lia membenahi kursi yang dia duduki agar berposisi miring. Dia melepaskan alas kaki dan mengangkat kedua kakinya. Gadis itu meluruskan kedua kaki di atas meja Jason. Sementara tubuhnya bersandar dengan nyaman pada kursi dan rambut panjang terurainya melambai di belakang kursi. Dan matanya terpejam.
Jason menangkap gerakan Lia dari sudut matanya. Dan gerakan sederhana itu mampu membuat Jason lagi-lagi terpecahkan konsentrasi nya. Pandangan mata Jason langsung beralih dari laptop ke arah Lia.
Dada Jason berdesir. Kimono yang Lia gunakan sudah tidak terikat lagi di bagian pinggang. Lingerie satin berwarana senada itu tampak menempel sesuai lekuk tubuhnya. Kaki yang terangkat itu membuat lingerie yang dikenakan Lia tersingkap hingga batas pangkal paha.
Dan gadis itu memejamkan mata dengan kedua tangan yang tejuntai di bahu kursi. Rambut hitam itu tergerai dengan indah. Sementara dada Lia tampak naik turun dengan lembut seiring tarikan nafas nya yang perlahan.
Jason melepaskan headphone yang dia kenakan dengan pandangan yang masih tertuju pada Lia. Pria tampan itu menyukai apa yang dilakukan Lia. Menggodanya dengan elegant.
Tangan Jason membelai jemari kaki Lia, menelusuri nya perlahan menuju paha dan berhenti dengan meremas segitiga emas. Gerakan itu mampu membuat Lia menarik nafas panjang dan menggeliat. Jason menempelkan bibirnya ditelinga Lia tanpa melepaskan sentuhan lembut di segitga emas itu.
"Sejak kapan tamu bulananmu berhenti?" tanyanya dengan gusar.
Lia tersenyum, masih dengan mata terpejam.
"Sudah dua hari." sahut Lia dengan terengah.
"Berani-beraninya, kau menipuku selama dua hari ini. Jangan harap kau bisa berjalan esok hari!" Ancam Jason dengan suara lembut.
Jason mengangkat tubuh Lia dan membawanya kembali ke kamar utama. Sepanjang perjalanan, Jason tidak melepaskan bibir Lia dari pagutannya. Dan serangan tiada hentikan dilancarkan, ketika dia sudah membaringkan Lia di tempat tidur.
Sementara itu, Erick yang masih terhubung dengan laptop Jason, berteriak memanggil pria itu tanpa henti.
"Si'alan dirimu! Kau mengusikku ketika asyik dan sekarang semaumu meninggalkanku bicara sendiri!" Erick mematikan laptopnya dan segera kembali ke dalam kamar. Disana seorang wanita cantik bertubuh molek sudah menanti dirinya.