
Dengan langkah gontai, Erick melewati lorobg menuju ke apartement miliknya. Badannya terasa sangat penat, apalagi dengan keabsenan Jason karena sakit. Sesungguhnya Erick menanti Jason di kantor untuk menumpahkan segala kekesalan hatinya. Gara-gara jason dia menikahi Laurent.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Erick dengan heran dan gelisah. Dia baru saja pulang dari kantor. Setelah semalaman tidak bisa tidur, dia memutuskan untuk kembali ke apartementnya. Tentu saja apartemen Erick hanya serempat luas dari penthouse yang ditempati Laurent.
"Kau sudah makan?" tanya Laurent acuh.
Erick tidak menjawab. Dia melirik sushi yang di letakan oleh Laurent di meja bar apartementnya. Erick sangat menyukai sushi, tapi kali ini dia tidak berselera. Selain karena sudah makan sebelum memasuki apartementnya, dia enggan duduk berhadapan dengan Laurent saat ini.
"Mau?" Laurent menjepit sashimi dan mengarahkannya ke Erick.
Erick menggeleng. Pria itu masih berdiri terpaku menatap Laurent yang dengan acuh, menikmati mengunyah sushi dengan santai. Laurent bahkan tidak menjawab pertanyaan awal Erick.
"Bagaimana kau bisa masuk ke dalam apartemenku?" Pertanyaan kedua Erick yang dijawab dengan senyuman tipis dari Laurent. Gadis itu masih tidak ingin menjawab pertanyaan Erick. Dengan santai, Laurent menyantap sushi nya hingga hampir habis.
"Jika kau tidak mau, akan aku buang." tangan Laurent yang memegang sumpit, menunjukan pada sisa sushi dalam box.
"Terserah." sahut Erick acuh.
Pria itu meninggalkan Laurent sendiri. Dia masuk ke dalam kamar nya, melepaskan pakaian dan mulai mengguyur tubuh penatnya dengan air hangat. Siraman air hangat, mampu menbuat Erick merasa lebuh segar.
Hampir semalaman Erick tidak bisa tidur. Sepulang dari Penthouae, dia memutuskan untuk menginap diruang kantor. Erick enggan pulang ke apartement, karena dia takut menemukan Laurent disana. Ercik belum siap memutuskan apa yang harus dia lakukan dengan gadis itu.
Benar saja, sepulang dari kantor, Laurent sudah menunggu dirinya. Dia bahkan heran bagaimana gadis itu bisa mendapatkan akses masuk ke dalam apartement miliknya. Masih dengan penasaran, Erick keluar dari kamar mandi. Hanya dengan menggunakan bathrobe, pria itu membuka lemari pakaiannya.
Erick kemudian menggunakan boxer dan menggantungkan bathrobe nya kembali di kamar mandi. Erick hendak tidur ketika dengan terkejut, dia melihat Laurent sudah berbaring disana.
Gadis itu menggenakan gaun tidur putih yang transparant.
"Kenapa kau tidur disini?" tanya Erick dengan tercekat.
"Apa ada yang salah? Aku tidur dimana suamiku berada." Sahut Laurent sambil menopang kepalanya dengan satu tangan. Dengan posisi miring, belahan gaun tidur yang dikenakan oleh Laurent tampak menonjolkan aurat bagian dalam dengan sempurna.
Erick menelan ludah kasar. Meski bagaimanapun dia adalah seorang lelaki normal. Dia adalah pria yang dijuluki casanova, penakluk hati setiap wanita. Melihat tubuh wanita bukan lah hal baru, melakukan hal tabu adalah kesukaannya. Tetapi melihat laurent saat ini hatinya berdesir. Debaran yang tidak pernah dia rasakan dengan wanita lain, meskipun pikirannya menolak mengakui.
Pria itu dengan perasaan berkecamuk, masih dengan menggunakan boxer, meninggalkan Laurent. Erick keluar dari kamar utama menuju kamar lainnya. Dan ketika dia membuka kamar satunya lagi. Erick terkejut. Kamar tersebut telah dirombak sedemikian rupa menjadi closet pribadi Laurent.
Rak-rak yang berisi sepatu dan tas. Lemari kaca berisi aksesoris dan lemari kaca geser berisi gaun-gaun indah dan mahal. Erick benar-benar dibuat terkesima. Laurent sudah menandai apartement ini menjadi bagian dari miliknya.
Erick keluar dari kamar yang sudah menjadi closet pribadi ke kamar utama.
"Laurent ...." semua amarah dan pertanyaan menyangkut di leher Erick. Dia tidak mamplu mengerdipkan mata, ketika melihat betapa dengan sengaja Laurent sudah menyingkap gaun selututnya hingga pangkal paha. Gadis ini sungguh telah membuat dirinya berjuang setengah mati melawan hasrat.
"Tutup tubuhmu!" Erick melemparkan selimut menutupi tubuh Laurent yang terekspos.
"Besuk bawa kembali barang-barangmu."
"Aku tidak mau!"
"Kau seorang princesss, tidak pantas berada di apartement kecil ini." Ucap Erick.
"Diamanapun suamiku berada, disanalah tempatku." Sahut Lauren putis.
"Hahaha ... apa yang kau tahu tentang suami istri dan pernikahan. Bukannya orang tua mu pun tidak selalu tidur bersama." Ujar Erick mencemooh. Setelah mengeluarkan kalimat itu, Erick merasa bersalah. Tidak seharunya dia menyinggung perasaan Laurent.
"Itu sebabnta aku belajar banyak dari hubungan orang tua ku. Jika seorang istri harus selalu disamping suami." Laurent mengerling manja. Benar-benar pantang menyerah dan menekan semua harga diri, keangkuhan yang dia miliki.
Laurent bukannya menangis, marah dan menghentakan kaki. Atau mungkin menampar dan mencaci maki Erick, sebagaimana tipikal anak kaya yang manja. Gadis itu malah turun dari tempat tidur dan menghampiri Erick.
Tanpa sadar, Erick mundur. Semakin Laurent maju, semakin Erick beringsut mundur. Tatapan mata mereka saling mengunci satu sama lain. Geraka Laurent yang berjalan dengan lembut, membuat mangsa nya berdebar.
Satu langkah kaki Laurent setara dengan dua puluh kali debaran jantung Erick. Pria itu memegang dadanya, khawatir jika jantung, aset kehidupannya tiba-tiba meloncat keluar dari dalam dada. Deg ... deg ... deg .... Aroma wangi Laurent sampai dalam penciuma Erick ketika jarak mereka tinggal satu metre.
Laurent mengalungkan kedua tangannya ke leher Erick. Dia tersenyum sangat ... sangat cantik. Lauren berjinjit, hendak mencium bibir Erick yang semakin tinggi, karena pria itu juga berjinjit dan mengangkat wajahnya. Meskipun arah pandang mata, menunduk ke bawah.
Laurent tidak putus asa. Dengan sengaja dia menumpukan kedua kaki nya diatas kaki Erick, membuat pria itu tidak bisa menjinjit lagi. Dan Laurent dengan tersenyum tipis mencium sudut bibir Erick.
"Jangan tegang suamiku, kau tidak menggoda diriku." bisiknya lirih.
Tentu saja aku tidak menggodamu. Tapi kau yang menggodaku. Geram Erick dalam hati.
Erick mencengkeram tangan Laurent yang sudah merambat di dadanya. Gadis itu bukannya marah, dia malah terkekeh. Satu tangan Laurent yang masih bebas, menarik leher Erick dengan keras, sehingga pria itu menunduk. Dan dengan cepat, laurent mencium paksa bibir Erick dan menggigitnya dengan keras.
"Aow!" Erick menghisap bibirnya yang terasa asin darah.
Erick kemudian memagang kedua bahu Laurent dan mendorongnya mundur. Kemudian Erick beranjak meninggalkan Laurent yang masih berdiri sambil.menyeringai.
"Aku mau tidur. Jangan ganggu aku." Ujar Erick.
Dengan cepat, pria itu menuju ke tempat tidur. Dia memiringkan tubuhnya, memunggungi bagian kosong, tempat Laurent akan berbaring.
Laurent tersenyum lebar. Malam ini dia menang. Setidaknta Laurent mampu membuat Erick tidur di tempat tidur yang sama dengan dirinya.
Tanpa banyak bicara, Laueent berbaring di sisi Erick. Memandangi punggung bidang dan kekar. Ingin sekali dia memeluk Erick dari belakang dan menyandarkan kepala nya disana. Tapi, Laurent mencoba bersabar. Mencium aroma maskulin Erick dan melihat keberadaanya disisi Laurent, sudah cukup membahagiakan dirinya.
❤❤❤Vote & Point buat Lijas yaaa❤❤❤