
Lia dan Jason berjalan memasuki gedung perkantoran seperti biasa. Kedua insan tersebut tetap menjaga profesionalisme. Mereka berjalan biasa tanpa kemesraan, meskipun cincin pernikahan sudah menghiasi jemari mereka. Tidak ada satupun yang berani bertanya langsung, tentang cincin emas polos di jemari mereka.
Mereka bekerja seperti biasa, meskipun setiap makan siang, Lia selalu menemani Jason makan di dalam ruangan. Lia hanya sesekali saja turun ke ruang sekretaris umum, menemui teman-temannya. Mereka masih akrab seperti biasa.
Di jam istirahat, ketika Pedro dan Rahel sedang turun untuk makan siang. Natali datang dan tanpa malu masuk ke ruang kerja Jason. Memang tidak sepero biasanya Pedro dan Rahel istirahat bersamaan. Natali terkejut ketika melihat bagaimana Lia dan Jason, berada di ruang yang sama dan sedang asyik menikmati makan siang.
Saat Natali masuk, dia melihat bagaimana Lia menyuapi Jason dan mengelap noda saus di bibir Jason dengan tisyu. Natali merasa geram menyaksikan hal tersebut. Dia ingin sekali melabrak Lia, menarik rambut hitam itu hingga keluar ruangan. Seorang sekretaris yang tidak tahu malu!
"Ada perlu apa kau kemari?" tanya Jason heran. Apalagi wanita itu tidak tahu diri dengan langsung saja masuk ke dalam ruangan. Meskipun dia mengenal ibu Jason, bukan berarti dia bisa bertindak semaunya.
"Maafkan aku. Tidak ada orang di kuar, Jadi aku inisiatif masuk saja. Aku sudah mengetuk pintu, tapi tampaknya kalian sedang asyik, hingga tidak mendengarku." ujar Natali sambil melirik Lia yang kembali duduk di samping Jason.
"Katakan, apa maumu." ujar Jason dingin.
Natali berjalan dengan anggun. Dia duduk dihadapan mereka dan melihat box besar sushi. Makanan yang tidak begitu dia sukai. Dan meskipun, Natali sudah duduk di depan mereka, Lia masih saja dengan acuh menyuapi Jason dengan sushi dan menjilat sumpit bekas mulut Jason.
Natali merasa kesal dengan sikap percaya diri Lia. Bagi Natali yang belum mengetahui hubungan Jason dengan Lia, merasa jika gadis itu adalah sekretaris yang kurang ajar, tidak tahu diri, wanita tidak tahu malu.
Dengan jengah Natali bertanya, "Kalian berpacaran?"
"Menurutmu?" jawab Jason.
"Aku bisa memaklumi hubungan kalian. Dia sekretaris yang cantik dan setiap atasan pasti akan tergoda dengan dirinya. Meskipun kita menikah nanti, aku masih bisa memaklumi keberadaan dirinya. Kita bisa menjadi sahabat yang baik bukan?" ujar Natali dengan percaya diri, sambil menatap Lia yang terbelalak heran mendengar perkataannya.
Bagi Natali, dia harus menunjukan ketulusan pada Jason. Asalkan mereka menikah, maka bisnis kedua keluarga akan semakin kuat. Tidak perduli seberapa banyak wanita di samping pria nya. Yang penting dia adalah Ratu nya. Bahkan untuk itu, Jason pun tidak bisa menghalangi dirinya untuk mendekati pria lain.
Sementara Lia terbelalak mendengar perkataan Natali. Oke katakanlan benar jika Jason akan menikahi Natali. Tapi bagaimana mungkin, seorang istri akan membiarkan suaminya main serong begitu saja, seakan tidak mengganggu. Apakah itu bisa dinamakan cinta, membiarkan suaminya terbang kesana kemari mencari mangsa, asalkan ekonomi dicukupi. Dimana harga diri seorang istri?
Bukankah itu artinya dia hanyalah seorang istri yang menjual harga dirinya hanya demi uang dan kekuasaan. Bahkan tidak ada niatan untuk menjaga janji suci pernikahan. Dunia pernikahan bisnis ini sangat mengejutkan bagi Lia.
"Apa yang kamu katakan Natali. Untuk apa aku menikahi dirimu?" ujar Jason dengan tertawa mengejek.
"Bukankah kedua orang tua kita sudah setuju?"
"Mereka boleh setuju, tapi aku pun bisa menolak."
"Bagaimana mungkin. Bagaimana dengan investasi perusahaan?" Suara Natali agak meninggi.
"Memangnya kenapa dengan investasi? Aku tidak merasa menjanjikan apapun." jawab Jason acuh.
"Kau tidak bisa melakukan hal ini padaku, hanya demi sekretaris itu!" Natali memandang Lia dengan tajam.
"Apa mau mu Natali. Aku sudah menikahi nya, jauh sebelum kita bertemu." Jason menunjukan cincin pernikahan yang menghiasai jari manisnya dan Lia.
Natali terperanjat. Dia tidak dapat berkata apa-apa. Dia merasa di permalukan. Untuk apa nyonya Laura menyetujui perjodohan, jika Jason sudah menikah. Bukankah hal itu sangat menghina harga dirinya. Tangan wanita cantik itu meremas pinggiran rok yang dia kenakan. Dia resah, apakah hal ini adalah berita bagus atau buruk. Di satu sisi, Natali memiliki pria yang dia cintai. Di sisi lain, orang tua mendesak dirinya untuk menikahi Jason, agar garis keturunan dan kemuasaan semakin kuat.
"Nona Natali, anda baik-baik saja?" tanya Lia yang melihat wanita itu tegang.
Natali memaksakan senyuman di wajahnya. Meski bagaimanapun juga, dia sudah terlatih untuk bisa bersikap anggun, angkuh dan menyembunyikan emosi sebaik mungkin.
"Baiklah, aku akan mengalah ( saat ini ). Bawa istrimu untuk menghadiri pesta Club Bangsawan. Ajak istrimu juga. Hanya itu permintaanku karena sudah dipermalukan seperti ini. Biarkan semua orang tahu kau sudah memiliki pasangan. Agar tidak ada yang bergosip tentang diriku. Bisa bukan Kau melakukan hal itu, Jason?" Natali berbicara dengan lembut.
"Baiklah nona Natali, kami akan menganggap jika niatan anda adalah tulus. Acara itu... kami akan datang." jawab Lia dengan tenang.
Natali menatap Lia yang penuh percaya diri. Dia merasa sikap Lia yang tenang, menjadikan nilai jual sekretaris itu tampak tinggi. Hal yang Natali tidak dapat mengerti, selain tubuh, apa yang dimiliki oleh Lia.
"Baiklah. Aku akan menanti kehadiran kalian sabtu ini." Natali pergi meninggalkan mereka berdua.
Jason menarik Lia duduk diatas pangkuannya.
"Apa yang akan kau lakukan dengan gadis malang itu?" tanya Jason memandang Lia penuh selidik.
"Apa yang akan aku lakukan, katamu?" Lia bertanya balik sambil menaikan alisnya.
"Tentu saja, otak nakal mu itu pasti merencanakan sesuatu bukan?"
"Kenapa kau berpikir seperti itu?" Lia cemberut.
"Heran saja kau begitu mudah menyanggupi permintaan Natali."
"Apa salahnya? Lagipula aku tidak pernah datang ke acara seperti itu. Bolehkan aku ingin tahu? Apa ... kau malu membawaku ke acara tersebut?" tanya Lia balik.
Jason menyentil kening Lia gemas.
"Aow!"
"Bagaimana bisa aku malu, kucing nakal! Kalau malu kenapa juga aku menginginkan seorang anak dari perut kecil ini." Jason mengusap perut Lia sehingga dia kegelian
"Sudah hentikan. Aku hanya penasaran, apa yang akan dia lakukan padaku di acara itu." ujar Lia sambil membelai jambang Jason.
"Ckck..ckck... kucingku ternyata suka bermain api."
"Miauw... Miauw." Lia mengeong galak, menggoda Jason.
Jason tertawa. Dengan masih memangku Lia, Jason mulai mencium bibir gadis itu dengan mesra. Tangan Jason memeluk Lia, sedangkan kedua tangan Lia berganyut manja di leher suaminya. Mereka bercu#bu tanpa mengenal waktu. Bahkan tidak menyadaro saat Erick membuka pintu lebar dan terpaku di sana.
Sementara Pedro dan Rahel yang tanpa sengaja berada di belakang Erick, sangat terkejut. Rahel menutupi mulutnya, menahan teriaka terkejut. Erick dengan segera kembali menutup pintu. Pedro dan Rahel segera memburu Erick.
"Tuan Erick. Apakah benar yang kami lihat? Tuan Jason memiliki affair dengan sekretarisnya?" tanya Rahel bersemangat.
"Ini pertama kalinya kami melihat tuan Jason begitu mesra apalagi mencium seorang wanita." tambah Pedro.
Erick berbalik dan menatap mereka.
"Bukan urusan kalian."
"Tapi tuan... ayolahh kami penasaran." ujar Rahel memelas.
"Tanyakan saja pada mereka sendiri." Erick masuk kedalam ruangannya, membiarkan kedua sekretaris utama itu terpaku sendiri dan saling berpandangan.