48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Muncrat



"Sudah!!"


Lia menarik telinga Jason, saat pria itu masih bersaing dengan anaknya menikmati asupan gizi.


Masih dengan bibir yang menempel di dada dia menatap ke arah Lia.


"Aku baru tahu rasanya asi," ujarnya sambil melanjutkan aktifitas.


"Duh, biar baby juga kalau sudah besar lupa rasanya Asi. Udah ah sana. Gak enak ini."


Lia jelas saja meronta dan menolak kemauan Jason. Karena sensasi yang di alirkan si baby Leon dan baby Jason sangat jauh berbeda. Apalagi kondisinya yang masih sangat lemah.


"Benrar lagi." Kali ini tangan pria mesum itu mulai mengelus dada Lia. Tak lama kemudian dia melirik le arah putranya.


"Kok dia belum selesai. Bisa ya minum sambil tidur?" Jason memandang bibir mungil baby Leon yang masih menyedot sesekali dengam mata terpejam.


"Kalau sudah selesai juga nanti dia leoas sendiri."


"Kalau gitu aku juga sama ah."


"Memang kamu gak capek nungging terus begitu?"


"Makanya geser sedikit."


"Gak mau!" Lia melotot kesal. Kemudian dia dengan gemas menarik telinga Jason lebih keras.


"Aduh!" Jason akhirnya tanpa sadar meleoaskan asulan gizi, sumber kesehatan dan kecerdasannya.


Dan saat bersamaan, jalur asi yang sudah terbuka lancar, namun belum tersedot tuntas itu menyembur dengan deras mengenai wajah Jason.


"Eh... apa ini." Jason dengan gelagapan mendapatkan serangan semburan asi.


"Nah kah, gara-gara kamu sekarang, muncrat dah."


"Aduh ini gimana?" Jason menutupi ****** Lia, tapi air asi dengan deras masih mengalirr


"Cepat ambilkan handuk."


Dengan cepat papa muda itu berlari ke kamar mandi dan mengambil handuk. Dia berikan handuk itu pada Lia dan digunakan untuk menyumpal semburan asi.


"Kenapa bisa deras begitu ya?" tanya Jason heran.


"Iya karena belum dihabiskan."


"Kau sih! Memaksa aku melepaskannya," sahut Jason tanpa rasa bersalah.


Jasoj meraba wajah dan tangannya. Saat itu dia baru sadar jika tangan dan wajahnya terasa lengket sekali.


"Padahal rasanya tidak manis, kok bisa lengket ya?"


Lia mengacuhkan pertanyaan Jason.


"Honey? Kok bisa lengket?" tanya Jason penasaran.


"Gak tau." sahut Lia.


Lia memperhatikan wajah baby Leon. Untung saja semburan asi itu tidak mengenai wajah bayinya.


"Aku masih heran ...." Jason terus merancau sambil mencuci tangan dan wajahnya.


Setelah bersih dia kembali mendekati Lia dengan wajah yang segar. Dia melihat jika baby Leon sudah kenyang dam sedang di tepuk-tepuk punggungnya oleh Lia. Tak lama kemudian terdengar sendawanya yang keras.


Jason terkejut. Dia tidak menyangka seorang bertubuh mungil bisa mengeluarkan suara yang begitu keras seprti pria dewasa.


"Garang juga anakku," sahutnya terkekeh.


Lia kemudian meletakan baby Leon tidur lagi di sisinya dan membersihkan mulut anaknya dengan handuk basah yang sudah tersedia.


"Asinya masih muncrat?" tanya Jason yang tampak lucu mengucapkan kata-kata muncrat.


"Lihat ini sampai basah handuknya. Kan sia-sia asi ku," ujar Lia menggerutu.


Jason mendekatkan diri mencium aroma dari handuk tersebut.


"Agak amis juga ya baunya. Lengket dan amis. Kok bisa ya?" Lagi-lagi dia mengeluarkan perkataan yang membuat Lia jengkel.


"Kau iniiii! Sedari tadi protes saja. Punya mu juga kalau mucrat juga bau dan lengket, apa aku pernah protes?" tanya balik Lia dengan kesal.


Jason jadi terkejut mendengar Lia mengomel.


"Maaf sayang," ucapnya perlahan seperti anak kecil yang menyesal di marahi oleh ibunya.


"Tolong keluar dan panggilkan Adonia. Minta dia membawa pompa asi yang sudah diseterilkan."


"Untuk aoa pompa asi?" tanya Jason masih dengan wajah menggemaskan.


"Mau aku keluarkan isinya, khusus buat kamu minum biar tambah sehat dan cerdas!"


Seketika wajah Jason pucat. Dia keluar dari kamar dengan menggaruk kepalanya sambil bergumam, "Aku kan maunya langsung disumber yang empuk bukan di dalam dot."