
Lia masih bersandar di belakang pintu, menahan pintu khawatir dengan gebrakan Jason. Sesaat setelah teriakan Jason yang membahana dan sempat membuat bulu kuduk Lia berdiri, gadis itu tidak lagi mendengar apa-apa lagi.
Lia merapatkan telinga di pintu. Memastikan Jason sudah menyerah. Sepi. Hehehe... Lia terkekeh. Dia mengangkat tangannya bergantian. Sambil bersorak gembira.
"Yes! Menang! Yes! Yes! Lia di lawan!"
Gadis itu langsung meloncat ke atas kasur, telungkup dengan menghentak-hentakan kakinya, kemudian berbalik menatap langit kamar sambil tertawa.
"Aku kadalin kamu, hahhahaha... aligator dilawannn."
Tak lama kemudian Lia kembali mengelilingi kamar dan memperhatikan seisi ruangan. Lia masuk ke dalam closet, tampak banyak sekali pakaian Jason tertata dengan rapinya. Di sisi kanan, tampak masih kosong dan hanya terdapat beberapa pakaian wanita, juga lingerie.
"Baju siapa ini, kenapa sudah ada disini. Dasar mesum, kenapa dia menyimpan lingerie juga." Lia menyentuh baju tidur terbuat dari sutera yang sangat lembut.
"Sepertinya masih baru. Anggap saja ini punyaku, kan dia bilang aku nyonya di rumah ini."
Lia kemudian melangkah keluar kamar. Dia merasa bosan. Lia melangkah keluar menuju balcony. Jendela-jendela khas Prancis sangat besar dan tinggi, membuat Lia memilih duduk bersandar di sana.
Dia menyandar pada dinding jendela. Satu kakinya ditekuk dan satu kaki terjuntai kebawah. Satu tangan bersandar pada lutut kaki yang tertekuk dan satu tangan menyibakan anak rambut yang tertiup angin.
Gaun Lia tersibak, menampakan kaki dan paha yang jenjang dan mulus. Rambut Lia berkibar di terpa angin. Jendela Prancis itu, masih memiliki jarak dengan balcony yang luas. Jadi meskipun Lia duduk disana, tetaplah aman.
Pemandangan jam tiga sore, tampak sangat indah kelihatan dari posisi Lia duduk. Taman indah dengan bunga beraneka ragam. Lia menyukai pemandangan dan udara yang sejuk itu.
Tanpa Lia sadari sepasang mata melihatnya seraya menelan ludah dengan kasar. Jason sudah berada di dalam kamar, melalui pintu rahasia yang tidak akan pernah dia beritahu pada Lia. Jason terpaki menatao Lia. Jason tidak ingin mengusik pemandangan indah itu. Dia memandangi Lia dalam diam, tersembunyi.
Setelah beberapa saat, Lia merasa bosan. Dan terlebih lagi dia merasa sedikit lapar. Lia ingin keluar kamar, tapi khawatir jika Jason datang dan memaksa masuk. Dia ragu. Tapi pikiran warasnya masih berjalan, sampai berapa lama coba dia akan mengurung diri dikamar.
Lia turun dari jendela dan menuju ke pintu, dia buka perlahan dan mengintip. Aman. Tidak ada Jason. Lia melihat ada seorang pelayan lewat.
"Sst... "
Pelayan itu menoleh. Lia melambaikan tangannya. Pelayan tersebut menghampiri Lia.
"Bawakan aku cemilan sore, please. Tapi jangan bilang pada Jason, jika aku memintanya."
Pelayan itu diam sesaat dan memandang Lia dengan heran. Lia balik menatapnya heran juga. Kemudian dia menepuk jidatnya.
"Jangan bilang kamu tidak bisa bahasa Ingggris. Apalagi bahasa Indonesia. Ampunn!!! Aku gak bisa bahasa Prancis." Lia mengomel sendiri putus asa.
"Saya akan ambilkan snack untuk anda nona." tiba-tiba pelayan tersebut berbicara dengan bahasa yang di mengerti Lia, membuat gadis itu terperanjat.
"Dasar kamu, jawab saja pakai lama. Aku bisa stres jika kalian tidak bisa mengerti perkataanku." Ujar Lia menggerutu.
Hal yang Lia tidak tahu, ketika dia mengatakan pada pelayan untuk tidak mengatakan pada Jason, saat itu Jason ada dibelakang Lia. Hal itu lah yang membuat si pelayan menjadi bingung.
Setelah Jason memberikan tanda untuk diam, barulah pelayan tersebut menjawab permintaan Lia. Dan Jason kembali menghilang dengan langkah senyap.
Lia menutup pintu kamar dan berbaring di kasur. Dia merasa sangat bosan. Di dalam kamar ini tidak ada televisi. Dan dia tidak memiliki handphone. Entah dimana, Jason menyimpan tas, handphone dan identitas lainnya. Dirinya merasa bagaikan di culik dan dijauhkan dari dunia luar.
Hanya butuh waktu beberapa menit, hingga pelayan itu kembali membawakan Lia makanan. Lia menerimanya dengan senang dan meminta pelayan tersebut meletakan di meja dekat Jendela. Lia masih berdiri didepan pintu, menjaganya dari serangan Jason.
Kasihan Lia, kau sama sekali tidak tahu, jika Harimau itu sudah berada di salah satu sudut kamar dan mengintaimu, menantikan saat-saat kau merasa lengah. Dan hanya karena mengincar buruannya, dia membatalkan semua janji pekerjaan.
Lia menikmati berbagai ragam kue kecil dengan nikmat. Setelah merasa cukup, Lia memutuskan masuk ke ruang jacuzzi.
Lia melepaskan pakaian dan melilitkan handuk ditubuhnya.
Lia mulai menghidupkan mesin otomatis pada Jacuzi tersebut dan menanti hingga air nya menjadi hangat. Lia duduk dipinggiran Jacuzi dengan sebelah kaki terjuntai.
"Bukan begitu cara menghangatkan jacuzi."
Tiba-tiba Jason muncul dari belakang. Lia terkejut hingga terjungkal masuk kedalam jacuzzi. Dia buru-buru menyembulkan kepalanya yang baru saja terbenam. Mengusap wajahnya yang basah.
Lia melotot, dia terkejut.
Jason sudah berdiri di hadapannya dengan mengenakan boxer dan bertelanjang dada. Pria itu hanya tersenyum seraya melambaikan tangannya dan berkata, "Hai kucing kecil."
"Kenapa kau bisa masuk? Bukannya aku sudah menutup rapat pintu diluar?"
"Bagaimana mungkin aligator bisa di kalahkan oleh kadal," sahut Jason sinis.
...Heh? Itu kan kata-kata ku tadi....
"Tunggu. Kenapa kau masuk kedalam. Hei.. jangan masuk. Aku mau disini sendiri. Heiiii!!!! Keluarrr!!!"
Lia berteriak panik, ketika Jason dengan santai nya masuk ke dalam Jacuzi. Dan bersandar dengan tenang. Kaki panjang Jason mendesak badan Lia. Sehinga gadis itu terpaksa bergeser.
"Lebih hangat seperti ini kan." Kata Jason tanpa menghiraukan teriakan Lia.
"Lihat sini. Jika kau memencet tombol ini, maka gelombangnya akan berubah." Jason mengajarkan pada Lia bagaimana mengoperasikan Jacuzi tersebut.
Lia yang awalnya hendak keluar, tertarik dengan apa yang diajarkan oleh Jason.
"Lalu ini untuk apa?" Tanya Lia sambil memencet tombol lainnya.
Gadis ini tidak sadar jika dirinya sudah merapat pada tubuh Jason. Dia harus melalui tubuh Jason untuk dapat memencet tombol-tombol disana. Keingintahuan membuatnya teledor.
Suasana di ruang jacuzi otomatis berubah ketika Lia memencet tombol.
Saat ini dihadapannya merupakan pantai dengan ombak yang tampak nyata.
"Wah ini keren sekali." Lia tampak bersemangat.
Dia kembali memencet mengganti suasana. Memencet lagi. Mengganti suasana lagi. Tanpa sadar jika dada Jason berdegup kencang saat dada Lia menempel di lengan Jason.
"Ah.... ini saja. Pemandangan bawah laut."
Lia mengangkat tubuhnya dan menjauhkan diri dari Jason. Dia mempererat handuk yang hampir terlepas lagi. Lia menyandarkan diri dan meletakan kepala nya di sandaran jacuzi.
Lia tidak memperhatikan tubuh Jason yang kekar di hadapannya. Otot-otot yang sempurna yang akan selalu menghipnotis lawan jenis untuk memandanginya bahkan menyentuh dan mencumbu. Pikiran dan perhatian gadis itu hanya terarah pada layar di dinding.
"Aku masih heran kenapa kau bisa masuk. Tunjukan padaku pintu rahasianya." Rengek Lia tiba-tiba.
Jason yang sedari tadi berusaha mengontrol gejolak hatinya melihat Lia, menjadi tergagap mendengar pertanyaan Lia yang tiba-tiba.
Jason tidak pernah berduaan dengan wanita sedemikian intimnya. Selama ini memang Jason sudah terbiasa melihat pakaian wanita, yang mengumbarkan bagian tubuhnya itu. Tetapi berduaan seintim ini. Baru pertama kali.
"Ayoo katakan padaku." Rengek Lia lagi.
"Itu rahasiaku."
"Ayolahhh, katakan padaku."
"Jika kau memenuhi persyaratan ke tiga akan aku katakan." Sahut Jason datar seraya menjauhkan pandangannya dari Lia.
"Menyebalkan!" Sahut Lia jengkel.
Gadis itu membalikan tubuhnya. Saat ini posisi Lia adalah meletakan kepalanya di pinggiran Jacuzi dengan bersandar pada kedua tanggannya.
Jason memencet tombol dan memperlambat golakan air jacuzi. Dan saat itu lah, Jason tercekat. Matanya terkesiap. Nafasnya tertahan dan dadanya berdegup kencang.
Bagaimana tidak, handuk yang dikenakan Lia dengan panjang hanya sebatas pangkal paha, melambai-lambai di dalam air. Handuk tersebut terangkat dan turun perlahan mengikuti arus air.
Disana tampak dengan jelas paha putih mulus tanpa selulit. Kaki yang jenjang, bukan hanya tesibak setengah. Tapi paha itu terpampang sempurna dengan sebagian bokong indah mengintip. Ada lekukan indah dibawah bokong itu. Handuk yang dikenakan Lia terus melambai, seakan memanggil-manggil dan menggoda iman.
"Oh.... Rajawaliku," keluh Jason dengan tercekat ketika merasa ada yang bangkit dari peraduan.
...💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟...