
🙏 jangan lupa vote ya 🙏
...💗💗💗💗💗💗💗💗...
"Kan sudah aku bilang tidak perlu mampir di Mansion, kau tidak percaya. Lihat dirimu sekarang, seperti orang kesurupan."
Erick terus saja mengomel melihat Jason yang tidak memperhatikan penjelasannya, tentang keadaan yang terjadi di kilang minyak. Pria itu duduk termangu dengan pandangan kosong di dalam pesawat. Erick baru menyadari jika orang jatuh cinta itu ternyata merepotkan.
Penerbangan dengan pesawat pribadi yang awalnya dari London menuju Spanyol, di tengah penerbangan berubah arah ke Prancis. Hal tersebut sudah cukup Gila. Beruntung saja mereka mendapatkan izin untuk mendarat di bandara. Yang pusing tentu saja pilot, karena dia harus putar haluan tiba-tiba.
Semua itu hanya karena rindu juga penasaran akan pesta yang di lakukan oleh Lia. Akhirnya apa?! Erick yang tertawa paling keras, karena pesta itu bukanlah pesta bangsawan pada umumnya.
Erick sangat menghormati dan menyayangi Jason. Dia mengerti jika sahabat sekaligus tuannya ini sedang tergila-gila dengan seorang wanita. Tapi sikap yang ditunjukan oleh Jason, bagi Erick terlalu berlebihan. Membelokan arah pesawat hanya untuk bertemu Lia dan cemburu pada Gabriel, cheft di the Braserrie yang Lia pun hanya bertemu dengannya sekali saja.
Mereka sudah tiba di Spanyol saat ini dan tangan Jason sibuk berkutat di handphone. Hal itu membuat Erick gemas. Karena Jason bahkan tidak menghiraukan kata-kata nya. Perjalanan dari bandara ke kilang minyak dengan helikopter pun hanya dilalui dengan kesibukan Jason melamun akan Lia.
"Cih! Begitu lah jika pria tua berubah menjadi remaja." Gerutu Erick kesal.
"Tunggu sampilai kau benar-benar jatuh cinta." Sahut Jason tiba-tiba.
Erick terkejut dengan jawaban Jason. Dia tidak menyangka jika pria ini ternyata masih punya telinga untuk mendengarkan perkataannya. Erick terkekeh sumbang.
"Heh! Kau ternyata masih punya mulut untuk menjawabku. Aku sudah sering mengalami cinta dan tak pernah kekurangan dengan cinta seorang wanita." Ujar Erick sang casanova dengan angkuh.
"Tapi, kau tidak pernah merasa takut kehilangan akan seorang wanita bukan?" Sindir Jason tajam.
Erick diam. Jason tidak tahu jika Erick pernah kehilangan seorang wanita yang sangat dia cintai, cinta pertamanya semasa sma. Wanita itu meninggal karena leukimia. Dan semenjak itu Erick tidak pernah bisa jatuh Cinta dan berjanji jika cinta pertamanya tak akan berganti dengan cinta lainnya.
"Hanya orang bodoh yang menyerahkan hidupnya demi seorang wanita." Desis Erick dingin.
"Kau mau bilang aku bodoh?!" Suara Jason mulai terdengar marah.
Jason tidak memahami suara dingin dan kesan terluka dari suara Jason. Karena pikiran Jason saat ini hanya untuk Lia. Segala sesuatu yang menyerempet tentang gadis itu akan membuat Jason sensitif.
"Mana berani aku berkata seperti itu? Hehehehe aku masih sayang nyawaku." Jawab Erick dengan terkekeh kikuk.
Jason hanya meliriknya tajam. Sebagaimanapun dia merasa kesal dengan perkataan Erick, tapi Jason masih bisa membedakan antara pekerjaan dan asmara. Apalagi Erick adalah satu-satunya teman baik yang dia miliki.
Saat ini mereka sudah sampai diatas kilang minyak yang berada di tengah lautan dan dari atas helikopter yang terbang rendah, Jason sangat terkejut melihat sosok pria yang tidak ingin dia temui, sudah berdiri menyambut dirinya dengan senyum yang menyebalkan baginya.
Jason bahkan hanya melirik sekilas dan tidak menghiraukan pria itu. Dia segera turun dari helikopter dan mengacuhkan sosok itu. Kembali dengan wajah dinginnya Jason berjalan melalui pria itu.
"Hai Daniel." Sapa Erick.
"Dia tidak pernah berubah." Kata Daniel tanpa mengubris sapaan Erick. Kakak dan adik, meskipun berlainan ibu, ternyata masih memiliki sifat yang sama, suka mengacuhkan orang lain.
"Hemh." Gumam Erick.
Mereka sekarang sudah masuk kedalam ruangan. Disana terdapat beberapa orang penting yang bertanggung jawab. Jason menolak untuk beristirahat, dia ingin segera menyelesaikan masalah disana.
Pembahasan materi dan perihal sebab musabab tercecer nya minyak di lautan, mereka bahas dengan sangat mendetail. Sesekali terdengar bentakan dan amarah Jason. Orang-orang berbadan besar dan tampang kasar itu hanya menunduk mendengarkan Jason. Meskipun tampak kasar, mereka adalah orang yang bertanghung jawab akan kesalahan dan kecerobohan yang telah terjadi.
Setelah tiga jam berlalu. Rapat selesai. Jason bersandar dengan lelah di kursi. Tidak ada jas, kemeja dan sepatu bagus saat berada di tempat seperti ini. Yang mereka kenakan hanyalah kaos, celana panjang casual dan sepatu kets.
Daniel menghampiri Kakak tirinya, Jason dan bermaksud menyapa pria itu.
"Pergilah!" Ujar Jason sebelum Daniel sempat mendekat.
Namun, Daniel tidak menghiraukannya. Dia tetap melangkah maju dan duduk dihadapan Jason. Erick tidak jadi keluar dari ruangan itu. Dia tetap berdiri agak jauh, berjaga apabila situasi tiba-tiba berubah memanas. Erick selalu menjadi penengah di tengah mereka. Bahkan Erick pernah terkena pukulan Daniel karena melindungi Jason.
"Sampai kapan kau akan dingin dan tidak acuh padaku?" Tanya Daniel.
"Selamanya." Jawab Jason dingin.
"Kenapa kau harus menghukum diriku seperti itu? Apa salahku jika pria tua itu meniduri ibuku dan hamil diriku?" Tanya Daniel dengan datar.
"Tentu saja salah. Ibu mu tidak seharusnya merayu ayahku dan mempertahankan dirimu." Desis Daniel geram.
"Jadi maksudmu seharusnya aku digugurkan dan tidak ada di dunia ini? Hehehe... tapi pada akhirnya aku ada di dunia ini dan berstatus sebagai anak haram. Kau pikir bagaimana rasanya menjadi anak haram? Selalu dilecehkan dan tidak dianggap." Suara Daniel tiba-tiba meninggi.
"Itu urusanmu! Bukan urusanku!" Ujar Jason dingin.
"Bukankah kau tahu, pria tua itu pun pastinya memiliki anak lain yang berserakan diseluruh penjuru dunia."
"Aku tidak perduli. Yang aku tahu hanya kau anak haram yang dia akui." Sahut Jason lebih tajam.
"Heh! Jadi kau iri padaku?" Sahut Daniel sinis.
"Kenapa aku harus iri. Aku adalah anak sah dan kau hanyalah anak haram."
"Lalu kenapa kau harus takut dan membenciku?" Tanya Daniel putus asa.
"Aku tidak takut padamu. Tapi iya benar aku membencimu dan ibu mu, yang tidak tahu malu merayu pria beristri!" Jawab Jason dengan keras.
"Tapi ibuku juga korban. Dia bukan satu-satunya wanita dalam kehidupan Darrel Madison." Ujar Daniel lemah.
"Korban apa. Seberapa mewah hidup nya sekarang sehingga kau mengatakan jika dirinya hanya korban. Dan lihat apa yang kau lakukan disini!" Jason berdecak kesal.
"Daddy memerintahkan aku kemari, karena pesawat yang kau naiki putar haluan. Dia ingin aku disini menggantikanmu melihat keadaan. Tak kusangka kau jadi datang ketempat ini." Daniel menjelaskan situasi kedatangannya.
"Ckckck.. sudah bangga kau bisa menjadi oenggantiku. Sekarang kau bisa pergi aku sudah ada disini." Jason berbicara dengan sinis dan wajah tidak suka. Dia pergi meninggalkan Daniel tanpa menunggu Daniel menjawab perkataannya.
Jason sangat tidak menyukai keberadaan Daniel di dekatnya. Dia selalu merasa jika Daniel bisa menjadi ancaman terhadap kedudukannya. Perjuangan dan pengorbanan Jason sudah sangat berat untik sampai di posisi tangan kanan Darrel Madison dan mendapat pengakuan dari seluruh dunia. Dia tidak akan membiarkan anak haram itu mengkudeta posisinya.
Daniel termangu menatap kepergian Jason dengam pandangan yang sulit diartikan. Erock menghampirinya dan menepuk pundak pria tampan yang duduk termangu itu.
"Aku hanya ingin berteman dengannya Erick. Jika dia tidak mau mengakui aku sebagai seorang adik, setidaknya aku bisa menjadi seorang teman baginya. Dia adalah satu-satunya saudara yang aku kenal dan kakak yang aku rindukan. Kau tahu bukan, jika aku mengagguminya sedari kecil." Daniel mencurahkan isi hatinya pada Erick.
"Jika kau memang tulus dengan perkataanmu, suatu saat aku yakin Jason bisa memandang dirimu sebagai teman atau mungkin sebagai adik." Sahut Erick sambil menepuk pundak Daniel lagi dan meninggalkan pria itu sendiri.
*
Sementara itu di Mansion, pintu gerbang terbuka perlahan membiarkan sebuah mobil masuk melaluinya. Tampak seorang wanita muda cantik mengendarainya. Dan wanita itu keluar dari dalam mobil dengan anggun disambut dengan hormat oleh para pelayan.
Butler Bernard membawa masuk wanita cantik itu kedalam. Dan wanita itu duduk dengan sangat anggun dan elegant diruang keluarga, sementara Butler Bernard mengetuk pintu kamar Lia.
"Nona ada yang ingin bertemu dengan anda."
Dahi Lia berkerenyit mendengar perkataan butler Bernard.
...💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟💗🌟💗...
Jangan marahhhhhh..
Sengajaaaaa sama author digantungg kaya jemuran. Soalnya suka banget dengan emak-emak rebahan yang berkicau.
Hhaahhahahah... peace. ✌
Ini kondisi kilang minyak yaaa. Jadi itu sebabnya Erick ngomel waktu Jason mau membawa Lia.