48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Kode



Jason menatap Lia dengan kesal. Bagaimana bisa gadis ini memaksa nya memakan pizza yang dibawa tamu tak diundang. Jason menatap Lia dengan kesal, tapi gadis itu justru menggodanya dengan raut wajah jenaka sambil mengerdipkan mata. Kemudian yang terjadi adalah, Jason menarik tangan kiri Lia dan memakan pizza bekas gigitan Lia.


"Yeahhh, dikasih yang baru malah makan yang bekas. Lebih nikmat ya bekas gigitanku?" Ujar Lia menggoda.


Daniel tersenyum lebar melihat sepasang manusia yang sangat akrab dihadapannya.


Jason mengunyah pizza itu dan beberapa detik kemudian dia mengernyitkan dahi nya. Dia membalikan tutup Pizza dan memperhatikan tulisan di kotak pizza tersebut. Jason kemudian melirik sekilas kearah Daniel yang memperhatikan dirinya.


Lia memperhatikan tindakan mereka.


"Apakah pizza ini kesukaanmu, Daniel?" Tanya Lia sambil mengambil sepotong lagi, mengigitnya sedikit kemudian menyodorkan ke mulut Jason.


"Ini pizza kesukaan kami. Waktu kecil, kami sering sekali diam-diam meminta pada pengawal untuk membeli pizza dan memakannya bersama di mobil. Jika saja tuan besar tahu, kami memakan pizza merk ini, dia bisa marah besar." Daniel menceritakan sambil tertawa.


"Oh ya, bagaimana kalian menutup mulut pengawal dan supir itu?" Tanya Lia dengan antusias.


"Karena mereka menyukai pizza itu juga. Jadi kami makan bersama-sama. Hahhaha. Hingga kau tahu, butler Bernard pernah marah besar ketika kami tidak berselera makan malam." Cerita Daniel lagi.


"Ah... kalian pernah tinggal bersama? Bagaimana rupa butler Bernard waktu masih muda?" Lia penasaran.


"Tunggu aku masih menyimpan fotonya."


Daniel merogoh saku dan mengeluarkan ponsel. Sementara Daniel sedang sibuk mencari foto butler Bernard, Lia menatap Jason yang diam saja tanpa expresi. Pria itu tidak mengusir Daniel juga tidak bersikap ramah.


Lia membuka satu kaleng bir dan menyodorkan ke Jason. Pria itu menolak. Kemudian Lia mengalihkan bir yang sudah terbuka itu pada Daniel. Lia membuka satu kaleng bir dan hendak meminumnya. Saat itu juga bir yang hampir mendekati bibir Lia disambar oleh Jason.


"Jangan diminum." Jason kemudian menegak bir yang hendak diminum oleh Lia. Lia menipiskan bibirnya. Dia tahu, jika Jason akan melarangnya menegak minuman di hadapan orang lain. Lia bukanlah peminum alkohol yang baik.


"Ah ini dia." Daniel menyodorkan ponsel nya pada Lia.


Lia melihat foto muda butler Bernard dengan dua anak kecil di sisinya. Pasti kedua anak itu adalah Jason dan Daniel. Mereka tampak akrab saat itu. Dan sunghuh berbeda dengan sikap canggung diantara mereka berdua saat ini.


"Butler Bernard keren juga ya waktu masih muda. Dan ini pasti kalian. Hahhahah, Lucu sekali. Coba lihat, kau lucuuu." Lia tertawa sambil menunjukan foto di ponsel Daniel.


"Lucu apanya. Aku paling tampan disana." Ujar Jason ketus.


Jason dan Daniel menegak minuman bersamaan. Lia membuka kembali kaleng bir untuk mereka berdua. Sebenarnya bir tidak akan membuat kedua orang bertubuh besar ini mabuk, tapi Lia hanya ingin mereka berdua menjadi releax.


"Iya kau selalu tampan seperti katamu." Sahut Lia


"Katakan padaku Daniel, kau tinggal dan bekerja dimana?"


Daniel menatap Jason. Kemudian kembali menatap Lia.


"Aku masih tinggal dengan ibu ku. Dua lantai di bawah."


Jason mendengus kesal.


"Jadi kau benar sudah pindah ke Prancis dengan wanita itu?" Terdengar nada tidak suka dan kesal dari kalimat Jason.


Daniel mengangguk.


"Mommy merindukanmu, kakak. Datanglah menemuinya." Ujar Daniel dengan perlahan.


"Bukan urusanku." Sahut Jason ketus.


"Ayo masuk. Mandikan aku!" Jason berdiri dan mengulurkan tangannya pada Lia.


"Jangan begitu. Masih ada tamu disini." tolak Lia halus.


"Dia bukan tamu!" Jason menarik tangan Lia.


"Iya. Iya. Sana berangkat dulu. Sebentar aku menyusul. Benerannn cuma sebentar, aku hanya memastikan Daniel menutup pintu." Lia mencari alasan agar bisa berbicara dengan Daniel.


"Dia sudah besar. Ayo!" Jason meraih tangan Lia dan menariknya.


Lia akhirnya dengan terpaksa mengikuti Jason, meninggalkan Daniel. Setelah beberapa langkah, Lia menoleh dan mendekatkan ibu jari juga kelingkingnya di telinga, memberi kode agar Daniel meninggalkan nomor telphone nya.