
IQ jongkok butler Bernard akhirnya bisa di upgrade lagi. Beruntung sekali dr.Prakash masih ada ditempat itu. Dengan senyum yang terus berkembang dan mulut yang tak berhenti mengunyah, dokter Prakash itu memberi penjelasan kepada kepala pelayan yang hampir shock itu.
"Jadi ... bagaimana bisa tuan muda ku yang mual-mual, bukan nona, eh maksudku nyonya kecil yang sedang hamil, yang mual-mual?" tanya butler Bernard.
"Bisa saja. Itu dalam istilah kedokteran disebut sindrom couvade," jelas dokter Prakash dengan mulut penuh makanan.
"Apa kau bilang? Tuan muda kena Covid?" Bulter Bernard seketika tegang dan melotot.
"Bukan covid. Cauvade." dokter Prakash menelan sisa makanan di mulut dengan cepat dan hendak memasukan cake lainnya ke dalam mulut.
"Hey, botak gembul. Bicara yang benar. Jangan dengan makan. Suaramu ngeblur!" dengan kesal butler Bernard menarik piring dokter Prakash, membuat garpu yang mendak menusuk kue, mengambang di udara. Dokter Prakash menatap kecewa kearah piring cake ditangan butler Bernard. Dia menghela nafa, meletakan garpu dan kemudian menyeruput tehnya sebelum kembali menjelaskan.
"S Y N D R O M C A U V A D E. Bukan Covid. Jelas?!" ujar nya tegas sambil menarik lagi piring kue ditangan butler Bernard. Butler Bernard menahan kue itu dengan kuat.
"CAUVADE? Jelaskan apa itu." bUtler Bernard bibgung dengan istilah kedokteran yang diucapkan si dokter gembul dengan mudah.
"Cek google." Sahutnya acuh.
"Gembul malas! Untuk apa dirimu disini, jika tidak bisa menjelaskan. Jangan bilang kau asal bicara dan menipuku?!" Butler Bernard dibuat gemas.
"Aku kan tidak harus menjelaskan padamu?! Nyonya muda dan tuan muda aja santai, kenapa kau yang ribut? Jangan-jangan dirimu yang terkena syndrom itu. " Sahut dr Prakash dengan cemberut. Dia suka sekali mengolok butler Bernard.
"Masih mau kue? Aku bawa banyak dari mansion." Seringai licik terpampang nyata di wajah butler Bernard. Gertakan butler Bernard berhasil. Mata dokter Prakash berbinar.
"Satu potong dulu." rajuk dokter Prakash sambil menelan ludah.
Kue buatan cheft di mansion memang paling nikmat. Apalagi gratis. Sudah terlalu lama dia tidak menikmati masakan cheft di mansion.
Butler Bernard mendorong piring kue itu kearah dokter Prakash.
"Cepat!"
Dokter gembul itu dengan segera memenuhi mulutnya dengan kue, sebelum piring itu diambil lagi oleh butler Bernard. Mulutnya sampai menggap-menggap mengunyah cake yang menumpuk di dalam. Bibir tebalnya belepotan krim coklat, yang dia jilati saat kue dimulut sudah habiz. Dokter Prakash menghilangkan segala tata krama ketika dihadapan butler Bernard, teman yang sudah lama dia kenal.
Sikap dokter Prakash membuat butler Bernard memalingkan wajahnya. Dia paling sebal dan jijik melihat orang makan dengan gaya barbar seperti itu. Kalau bukan karena dokter satu ini sangat pandai dan amat dipercaya oleh keluarga Madison selama puluhan tahun, tidak sudi dirinya membiarkan tuan muda ditangani oleh dokter botak gembul, pencinta kue ini.
"Dasar sudah gembul, apa tidak takut gula darahmu naik?" Gerutu butler Bernard.
Dokter Prakash hanya terkekeh. Gendut memang bawaan dirinya. Keturunan dari semua anggota keluarga. Meskipun demikian sebagai seorang dokter, Prakash tetap menomor satukan kesehatannya.
"Kau ini sebenarnya mengerti tidak dengan yang kau katakan tadi sindorm cov eh couvade?"
Dokter Prakasah mengacungkan kelima jari kanannya menahan ucapan butler Bernard.
"Sabar, aku minum dulu." kembali dia menyeruput teh hangat sampai habis.
"Jadi begini ...." dokter Prakash mengelap bibirnya yang belepotan cream dari kue.
Butler Bernard bertambah tidak sabar. Dia menatap tajam pada dr. Prakash.
"Jadi itu syndrom yang dirasakan oleh suami, si calaon ayah. Itu terjadi karena perubahan hormon tuan muda. Memiliki perasaan psikologis yang terlalu kuat akan kehamilan si istri." Jelas dokter Prakash.
"Psikologis?"
"Ah ... benar, tuan muda terlalu memuja nyonya kecil." Gumam butler Bernard.
"Nah itu! Rasa cinta yang berlebihan. Posesif yang keterlaluan membuat sindrom cauvade ini akan semakin kuat. Bukan saja karena bahagia mengetahui kehamilan si nyonya muda, tetapi juga karena rasa cemburu terhadap janin."
"Cemburu?"
"Iya. Kalau tuan muda terlalu posesif, dia bisa sangat cemburu pada anak yang dikandung, karena merasa jika perhatian nyonya muda terbagi. Dan aku rasa ...." dokter Prakash melambaikan tangan, memberi kode pada butler Bernard untuk mendekatkan diri kepadanya.
Dokter Prakash berbisik, "tuan muda terlalu cemburu."
Butler Bernard menegakkan badannya kembali sambil mengerutkan kening. Jika menilik bagaimana tuan muda Jasonnya bersikap selama ini, jelas-jelas memiliki rasa cinta dan memiliki yang terlalu besar pada nyonya kecilnya.
Tuan muda bersikap berlebihan dengan mengurung bahkan menghajar para pengawal, yang hanya mematuhi perintah Lia. Dia bahkan memotong gaji butler Bernard selama satu bulan hanya karena pria itu bersenang-senang dengan nyonya kecil. Meskipun itu hukuman paling ringan, berada di mansion membuat segala keperluan butler Bernard sudah tercukupi.
"Itu ... bagaimana dengan nasib bayinya?" Gumam butler Bernard yang mengkhawatirkan anak dalam kandungan Lia. Bagaimanapun juga, bayi itu adalah keturunan langsung keluarga Madison.
"Ah ... jangan khawatir. Dia kan cinta sekali dengan ibu nya. Tidak akan berani menyakiti si kecil. Kan tuan muda tidak bisa melihat nyonya muda menangis. Dia hanya cemburu." sahut dokter Prakasah terkekeh, melihat wajah butler Bernard yang tegang.
"Kau belum lihat tuan muda kalau cemburu." gerutu butler Bernard yang masih sangat mengkhawatirkan kandungan Lia.
"Aku tidak perlu tahu itu. Semua bisa terlihat jelas di wajah keriputmu. Hahaha .... hahaha ...." dokter Prakash mengolok butler Bernard.
"Jadi akan tetap aman dengan si baby?"
"Tentu saja. Bahkan syndrim itu bisa membuat moment keakraban antara pasangan itu semakin kuat. Secara emosional tuan muda akan lebih siap menerima kehadiran si kecil."
"Jadi berapa lama hal itu akan dialami tuan muda?"
"Tergantung. Normalnya morning sickness dialami ibu hamil hanya tiga bulan pertama. Begitu juga syndrom cauvade. Tetapi beberapa kasus bisa sampai istri melahirkan."
"Sembilan bulan? Oh ... tuan muda, malang sekali nasib mu."
Sementara butler Bernard merenung tentang nasib tuan muda nya, dokter Prakash mengendap-endap menuju ke meja bar. Memotong cake dalam potongan yang cukup besar dan mengambil kue kecil lainnya. Dia tetap berdiri di meja bar, menjauh dari butler Bernard yang masih di ruang tamu.
"Tambah teh nya dokter?"Odelia menawarkan diri.
"Tentu saja." Senyum lebar dokter Prakash tersungging, memamerkan giginya yang penuh dengan coklat. Odelia tersenyum lebar dan menahan tawa.
"Kenapa?" tanya dokter Prakash.
"Ah ... tidak apa-apa tuan. Anda lucu sekali."
"Tentu saja. Selain lucu aku menarik." ujar nya dengan percaya diri.
"Ah iya menarik." Odelia terkekeh sambil meninggalkan dokter Prakash yang tiada henti mengunyah. Memang pri-pria disekeliling tuan muda, sudah tertular sikap percaya diri yang berlebihan.
...❤❤❤Vote dan Poin untuk Lijas yaa❤❤❤...
Jika kalian suka dengan cerita Novel ini, bantu share dan promosikan dong. Terimakasih buanyakk