48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Jantungan



"Bisakah kalian berdua tenang dan duduk." ujar dokter Luccy sambil menepuk dada nya.


Jason dan Lia menurut, mereka kemudia duduk tenang dihadapan dokter Luccy. Jason meraih tangan istrinya dan menciumi berulang kali. Dia merasa sangat senang karena pada kenyataannya test pack bertanda positif tersebut, adalah milik Lia.


Kedua insan ini tanpa malu memamerkan kemesraan dihadapan dokter Luccy. Lia dengan manja membelai wajah suaminya, yang sesekali menatap lembut keearahnya sambil menempelkan bibir ke tangan Lia. Lia sudah berhasil memenuhi syarat dalam kontrak perjanjian nikah mereka.


Jalan mulai terbuka untuk mereka menemui ayah Jason. Apalagi, jika anak yang dikandung Lia adalah pria. Maka, Darrel Madison tidak akan memiliki alasan lagi, untuk menolak Lia. Tidak mungkin dia menyingkirkan darah dagingnya sendiri.


Dokter Luccy, lama-lama menjadi jengah melihat sikap mereka berdua. Dia berdehem beberapa kali, tapi tampaknya telinga kedua insan itu sudah tersumbat oleh gelombang cinta. Jika saja bisa melihat aura, pasti lah aura mereka saat ini pelangi indah.


"Jadi, kalau tidak ada yang ditanyakan lagi, saya akan membuat resep vitamin kehamilan untuk nyonya Lia." ujar dokter Luccy dengan suara lebih keras.


"Eh, apa?" tanya Lia dengan malu.


"Saya akan meresepkan vitamin kehamilan dan vitamin anti mual." ujar dokter Luccy, mengulangi perkataan diawal.


"Tidak. Tidak. Kau bisa memberiku Vitamin anti mual. Tidak yang lainnya.' ujar Lia.


"Kenapa begitu?" Jason bertanya dengan heran.


"Aku akan meminum vitamin herbal saja. Tidak mau vitamin kimiawi dari dokter."


"Herbal kan juga diproses dengan kimiawi.


"Tapi bahan dasarnya beda. Lihat itu, semua anak kakak ku sehat semua kan."


"Kecuali Adelaide."


"Itu memang dari awal dia berbeda. Lihat Aaron, ahh... kan aku jadi kangen sama mereka. Aku mau ke Miami, aku mau bertemu dengan mereka semua. Aku rindu ...."


Jason menatap wajah Loa dengam seksama. Susah sekali bagi dirinya untuk menolak, jika Lia sudah memasang wajah imut menggemaskan seperti itu. Sorot mata penuh harap, bibir mengerucut dan expresi wajah yang polos. Tidak ada alasan lagi bagi Jason untuk menghalangi. Toh, ada benih dirinya di dalam rahim Lia.


"Ehem ... ehem ...."


Dokter Luccy berdehem untuk kesekian kali nya. Sudah hampir tiga jam dia menangani sepasang manusia di hadapannya ini. Bisa dia bayangkan sembilan bulan kedepan, dia harus memiliki panjang sabar dan juga mental yang kuat.


"Resepkan seperti permintaan istriku, dokter. Ingat hanya yang terbaik. Aku tidak perduli berapa biayanya. Hanya yang terbaik untuk anak dan istriku." ucap jason bersungguh-sungguh.


"Tentu saja tuan. Ingat nyonya, perbanyaklah makan protein, calsium dan buah. Baik untuk kandungan anda. Jika ada masalah dengan gigi, sebaiknya segera di bereskan di dokter gigi. Jangan makan pedas-pedas."


"Ya Tuhan, padahal aku ingin sekali makan yang pedas." ujar Lia sedih.


"Boleh, tapi kurangi. Saya hanya khawatir, jika anda akan diare. Kasihan bayi dokandungan anda."


"Tuh, mana lebih penting, lidahmu atau anakmu?!" tanya Jason dengan tegas.


"Iya, anak..." Lia menunduk sambil mengusap perut yang masih rata.


*padahal ... aku pingin dibuati bakso pedas lagi, penyetan komplit, nasi padang, rica-rica. Hikksss* ...


"Jangan menggerutu dalam hati, jaga bayi kita baik-baik, sayang" bisik Jason lembut.


Lia menoleh menatap suaminya. Wajah mereka sudah berdekatan, hanya berjarak sepulih centimeter. Melihat bibir ranum istrinya yang begitu menggoda, Jason tidak tahan lagi. Di rengkuhnya kepala belakang Lia dan mendaratkan bibirnya ke bibir Lia. Mereka berciuman mesra.


"Astaga!" dokter Luccy terperangah, dia menjadi malu dan salah tingkah sendiri melihat adegan bibir di depannya. Adegan berciuman yang biasa hanya bisa ditonton di film, kini ada dihadapannya. Dengan wajah memerah, dokter Luccy membalikan kursinya.


Dokter Luccy, memeras otaknya, bagaimana cara menyudahi kegiatan mereka tanpa menyinggung perasaan tuan muda. Tampak sekali pria itu terlalu posesif dan sangat mencintai istrinya.


Dokter kandungan wanita berusia lima puluh tahunan tersebut, mengintip dari balik kursinya. Dan astaga! Kembali dia duduk dengan dada berdebar dan wajah yang semakin memerah karena malu. Ciuman itu bukan saja di bibir, sudah mendarah di leher, sementara tangan sudah merajalela di kisaran paha.


Dokter malang tersebut menghitung waktu. Detik demi detik, berharap OB segera datang membawa minuman. Dia mengutuki dalam hati kenyataan jika dirinya yang terpilih, menangani pasien kaya raya tapi gembleng ini. Semua ini karena Jason meminta, hanya dokter wanita terbaik. Dan dia adalah yang terbaik.


Tok ... tok ... tok ....


Ketukan di pintu membuat dokter Luccy menjadi lega. Dia dengan segera bangkit dari duduk, dengan membuat gerakan kasar, agar kedua insan itu mendengarnya.


"Iya sebentar. Saya akan membuka pintunya sekarang!" teriak dokter Luccy dengan harapan kedua pasangan sableng itu nenghentikan kegiatannya. Dan itu berhasil. Suara langkah kaki yang dia hentakan dan teriakannya, membuat pasangan tersebut sadar juga sudah berbuat di luar batas.


Dokter Luccy menerima minuman yang diberikan oleh OB, setelah memberikan uang, dia menutup pintu dengan agak keras. Semua itu dilakukan dengan tujuan memberi peringatan pada pasien dibelakangnya.


"Ini ada minuman hangat. Ini teh hangat untuk nyonya Lia, Machiato untuk tuan Jason."


"Hemm ... terimakasih dokter Luccy," ujar Lia sambil menerima teh hangat.


"Itu punya anda, apa ya ... kenapa harum sekali?" penciuman Lia tergoda dengan aroma wangi hazelnut, yang mendarat di indra penciumannya.


"Ini Hazelnute Latte." ujar dokter Luccy canggung.


"Minuman kesukaanku," kembali bibir Lia mengerucut manja.


"Nyonya mau ini?"


"Bisakah?"


"Eh ... tentu saja. Tapi jangan sering-sering mengkonsumsi coffee ya, kafein nya tidak bagus untuk perkembangan bayi, apalagi jika bayi tersebut sudah diusia tujuh bulan keatas." jelas dokter Luccy. Sesungguhnya dia sedikit keberatan memberikan coffee miliknya kepada Lia.


"Kali ini saja ya." Lia menyambar coffee ditangan dokter Luccy dan menyeruputnya perlahan. Wajahnya menunjukan kepuasan setelah menikmati rasa manis pahit dengan perasa hazelnut dari Coffee lattee.


"Terimakasih dokter Luccy. Kau bisa minum teh ku. Ops! tapi teh nya sudah aku seruput tadi. Maaf yaa ...." ujar Lia dengan wajah polos.


"Tidak apa-apa. Tidak apa-apa." sahut dokter Luccy canggung. Dia harus merelakan diri menegak air putih yang ada dimeja.


"Ayo sayang kita pulang sekarang," pinta Lia.


"Trus bagaimana dengan kandunganmu?"


"Aku tidak apa-apa. Lagian kan masih kecil. Jika hendak bertanya, aku bisa kirim pesan kan, dokter?" ujar Lia menoleh kearah dokter Luccy.


"Iya ... iya tentu saja." senyumnya tulus.


"Dokter. Besuk kami kemari lagi, memeriksakan kandungan istriku." ujar Jason saat mereka sudah ada di depan pintu keluar.


"Hah?" dokter Luccy tidak sempat berbicara apapun, karena Jason dan Lia tidak membutuhkan jawaban. Pasangan itu berlalu membiarkan dokter tersebut meremas kepalanya yang sedikit berkedut.


Di dalam mobil saat mereka dalam perjalan ke mansion.


"Jason, berhenti di Four Seassons dulu ya," Lia menunjukan pada hotel bintang lima yang sangat elegant.


"Kenapa?"


"Aku ingin membeli sebuah cake untuk dokter Luccy. Kasihan dirinya. Kita pasti sudah sangat merepotkan dirinya hari ini."


"Baiklah, nyonya." sahut Jason tersenyum lembut.