48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Tamu tak diundang



Didalam mobil, dalam perjalanan pulang menuju ke Mansion, Jason tak dapat menghilangkan rasa penasarannya akan sosok Gerald. Pemuda yang tiba-tiba muncul dihadapan mereka. Apalagi ketika diliriknya, Lia sedari tadi diam saja.


Dengan penuh kelembutan, Jason mengusap tangan Lia. Jika saja tidak sedang menyetir mobil sendiri, maka dia akan memeluk gadis itu dan menanyakan banyak hal. Tentu saja tentang Gerald. Jason bukan tipe orang yang tidak perduli begitu saja akan masa lalu. Dia sangat perduli, bahkan jika mungkin dia ingin detail seluruh kehidupan Lia dari semenjak dilahirkan.


Mobil memasuki gerbang Mansion di senja hari. Jason turun dari mobil dan berputar ke arah Lia, dia membuka pintu mobil kemudian langsung menggendong gadis tersebut dalam pelukannya. Dia biarkan pintu mobil terbuka begitu saja, karena Doreo sudah siap disana untuk memarkirkan mobil.


Seisi mansion mengintip dengan malu-malu. Masih terlintas dalam ingatan mereka, bagaimana tuan mudanya memakan kembang gula kapas hingga belepotan. Jika saja saat itu mereka tidak melihatnya langsung, tentu tak akan percaya. Apalagi saat ini, wajah angkuh dan dingin itu kembali kepermukaan.


Jason membawa Lia ke dalam kamar utama. Dia berhenti di ruang Jaquzi. Lia menggelung rambut panjangnya sementara Jason melucuti pakaian mereka kemudian membawa Lia masuk kedalam air yang sudah diatur kehangatannya. Dengan lembut dia menggosok punggung Lia.


"Katakan padaku, Gerald_____ siapa dia?" tanya Jason tiba-tiba.


"Teman."


"Teman apa?" Tak puas dengan jawaban Lia.


"Teman dari sma sampai kuliah." Jawab Lia singkat, tidak mengena dihati Jason.


"Lalu?"


"Lalu apa?" Lia tak mengerti.


"Ada hubungan apa diantara kalian dulu?"


"Teman_____" Lia menjadi risih dengan pertanyaan Jason yang semakin menyelidik.


"Lebih dari teman?"


"Kalau iya kenapa memangnya?" Gurau Lia menyembunyikan kegugupannya.


"Ceritakan. Aku ingin tahu."


Lia menghela nafas, dia menyadari hal sepele ini akan menjadi panjang. Semoga saja cerita jujurnya tidak berujung pada kecemburuan. Lagipula itu kan masa lalu. Dia dan Gerald pun tidak pernah memiliki hubungan yang berlebihan.


"Iya____ kami pernah pacaran."


"Berapa lama?"


"Dua tahun." Lia meringis, ketika dia merasakan tangan Jason meremas bahunya. Benar bukan, jadi panjang.


"Lalu_____"


"Itu masa lalu. Singkatnya dia menghianatiku. Dia berhubungan dengan wanita lain sewaktu masih jadi pacarku."


"Kenapa bisa begitu?"


"Mungkin, karena aku menjemukan. Dia bilang bosan karena setiap bertemu, yang kami bicarakan hanyalah berita politik dan pelajaran hukum. Dia bilang aku galak. Memangnya aku galak ya? Trus kaatanya aku dingin, karena gak mau diajak gandengan tangan. Kan aku risih, masa gak ada perlu, pakai gandengan ta_____"


Seketika dia teringat saat pertamakali bergandengan tangan dengan Jason. Bagaimana pria itu sedari awal sudah mendominasi. Memang awalnya Lia berusaha melepaskan, tapi Jason menggenggamnya dengan erat. Dan selanjutnya dia merasa sangat nyaman, merasakan tangan kecilnya tenggelam dama genggaman tangan Jasin. Berbeda dengan Gerald yang sekali di tepis sudah mundur.


"Kenapa tidak mau?" Bisikan Jason yang lembut sambil menggigit cuping telinga Lia, membuat gadis itu tersadar dari lamunan.


"Ahh ...." Bukannya menjawab, Lia justru mendesah merasakan lembutnya bibir sang suami menelusuri bahunya.


Lia memang galak. Dia cenderung bergaul sama rata dengan semua teman. Kedekatan Lia dan Gerald karena mereka selalu bisa berkomunikasi timbal balik dalam segala hal. Nyambung. Gerald juga pribadi yang menyenangkan dan jago basket. Bahkan pria itu pernah masuk dalam Tim Nasional.


Sayang sekali, Lia tidak pernah memberikan hatinya seratus persen untuk Gerald. Sebagai seorang yang berhubungan lebih dari seroang teman, Lia tidak pernah mau di gandeng. Apalagi dicium atau hanya sekedar memegang pinggang Gerald ketika berboncengan sepeda motor. Tidak pernah.


Saat menemukan Gerald jalan dengan wanita lain, tentu saja Lia marah. Karena itu dia segera pergi menyusul kakaknya. Tapi kemarahan itu saat ini berubah menjadi ucapan syukur. Bagaimana tidak, Gerald dan Jason perbandingannya jauh.


Jason, si bangsawan yang tampan dan sangat posesif. Jason yang selalu menjaga, mencintai dan menghargai dirinya. Jason yang tidak pernah melirik wanita lain, meskipun mereka bertubuh indah dan anggun. Jason hanya milik Lia seorang. Dan Lia merasa aman disisi Jason.


"Apa kau ingin menemui dia lagi?" Terdengar nada cemburu dalam pertanyaan Jason.


"Aow!" Bukan kalimat jawaban yang dia dapatkan melainkan gigitan di leher.


"Sakit! Mau jadi Vampire?"


"Berani-beraninya kau ingin bertemu dengan dia," jawab Jason ketus.


"Mana berani jika suami tidak mengijinkan," sahut Lia manja.


Jason mengangkat tubuh Lia keatas pangkuannya dan seketika Lia terbelalak saat merasakan rajawali melesak masuk dalam sarang, tanpa permisi.


"Ah ...."


Kecupan hangat Jason di seputar leher dan dadanya menambahkan sensasi nikmat dalam dirinya. Guncangan perlahan dan lembut itu terasa sangat penuh dan dalam.


"Tampaknya aku harus menemui Gerald dan berterimakasih padanya," ujar Jason disela-sela guncangannya.


"Tapi kenapa?" Lia hampir tidak bisa berkonsentrasi terhadap perkataan Jason. Serangan Rajawali terasa bertubi-tubi.


"Karena berkat dirinya, kau menjadi milikku seutuhnya. "


"Aarkh ...." Erangan dan getaran tubuh Lia menjawab semua perkataan Jason.


Tubuh mereka lunglai di dalam jaquzi. Lia bersandar di dalam pelukan Jason. Tangan besar dan hangat Jason mengusap lembut perutnya. Sungguh terasa nyaman dan menenangkan.


"Trimakasih," bisik Lia lirih.


"Trimakasih apa?" tanya Jason lembut.


"Trimakasih sudah mencintai diriku, bersabar dengan sikapku dan memberiku lebih dari yang aku pinta." Lia menegadahkan kepalanya menatap Jason. Pandangan mata mereka saling bertatapan mengalirkan kemesraan.


"Aku lebih berterimakasih karena kau sudah membuka hati untukku dan memberiku hadiah terindah," ucap Jason dengan lembut sambil membelai lembut perut Lia. Belaian lembut itu mulai menjalar perlahan kebagian dada.


"Jason, aku lapar." Ucapan Lia menghentikan gerakan tangan Jason. Pria itu terkekeh. Dia kemudian berdiri sambil mengangkat Lia keluar dari jaquzi. Dengan mesra mereka membilas diri.


Setelah mengenakan pakaian santai tanpa riasan, Lia sudah siap untuk makan malam. Doa merasa heran ketika tidak mendapati Jason dalam kamar. Setelah mencari Lia mendapati jika suaminya berada di balcony dan tampak serius di telphone.


"Buat wanita itu tidak bisa mengikuti acara dancing with star."


"_____"


"Aku tidak perduli, bagaimanapun caranya."


"______"


"Mereka sudah berani-berani menyakiti istri dan anakku, aku tidak akan membiarkan mereka tenang."


"______"


"Kedua wanita itu harus meninggalkan Prancis. Paling lambat besuk."


Jason tampak mematikan handphonenya dan mendengus kesal. Lia yang mendengarnya dari balik pintu, beringsut menjauh. Dia tidak ingin campur dengan keputusan Jason. Meskipun dirinya merasa tidak dirugikan dengan perbuatan kedua wanita itu.


"Kau sudah siap, Honey?" tanya Jason dengan mesra.


Lia menganggujan kepalanya menjawab pertanyaan Jason. Baru saja mereka akan melangkah turun, ketika didengar suara berisik di udara. Jason menggandeng Lia menuju ke balcony, untuk melihat apa yang terjadi.


Di udara, di langit yang mulai menggelap. Tampak sebuah helikopter berputar rendah mencari landasan. Helikopter itu mendarat sempurna dilandasan dalam mansion. Lia mengernyitkan keningnya, mengira-ngira siapa yang akan datang.


Ketika dia menoleh kearah Jason, bisa dilihatnya perubahan wajah Jason yang menjadi tegang. Matanya lurus mengarah ke helikpoter. Dan disaat sepasang pria dan wanita turun dari sana. Lia dan Jason mendesah bersamaan.