48 Months Agreement With CEO

48 Months Agreement With CEO
Hargai Dirimu



Brasserie restaurant, hari itu tampak ramai. Restaurant yang hanya muat dengan kapasitas lima puluh orang tersebut, tampak enggan menyudahi malam. Suasana yang nyaman, musik lembut yang mengalun dan cahaya lampu kekuningan, membuat setiap pelanggan asyik bercengkerama menikmati makanan penutup.


Jam menunjukan pukul sembilan tiga puluh di malam hari. Natali tampak duduk tenang di pojok depan restaurant sambil menikmati angin malam. Dia memainkan gelas anggur merah ditangannya. Memutar-mutar isinya sambil sesekali menatap pria tampan dihadapan.


Natali menumpangkan kaki kanannya diatas kaki kiri. Dia menyesap perlahan anggur merah yang sudah dia cium terlebih dahulu aromanya. Alkohol yang menguap mengantarkan aroma anggur berpadu dengan berry, sangat lembut dan menggoda. Anggur merah yang dia sesap mengalir memberikan kehangatan di malam yang semakin dingin.


"Anggur yang bagus bukan?"


"Hemmh..." Natali hanya menggumam.


"Kau tahu bukan aku datang ke tempat ini, hanya karena memenuhi janjiku pada Lia."


Natali berbicara dengan enggan. Dia ingin menekankan pada pria dihadapannya yang tak lain adalah Gabriel, jika keberadaanya disini semata-mata hanya untuk memenuhi kesepakatan. Natali sekali lagi harus menelan ludah dengan kekalahannya pada fashion show yang diacarakan di jalanan.


"Aku tidak perduli dengan kesepatan kalian. Seandainya pun hal itu tidak ada. Aku tentu akan tetap ingin mengenal dekat wanita secantik dirimu," sahut Gabriel dengan lembut.


Natali mengerjapkan matanya sesaat. Dia menyembunyikan senyuman dibalik gelas anggur yang dia sesap lagi. Kaki Natali mulai bergoyang dan dia mengintip Gabriel yang tersenyum manis padanya, dari balik gelas yang dia pegang. Dada Natali berdebar. Kata-kata manis yang diucapkan Gabriel mampu menyentuh hatinya.


"So... Hari sudah semakin larut dan restaurantmu akan segera tutup. Tampaknya ini akhir dari pertemuan kita." Natali menegak habis anggur merah yang tinggal sedikit di tangannya.


"Aku rasa tidak. Kau tahu Paris, ini masih terlalu awal untuk dikatakan larut malam. Kau tunggu disini, jangan pergi." Gabriel meninggalkan Natali dengan tergesa.


Natali memandang punggung Gabriel, pria itu tampak sibuk memberi pengarahan pada bawahannya. Setelah berbicara beberapa saat, pria itu bergegas masuk kedalam. Tampaknya dia hendak melakukan sesuatu. Natali menimbang sesaat, apakah dia akan tetap diam menanti Gabriel atau kah pergi saat ini juga.


Sementara di dalam kantornya, Gabriel bergegas melepaskan pakaian putih sebagai symbol kepala koki. Dia menyambar jas panjang dan bergegas keluar. Gabriel tidak ingin menyianyiakan malam ini. Dia akan mengajak Natali untuk ke pusat hiburan malam.


Saat Gabriel berlari keluar, dia kecewa karena tidak dapat menemukan Natali di meja yang sebelumnya mereka tempati. Dengan kesal Gabriel menghampiri meja kosong itu, seakan tidak percaya dengan penglihatannya. Gabriel berharap jika Natali akan muncul lagi. Secarik kertas, menyakinkan Gabriel jika Natali sudah pergi. Di kertas itu tertera nomor tephone. Dengan segera Gabirel mendial nomor tersebut.


"Hallo...," suara lembut Natali terdengar di seberang sana.


"Kau pergi..."


"Malam sudah larut Gabriel."


"Ini baru awal, Natali."


"Tapi aku sudah lelah."


"Hmmm... entahlah kita lihat saja nanti."


Natali mematikan sambungan telphone. Dia menyandarkan punggungnya di jok mobil. Dari balik kaca spion, Natali bisa melihat Gabriel yang tengah mematung ketika sambungan telphone mereka terputus. Gabriel nampak menoleh kekiri dan kekanan, memastikan jika dirinya tidak ada disekitar sana. Hanya saja Gabriel tidak tahu, mobil Natali masih ada di salah satu parkiran dekat restaurant the Brasserie.


Ingatan Natali melayang saat dia berhadapan dengan Lia. Gadis itu hanya penampilannya saja yang tampak lugu. Tetapi kadar kelicikan di otak nya melebihi seorang Pengacara kasus hukum. Untung saja gadis itu belum sepenuhnya bekerja sebagai pengacara.


Natali gagal dalam fashion show, hanya karena peraturan bodoh yang dia buat sendiri. Seratus pakaian harus terjual dalam tempo empat jam. Dan Lia berhasil menyelesaikan penjualan baju hanya dalam tempo satu jam. Jelas saja karena harga jual gadis itu yang gila-gilaan.


Liaa memberikan discount sebesar sembilan puluh persen, untuk semua pakaian rancangan Emely. Pakaian kualitas bagus yang hanya dibayar sebesar sepuluh persen itu, tentu saja habis ludes dalam waktu singkat. Natali lupa menerapkan peraturan harga.


"Jadi, Aku menang atau kalah, tidak akan merubah persyaratanku. Kau akan tetap menghabiskan malam ini dengan makan malam bersama Gabriel di the Brasserie. Ingat jangan sia-sia kan kesempatan ini. Dia pemuda yang baik, pekerja keras juga tampan." ujar Lia dengan gaya khasnya yang ceria.


"Kau ingin mempermalukan ku lagi dengan berkencan bersama pria miskin?" gerutu Natali kesal.


"Ya ampunnn... pikiran mu itu terlalu picik. Apa artinya pria kaya jika mereka malas dan hanya memanfaatkan kekayaan orang tuanya? Lebih baik pria miskin tapi pekerja keras. Kau gadis kaya bukan... maka topanglah pria mu dan jadikan dia sukses, agar bisa sejajar dengan dirimu. Aku memberimu kesempatan, memperkenalkan dirimu dengan pria yang baik, jangan sia-siakan. Berusahalah untuk saling mengenal. Jangan permalukan dirimu dengan masuk dalam kehidupan pernikahan orang lain. HARGAI DIRIMU SEBAGAI SEORANG GADIS YANG TERHORMAT!" ujar Lia panjang lebar tanpa jedah.


Natali terpaku dengan perkataan Lia. Dia awalnya enggan mengakui jika perkataan Lia benar adanya. Terlalu gengsi bagi dirinya mengakui hal itu. Tetap saja bagi Natali, gadis dihadapannya ini tidak akan seberani ini jika bukan karena backing yang kuat.


"Pria yang hebat, heh! Mana pria yang kau sebut sebagai suami, dia tidak pernah melindungimu." sindir Natali dengan nada mengejek.


"Hahaha... untuk apa dia turun tangan untuk masalah sepele yang bisa aku kendalikan. Ini nomor tephone Gabriel. Dia akan mengundangmu malam ini. Nikmati masakannya dan aku yakinkan dia akan membuatmu terbuai." Lia pergi sampil menepuk pundak Natali.


Kembali Natali tersadar dari lamunannya. Restaurant Gabriel sudah tutup. Lampu-lampu sudah dimatikan. Keadaan disekitar sana mulai sepi. Dan Natali melihat Gabriel mengunci pintu restaurantnya. Pria itu menatap langit yang cerah dengan bintang bertaburan. Kedua tangannya masuk dan saku jas yang dia kenakan. Sosok Gabriel saat ini tampak begitu memukau Natali.


Ketika dilihatnya Gabriel sudah mulai melangkah, meninggalkan teras restaurant, tanpa disadari Natali berteriak.


"Gabriel, tunggu!"


Gadis itu mengenakan jas panjang berbulu nya dan turun dari mobil. Setelah memastikan jika pintu mobil terkunci, Natali dengan senyum ceria menghampiri Gabriel yang terpaku menatap dirinya.


"Aku kira kau sudah pergi." Gabriel menatap Natali tak percaya.


Natali tersenyum lebar ketika sudah ada dihadapan Gabriel. Tidak ada salahnya kan, jika dia mencoba untuk mengenal Gabriel. Jika saja pria ini benar-benar sebaik yang dipamerkan Lia, maka Natali akan mencoba mendukung karier Gabriel.


"Aku memutuskan, jika malam ini baru saja dimulai. Ayo tunjukan padaku keindahan apa yang bisa kita nikmati." ujar Natali dengan ceria.