You Should Be Me

You Should Be Me
88



Aekyo menerima surat titipan lagi dan tidak sama sekali ia buka karna baginya itu privasi dari Hyohoon meskipun Hyohoon menyuruhnya membaca ulang


kejadian surat datang lagi, dimana Yuhan lagi dari ruangan Kwan, saat akan keluar, hampir saja Aekyo ketahuan karna Yuhan akan keluar tapi Kwan memanggil Yuhan lagi jadi tidak ketahuan, dan Aekyo berburu buru pergi


"Yuhan" panggil Kwan


"yaa oppa?"


"sini bentar, saya mau tanya, bisa nanti jalan sama saya?"


"jalan?"


"iya, makan diluar, saya bayari kok"


"oh mau kemana?"


"kemana ya enaknya"


"yaudah aku tunggu kabarnya saja makan dimana, aku mau kok, malam tapi ya"


"iyaa siap, nanti ku jemput ya dirumah"


"jangan, ketemuan ditempat nya saja, kabari saja dimananya"


"oh gitu, kenapa dijemput?"


"gak biasa saja aku dijemput"


"oh yaudah"


mereka jadi janjian makan malam nanti bersama, Yuhan pun benar benar balik ke meja kerjanya dan melihat ada lagi kertas surat di kursinya saat ini


Yuhan menoleh kanan kiri, tidak ada orang sama sekali, staff lain sibuk dengan pekerjaan di tempat lain jadi tidak ada di meja mereka


Naneul dan Sunmi di meja paling dekat dengan Yuhan juga tidak ada karna mereka ikut bangtan keluar kota


Yuhan bingung siapa yang menaruh surat itu, kenapa ada lagi, mana kertasnya sama dengan kertas yang sebelumnya yang sekarang ditangan Namjoon


Yuhan mulai membukanya dan membacanya dengan isi..


"kenapa tidak merespon surat sebelumnya?


kamu benar benar tengah menghindariku?


bahkan aku tidak tau apa salahku sampai kamu memutuskan ku sepihak


biar kamu tau, tanya kan pada teman dirumah itu aku bagaimana


aku tidak diam saja diperlakukan tidak jelas ya, aku tetap menunggu kabarmu


tapi jika masih belum memberiku kabar, kamu harus tau aku siapa dan aku bukan orang yang suka bermain yang bodoh seperti mantan mantan mu sebelumnya"


isi pesan itu


dengan tertera pada kertas paling bawah dengan nama -Hyo Hoon-


melihat itu, seketika Yuhan kaget, ia mencari sekeliling nya, mencari kecurigaannya siapa yang mengirim itu karna surat itu adalah ancaman besar baginya, tapi tidak ada yang bisa ia curigai, tapi bagaimana bisa sampai pada meja nya itu surat


"astaga jadi kemarin surat tu dari Hyo" gerutu Yuhan pelan


merasa tidak aman, bagaimana bisa Hyohoon mengirimkan surat itu, siapa mata mata nya bahkan Yuhan tidak tau, karna Yuhan memang terbilang susah dekat dengan staff lain karna sifat dan wataknya yang cuek


Yuhan pergi keluar gedung, lalu membakar surat kecil dari Hyohoon itu dan meninggalkannya


Yuhan tidak mau berurusan apapun tentang nama Hyohoon, ia pun kembali mencoba fokus seharian tapi memang tidak bisa, ia benar benar kepikiran bagaimana surat itu masuk


saat sorenya..


Yuhan akan pergi pulang, ia sempat menoleh ke arah kertas yang ia bakar sudah menjadi abu dan berhamburan, tapi ia lanjut pergi tanpa memperdulikannya lagi


Yuhan balik kerumahnya, sampai rumahnya, ia mencoba melupakan semuanya dengan bermain dengan Wren, karna ia juga sangat lama tidak bermain dengan Wren


setelah dari Wren, ia juga peegi bermain dengan Woly karna juga lama tidak mengurusi Woly


barulah ia bisa melupakan semuanya dan melanjutkan kehidupannya


malamnya..


karna sudah jam nya janjian dengan Kwan, ia pun bersiap siap


"Yuhan" sapa Nania masuk kamar Yuhan


"iyaa.. kenapa Na?"


"kamu mau kemana?"


"keluar, ada janjian"


"kearah mana?"


"selatan"


"waah ikut lah, aku juga keselatan, mau beli buku titipan adikku"


"buku?"


"oh yaudah"


Yuhan bersama Nania pergi, mereka sampai ditoko buku, melihat lihat, Yuhan membantu Nania untuk mencari buku dan mengantarkannya pulang juga


"sudah, kamu tinggal gakpapa" kata Nania


"terus kamu baliknya?" tanya Yuhan


"diantarkan adikku nanti kok"


"oh yaudah aku pergi"


Yuhan jadi sedikit terlambat datang


baru sampai, ia bertemu dengan tiga member suju yaitu Yesung, Shindong dan Heechul dan juga dua sepupu Heechul yang baru datang dari luar negri yaitu Shinjae dan Daeshin


"ehh, itu mau masuk, bukannya Yuhan?" tanya Yesung


"ahh iya itu dia" kata Shindong


"ayo sapa dia, kesempatan kapan lagi bertemu kan?" tanya Yesung


"iya, kamu lah sapa, aku malu"


"kenapa malu? tumbenan malu"


"kenapa ribut?" tanya Heechul yang baru membayar bill bersama dua sepupunya


"itu ada Yuhan, ingat kan kamu padanya?" tanya Shindong


"ahh, iya"


"coba kau sapa, aku malu juga" kata Yesung


"lah gimana sih" jawab Shindong


"iya biar kau saja Heechul


karna terus dipaksa jadilah Heechul menyapa Yuhan, disini dua sepupu Heechul merasa bingung apa pembahasan mereka bertiga tapi jadi paham ketika Heechul menyapa seorang gadis


"Yuhan.." sapa Heechul


"emm hai, kamu disini?" sapa balik Yuhan


"iya tapi baru akan pulang, apa kabar?" sapa Heechul


"baik dong, kamu baik? ini dengan siapa?"


"ahh ini anak anak suju, dan dua ini sepupuku"


mereka berempat bergantian bersalaman dan berkenalan, disini kedua sepupu Heechul baru ngeh itu yang namanya Yuhan


Shinjae dan Daeshin saling bertatapan seolah mereka saling paham


"oh jadi ini nama Yuhan dalam dompet di tas Chul" ucap keduanya dalam hati, kira kira begitu dalam hati keduanya


setelah mengobrol sedikit, Yesung dan Shindong mendapat izin dari Yuhan untuk menyimpan nomornya, Yuhan pun berpamitan lebih dulu karna sudah terlambat


melihat Yuhan disana, Shindong, Yesung dan Heechul merasa senang tapi Shinjae dan Daeshin malah seperti kenal lama dengan sosok Yuhan


Shinjae merasa seperti ia kenal tapi tidak pernah bertemu


Daeshin merasa sama tapi ia merasa sudah kenal bahkan jauh sebelum Heechul dan kedua temannya tapi dimana


Yuhan sampai di tempat janjian di balkon atas


"aduh aku terlambat, maafkan aku yaa" kata Yuhan


"kenapa kamu terlambat? ada kendala?" sapa Kwan


"sedikit, hanya tadi temanku nebeng ikut ke toko buku, eh aku nya malah ikut lihat buku buku"


"ahh, jadi beli buku apa?"


"gak ada sih hanya lihat"


"ahh, ya gakpapa lah, aku juga pikir terlambat tadi, soalnya lebih jam nya, aku kuatir mau jemput"


"ahh untung tidak pergi menjemput, tau gitu aku sampai sini gak ada kamu"


"iyaa"


Yuhan dan Kwan untuk pertama kalinya makan berdua diluar, tanpa ada siapapun


mereka mengobrol beberapa kerjaan dan menikmati makan malam lalu pergi jalan menikmati malam


"Yuhan, apa kamu tidak berpikiran untuk berpacaran?" tanya Kwan


"berpacaran? memangnya boleh dalam pekerjaan?"


"yaa kan buat staff bebas, mau berpacaran bagaimana, kalau sama sama staff ya tetap harus diam dan jaga privasi"