
disisi lain, Hajun yang baru selesai mengucapkan ucapan selamat itu kepada Munha, tiba tiba ia ingin sekali mengajak anak anak dan istrinya untuk jalan
"ammaa.. hai anak anak appa, gimana sekolah kalian?" tanya Hajun
"waah pa, kami dapat nilai bagus loh" kata Shinje, salah satu anak Hajun
kedua anaknya menceritakan hasil kerjaan sekolah yang baik, mendengar itu, makin tergerak hati Hajun mengajak anaknya jalan hati itu
"okeh, siap siap, sore ini kita jalan jalan"
"serius pa? kamu ngajak jalan jalan? tidak ada kerjaan di kantor? tumbenan?" tanya Sungwan
"kamu ini, aku kalau sibuk marah, kalau banyak meluangkan waktupun salah"
"hehe sayang, iya maafkan aku" kata Sungwan memeluk suaminya itu
Hajun merasa pelukan dari Sungwan sejak dulu tidak pernah berubah, selalu bisa membuatnya lebih nyaman dan bahagia
mereka bersiap siap, lalu pergi berempat dan tanpa membawa pengasuh kedua anak mereka
karna sama dengan Munha, Hajun juga membayar orang untuk menjadi pengasuh bayaran bagi anak anaknya mengingat dirinya adalah orang yang sibuk
mereka jalan, bersenang senang, dari sore, hingga masuk malam, bahkan mereka sempatkan menonton bersama drama persahabatan anak kecil
setelah menonton, mereka lanjut jalan sebelum akhirnya pulang
disalah satu lapak yang ada di mall itu, kedua anak Hajun akan membeli beberapa kebutuhan sekolah mereka ditemani Sungwan
Hajun menunggu dikursi tunggu depan lapak itu, sambil memainkan hape, tapi tak lama ia malah tertarik pada lapak lain yang berjarak tidak jauh dari lapak anak anak nya berbelanja
ia tertarik pada beberapa atribut bayi perempuan, tanpa sebab ia berbelanja dan membeli beberapa barang disana
sementara Sungwan karna selesai juga semua urusan, Sungwan bersama kedua anaknya keluar tapi tak mendapatkan Hajun
Sungwan berjalan didekat dekat sana dan akhirnya menemukan suaminya juga, membuatnya kaget karna malah melihat sang suami berbelanja lumayan banyak untuk bayi perempuan
"sayangg"
"eh iya, sudah anak anak?" tanya Hajun
"iya, tapi masih nunggu didepan, kamu ngapain disini? ngapain ke toko baju anak bayi?"
Sungwan mulai menginterogasinya lalu melihat kearah tas belanjaan Hajun
"sayang.. buat apa kamu beli ini semua? kami kan tidak ada bayi baru lahir, tidak ada teman lepas hamil juga" kata Sungwan
"yaa bisa kita berikan pada Shinje atau Deshin, atau nanti kalau teman kita ada yang lahir"
"bagaimana pikiranmu memberikan anak anakku pakaian itu? ini bukan baju bayi laki laki Hajun, ini bayi perempuan" kata Sungwan kesal
"ya kan sudah bilang juga siapa tau ada teman kita lepas hamil, gak usah beli lagi"
"gak, ngapain sih, habiskan uangmu saja"
"ini sudah kubeli, kubayar, bagaimana bisa mau mengembalikan sih, lagipula aku tidak memakai uangmu, aku pakai uangku, sudah ah" ucap Hajun
Hajun pergi membawa belanjaan ditangannya, ia sampai dirumah, menyimpan baju baju baru saja ia beli
persiapan tidurpun selesai, Hajun melihat istrinya tidur, lalu iabikut tidur tapi ia setelah Hajun tidur, malah Sungwan bangun perlahan dan menuju ke arah tempat Hajun menyimpan barang yang tadi ia beli
Sungwan melihat lihat lagi dan memerhatikan lagi, Sungwan bingung bagaimana bisa Hajun membeli semua itu
akhirnya Sungwan mencoba sabar, menerima ini, dan memikirkannya dulu dengan tenang agar tidak membuat pertengkaran lagi di rumah
kebiasaan ini memang membuat Sungwan jadi bingung tapi memang inilah yang dirasakan oleh Hajun
entah tidak ada angin, tidak ada hujan, Hajun seketika menyukai beberapa barang bayi perempuan pula
Hajun sendiri tanpa sadar dan itu berlanjut semakin hari dimana bahkan setiap pulang kerja, Hajun selalu ada saja yang ia beli entah sepatu bayi perempuan, baju, tas, mainan, boneka dan lainnya
"Hajun, berhenti, kamu selalu membawa barang barang seperti ini setiap harinya" kata Sungwan
"apa sih, gak masalah kan? aku hanya merasa suka, ini begitu lucu dan menggemaskan"
"cukup ya, aku tidak tau apa yang sudah terjadi padaku, aku tidak tau sama apa yang terjadi, tolong, katakan, kenapa kamu?" tanya Sungwan dengan tegas
"kenapa aku? aku tidak apa apa, apa aku salah, salah aku menyukai semua ini yang kubeli? toh ini bukan barang menyeramkan atau menjijikkan?" jawab Hajun balik
dibiarkan nya lagi Sungwan dengan kecurigaannya, Sungwan menahan semuanya menjadi lebih tenang, ia terlalu takut semakin marah suaminya dan pertengkaran malah jadi semakin jauh menyebabkan hal tidak diinginkan olehnya
akhirnya Hajun memutuskan untuk membawa sebagian barang dibawanya ke apartemennya bersama Munha
ia menyimpan beberapa barang bayi perempuan yang banyak ia beli di kamar gudang apartemen itu, Hajun tidak mau hanya karna kebiasaan aneh dan baru darinya itu malah membuat keributan fatal
"kenapa sama aku, kenapa aku begini ya?" ucap Hajun setelah membersihkan barang barangnya lagi
bahkan Hajun sendiri tidak tau mengapa setiap ia melihat barang untuk anak bayi perempuan, membuatnya begitu menyukainya
sementara Munha? bagaimana kondisi nya setelah hari perkumpulan bersama keluarga Sangja malah jatuh sakit?
Munha hari itu merasa lebih enak, ia bisa esoknya untuk beraktifitas tapi belum bisa untuk bekerja, karna ia pemilik perusahaan, jadi tidak masalah atas kehadirannya atau tidak toh ia juga yang mengurus segala hal dalam perusahaannya bisa dari rumahnya
tapi setelah sehari itu pun masih sering mual...
"aduh, ada apa sama aku sekarang? kenapa aku begini?" ucap Munha dalam hatinya perlahan
Munha malah berpikir begitu dalam, tidak mungkin ia sakit, karna ia tau ketika dirinya akan sakit akan ada beberapa tanda sebelumnya, bukan mendadak tiba tiba mual
"ahh astaga" ucapnya mengingat sesuatu
tapi sekilap ia teringat tentang kedua anaknya, yaa.. kedua anaknya, kenapa?
karna dulu saat ia hamil Yungju dan Jungji, ia merasa jika ia hamil akan mengalami fase seperti ini
kembali lagi mengingat bahwa ia pernah melakukan hubungan intim itu bersama Hajun sedangkan bersama Sangja terbilang sejak anak kedua nya lahir, sangat jarang bahkan hampir tidak pernah
seketika itu lah Munha menjadi kuatir jika benar benar ini terjadi kepadanya
mengambil celah dengan tanpa sepengetahuan Sangja, Munha janjian dengan dokter untuk memeriksa kondisinya menjawab kekuatirannya itu
hari dipersiapkan, dan dimana dihari itu lah, Munha memutuskan untuk pergi tapi ketika ia sudah rapi, ia kaget karna Sangja malah balik lagi ke rumah
"kamu kok balik?" tanya Munha
"iya berkas ketinggalan, sama aku lupa bawa kunci laci meja kerja ku"
"ahh"
"kamu mau pergi?"
"emm, iya tapi sebentar"