You Should Be Me

You Should Be Me
6



"sama siapa? kemana? kok aku gak tau? biasanya pamit" tanya Sangja


"iya tadinya mau telfon kamu diperjalanan, aku mau kerumah temanku" jawab Munha


"siapa?"


"ada, itu yang biasa bikin acara buat Bowni"


"ahh kan bukan jadwal hari ini ya?"


"iyaa tapi ada mau aku katakan saja sih"


"ahh ayo dah sekalian kuantar"


"aaah tidak perlu, jangan deh"


"loh sekalian jalan"


"tidak, aku bawa mobil sendiri, nanti kau antar, kupulang dengan siapa"


Munha menunggu Sangja pergi dulu, sampai bener bener lama agar memastikan ia merasa aman pergi


setelah ia pergi, ia menuju rumah sakit, sesampainya langsung pada administrasi meminta urutan nomor, Munha juga sudah pada gilirannya, lalu memeriksa


dan hasilnya..


"selamat ya, atas kehamilan yang dialami oleh anda" kata dokter


"jadi saya hamil dokter?"


"iya anda hamil, ini hasilnya, silahkan dipelajari lebih dulu"


Munha membaca berulang ulang dan ia benar benar kaget, ia malah menjadi gemetar karna takut


setelah dari rumah sakit itu, ia memutuskan pergi kerumah sakit lainnya untuk memeriksa ulang


tapi dirumah sakit lain itu juga memiliki hasil pemeriksaan yang sama


"selamat ya bu, anda mengandung, semoga ibu dan anak nya sehat" kata dokter itu lagi


"saya hamil dokter?"


"iya hamil, emm ini silahkan surat pemeriksaan hasilnya"


masih belum percaya, ketiga nya, ia masih pergi kerumah sakit lain lagi tapi yang sedikit jauh dari kedua rumah sakit sebelumnya


ia datang lagi, mengantri lagi dan memeriksa lagi tapi masih saja sama jawaban dari dokter berbeda


"selamat bu, anda tengah hamil, ini surat pemeriksaannya bisa di cek lagi hasilnya, silahkan"


"saya beneran hamil dokter?"


"iya hamil, bisa kok kalau mau ditest ulang"


"test ulang dokter"


Munha masih menjadi penasaran pada hasil nya dan hasil keduanya masih sama


"sama masih bu, bisa diperiksa lebih lagi" kata dokter


"ahh"


"apa kamu belum siap?"


"begitu lah dokter"


"lalu bagaimana dengan ayah anak ini?"


"saya.." kata Munha canggung


"ahh okeh, anda terlihat canggung kalau tidak berkenan membahasnya tidak masalah, saya paham" kata dokter


"ahh dokter, berapa bulan sudah?"


"baru satu setengah bulan, sekitar enam mingguan"


"ahh"


masih hasil yang sama bahkan test terakhir ia lakukan dua kali tapi menunjukkan hasil masih sama juga


disini Munha bingung, apa yang mau ia lakukan, ia yakin atas anak itu bukan anak Sangja tapi anak Hajun


seketika itu ia mengendarai mobilnya tanpa pikir panjang, ia langsung tancap gas kearah apartemen nya, apartemen bersama Hajun


ia membawa kunci nya, karna ia memegang kunci akses masuk, Hajun juga masih memegangnya cuma saja sudah lama tidak didatangi oleh nya


sesampainya...


ia masuk, ia merebahkan badannya, lalu bangun lagi, menatap kearah cermin depan meja rias sembari memegangi perutnya


ia banyak berpikir disana, jika ia mengatakan pada Sangja, Sangja tentu tidak akan mengakuinya karna ia dan Sangja memang sudah memutuskan menyelesaikan saja soal anak dan kehamilan


tapi jika berpura pura cuek saja, tanpa memberitahu, juga akan kelamaan ketahuan, ia hamil, tentu makin membesar


jadilah ia menelfon Hajun saja


"halo" sapa Munha


"halo, iya Munha?" sapa Hajun


"dimana Hajun?"


"di kantor"


"kerja?"


"emm, kamu kenapa? tumbenan telfon, ada apa?"


"hemm bisa ketemu kapan ya?"


"kapan gitu, terserah"


"ada apa sih? terburu ya?"


"iya, karna ini begitu penting"


"terus dimana ketemu?"


"di apartemen aku sejak tadi"


"oh baiklah, besok malam ya aku datang" kata Hajun


"kok besok malam sih, aku mau nya nanti malam, kalau bisa ya sekarang"


"aduh gimana ya"


"kenapa? ada kerjaan lebih penting ditimbang aku?"


"bukaan"


"pokoknya nanti malam datang" kata Munha


"iya okeh, siap"


Hajun tidak ada pekerjaan malam nanti tapi ia terbiasa pulang kerumahnya dan sudah biasa pulang dijam sama tapi ia juga tidak bisa menolak segala apa yang diminta Munha karna keberadaan Munha sekarang menyita 70persen hatinya dan 30persen nya untuk Sungwan


tapi apa alasan Hajun nanti kepada Sungwan jika ia akan pulang terlambat sementara Hajun sendiri jika bersama Munha, tidak akan bisa sangat sebentar, butuh waktu banyak dan lama untuk bisa sekalinya bertemu dengan Munha


apalagi mengingat mereka sudah lama tidak bertemu karna sibuknya masing masing


tapi demi bisa bertemu dengan Munha, Hajun selalu mengiyakan dan melakukan apapun segala permintaan Munha tanpa terkecuali meskipun ia tidak bisa


akhirnya ia memberikan alasan lagi kepada Sungwan agar bisa pulang terlambat dan lebih lama lagi bersama Munha


"halo, sayang?" sapa Hajun


"yaa sayang, kenapa?"


"aku hari ini balik terlambat lagi, jangan nunggu aku, tidur saja"


"loh kemana lagi?"


"ada urusan bentar, sama temanku"


"ohh penting?"


"banget, udah ya ini aku dijalan soalnya"


"iya udah"


Hajun mematikan telfonnya agar fokus menyetir, tapi Sungwan malah jadi merasa jika hatinya tidak aman dan tenang


ia berpikir ini sepertinya akan jadi sama dengan sikap sebelumnya Hajun yang pernah sering pulang terlambat atas alasan bersama temannya


ia terlalu takut itu semua kembali terulang setelah beberapa hari kemarin Hajun membaik sikapnya


setelah Hajun pergi dan sampai di apartemennya, ia masuk tanpa mengetuk untuk Munha membukakan, karna ia punya kunci pegangan sendiri


"sayang?" sapa Hajun


"hemm, kamu datang? duduklah, aku masih bikin mie karna lapar"


"gak bawa Bowni kamu?"


"bawa, tidur dia dikamar depan"


"ahh, okehlah"


Hajun memasukkan Beckly juga ke kamar depan agar bisa tidur bersama Bowni, lalu ia kembali keluar


"sayang kamu ada apa menyuruhku datang? kamu ada perlu?"


"yaa, perlu dan sangat penting" jawab Munha sembari jalan ke arah Hajun membawa mie buatannya


"apa?"


"itu, ambil saja kertas dilaci bawa televisi"


Munha memulai makannya, lalu Hajun juga mencari kertas dimaksud oleh Munha


"ini yang mana?" tanya Hajun


"ambil ketiganya, bacalah semua"


Munha masih sedang makan, Hajun mengambil semua bungkusan amplopnya dan membuka satu dari ketiganya


"test kehamilan? siapa?" tanya Hajun


"baca lah, kolom nama kan ada itu namanya"


"sayang, kamu hamil?" tanya Hajun


"terus yang lain juga"


Hajun membuka satu persatu kertas lalu menemukan semua hasilnya positif bahwa Munha hamil


"ini kamu hamil sayang? sama siapa?" tanya Hajun


"bisaaa kamu tanya itu? kenapa masih tanya? lucu loh, aku ya hamil dengan mu" kata Munha


"wooh"


Hajun jadi bingung apa yang harusnya ia rasakan?


bahagia? tentu karna ia bisa mendapatkan bayi atau keturunan dari rahim Munha tapi bagaimana anak anak dan istrinya?


ia memikirkan begitu banyak hal terkait kehamilan Munha disini harus bagaimana