
"aku juga, kenapa malah nasib nya seperti ini? kenapa bisa sampai kecelakaan, tidak ada saksi mata juga yang bisa ditanyai" kata Tanwoo
"sama sekali?"
"iya lah sama sekali tidak ada"
"astaga bagaimana terus? kita butuh dia bangun sih jelasnya untuk menceritakan yang terjadi" ucap Aekyo
"ya bagaimana bangun nya coba lihat dia saja koma" kata Tanwoo
"lalu sepedanya?" tanya Aekyo menatap Tanwoo
"di kantor polisi, ditahan, karna hancur"
"benar benar hancur"
"total"
"astaga, bukankah itu motor Yuhan?" tanya Aekyo lagi
"iya"
"Yuhan apa tau?"
"belum sepertinya"
"aku akan kasih tau"
"ehh ngapain?"
Tanwoo melarang pacarnya itu mengabari Yuhan karna kantornya sudah menerapkan untuk tidak sama sekali mengusik Yuhan, dan Tanwoo mengingatkan Aekyo soal itu
"kamu ingat itu kan, gak lupa ya?" tanya Tanwoo
"ya aku ingat kok, biar aku saja yang mengatakan secara personal, aku saja" kata Aekyo
"tidak ada, gak usah telfon telfon, sudah lah lupakan dia"
"loh kamu kenapa melarangku? kenapa malah menyuruhku melupakan Yuhan? dia sahabatku jauh sebelum aku kenal kamu dan agenci ini ya" kata Aekyo
"loh iya, tapi ingatlah bagaimana perjanjian diberikan Yuhan agar tidak mengusiknya"
"aku akan mengabarinya secara personal, aku sudah katakan itu, tidak akan membawa bawa agenci atau siapapun"
"gak ada Aekyo, kamu akan bermasalah"
"ya sudah, terserah, aku tetap akan menghubungi Yuhan untuk mengabarinya, aku terima konsekuensinya sampai berurusan dengan polisi, niat ku baik kok" kata Aekyo
Aekyo pergi keluar gedung rumah sakit untuk mengabari Yuhan dan disusul juga oleh Tanwoo, meminta agar mengurungkan niatnya tapi Aekyo tetap memaksakan apapun resikonya dia dapat
tapi mereka berdua tidak tau jika di ruangan icu itu, ternyata Jijun mulai sadar
suster jaga disana langsung memanggil dokter untuk pemeriksaan dan benar Jijun mulai sadar
Aekyo benar benar menelfon Yuhan..
"halo, Yuhan?" sapa Aekyo
"ya ko? ini aku, ada apa?"
"aku gak ada niat mengganggu kok Yuhan, aku harap masalah aku telfon ini tidak diperbesar, aku hanya membawa kabar"
"tenang saja lah, ada apa memang?"
"Jijun.. kecelakaan"
"ah serius?"
Aekyo menjelaskan semuanya secara detail bagaimana kondisi Jijun dan juga motor Yuhan
tapi respon Yuhan biasa saja, tidak menunjukkan kagetnya karna sahabatnya kecelakaan dengan motor pemberiannya
"Yuhan? apa kamu mau datang? dia seminggu tidak bangun"
"memangnya apa hubungannya aku dengan Jijun disana?" tanya Yuhan jawab Aekyo
"loh, siapa tau kedatangan kamu bisa membantu lagi Jijun membaik dan sadar"
"gak ada sih hubungannya"
"ada kok, orang koma kan bisa merasakan kehadiran seseorang, mungkin dia terakhir membutuhkan kamu sebagai sahabat"
"nanti aku cari waktu ya, aku sibuk, aku tidak bisa lama lama juga bertelfonan karna qtime dengan Heechul"
"tapi Yuhan..."
"hubungi aku lagi nanti, bye ko" ucap Yuhan menutup telfonnya
"kan sudah kubilang apa juga?" tanya Tanwoo
"ya biarin, penting aku kabari dia kan, siapa tau dia benar sibuk" jawab Aekyo
"aah kamu.." ucap Tanwoo kesal
Tanwoo tidak bisa berpikir jernih atas kelakuan Aekyo disana, yang juga tidak sadar apa yang dia perbuat tidak berpengaruh bagi Yuhan tapi akan berpengaruh pada agenci kalau sampai tau Aekyo menghubunginya
Aekyo dan Tanwoo pulang karna mereka pikir selesai urusannya, sementara Jijun mulai ditangani dokter
esoknya ketika bangtan dan beberapa staffnya kosong dan memutuskan ke rumah sakit, semua tenang karna Jijun sudah sadar bahkan sudah di rawat di kamar inap biasa
"Jijun, kamu membaik?" tanya Seokjin
"ahh iya hyung" jawab Jijun
"sejak kapan sadarnya?" tanya Seokjin lagi
Sangja menjelaskan sejak kapan dan bagaimana cerita nya sampai akhirnya Jijun tersadar
tapi belum ada yang berani menanyakan kepada Jijun apa yang terjadi takutnya mengguncangnya dan membuatnya masih trauma
jadi mereka membiarkan rasa penasarannya dulu hingga Jijun benar benar membaik dan menunggu waktu yang tepat juga kan
saat berkumpul semua, dokter datang memeriksa Jijun dan selesainya ia meminta Sangja untuk bicara di ruangannya, Sangja mengikutinya dan pergi meninggalkan ruangan
Jijun perlahan tertidur karna suntikan obat penghilang nyeri yang tadi diberikan oleh dokter dan mulai beristirahat
disini lah Yuhan datang, saat seorang perawat mengantarkannya keruangan rawat pasien kecelakaan dan meninggalkan Yuhan disana
"disini, itu pasien nya baru saja di tangani dokter, mungkin tidur" kata perawatnya
"ahh terimakasih ya suster" kata Yuhan
Yuhan masuk, melihat ada bangtan, seketika tujuh member dan tuju staff masing masing mereka hanya diam, tanpa bersuara apalagi menyapa Yuhan
Yuhan pun sama, ia hanya melirik sekilas dan langsung memalingkan pandangan pada Jijun
Yuhan melihat kondisi Jijun yang baru operasi, Yuhan mengusap kepala Jijun sambil berkata
"terimakasih ya, sudah menjadi sahabat terbaikku selama ini, semoga kamu membaik" kata Yuhan pelan
suara Yuhan cukup pelan tapi cukup terdengar semua orang diruangan itu kecuali Jijun karna ia sudah dibius agar tidur untuk hilangkan rasa sakitnya
Yuhan berjalan lurus dan pergi begitu saja...
Namjoon melihat sikap Yuhan disana hanya membatin..
orang yang paling tau dirinya, bagaimana seluruh kehidupannya ia tau, menjadi orang yang paling asing sekarang, bersikap padanya
pas sekali ketika Yuhan pergi, ia berpapasan dengan Sangja yang baru dari ruangan dokter
Yuhan melewatinya seperti biasa dan saling sapa juga dengan Sangja
Sangja pikir gadis itu dari ruangan rawat Jijun jadi mungkin teman dari keponakannya itu
Sangja pun berjalan dan masuk keruangan rawat..
"baru saja ada teman kalian ya?" tanya Sangja
"iya paman, teman kami baru saja datang" jawab Namjoon
"siapa namanya?"
"Yuhan" kata Namjoon
"Yuhan?" tanya Sangja kaget
"iya, paman bertemu kan?"
"tadi itu Yuhan?" tanya Sangja
"iya paman, sebelum paman masuk dia keluar"
Sangja langsung berlari mengejar gadis tadi tapi sudah tidak ada, yap.. Yuhan sudah masuk lift dan turun untuk pergi dari rumah sakit itu
kehilangan jejak sudah Sangja tapi ia sangat mengingat bagaimana wajah gadis tadi
ternyata Sangja juga tengah mencari Yuhan, lebih tepatnya memburu Yuhan untuk beberapa hal terkait dengan hubungan Sangja dengan istrinya yaitu Munha yang hancur
jadilah Sangja balik ke ruang rawat inap Jijun
"paman ketemu?" tanya Namjoon
"tidak, biarkan saja"
"apa paman kenal?"
"kan teman kalian"
"iya sih"
tapi Sangja enggan menceritakan mengapa ia mengejar Yuhan karna baginya, member bangtan dan staff disana masih anak anak, jadi tidak akan paham situasinya
"saya titip dulu boleh ya? dokter menyuruh saya menebus obat di apotik luar rumah sakit dulu" kata Sangja