You Should Be Me

You Should Be Me
165



"kamu bicara apa?" tanya Namjoon


"serius aku, aku ingin menikah denganmu"


"kenapa tiba tiba begini? bukankah sudah pernah kuajak menikah, tapi memilih bertunangan? itu pilihanmu kan?"


"iya tapi kurasa cukup masa tunangan kita"


"ohh lalu mau kamu apa?"


"menikah yuk, masak kurang jelas?"


"Han.. aku gak nolak sama sekali, aku malah mau banget, tapi kamu tau bagaimana pekerjaan ku, pekerjaanmu juga sekarang semakin tinggi posisinya kan" kata Namjoon


"iya sih"


"aku janji nikahin kamu, tapi belum sekarang ya Han, jangan terburu sayang"


"iyaa" jawab Yuhan menunduk


Namjoon mengusap rambut dan pipi Yuhan


"kamu kenapa tiba tiba mengatakan itu?" tanya Namjoon


"aku hanya ingin hidup bersama kamu selamanya, aku rasa didunia ini hanya memiliki kamu yang mengerti aku" kata Yuhan


Namjoon berdiri, lalu menghampiri arah duduk Yuhan dan ia berlutut di depan Yuhan duduk untuk memeluk Yuhan


"aku kan selalu ada buatmu, hanya saja aku dan kamu dikesibukan yang bersamaan saja" kata Yuhan


"kesibukan sama memang susah yaa buat waktu berdua diluar"


"tapi setidaknya kita tidak lagi perlu menutupi diri masing masing dari member lain dan staff lain kan"


"iya sih, tapi tetap harus profesional lah Nam"


"iya itu, bener"


mereka melanjutkan makan, menyelesaikannya dan memutuskan pulang ke apartemen Yuhan


setelah sampai di apartemen Yuhan..


mereka sibuk dengan hape masing masing..


Yuhan pergi mandi, selesainya ia melihat Namjoon duduk masih dengan hapenya


"sibuk banget sampai hape aja terus di lihat" gerutu Yuhan sembari mengeringkan rambutnya didepan cermin meja riasnya


Namjoon mendengar itu langsung menaruh hapenya dan melihat kearah Yuhan


mata Namjoon langsung membelalak karna melihat Yuhan memakai baju kaos miliknya yang sudah kekecilan dipakainya tapi terlihat mengepas dipakai Yuhan


tapi yang bikin semakin kagetnya ketika Namjoon melihat Yuhan hanya memakai ****** ***** tanpa apapun lainnya menutupi ****** ********


melihat itu jelas, Namjoon udah seperti kucing yang ketemu ikan, ia langsung berdiri dan menghampiri Yuhan, lalu memeluk dari belakang


"Nam, apa?" tanya Yuhan


"kamu tumben memakai pakaian begini?"


"aku biasa pakai baju gini kok kalau di apartemen"


"masak sih? kok aku gak pernah tau?"


"ya kamu datang saja jarang"


"oh iya"


"kenapa sih peluk?" tanya Yuhan lagi


"pengen peluk, love you"


"love you too"


beberapa menit berpelukan..


Yuhan mendorong Namjoon agar mandi..


"sana sana.. mandi lah dulu, jangan jorok, aku nih udah mandi, kamu peluk peluk kamu nya belum mandi"


Namjoon pergi mandi, Yuhan duduk di kursi kerja yang ada dikamar itu, lalu mengerjakan beberapa laporan tugasnya


selesai mengerjakannya, ia baru sadar lama sekali Namjoon di kamar mandi


"Nam... ngapain? lama amat dari tadi?" ucap Yuhan


"mandi masih, aku sambil buang air"


Yuhan menunggu Namjoon, tadinya mau melihat drama mengajak Namjoon jadi biar ada temannya tapi lama sekali ditunggu sampai Yuhan ketiduran


Namjoon selesai, melihat Yuhan tidur, ia memakaikan selimut lalu memeluk Yuhan setelah ditutupi selimut


"aku tidak bisa berpikir lagi aku bisa memilikiu seperti sekarang, bangga nya aku pada diriku, ahh tapi aku belum bisa kepikiran kehilangan kamu seperti mantan mantanmu yang dulu, aku takut sama dengan mereka yang tidak bisa melupakan kamu setelah kita berakhir nanti" ucap Namjoon dalam hati


Namjoon pun berdiri dan duduk di kursi meja kerjanya yang ada dikamar itu yang tadi diduduki Yuhan


ia melihat ternyata Yuhan baru menyelesaikan pekerjaannya, Namjoon jadi mengerjakan pekerjaannya juga


setelah selesai, Namjoon bermain hape tapi masih di kursi yang sama, ia tengah mager, sama sekali tidak ingin gerak, jadi mengambil makanan, minuman, atau snack ia tidak turun dari kursi tapi menyeretnya karna kursi dipakai nya adalah kursi yang ada roda nya


sekitar tiga jam Yuhan tidur, ia terbangun dan melihat Namjoon masih duduk di kursi itu


Yuhan turun, akan pergi ke toilet untuk mencuci muka tapi Namjoon menarik tangan Yuhan lalu memaksa agar duduk dipangkuannya


"apa Nam? aku cuci muka dulu ya" kata Yuhan


Namjoon memeluk Yuhan dan tidak mau melepaskannya


"aku cuci muka Nam.. lihatah wajahku, masih kusam loh" kata Yuhan


"biarin, aku suka kamu begini, baru bangun tidur tanp make up, natural dan membuatku gemas"


"gimana sih, buluk ini ah"


"biarin ih"


Namjoon malah lebih suka melihat wajah Yuhan yang baru sekali bangun tidur tanpa make up sama sekali


yaa.. terbilang karna hanya Namjoon yang tau bagaimana wajah Yuhan ketika tanpa make up sama sekali


bahkan orang terdekat Yuhan, siapapun itu, orang tua kandungnya atau pun orang tua angkatnya yang pernah tinggal bersamanya, tau wajah polos Yuhan terakhir ketika awal masuk SMP


lepas itu, Yuhan tidak pernah tanpa make up walaupun hanya mau pergi ke depan rumah


disini, masih Namjoon usahakan untuk ia memberikan masukan kepada Yuhan, tentang bagaimana keluarga itu penting


Namjoon tidak membahas keluarga Yuhan tapi cara Namjoon membuat Yuhan agar bisa memaafkan keluarganya dengan cara menceritakan bagaimana Namjoon begitu membutuhkan keluarnya dibandingkan siapapun didunia


bahkan Namjoon dengan terang terangan mengatakan bahwa mungkin saja Namjoon tidak akan lanjutkan hubungannya jika keluarganya tidak merestui Yuhan


berhubung keluarga nya semua menerima sangat baik kepada Yuhan, ditambah beberapa staff dan member bangtan yang seperti keluarga keduanya juga merestui Yuhan bersama Namjoon meskipun Namjoon tau itu sangat berat


tapi Namjoon hanya ingin menerangkan bahwa disini keluarga hal terpenting di hidup, tiang kokoh paling nyata di dunia untuk kehidupan seorang manusia dibumi


"memangnya kenapa kamu mengatakan itu?" tanya Yuhan


"yaa karna bagaimana pun orang diluar bisa menerima kamu, keluarga akan jauh lebih bisa menerima kamu" kata Namjoon


"tapi aku kan ada kamu"


"percaya tidak, bahkan ayah ibumu baik kandung atau angkat, akan jauh lebih bisa menerima kamu seperti aku" kata Namjoon


Yuhan terdiam, ucapan Namjoon benar, ia membenarkan tanpa menyalahkan satu kata kesalahan pun


"tapi mereka tetap orang lain dariku" kata Yuhan


tapi tak lama mereka mengobrol, hape Namjoon berdering tanda telfon masuk


Namjoon tetap tidak menurunkan Yuhan dari pangkuannya, ia tetap memangku Yuhan


melihat hapenya ternyata Boseo menelfon, berasa waktu yang tepat tapi tidak tepat juga


"siapa?" tanya Yuhan


"Boseo" jawab Namjoon menatap Yuhan


"emm"


"aku mengangkatnya boleh?"


"terserah kamu saja"


Yuhan turun dari pangkuan Namjoon, Namjoon berdiri dan menuju ke samping jendela untuk mengangkat telfon Boseo


"iya halo?" sapa Namjoon


"Namjoon?"


"iya aku, ada apa Bo?"


Namjoon sengaja menspeaker telfon itu agar Yuhan dengar percakapan mereka disana