
"tapi tolong ya, jangan menjatuhkan siapapun, kita bersaing biar secara sehat saja" kata Hajun
"lalu bagaimana jika kita kalah? karna kemungkinan besar Yuhan akan memilih Yangsi dan Juan" kata Munha
"bersaing pun tetap dengan cara sehat, Yuhan dewasa, dia akan tau mana baik dan buruk, mana harus ia pertahankan dan buang"
"ya bagaimana nanti kalau Yuhan memilih mereka Hajun" kata Munha
"itu resiko kita lah, kita harus terima karna memang ini salah kita"
"aku tidak tau bagaimana lagi berkata Hajun" kata Munha lemas
"percaya lah saja, Yuhan bukan seperti itu, dia tidak akan membenci kita bagaimana pun kita, toh kita yang kandungnya kan"
tapi sayang, semua pikiran mereka akan kembali mengambil Yuhan tidaklah semudah dengan kenyataan yang harus di hadapi mereka
mereka masih harus berjuang untuk anak mereka yang sudah mereka tinggalkan sejak lahirnya, untuk itu mereka kembali untuk menebus semua kesalahan mereka tanpa berniat mau mengusik kebahagiaan Yangsi dan Hongjuan sedikit pun
baru sampai dirumah sepulang dari rumah Yangsi dan Hongjuan, Munha menangis dan duduk disofa ruang tamu
"disini penyesalan terhebat kurasakan" kata Hajun
"aku lebih menyesal dari itu, aku yang mengandungnya susah payah hingga melahirkannya dengan sangat sakit" kata Munha
Hajun tidak tau harus bagaimana, ia pun pusing, ia hanya menahan keningnya karna pusingnya itu
semalaman, tidak bisa tidur mereka berempat masing masing, ingin menyendiri masing masing dengan beda tempat
Hongjuan di balkon rumahnya,
Yangsi di balik jendela kamarnya,
Munha di kamar depan di rumah barunya bersama Hajun,
Hajun di kamar belakang rumah barunya bersama Munha.
bagaimana dengan Yuhan malam itu?
Yuhan tidur didepan televisi apartemen Namjoon itu
tapi Namjoon bangun sekitar jam lima pagi, ia melihat jam masih jam lima, masih lama, karna jam delapan ia akan pergi ke dorm lagi melanjutkan aktifitasnya
tapi masalah nya ia jadi kaget karna sudah ada di kamar, ia tidur dikasur semalaman padahal ia ingatnya ia tidur di lantai depan sofa televisi memeluk Yuhan
"lah kok disini? siapa pindahin? terus ini Yuhan kemana?" gerutu Namjoon
Namjoon turun, melihat ke arah depan televisi yang masih menyala
"sayang.. kenapa sudah.." ucap Namjoon terhenti
karna saat melihat kearah Yuhan, ternyata Yuhannya tidur, Yuhab tertidur bahkan dengan berserakan snack dimana mana
Namjoon tersenyum menatap wajah cantik itu
"bahkan aku tidak peduli bagaimana kamu, siapa keluarga kamu dan apa posisimu, tapi yang aku tau sekarang hanya kamu yang aku cintai" kata Namjoon pelan
tapi saat akan memindahkan Yuhan, malah Namjoon tidak kuat mengangkat Yuhan karna cukup berat
"astaga, kenapa aku masih tidak bisa mengangkatnya?" gerutu Namjoon
Namjoon mencoba berkali kali, tapi gagal mengangkat Yuhan karna berat
bagaimana bisa Namjoon memiliki berat dan tinggi dua kali lipat dibandingkan Yuhan tapi tidak bisa angkat Yuhan yang hanya seukuran setengah badannya
karna ulah Namjoon ini membuat Yuhan sampai bangun karna kaget melihat Namjoon berusaha mengangkatnya tapi tidak bisa
Yuhan melihat Namjoon seperti sedikit kesakitan menyentuh lengannya
"sayang.. kenapa Nam?" tanya Yuhan
"ahh tidak, maafkan aku sayang, aku tidak bisa memindahkanmu, tadinya mau aku pindahkan kekamar"
"astaga itu? karna itu? haha kupikir kenapa? lalu tanganmu kenapa kok kamu pegangi?"
"ya itu, karna aku mengangkatmu tapi tidak bisa, susah, berat"
dengan jujur Namjoon mengatakan susah angkat Yuhan karna berat, Yuhan marah? tentu tidak, malah tertawa, karna merasa lucu
"haha sayaaang, Nam.. kamu lucu ya, aku setengah mu padahal, kamu tau siapa yang pindahkan kamu dari sini semalam kesana?"
"iya Han, tau, tapi beneran susah"
"iya sih, semua teman ku jaman sekolah dulu bilang memang aku sangat berat, haha gakpapa Nam, aku udah bangun kan"
"karna aku ya bangunnya, maafkan aku ya Han"
"gak papa lah, udah santai aku sayang"
"Nam?" ucap Yuhan
"ya sayang?"
"i love u" kata Yuhan dari hati nya paling dalam
"kenapa sayang?"
"i love u"
"iya love u to pastinya lah, kamu kenapa?"
"makasih sayang sudah buat ku tertawa hari ini"
"iyaa sayang"
Yuhan mengucapkan banyak terimakasih, tentang banyak hal dilakukan mereka bersama selama setengah tahun lebih itu
mengingat Yuhan tidak pernah merasakan hubungan seserius dan sebahagia ini sebelumnya, bahkan Yuhan di usia lebih dari setengah tahun pacaran, pasti ada saja yang membuat mereka ribut tapi dengan Namjoon sekalipun tidak ada
ya meskipun beberapa kali sempat lah istilahnya pertengkaran terjadi tapi selalu membaik lagi
"eh jam berapa ini?" tanya Yuhan
"baru setengah enam sih"
"oh yaudah, kamu kan ke dorm ya, jam delapan"
"iya, kamu jam berapa? ke dorm atau ke agenci?"
"ke agenci tapi aku nanti siangan, lepas jam makan siang baru masuknya"
"ahh yaudah, diam disini saja sementara yaa"
"ya sayang.."
pagi itu, mereka duduk di samping balkon kamar apartemen itu, tidak berani keluar karna takutnya ada yang mengawasi
Namjoon duduk sembari membaca buku, Yuhan hanya bermain hapenya
sekitar satu jam, hampir jam tujuh pagi, Yuhan menyapa Namjoon
"kamu gak masalah punya pacar yang gak satu hobi denganmu?" tanya Yuhan
"ya tidak sih, kenapa?"
"gakpapa sih, aku kan gak suka baca baca begitu, aku lebih suka menonton, video video youtube atau apa di hape"
"oh ya gak masalah, kan perbedaan itu semua pasti rasa Han"
"iya juga sih"
"memangnya kamu tidak masalah punya pacar suka membaca? kan terkesan jadul?" tanya balik Namjoon
"gak lah, itu kan hobi kamu, kalau suka sih ya ngapain dilarang, kan hobi orang beda beda ya" jawab Yuhan
"hehe iya sayang"
Namjoon lanjut baca, Yuhan memerhatikan Namjoon disana dengan wajah polos dengan kacamata nya
"sayang.. makasih ya, buat aku bahagia" kata Yuhan
"kamu bahagia sama aku sayang?" tanya Namjoon
"emm, aku bahagia banget"
"emm, kalau aku melamar kamu?" ucap Namjoon mendadak
"melamar? maksudnya?" tanya Yuhan tegang
"Han, jangan marah lah dulu, lamar untuk bertunangan kok, aku mau kamu benar benar milikku" kata Namjoon
"serius kamu ini?"
"iya serius, aku mau mengikat kamu menjadi seutuhnya milikku setelah pertunangan itu baru aku akan membuka semua kepada staff dan member lainnya"
"kamu yakin keputusan itu?"
"keputusan apa? bilang ke staff dan member lain?"
"iya itu juga, tapi soal tunangan"
"serius aku, kan tunangan Han, belum menikah kok, aku tau kamu tidak akan siap, kamu tau juga bagaimana pekerjaanku"