
Yuhan jadi sedikit menceritakan tentang kehidupan keluarganya, tapi tidak detail
sebatas menjelaskan Yuhan hidup selama lahir hingga dewasa pada orang asing yang mengasuhnya jadi bukan orang tua kandung sendiri
parahnya Yuhan baru tau langsung dengan pertemuan ayah ibu kandungnya langsung
mendengar itu Jijun tidak merasa sendirian, Yuhan adalah teman kerjanya tapi memiliki masalah bersama keluarganya juga
"maafkan aku ya Yuhan" kata Jijun
"sudahlah, kita sama kok, semua manusia itu sama, pasti memiliki masalahnya masing masing"
"bener kamu, ada takaran nya masing masing"
"nah, kamu ada, aku ada, orang lain ada, ada takarannya sendiri, kamu diposisi ku belum tentu kuat, sama pula aku diposisi mu belum tentu bisa menjalaninya" kata Yuhan
"bener, aku setuju, setidaknya kan kita saling lah menghargai"
Yuhan pun memutuskan untuk membantu Jijun
"gimana kalau soal kerjaan, kamu pakai motorku saja" kata Yuhan
"ahh serius Yuhan, terus kamu?"
"aku minta antar jemput kamu saja gimana?"
"aduh gimana maksudnya ini, aku takut salah artikan loh"
Yuhan jadi menjelaskan bahwa motor dipakai Yuhan biar dibawa oleh Jijun, jadi Jijun bawa pulang pergi kekantor dan biarkan motornya dirumah Jijun
untuk bensin pun Yuhan meminta gantian mengisi, jadi waktu pengisian sekaranf Yuhan, wakru mengisi lagi ya Jijun, nanti mengisi lagi Yuhan lagi, begitu seterusnya
tapi syaratnya Jijun antar jemput Yuhan
mendengar itu Jijun seperti mimpi, dipercayakan oleh temannya membawa motor nya
"tidak ini, kamu menggodaiku ya" kata Jijun
"serius lah, bawa kamu, beneran aku, kamu biar ada motor"
"terus kamu dirumah?"
"aku ada mobil, ada motor lain dirumah juga, pakai ini saja deh"
"seriussss ih Yuhaaaan"
"serius Jijuuun"
Jijun berterimakasih sekali pada Yuhan, sampai sampai memeluk Yuhan, Yuhan senang juga sahabatnya bahagia jadi memeluk balik Jijun
"aku tidak akan pernah melupakan kebaikan kamu kepadaku" kata Jijun
"pasti lah, harus diingat, hehe, bercanda, santai lah, aku percaya kepadamu, kamu tidak akan menjual motorku kan"
"ya mana mungkin Yuhan ih ada ada aja"
"hehe"
disini kecurigaan kedua sepupu Jijun mulai terjadi dan semakin menjadi jadi karna melihat mereka berdua berpelukan jadi semakin yakin jika ada hubungan antara keduanya (Yuhan dan Jijun)
"kalau gitu hari ini antar aku pulang, biar motor ini bisa kamu bawa pulang kesini, sekalian kamu biar tau alamat ku tanpa tanya tanya gitu" kata Yuhan
"oh bener, setuju, tunggu ya aku siap siap dulu"
"iya aku tunggu"
Jijun masuk dan saat akan keluar, kedua sepupunya mencegatnya, menginterogasi nya, menuduhnya berpacaran dengan Yuhan itu
"itu pacarmu ya? kamu tidak kenalin kepada kita?" tanya sepupunya
"ahh bukan, itu temanku"
"masak teman berpelukan, aku lihat tadi itu" jawab sepupu satunya lagi
"aku memeluknya karna dia memberikan ku pinjaman motor jadi aku gak menyusahkan kalian kan"
"tuh, masak gak ada hubungan jelas jelas sampai motor dikasih"
"bukan di kasih, dipinjami"
"ayo coba kenalin kekita kalau kamu gak bohong"
"loh ayo, aku berani" jawab Jijun dengan yakin
Jijun jadi mengenalkan kedua sepupunya pada Yuhan, Yuhan menyambut salam perkenalan dengan baik
"Yuhan, kenalin sepupuku ya" kata Jijun
"waah boleh banget"
"ini Jungji dan Yungju"
"Jungji" sapa sepupu Jijun
"Yuhan" sapa balik Yuhan
"Yungju" sapa sepupu Jijun satu lagi
"Yuhan" sapa balik Yuhan lagi
"ahh iya gakpapa lah, aku dan Jijun teman dekat kok, sahabat kita" jawab Yuhan
"hehe maafkan kami nuna" kata Jungji
"ini adik kakak? apa sepupuan juga beda ayah ibu?" tanya Yuhan
"ahh saya adiknya nuna, ini kakak saya" kata Yungju
"waah, salam kenal yaa, senang kenal teman baru"
mereka berkenalan sedikit disana dan Jijun pun berpamitan mengantarkan Yuhan
karna Jijun tidak tau rumah Yuhan jadi sekalian Yuhan memberitahu Jijun agar nanti menjemputnya enak
"ayo gantian mampir dulu Jijun" kata Yuhan
"boleh"
Jijun pertama kalinya datang kerumah Yuhan itu dan melihat semua isi dalam halaman rumah itu banyak hewan peliharaan Yuhan membuat Jijun kaget tapi takjub juga
ternyata benar kata staff lain yang mengatakan jika Yuhan bukan staff biasa, ia termasuk dalam staff paling kaya raya
"nah, makan dulu, ngobrol kita lah" kata Yuhan
"siap, aku baru ini kesini loh"
"oh ya? waah, bangtan sudah pernah kemari, beberapa staff mereka juga"
Yuhan juga mengenalkan Jijun kepada ketiga temannya disana
setelah mengobrol, makan, barulah berpamitan Jijun untuk pulang
sesampainya dirumah..
Jijun di interogasi kedua sepupunya tadi
"Jijun, itu beneran kan bukan pacarmu?" tanya Jungji
"bukan lah, dia sahabatku"
"kalau aku dekatin dia bagaimana?" tanya Jungji
"apa mau padamu? pasti maunya pada ku itu" kata Yungju
"ih kalian apaan sih"
"serius deh, aku mau kenal sama dia, cantik banget dia, wangi pula, betah pokoknya sama dia aku rasa" kata Yungju
"aku harus setia dapatkan dia loh" jawab Jungji
"jangan kan kalian, akupun mau lah, tapi selera dia bukan kita"
"kenapa berat terkesannya?" tanya Yungju
"gak berat, gakpapa sih, terserah kalian"
"bener nih, kalau pacarmu, aku gak berani ambil lah, aku mikir juga loh" kata Yungju
"astaga bukan bukan, silahkan kalau mau dekati"
"emm, dia ada pacar tidak?" tanya Jungji
"gak tau juga"
"lah katanya dekat?" tanya Yungju
"dekat tapi setauku sih gak ada ya, dekat dekat sama anak sekantor itu biasa sih"
Jijun menjelaskan siapa Yuhan, bagaimana Yuhan dengan mantan mantannya dan juga kehidupan kekayaan Yuhan
Jijun menjelaskan intinya sekelas Yuhan tidak akan mau dengan pria diantara mereka bertiga yang biasa saja
balik pada Yuhan di rumah nya, besoknya, Yuhan mendapatkan telfon dari Namjoon, mereka telfonan disana, Yuhan sambil duduk didepan latar rumahnya
"kamu gak berangkat kantor Han?" tanya Namjoon
"siangan aku pergi, eh iya, au mau cerita sama kamu Nam"
"soal apa?"
"soal Jijun"
Yuhan menceritakan soal motornya yang ia percayakan pada Jijun dan pasti akan pulang pergi sering bersama Jijun, Namjoon mendengar penjelasan ini tidak masalah, karna Yuhan sudab terbuka kepada nya
"kamu dimana sekarang?" tanya Yuhan
"aku sudah di dorm sih, kesibukan ku banyak"
"semangat sayang, terus jaga kesehatan mu ya"
"siap sayang, makasih perhatiannya, kamu juga lah, harus jaga diri yang penting, jangan aku saja"
"iyaaa jelas itu lah" jawab Yuhan
tapi belum menutup telfon nya, Munha dan Hajun datang, Yuhan yang memang sudah menunggu mereka langsung tak sabar menginterogasi mereka tapi dalam kondisi telfonnya menyala jadi Namjoon bisa mendengarkan obrolan Yuhan