
ya.. memang masih satu tanah dengan rumah itu tapi tetap tidak lagi satu atap
ada Unji sebenarnya tinggal dirumah itu juga, di kamar bagian lantai pertama sedangkan kamar Yuhan lantai kedua
rumah Yuhan ada dua lantai, tidak seperti rumah sebelumnya yang ada tiga lantai, kali ini hanya dua
itupun hanya Yuhan dan Unji yang pakai
jadi lantai atas adalah area Yuhan sepenuhnya
sedangkan lantai dibawah adalah area Unji sepenuhnya
jika dari orangtua menginap, Yuhan akan berikan jatah tidur di lantai atas, tapi hanya orangtua (Munha, Hajun, Hongjuan, Yangsi)
lain itu Yuhan memberikan jatah menginap di lantai bawah bersama Unji
Yuhan naik dan beristirahat dalam kamarnya, dari jendela ia menatap ke langit
ia berpikir, tidak ada hal yang membuatnya sedih sampai merenungi dirinya seperti sekarang, karna Yuhan bukan lah tipe yang suka susah dan menyakiti dirinya sendiri
selama hidupnya, ia tidak pernah terdiam, merenungi nasibnya tapi kali ini ia terdiam sendiri dalam kamar tanpa siapapun tanpa melakukan apapun
ia hanya terdiam memikirkan nasib nya bagaimana bisa ia dua kali gagal menikah dengan masalah yang besar
bahkan dalam kontesnya selalu Yuhan yang ditinggalkan, bukan Yuhan yang meninggalkan
Yuhan berpikir, apa itu adalah balasan atas dirinya di masa lalu yang sangat mudah memutuskan hubungan dengan sepihak?
Yuhan menjadi flashback ke masa masa sebelum sebelumnya, bahkan beberapa minggu lalu terakhir, dimana ia bertemu dengan sahabatnya dan bercerita banyak hal terkait masalah nya dengan sang pacar sampai sampai menyatakan mereka anti pernikahan
sekarang Yuhan baru paham diposisi kedua temannya itu, ada hal tidak bisa dijelaskan dengan detail mengapa sampai memutuskan tidak mempercayai hubungan pernikahan
dan itu dialami Yuhan sekarang dan bahkan lebih parah mungkin di rasakan Yuhan
dua teman Yuhan pikirkan itu yaitu Hyuni dan Jiwook
tak lama ada yang mengetuk kamarnya, itu Unji
"nunaaa? kamu tidur atau tidak?" tanya Unji
"kenapa?" tanya Yuhan
"diluar ada Bo bos dan anak istrinya" kata Unji
"ahh iya, suruh dia masuk, aku akan mandi dulu"
Yuhan beberes badannya dan pergi menemui Boseo di bawah..
"hai Bo, Naryu? baby Ryuuung?" sapa Yuhan
Yuhan baru turun langsung menggendong Ryungbo
"ahh kami kerumah mu kali ini gak susah eoni" kata Naryu
"oh ya, biasa nya?"
"biasa nya susah banget lah, kelewatan kadang juga belum sampai sudah berhenti, gitu gitu"
"ahh, kenapa tuh bisa gitu?"
"iya karna kali ini rumah dengan lahan tanah terbesar, mudah lah didapatkan"
"haha"
"kau serius disini tinggal nuna?" tanya Boseo
"iya lah, kenapa?"
"waaah besar kali nuna"
"eh iya, kalian orang pertama yang datang kerumah ini loh"
"pertama? beneran?" tanya Boseo
"iya, orang asing kesini yang pertama kalian"
"memangnya mam, pap, atau amma appa kamu tidak datang?"
"belum sempat mereka, masih sibuk sibuk"
"ahh"
"ayo aku ajak jalan jalan keliling disini" kata Yuhan
"waah iya ayo, mau banget" kata Naryu
mereka pun jalan disekitar sana sembari mengobrol beberapa hal
setelah hari itu, beberapa hari berikutnya, kurang lebih semingguan lah, baru keempat orangtua Yuhan yang datang
ketika Yuhan baru masuk, ia baru datang dari pengawasan di Bobly food karna mengecek kebutuhan pemasukan disana
"oh, iyaa, ini bentar lagi turun"
"yaa"
jadi antara Yuhan dengan semua orang yang dekat bahkan tinggal dengannya selalu menyebut "fams" yang artinya family, itu ketika keempat orang tua Yuhan datang bersamaan
ketika sendiri sendiri ya tidak, biasa saja memanggil panggilan dari Yuhan seperti misalkan mam, pap, appa, atau amma
tak lama Yuhan turun menyapa mereka diruang tamu utama
"Yuhan, mam kesini jadi gak ribet tau, karna amma sekali nya kesini langsung dapat tempatmu" kata Yangsi
"haha sama deh amma dengan Bo kemarin, bilang gitu juga"
"Bo kesini? sama siapa?"
"sama anak dan istrinya mam"
"di duluan dong yang datang?" tanya Yangsi
"aduh Yuhan maaf ya nak, kami terlambat, karna pekerjaan" kata Hongjuan
"gakpapa lah pap, yang penting kesini aja sempat nya kapan terserah"
"ini beneran kamu beli ribuan hektar? besar sekali?" tanya Hajun
"iya pa, memang sekalian Yuhan buat usaha, kan Yuhan sudah gak kerja lagi"
"gak habis uangnya buat semua ini?" tanya Hajun
"habis pa, tapi kan usaha nya jalan, terkumpul lagi"
"terus rumah rumah yang lama lama?" tanya Munha
"satu aku jadikan makam" kata Yuhan
"iya, amma tau, lainnya? kan masih ada dua rumah?"
"gampang lah, nanti Yuhan akan kontrak.an"
semua berempat disana tidak menyangka, Yuhan ternyata bisa setajir itu, yaa meskipun mereka tau Yuhan dapat jatah bulanan dari mereka, tapi mereka yakin, dikumpulin juga gak akan sebanyak ini
Yuhan memang tipikal orang yang semua serba mewah, jadi semua harus bermanfaat baginya
Yuhan tidak pernah melewatkan satu detik saja waktunya tanpa bermanfaat untuk money nya
orang tua Yuhan disana membahas bagaimana Yuhan kedepannya perihal asmara
"ahh soal cinta cintaan, terhapus sudah, gak fokus kesana lagi sudah lah" jawab Yuhan
"loh padahal amma ada rekomendasi loh, anak dari teman kuliah amma" kata Munha
"lah aku juga, mam juga ada, niatnya kenalin ke anak klien mam" jawab Yangsi
"apa sih maaa, maaam?" ucap Yuhan
"appa juga sebenarnya ada lah, kenalan buat kamu, anak dari teman sekolah jaman appa sekolah dasar dulu, anaknya seusia kamu, yaa tua sedikit lah" jawab Hajun
"pap ada juga, mau pap kenalin ke anak dari sepupu pap, sepupu jauh, sekalian kenalin kamu ke keluarga besar pap gitu" kata Hongjuan
"pap.. appa.. gini ya, buat amma dan mam juga, Yuhan memutuskan tidak akan pernah berpacaran" kata Yuhan
"loh kenapa?" tanya Yangsi
"iyaa, Yuhan tidak lagi akan menjalani hubungan dengan pria manapun"
"kamu..?" tanya Munha
"sssst, jangan berpikir buruk dulu"
"kenapa ma?" tanya Yuhan
"kamu bilang kan tidak mau berhubungan dengan pria manapun, apa itu artinya kamu memilih menyukai sesama perempuan?" tanya Munha dengan nada perlahan pelan
"kan, kepikirannya, kebanyakan nonton drama luar luar negri yang banyak adegan sesama jenis ini" gerutu Hajun
"apaan sih pikiran mu Munha?" tanya Yangsi
"kepikiran juga sih Munha benar, Yuhan nya bilang begitu kok, gak salah kan?" sambar Hongjuan
"pap!" ucap Yangsi kesal
"gini gini, maa, paa, mam, pap, Yuhan sama sekali gak berniat atau kepikiran saja soal menyukai sesama jenis, Yuhan normal kok" kata Yuhan
"kan?" ucap Yangsi lega
"ya terus tadi?" tanya Munha
"hanya salah paham saja"