You Should Be Me

You Should Be Me
87



Namjoon kepikiran malah itu Kwan, yang tadinya yang ia tidak cemburukan begitu berat, tapi sekarang ia yakin itu pasti Kwan, ia masih akan tetap mencari tau perkara Kwan dengan kaitannya pada surat itu


tak lama malah Yuhan menelfon..


"halo?" sapanya


"halo, Nam? kamu dimana?" jawab Yuhan


"di dorm, dikamar, kenapa?"


"gak, dari tadi kepikiran kamu, aku takut kamu malah jadi gak fokus lain lain karna surat itu"


"tidak kok"


"jangan dipikirin terlalu lama ya, aku tidak mau fokus mu pecah dan berantakin semua kerjaan"


"iya sayang, tenang saja kamu, aku santai kok"


"yaudah, makasih ya pengertiannya maafkan aku ya sudah membuatmu sedikit banyak pasti kepikiran"


"iyaa, iya"


Yuhan perhatian?


bukankah itu baru didengar? selama ini Yuhan bukan tipe perhatian, apalagi menanyakan kekuatirannya, dan ia hanya lakukan tanpa sadar itu pada Namjoon


malah Namjoon cukup senang karna itu terkesan jika Yuhan benar benar sudah bisa menerima dia sebagai pacar dengan banyak perhatian kecil


hari berlalu..


Yuhan kembali keruangan bangtan sebelum kesibukannya semakin banyak dan bangtan ada acara keluar kota di pegunungan untuk variety show mereka


"Namjoon?" sapa Yuhan


"yaa?"


"kemana yang lain?"


"masih diluar, pada sibuk masing masing"


"ahh"


"gimana, kamu sudah tau siapa yang mengirim surat kemarin?" tanya Namjoon


"belum, sudah lah lupakan saja, aku tidak bermaksud buatmu kepikiran loh, aku kan bilang semalam apa" jawab Yuhan


"iyaa, penasaran saja, mana hapemu"


"kenapa?"


"aku yang pegang"


"mana ada? buat apa? kalau aku butuh?"


"pegang hapeku ini"


"bagaimana mungkin"


"iya lah, untuk saat ini, kamu tidak butuh menghubungi seorang lain delain aku"


"lalu kalau aku butuh hape itu?"


"kabari lah, lewat hapeku kesini"


"tapi hapemu, kenapa tinggal di aku? ini bukannya banyak kerjaanmu?"


"hape satunya, itu aku berikan hape pribadiku, disitu hubungan dengan keluarga, sahabat, teman"


"ahh"


"sudah pegang itu Han"


"iya sudah"


Yuhan kembali ke kesibukannya tapi Namjoon memanfaatkan kesempatan kosongnya yang sedikit untuk mencari tau tentang hasil tulisan Kwan


ia menuju ke beberapa staff dulu untuk melihat beberapa tulisan tangan mereka, dan menanyakan tulisan dari Kwan


bahkan Namjoon mendapatkan hasil tulisan Kwan sendiri dari sebuah kontrak dari Haneul


"ini kontrak dari pak Kwan" kata Hanuel


"oh, tulisan tangan?" tanya Namjoon


"yaa, wajib kan seperti biasa, kamu pelajari sama bangtan"


"okeh nuna"


Namjoon dengan teliti memerhatikan dan mencari sedikit saja kesamaan tapi jauh berbeda


ia mencari kemana mana tapi tidak ada yang mirip satupun, sampai ia bingung siapa pengirim suratnya


Namjoon pun mengecek hape Yuhan keseluruhan sembari mencari siapa yang mengirim surat itu sembari ia melihat apa saja isi dalam hape itu


mulai dari pesan chat, riwayat panggilan, sampai ke kontak tersimpan


tidak ada yang membuatnya curiga, dan memang Yuhan bukan tipe yang menyimpan nomor dari masa lalu nya


ia selalu ganti ganti nomor pribadi setiap ia putus dengan pacar lama nya, kecuali nomor khusus untuk keluarga dan sahabat nya


jadi Yuhan selalu memiliki tiga nomor berbeda dengan tiga hape berbeda


hape pertama yang nomornya tidak ada yang tau kecuali pihak perusahaan yang ia geluti miliknya pribadi yang di uruskan oleh Boseo dan juga untuk pekerjaannya bersama enam teman sasaengnya


hape keduanya tentu hape untuk pribadi, sahabat paling dekat, saudara, orang tua, inti inti yang penting dan bersifat tetap


dan hape ketiga inilah nomor pribadi yang memang sengaja untuk Yuhan pakai dengan pacarnya


jadi nomor yang Namjoon ketahui adalah hape Yuhan yang ketiga saja, jadi yang Namjoon tau asama dengan yang Heechul tau


sementara nomor kedua, Namjoon tau, ia akan mengeceknya lain waktu karna jika hape itu akan sangat dibutuhkan Yuhan bersama Jazlyn, Nania dan Misilia


esoknya..


saat bangtan akan pergi, Yuhan datang untuk melakukan pekerjaan nya sebelum bangtan pergi


saat semua pada lengah, Namjoon mendekati Yuhan


"kamu jadi bawa hapeku keluar negri juga?" tanya Yuhan


"oh tidak, aku kembalikan saja Han, tapi aku pinjam hapemu yang satu lagi?"


"mau dibawa ini?"


"gak, aku lihat saja"


Yuhan memberikannya saja dan Namjoon memeriksa banyak hal disana tapi sama saja


hingga ia menemukan sebuah nama pria asing baginya


"emm ini aku kembalikan juga deh, sama saja, eh tapi aku mau tanya saja"


"apa?"


"ini nama Jiwook, siapa?"


"Jiwook? dia pacar sahabat aku, Jiwook sendiri malah juga sahabat aku"


"oh ya? emm, kalau Eonji?"


"Unji? itu yang sempat jadi teman ku dan menjaga aku itu loh"


"yang mana?"


"yang dia kerja sebenarnya di perusahaan bersama Boseo"


"ahh iya"


"kalau Jiwook, nanti ada kesempatan aku kenalkan ya" kata Yuhan


"serius? ya udah boleh"


setelah selesai hari itu, Yuhan akan balik sama staff lain ke agenci, bangtan persiapan pergi


sekitar lima hari berjalan sudah Yuhan dengan kesibukannya dan tidak pernah bertemu bangtan apalagi Namjoon, bahkan untuk saling kabar pun sudah tidak pernah sama sekali semiggu full itu


Yuhan baru merasakan begini rasa pacaran dengan seorang idol bahkan dapat leader nya


disaat Aekyo ada di dorm, dorm tengah sepi, Hyohoon datang dan memberi kabar pada Aekyo jika ada di depan dorm bangtan


"halo, aku didepan dorm, kamu di dorm kah?" kata Hyohoon


"lah didepan mana?"


"pagar besi, diluar kok, keluar lah"


"bentar"


Aekyo keluar kearah satpam jaga


"cari siapa nuna?" sapa satpam jaga disana


"ahh ini pak teman saya, datang, tapi mana, bentar ya pak saya numpang"


"iyaa"


tak lama Aekyo melihat Hyohoon di sebrang jalan, ia mendekatinya


"ada apa?" tanya Aekyo


"soal surat kemarin beneran sampai ke Yuhan kan?"


"iya lah, aku taruh dimeja kerja itu, dan bahkan aku sempat lihat dibaca"


"kok gak ada respon yaa"


"memang isi nya apa?"


"ya ungkapan aku merindukan dia"


"itu saja?"


"iya"


"gak kamu kasih nama kalau darimu?"


"tidak"


"ya kasih kali"


"ya kupikir gak usah, dia pasti tau, tu dariku"


"kasih harusnya biar tau, pantas saja tidak ada respon"


"iya udah, ini lagi, titip"


"apa lagi?"


"masih surat kok, kasih saja seperti kemarin"


"dikasih nama tidak?"


"kasih kalau itu, kemarin memang lupa"


"ehmm dasar yaudah"


"ini buka saja, baca, apa yang kurang kata katanya kalau menurutmu kurang"


"ahh jangan, biarin kukasih langsung, aku bukan tipe kepo kok"


"loh ya gakpapa, buat mastikan saja"