You Should Be Me

You Should Be Me
11



akhirnya mereka duduk berdua di kasur itu dan Hajun berpindah arah duduk Munha lalu berkata..


"bisakah kita membahas banyak hal?" ucap Hajun


"tentang?"


"tentang pasangan kamu, nanti biarku ceritakan masalah pasanganku, agar menjadi sharing saja"


"kurasa ide bagus, membahas keluarga ku sebagai rasa rinduku"


mereka berdua bergantian menceritakan bagaimana kehidupan pernikahan mereka dari awal kenal bahkan sampai menikah dan memiliki dua anak


Munha menceritakan banyak sekali hal dilewati bersama Sangja, menjelaskan jika Sangja sejak awal tidak pernah berubah, Sangja masih menjadi pria sabar, perhatian, baik, dikalah banyak pria merasakan ego nya lebih tinggi dari hatinya tapi Sangja tidak


perbandingkan saja dengan Hajun, Hajun tipe yang cukup gengsi, buktinya ia berkenalan pertama kali dengan Munha saja masih sangat lama dan butuh waktu hanya karna ia gengsi sementara Munha butuh pria yang seperti Sangja bukanlah Hajun


"apa kamu bahagia?" tanya Hajun


"tentu, sangat bahagia"


"lalu mengapa kamu mau berkenalan denganku?"


"bukankah itu sebuah hal tidak kuduga, kau mengajakku berkenalan dan menembakku"


"ahh iya aku tau itu, kurasa memang aku yang memulai semuanya, bahkan aku suka lebih dulu kepadamu"


"lalu mengapa kau melakukan itu? bukankah kau juga sudah memiliki keluarga? apa kau kurang bahagia?" tanya Munha


Hajun gantian menjelaskan, ia tidak mengatakan dirinya tidak bahagia, ia cukup bahagia bahkan sangat bahagia tapi ada beberapa hal membuatnya terkadang bosan pada hubungannya dengan sang istri


Sungwan adalah tipe wanita yang sangat bawel, itu hal mendasar paling membuat kesal Hajun, karna terlalu bawelnya Sungwan kepadanya


tapi jauh dari itu, Hajun jauh lebih tau sisi lain dari sosok Sungwan yang begitu pekerja keras, bukan tipe gadis yang manja dibandingkan dengan Munha saja mungkin terbilang semangat kerja Munha masih kalah dengan Sungwan


tapi hanya bawelnya Sungwan saja terkadang membuat Hajun bosan


"bukankah bawel itu berarti dia peduli? ingat ya Hajun, wanita dimana pun, siapapun, kapanpun, akan bawel sekali jika ia peduli" kata Munha


"yaa aku tau, aku kadang berpikir itu untuk kebaikanku tapi balik lagi aku adalah pria, cukup sekali dua kali dan selesai" kata Hajun


"yaa, aku hanya beri masukan, semua wanita didunia ini bawel, yaa, kalau dia diam artinya tidak ada lagi rasa pada lelaki itu"


"bagaimana bisa?"


"cari tau saja bagaimana istrimu diluar rumah dan bersikap pada pria lain termasuk saudara saudara laki nya bahkan termasuk ayahnya" kata Munha


Hajun berpikir ulang, ia sempat tau memang bagaimana sikap Sungwan pada pria lain baik itu teman terbaiknya ataubpada saudara nya sekalipun dan membandingkan pada dirinya, Munha benar, pasti akan ada perbedaan meskipun sedikit


membahas pasangan, pergi membahas kedua anak dari mereka masing masing


"lalu bagaimana soal anakmu?" tanya Munha


"anak ku, ahh, mereka begitu lucu, masih baru masuk sekolah, hanya berjarak kurang dari dua tahun, yaa setahun lebih" kata Hajun


"oh ya? sama" kata Munha


"sama bagaimana?"


"sama, anakku dua, laki laki semua, hanya berjarak setahunan lebih sih, dan dua itu saja anakku" kata Munha


"oh ya? serius? kebetulan!"


ternyata keduanya baru sadar jika mereka ternyata sama sama memiliki dua anak dan dua duanya adalah laki laki


"emm, oh ya Munha" kata Hajun


"kenapa?"


"wooh? kenapa?"


"aku juga tidak tau, aku hanya menyukai nya saja, dan itu memicu pertengkaran juga aku dengan istriku" kata Hajun


"oh ya? lalu bagaimana barang barang itu?" tanya Munha


"ada, semua ada dikamar gudang kita"


Hajun mengajak Munha melihat semua barang di gudang itu dan benar banyak sekali, mulai dari aksesoris lengkap, baju, mainan mainan, semua yang berbau bayi perempuan dari usia sebulan hingga setahun


"waah banyaknya bagaimana bisa kamu menyiapkan semua ini padahal kita belum tau tentang anak kita bagaimana"


"aku juga tidak tau Munha, aku sangat suka saja tiba tiba, marah lah istriku"


"ya lah marah, anak anak mu laki laki semua, kamu membeli ini semua, anakku saja juga laki laki semua"


"nah itu, aku yakin anak kita perempuan"


"hemm, semoga saja, biar tidak sia sia kamu menghabiskan uang"


"uangku belum habis, tidak akan habis"


"iyaa tapi ini kamu membeli sebanyak itu"


"yaa namanya suka, itupun aku tidak tau mendadak suka beginian"


Munha dan Hajun sama sama tidak tau jika semua hal adalah kebetulan dimana Hajun menyiapkan banyak barang anak perempuan dan yang dikandung Munha adalah anak perempuan hanya saja mereka tidak pernah memeriksa untuk tau kelamin nya


bukan untuk sebuah sureprize tapi karna keduanya memang tidak menginginkan bayi


saling sharing malam itu tentang kehidupan rumah tangga mereka, sebenarnya tidak ada masalah, hanya saja keduanya tengah bosan dalam rumah tangga


itu wajar, hampir semua rumah tangga dan kehidupan setelah menikah pasti sama sama pernah melakukan itu, tak terkecuali mereka berdua


hanya waktu dan pengalaman sekarang mendewasakan mereka arti diri sendiri bagi keluarga itu sangatlah penting


disisi lain juga, akan ada korban di setiap masalah mereka hadapi, mungkin keluarga mereka baik suami, istri, dan anak anak mereka nanti nya akan memaafkan bahkan melupakan, menerima kesalahan tapi bagaimana dengan nasib anak yang ada pada perut Munha?


entahlah, tapi sudah jelas bayi itu lah korban dari segala ke-egois-an Munha dan Hajun


hari berlalu begitu cepat, waktu tak terasa sudah masuk bulan kehamilan Munha ke tujuh yang artinya akan sisa dua bulan lagi pada kelahiran


selama itu juga, Yangsi tidak perna lupa memberikan perhatian pada Munha dan Hajun selama menjalani masa terkurung keadaan itu


ia selalu datang hanya menanyakan kabar Munha,


kadang membawakan Bowni dan Beckly bergantian agar melepas rasa rindu Hajun dan Munha pada peliharaannya itu,


membawakan makanan ketika ia sedang masak banyak,


bahkan ketika sibuk, ia selalu menyuruh Hongjuan untuk mengantarkan apapun yang perlu diantarkan kepada Munha dan Hajun,


bahkan hanya sekedar menelfon ia pun tidak pernah melupakan itu sebagai bentuk perhatian sebagai sahabat keduanya ketika keduanya tengah dalam masalah.


"aduh Yangsi, makasih banyak ya, aku pikir aku sangat membuatmu susah" kata Munha


"ahh Munha, jangan berpikir begitu, kita berteman sangat lama"


"iya Yangsi, kamu banyak sekali jasa, aku tidak akan melupakan masa ini" kata Hajun


"ya jangan dilupakan lah, masak mau melupakan aku" jawab Yangsi berusaha mencairkan suasana


"aku pikir kau hanya teman, tapi kau sahabat bahkan malaikat" kata Munha


"apasih" jawab Yangsi malu malu