You Should Be Me

You Should Be Me
8



"eh iya, kenapa tidak bilang Munha kalau hamil? aku baru tau tadi ini barusaja" kata Yangsi


"aaahh? apa nya ya?" tanya Munha


"itu, argh kamu ini, sini, berdiri, ayo ikut aku"


Yangsi menarik tangan Munha, membawanya ke kandang dan menunjuk kearah Bowni


"dia hamil loh, jangan bilang kamu tidak tau" kata Yangsi


"wooh masak sih?"


Munha membuka kandangnya dan melihat Bowni tapi ia benar benar tidak tau Bowni tengah hamil


"anak sama siapa?" tanya Yangsi


"ahh apa mungkin itu anak Beckly?" tanya Hajun


"ahh iya, Bowni hanya kumpul (tidur) dengan Beckly" jawab Munha


"ahh gemes banget, kalian gak tau jadi kalau Bowni hamil? waah keterlaluan sih ini, kamu ini Munha"


Munha dan Hajun merasa lega karna ternyata yang hamil diketahui oleh Yangsi adalah Bowni, harimau peliharaannya


mereka kembali duduk di ruang tengah rumah Yangsi, disini lah keduanya mulai membahas tentang hubungan gelap mereka


"oh ya, tadi aku tanya belum dijawab ya"


"oh yang kita bisa barengan? yaa kita mau jelaskan itu juga" jawab Hajun


Yangsi mulai curiga apa yang terjadi antara keduanya melihat bagaimana keduanya datang bersamaan itu hal mengejutkan


"kalian jangan bilang.." ucap Yangsi terhenti


Hajun menjelaskan bagaimana ia kenal, dekat, hingga berpacaran dengan Munha


"kan apa aku bilang, kalian.." ucap Yangsi


"kami minta maaf jadi akhirnya kamu yang terlibat atas pertemuan kami" kata Munha


"iya lah, diacara ku kalian datang dan bertemu, aku jadi merasa memberikan jalan kalian untuk dekat"


"emm aku mohon Yangsi jangan permasalahkan kami, kami hanya soal waktu saja" jawab Hajun


"okeh, emm tapi, masalahnya apa kalian sudah sama sama tau soal..." ucap Yangsi terhenti


"yaa tau, kami sama sama tau bahwa kami dalam situasi salah" kata Hajun


"ya? kalian sama sama tau kalau sudah sama sama menikah?"


"yaa kami tau" jawab Hajun lagi


"oh okeh, ini benar hubungan gelap, tapi apa hubungan kalian diketahui oleh pasangan kalian masing masing?"


"tentu tidak" jawab Hajun


"oh okeh, bagaimana nanti kalau mereka tau?"


"untuk itu aku datang kesini membahas ini bersama mu, berikan kami jalan keluar" kata Hajun


"hemm" ucap Yangsi


"ada satu hal lagi yang mau aku katakan disini dari hal semua yang terpenting" kata Munha


"wooh? apa lagi?" tanya Yangsi


Munha menjelaskan bahwa ia tengah hamil anak nya dengan Hajun dalam hubungan terlarang itu


"hamil?" ucap Yangsi kaget


"iyaa, makanya kami tegang ketika kamu membahas hamil tadi" jawab Munha


"bagaimana bisa, bukankah kalian tau hubungan ini salah"


"kami tau hubungan ini salah setelah kejadian, dan setelah aku hamil kebobolan" kata Munha


"what? ahh tunggu, jelaskan secara rinci, aku belum paham, dari awal lagi"


Hajun dan Munha bergantian kembali menjelaskan semuanya, yak semuanya secara detail kepada Yangsi


Yangsi mulai memahami, ia langsung merasakan pening, bahkan mereka berhubungan sejauh itu dibelakangnya padahal bertemu di acaranya


"maafkan kami" kata Munha


"aku tau kamu kecewa" kata Hajun


beberapa menit, barulah mood kembali datang, Yangsi mulai membahas ini semua


"lalu bagaimana jalan keluarnya?" tanya Yangsi


"aku datang untuk tanya kamu kan sudah kubilang, karna kami buntu" kata Munha


"hemm, okeh, tunggu dulu" kata Yangsi kembali memutar otaknya


"kami kepikiran untuk menggugurkan kandungan nya" kata Munha


"jangaaaan" teriak Yangsi seketika


"kenapa? itu jalan terbaik, setelah ini, kami sudah sepakat mengakhiri hubungan kami" kata Hajun


"jangan, gilaa ya kalian, membunuh bayi sebagai ganti dosa kalian perbuat?" bentak Yangsi


"Yangsi, kami bingung bagaimana lagi jalannya" jawab Hajun


Yangsi akhirnya memberikan masukan agar mereka tidak mengugurkan kandungannya dan tetap melanjutkan sampai kelahiran


"lalu alasan apa aku kepada suamiku jika aku tidak pulang karna kalau aku pulang dalam waktu kehamilan, itu akan membuatnya mengetahui semua" kata Munha


"aku juga tidak akan bisa meninggalkan anak istriku dalam waktu selama itu" kata Hajun


"kalian harus bisa, intinya aku tidak akan perna memaafkan jika kalian menggugurkannya" kata Yangsi


"okeh, apa alasan kami nanti?" tanya Munha


Yangsi meminta apapun alasannya intinya mereka harus tetap melanjutkan sampai kelahiran


"aku gak peduli itu urusan kalian untuk alasan apapun" kata Yangsi


setelah membahas alasannya, keduanya sudah dapat alasan yang pas lalu mereka membahas berikutnya


"nah bagus, terus untuk kalian perlu tinggal disini selama menunggu kelahiran" kata Yangsi


"ahh soal itu, kami memiliki apartemen bersama, kami rasa tinggal disana lebih aman" kata Hajun


"yaa, apalagi jika disini, suami ku tau alamat mu" kata Munha


"apalagi istriku, kau tau bagaimana nekad nya dia, bisa bisa datang kemari" kata Hajun


"oh yasudah aman soal tempat tinggal" kata Yangsi


"jangan aman aman, belum selesai kita disini" kata Hajun


"apalagi?" tanya Yangsi


"iya kamu bagaimana segitu sudah aman, lalu kalau setelah lahir anak ini bagaimana?" tanya Munha


Munha dan Hajun membahas kehidupan anak dilahirkan nya nanti


Yangsi juga menjadi berpikir, itu benar, bagaimana setelah kelahiran anak itu, tapi betapa ia ingin memiliki anak, apalagi anak perempuan, ia sangat menghayal bisa memiliki anak perempuan yang bisa menjaga nya di hari tuanya nanti


"aku ambil keputusan ini bukan hal mudah, tapi aku tidak mau sampai kalian menggugurkan bayi itu dengan tanpa alasan dan yang kalian tau apa"


Yangsi mengatakan akan mengadopsi bayi itu dan mengasuh nya setelah kelahiran


dan jawaban itu begitu membuat Hajun dan Munha sangat lega, karna keduanya bisa melanjutkan hidup dari bayi dikandung Munha sekarang


"kau serius ini?" tanya Munha


"yaa, penting aku sama sekali tidak ada mau dengar pengguguran, kalian tenang saja, urusan biaya bayi itu, lupakan, aku bisa membiayainya" kata Yangsi


"oh jangan, aku akan tetap memberikan bulanan untuk kebutuhan bayiku nanti" kata Munha


"yaa, aku juga akan tetap memberikan hak kewajiban sebagai biaya hidup bayi itu, kamu jangan keluarkan uang apapun untuknya" kata Hajun


soal materi, sebenarnya Yangsi bukan orang yang kekurangan apalagi ia terbilang sangat kaya, yaa meskipun masih jauh kalah kekayaannya dengan Hajun atau Munha


tapi Hajun dan Munha disini membahas bahwa untuk biaya hidup sang anak sejak lahir akan ditanggung keduanya


hebatnya, Munha dan Hajun masing masing memberikan nominal bulanan yang sama jadi biar seimbang untuk pemberian


"okeh semua aman, tapi satu hal lagi mengganjal ku" kata Munha


"apa?" tanya Yangsi


"soal Juan" kata Munha


"ini juga perlu kubahas, bagaimana dengannya?" tanya Hajun juga