Still Loved Even In The New World

Still Loved Even In The New World
CHAPTER 98: Berkeliling Akademi



setelah beberapa saat menjawab berbagai macam pertanyaan akhirnya aku bisa pergi dengan bantuan tuan putri Sophia.


Filia:"terima kasih sudah membantu saya, Putri Sophia"


Sophia:"t, tidak apa-apa"


Putri Sophia menunduk seperti biasa saat berbicara dengan orang lain. sikapnya terlalu pemalu.


Sophia:"apakah kita akan melanjutkan berkeliling nona Filia?"


Filia:"sepertinya saya harus merepotkan anda, nona Sophia"


kami saling memandang dan tersenyum. sepertinya hanya dengan perjalanan singkat ini kami sudah mulai memupuk hubungan yang lebih dekat.


saat kami bersiap untuk pergi, aku melihat seorang kenalan, atau lebih tepatnya dua orang kenalan. satu laki-laki dan satu perempuan. di wajah perempuan itu dengan jelas menunjukkan kesulitan sambil membaca sebuah buku, dan untuk yang laki-laki, dia juga membaca sebuah buku sambil sesekali memberikan masukan kepada si wanita.


karena seorang kenalan, aku dan putri Sophia berjalan mendekati mereka. awalnya perempuan berambut emas itu terkejut dan segera memberikan hormat kepadaku.


Filia:"bukankah Anda terlalu pemalu, putri!?"


kami terus berbicara dan berbincang yang di dominasi olehku sambil jalan menelusuri lorong tanpa tujuan. Putri Sophia ini terlalu pemalu untuk mengambil inisiatif memulai percakapan atau mencari topik, jadi dia hanya menjawab pertanyaanku dengan suara kecil. akhirnya karena mungkin merasa kurang nyaman di panggil putri, dia menyuruhku untuk memanggilnya dengan nama. yah, sebenarnya dia juga memanggilku putri, jadi memang rasanya kurang nyaman.


Sophia:"s, selanjutnya kemana nona Filia akan pergi?"


Filia:"oh, saya tidak tahu tentang seluk-beluk akademi ini, jadi saya hanya mengikuti nona Sophia yang sudah mengenal tempat ini lebih lama daripada saya. saya hanya pernah datang kesini sewaktu tes saja, jadi saya tidak mengetahui bagian dalam akademi"


Sophia:"kalau begitu, jika nona Filia berkenan saya bisa menemani anda berkeliling"


Filia:"benarkah!?"


Sophia:"um..."


Filia:"kalau begitu, maaf harus merepotkan anda"


aku benar-benar tidak menyangka bahwa putri pemalu ini akan berinisiatif menawarkan bantuan kepadaku. dengan bantuannya, aku akan keluar dari banyak masalah. lebih dari itu, mungkin aku bisa memperdalam hubungan dengan putri Sophia. memperdalam hubungan dengan keluarga kerajaan akan memberiku banyak kemudahan di masa depan. ok, aku mendekatinya bukan hanya karena hal tidak murni itu, tapi aku memang senang jika bisa berteman dengannya.


Sophia:"ini adalah perpustakaan"


aku melihat sepasang pintu besar yang terbuat dari kayu. mungkin karena melihat bahwa aku penasaran, putri Sophia memperkenalkan ruangan yang berada di balik pintu ini.


Filia:"bisakah kita masuk?"


Sophia:"tentu..."


Putri Sophia memimpin jalan dan membawaku masuk kedalam perpustakaan. tanpa diduga ternyata pintu besar ini tidak berat saat di buka. rasanya tidak lebih berat dari pintu biasa. setelah memasuki pintu, aku melihat sebuah ruangan yang sangat luas. yang aku katakan sangat luas adalah benar-benar luas. aku tidak tahu pastinya seberapa luas, tapi aku rasa tidak kurang dari luas lapangan bola. sejauh mata memandang terdapat banyak rak-rak buku yang tinggi dan padat berisi berbagai macam buku. tempat ini di bagi menjadi dua lantai yang dapat di akses secara bebas oleh siswa.


sebelum dapat membaca, kami harus mendaftarkan diri terlebih dahulu dan menunjukkan kartu perpustakaan kami kepada pustakawan yang bertugas, awalnya aku ragu karena tidak memiliki kartu perpustakaan, tapi kakak perempuan pustakawan yang baik hati itu mengizinkanku masuk dan membaca. yah, karena aku tidak memiliki kartu, aku hanya bisa membaca di tempat dan tidak di izinkan untuk meminjam buku.


banyak anak berlalu lalang dan mencari buku-buku yang mereka butuhkan di perpustakaan ini. meskipun banyak anak di dalam perpustakaan, suasana disini sangat tenang. awalnya aku bertanya-tanya, apakah anak bangsawan akan mau menaiki tangga untuk mengambil buku yang berada di rak tinggi, ternyata sudah ada petugas khusus yang akan membantu siswa untuk mencari dan mengambil buku-buku yang tidak dapat di jangkau oleh siswa.


Sophia:"apakah anda menyukai buku, nona Filia?"


Filia:"ya, saya suka membaca berbagai macam buku. hanya saja, mungkin ada beberapa buku yang saya kurang suka"


aku menyebarkan kekuatan mentalku dan menutupi seluruh area perpustakaan. ini adalah cara termudah untuk mencari buku yang aku inginkan dengan cepat. akhirnya aku menemukan buka yang ingin aku baca. aku hanya perlu mengulurkan tangan dan menggunakan kontrol mana supaya buku itu melayang dan menghampiriku. begitulah, bantuan yang aku sebutkan tadi di khususkan untuk siswa non sihir yang tidak bisa melakukan hal seperti kontrol mana.


aku mengambil sebuah buku Dengan sampul berwarna ungu. buku itu tebalnya mungkin sekitar 100 halaman atau lebih. di atas sampulnya terdapat tulisan perak yang menjadi judul dari buku ini yang bertulis 'jalan seorang kesatria'. setelah mendapatkan buku ini, aku berjalan mencari tempat duduk yang kosong. di aula perpustakaan terdapat sebuah area seluas lapangan basket yang terdapat deretan meja panjang dan kursi yang di tata rapi sebagai tempat siswa membaca. ada cukup banyak anak yang sedang fokus membuat catatan dan membaca buku disini.


akhirnya aku dan putri Sophia menemukan sebuah tempat duduk untuk membaca. aku tidak tahu buku macam apa yang sedang ia baca, tapi setelah dia membuka buku itu, dia langsung tenggelam di dalamnya dan mulai fokus dalam membaca.


aku juga mulai fokus dalam membaca buku yang aku dapatkan. kesatria yang di maksud disini bukan hanya kesatria yang bertarung menggunakan pedang, tapi lebih menjerumus ke dalam seorang yang rela membela negaranya dan memberikan kesetiannya kepada negara. entah itu penyihir, kesatria pejuang, atupun bentuk kesatria yang lain yang mengabdi pada negara, semuanya di kelompokkan sebagai kesatria dalam buku ini karena mereka berjuang demi negara.


kami saling tersenyum dan ingin pergi ke tempat selanjutnya. sepertinya tanpa di sadari, aku dan putri Sophia sudah membentuk sebuah hubungan yang lebih dekat. saat kami siap untuk pergi, aku melihat dua orang yang aku kenal sedang mendiskusikan sesuatu di sudut. selain mereka, ada beberapa anak-anak laki-laki dan perempuan lain yang bersama mereka dan ikut membahas sesuatu.


karena melihat seorang kenalan, akhirnya aku mengajak putri Sophia untuk menyapa mereka.


Filia:"selamat siang pangeran Elion"


Sophia:"selamat siang, kakak"


aku dan putri Sophia memberikan salam dan melakukan etiket kebangsawanan. awalnya mereka agak terkejut saat melihatku, terutama Aria yang rambutnya paling mencolok di antara kerumunan.


Elion:"selamat siang, nona Filia"


Aria:"selamat siang putri"


pangeran dan Aria juga membalas sapaan kami dengan sopan. memang Aria agak canggung dengan sikap seperti itu. mungkin karena dia belum terbiasa melakukan hal seperti ini, lagi pula dia dulunya adalah orang biasa. tapi yang membuatku agak sedikit terkejut adalah, bahwa Aria bisa akrab dengan para anak bangsawan ini, terutama pangeran Elion.


setelah melihat bahwa pangeran dan Aria membalas salam kami, akhirnya anak-anak yang lain yang bersama mereka juga memberikan hormat setelah terdiam beberapa saat. sepertinya mereka tidak mengenaliku, jadi mereka mengutamakan salam kepada putri Sophia yang sudah jelas sebagai seorang putri dan mengabaikanku.


yah, aku tidak peduli dengan hal itu. lagi pula memang jarang ada yang bertemu dengan putri Duke Rosefield. sejak dulu, Filia memang hampir tidak pernah menghadiri acara-acara sosial di kalangan bangsawan. semua itu di sebabkan karena Filia yang dulu memiliki fisik lemah dan tidak bisa melakukan perjalanan jauh dari Rosefield Dukedom ke ibu kota. jika bukan karena akan ada pendaftaran di akademi yang merupakan hal wajib bagi para bangsawan, Filia tidak akan pernah melakukan perjalanan dengan akhir yang menyedihkan seperti waktu itu. karena sekarang aku yang mengambil alih tubuhnya, aku akan memastikan bahwa dia akan hidup dengan baik mulai dari sekarang.


Filia:"sepertinya kamu sedang dalam kesulitan. ada apa?"


aku bertanya kepada Aria yang terlihat mengalami kesulitan saat berdiskusi. memang tidak terlalu jelas, tapi dengan kekuatan mental Tier lima, aku bisa mengetahui fluktuasi mental dari orang lain, jadi aku tahu bahwa dia sedang mengalami kesulitan.


Aria:"s, sebenarnya saya memang mengalami beberapa kesulitan..."


Aria menjawab ku dengan ragu-ragu dan menundukkan kepalanya.


Filia:"masalah macam apa?"


Elion:"beberapa hari ini nona Aria mengalami masalah dalam sihir. nona Aria di deteksi memiliki jumlah mana yang besar, tapi entah kenapa nona Aria tidak bisa mengontrol sihir dengan baik, jadi kami mencoba berdiskusi dengan kelompok penelitian sihir untuk mencari tahu penyebabnya, tapi sampai saat ini, kami belum menemukan masalahnya"


pangeran Elion lebih baik dalam berbicara dan menjelaskan daripada Aria yang berbicara dengan selalu menunduk kepadaku.


Filia:"oh, saya terkejut melihat anda mau membantu Aria, pangeran"


Aria:"tidak...!!!. b, bukan seperti itu..."


ya, aku suka menggoda gadis kecil ini. dengan kata-kata sedikit menggodanya, wajahnya langsung memerah seperti apel. sementara pangeran hanya tersenyum tak berdaya.


Filia:"iya, iya. aku tahu. jadi tentang masalahmu, sihir elemen macam apa yang kamu coba?"


Aria:"i, itu... saya sudah mencoba kelima elemen, api, air, angin, tanah, dan petir. tapi meskipun saya berusaha, saya tidak bisa mengontrol mereka dengan baik. sepertinya saya memang tidak memiliki bakat dalam sihir"


aku bisa melihat wajahnya yang menunjukkan ekspresi kecewa. mungkin dia kecewa karena tidak bisa menggunakan sihir?.


Aria:"padahal putri sudah membantu saya untuk bisa masuk ke akademi, tapi, tapi saya hanya mengecewakan usaha tuan putri Filia"


meskipun suaranya semakin pelan, tapi aku bisa dengan jelas mendengarnya. sepertinya aku salah. gadis itu tidak sedih karena tidak bisa menggunakan sihir, tapi dia sedih karena takut membuat usahaku untuk membantunya masuk ke akademi menjadi sia-sia. sungguh gadis yang baik.aku maju dan menghibur Aria yang siap menangis kapan saja.


Filia:"aku tahu masalahmu. aku akan membantu memperbaikinya..."


Aria:"b, benarkah, putri?"


Aria mengangkat kepalanya dan menatapku. di sudut matanya sudah terbentuk mutiara air mata yang hampir menetes.


Filia:"tentu saja..."


(akhir dari chapter ini)