Still Loved Even In The New World

Still Loved Even In The New World
CHAPTER 185: Kembali.



Sylph terbang secara perlahan menuju ke retakan ruang yang mengarahkan kami ke dunia luar. Sebuah bayangan holografik seorang wanita cantik muncul dan membungkuk ke arahku.


Firstia:"Selamat datang kembali, Yang Mulia."


Filia:"Ya. Firstia, aku ingin kamu memberikan izin tingkat ke empat pada ayah dan ibu."


Firstia:"Di terima, Yang Mulia."


Izin tingkat tiga ke atas hanya bisa di berikan oleh Frey yang saat ini memegang izin pertama dan aku sebagai owner. Sementara izin tingkat pertama, izin itu hanya bisa di berikan olehku sebagai pemegang otoritas terbesar di kapal ini.


Mungkin izin tingkat empat terdengar seperti izin kelas bawah, tapi sebenarnya tidak. Orang yang memegang izin tingkat ke empat bisa menggunakan semua ruangan dan fasilitas di dalam Sylph dengan bebas tanpa syarat. Namun, meskipun bebas, mereka tidak di izinkan untuk pergi ke ruang kontrol, amunisi, dan ruang mesin tanpa persetujuan dari pemegang izin tingkat pertama.


Hanya izin tingkat ketiga yang di izinkan untuk memobilisasi senjata ringan. Dan untuk senjata berat, semuanya bisa di kontrol oleh izin tingkat ke dua dengan persetujuan oleh izin tingkat pertama dan sesuai perintah owner.


Harnas:"Tidak peduli berapa kali aku naik ke kapal ini, aku selalu merasa takjub."


Ibu berkata sambil melihat ke sekeliling dengan penasaran. Itu juga wajar. Meskipun kapal udara kerajaan yang pernah di naiki oleh ibu termasuk mewah, tapi itu masih kalah jauh dari kapal udara ini. Baik fasilitas dan teknologi yang terkandung di dalamnya, setidaknya berjarak beberapa generasi yang sangat jauh.


Filia:"Ibu, sekarang ibu dan ayah sudah memiliki izin tingkat ke empat, jadi selain persenjataan, ayah dan ibu bisa menggunakan semua fasilitas umum di kapal ini dengan bebas."


Harnas:"Oh ya, untuk persenjataan_ ...Ahhh..!"


Ibu seperti ingin mengatakan sesuatu tentang senjata, tapi tiba-tiba dia menjerit. Saat aku melihat kebelakang, aku melihat ibu yang sedang memegang telinganya sambil menatap ayah dengan penuh kebencian. Tangan ayah masih mengambang di udara setelah menyentuh telinga ibu.


Harnas:"Kamu berani melakukannya lagi, percaya atau tidak, aku akan memukulmu...!"


Ibu berbalik dan pergi ke arahku dengan wajah kesal. Mungkin ibu tidak tahu, tapi aku bisa melihat senyum aneh tersungging di wajah ayah saat ibu membelakanginya.


Harnas:"Sayang, ayo pergi. Tinggalkan pria itu dan jauhkan telinga kita darinya."


Aku tanpa daya pergi bersama ibu ke ruang kontrol Sylph dan meninggalkan ayah yang berdiri sendirian di lorong kapal.


Sampai di ruang kontrol, pemandangan yang familiar menyambutku. Aku melihat Frey yang memproyeksikan dirinya sebagai gadis peri tinggi yang sedang berbaring malas di kursi pantai sambil meminum jus merah dari dalam gelas menggunakan sedotan melengkung. Dia memakai kaca mata hitam dan baju renang berenda warna biru muda.


Saat aku masuk, dia mengangkat kaca mata hitamnya dan melirikku. Kemudian dia langsung melompat dari kursi malasnya dan berubah menjadi peri wanita tinggi dengan pakaian eksoskeleton yang elegan sambil memegang tablet di tangan kirinya dan styluspen di tangan kanannya. Kaca mata hitam itu juga berubah menjadi kaca mata persegi seperti seorang wanita kantor.


Frey:"Selamat datang tuan."


Filia:"Oke, jangan berpura-pura. Segera laporkan data terbaru!."


Frey:"Seluruh kondisi Sylph normal dan amunisi belum berkurang. Setelah penggunaan meriam photon selama pertempuran dengan gelombang Monster, energi pada kapal masih tersisa 99,78%. Saya juga mendapatkan pesan dari nona Arkne bahwa armada pelopor Moon Palace siap di kirim kapan saja."


Karena aku sudah keluar dari ruang independen itu dan tidak mungkin ayah dan ibu bisa melihat apa yang terjadi di dalam ruang independen, maka aku menyetujui pengiriman armada pelopor Moon Palace.


Setelah kapal keluar dari danau lava, kapal berhenti dan melayang di atas danau. Meskipun Inti api primordial sudah aku telan, tapi danau lava itu masih mendidih dan perlu waktu lama untuk benar-benar mendingin.


Filia:"Bekukan danau lava itu."


Frey:"Ya, tuan."


Bagian bawah kapal sedikit terbuka. Dari dalam, muncul sebuah moncong hitam yang memiliki cahaya biru berkedip. Dari dalam moncong, sebuah cahaya putih di tembakkan ke permukaan danau lava.


Karena pertemuan antara suhu panas dan dingin ekstrim secara tiba-tiba, danau lava yang tenang itu langsung meledak dan menyembur ke udara setinggi beberapa puluh meter.


Namun karena suhu dari senjata pembeku itu sampai pada -198,54⁰C yang hampir mendekati nol mutlak, maka lava yang menyembur itu langsung membeku di udara dan menjadi air mancur batu. Permukaan danau juga sudah di tutupi oleh kerak hitam dengan sangat cepat.


Setelah seluruh danau berubah menjadi batu hitam, itu benar-benar terlihat seperti area hangus karena seluruh area seluas lebih dari tiga kilometer tertutup oleh lapisan lava yang membeku.


Harnas:"Sayang, kapal macam apa ini. Seluruh senjata yang ada di kapal ini sangat kuat."


Aku sebenarnya agak bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan ibu. Tapi aku masih harus menjawabnya.


Filia:"Ini adalah kapal peninggalan zaman kuno yang sangat kuat. Ketiga pelindung suci yang memberikannya."


Mendengar penjelasanku, ibu tidak banyak bicara dan mengangguk dengan yakin. Ketiga pelindung suci adalah iman bagi para elf, jadi tidak ada elf yang berani meragukan hal itu. Terutama, ibu yang tidak ingin meragukanku. Dia hanya percaya saja tanpa bertanya lebih banyak.


Jika memang ketiga pelindung suci benar-benar ada, aku rasa aku akan meminta maaf pada mereka karena sudah menggunakan namanya tanpa izin.


Firstia:"Yang Mulia, ada orang yang meminta izin untuk masuk ke ruang katrol."


Layar proyeksi menunjukkan sosok ayah yang berdiri di depan pintu ruang kontrol. Ayah menunggu pintu terbuka sambil berbicara pada proyeksi Firstia.


Filia:"Izinkan ayah masuk."


Pintu segera terbuka dan ayah masuk. Dia berdiri di samping ibu. Tapi saat ayah mendekat, ibu yang awalnya berada di sebelah kananku, kini ibu pindah ke sebelah kiri untuk menjauh dari ayah. Melihat sikap mereka berdua, aku hanya bisa tersenyum.


Hubungan ayah dan ibu sangat baik, apa lagi yang bisa membuatku lebih senang daripada ini!. Melihat ayah, aku menyerahkan sebuah skill book yang di sampulnya terdapat relief bunga mawar yang indah.


Filia:"Ayah, ini adalah skill book «Rose Field» yang telah aku perbaiki. Setelah ayah memiliki kekuatan Tier satu, ayah bisa mempelajari skill book ini."


Ayah melihat buku itu dan membolak-balikkan buku itu beberapa kali. Dia terlihat penasaran. Buku itu sangat berbeda dengan skill book keluarga Rosefield yang ada di rumah.


Rovell:"Apakah ini skill yang kamu gunakan saat bertarung dengan sekelompok binatang buas?."


Filia:"Itu benar. Ini adalah versi yang di tingkatkan dari sihir keluarga. Buku ini hanya bisa di buka oleh anggota keluarga Rosefield yang terdaftar, jadi meskipun buku ini di curi, pencurinya tidak akan bisa membukanya."


Rovell:"Ini hebat."


Ayah terlihat bahagia dan segera membolak-balik halaman pada buku itu untuk belajar.


Rovell:"Kontrol mana yang di perlukan untuk skill ini sangat kompleks dan rumit. Ayah sepertinya masih harus memakan beberapa waktu untuk belajar."


Filia:"Ayah bisa mempelajarinya secara perlahan."


Bagaimanapun, skill book itu di buat khusus untuk Tier satu ke atas, jadi wajar jika pengguna harus memiliki kontrol mana yang sangat kuat. Tapi melihat dari ekspresi ayah, dia sepertinya tidak terlalu menaruh kesulitan itu di matanya.


Aku harus mengakui bahwa ayah adalah penyihir yang sangat berbakat. Meskipun kontrol mananya tidak dilatih sejak dini, tapi ayah sudah memiliki kontrol mana yang sangat baik. Hanya sedikit lebih rendah dari pemain Tier satu di Alterion. Hanya dengan sedikit latihan lagi, aku yakin ayah akan mencapai mana kontrol tingkat lanjut yang akan sangat meningkatkan kekuatannya.


Aku ingin segera kembali, tapi itu tidak mungkin. Aku masih harus menunggu ibu dan ayah sampai mereka selesai membantu memperbaiki kota yang rusak akibat gelombang monster. Selain itu, ayah dan ibu perlu menjaga kota selama beberapa hari lagi untuk memastikan bahwa tidak ada serangan lain dari gelombang monster.


.....


Akhirnya lima hari berlalu. Semua tugas ayah dan ibu telah selesai. Penduduk kota juga sudah menjadi lebih stabil dan semua kedamaian kembali dengan cepat. Beberapa waktu lalu adalah upacara pemakaman untuk memakamkan semua orang yang telah menjadi korban pada perang kali ini.


Ada lebih dari empat ratus warga sipil yang menjadi korban dan lebih dari Tujuh puluh kesatria yang gugur dalam gelombang waktu itu. Mayat semua kesatria tidak di makamkan di tempat ini, tapi akan berusaha di bawa pulang dan di serahkan kepada keluarga jika itu memungkinkan.


Jumlah korban kesatria memang terdengar sedikit, tapi ini hanya gelombang yang terakhir kali. Secara total, gelombang Monster yang di pimpin ole Star Eater itu menyerang sebanyak tiga kali. Ada lebih dari tujuh ratus kesatria dan ribuan prajurit yang di korbankan dalam gelombang pertama hingga gelombang terakhir. Kerugian semacam itu benar-benar sangat menyakitkan bagi kerajaan. Untuk menjadi seorang kesatria, seorang prajurit harus berlatih hingga ke tingkat tertentu dan di akui oleh kerajaan. Jadi terbayang berapa banyak sumber daya dan betapa sulitnya untuk mendidik seorang kesatria yang berkualitas.


Tapi apa yang bisa di katakan. Kesatria itu gugur di Medan perang demi melindungi kerajaan. Itu adalah kematian yang terhormat.


Perbaikan kota juga sudah selesai. Kota tidak banyak mengalami kerusakan karena gelombang monster berhasil di kalahkan sebelum mereka berhasil memasuki kota. Hanya beberapa monster tingkat rendah seperti tikus penggali dan beberapa monster terbang yang berhasil menerobos hingga menyebabkan beberapa kerusakan. Tapi itu hanya bisa di katakan kerusakan sekala ringan jika di bandingkan dengan kerusakan yang pernah terjadi akibat gelombang monster di masa lalu.


Karena semua tugas telah selesai, maka aku bisa segera membawa ayah dan ibu kembali ke ibu kota. Aku, ayah, ibu, dan empat lainnya pergi dengan Sylph, sementara kesatria dan prajurit yang harus kembali, mereka menggunakan kapal udara kerajaan.


Ya, ibu dan pasukan yang ingin kembali ke ibu kota mereka menggunakan kapal udara besar yang bisa muat hingga ribuan orang. Tapi kapal itu terlalu lambat.


Saat mereka melewati hutan tempat pertarungan yang aku temukan, mereka melihat bahwa monster berkumpul secara tidak normal. Jadi, ayah dan ibu harus turun dari kapal dan memeriksanya. Ternyata benar, monster yang berkumpul secara tidak normal itu adalah tanda dari gelombang monster yang akan segera tiba.


Mengetahui hal itu, ayah dan ibu segera kembali ke kota Haruhara. Tapi sebelum kembali ke kapal, mereka di serang oleh sekawanan monster yang muncul dari hutan secara tiba-tiba. Karena serangan itu, beberapa kesatria harus gugur. Mayat kesatria yang aku temukan dalam perjalanan adalah kesatria yang tetap tinggal untuk menahan gelombang monster sampai ayah dan ibu bisa masuk kembali ke kapal dan kembali ke kota Haruhara untuk memperingatkan orang-orang di sana.


Kami terbang secara perlahan untuk memeriksa apakah ada kemungkinan monster yang berkumpul secara tidak normal lagi untuk mengantisipasi kemungkinan gelombang serangan lain.


Filia:"Ayah, ibu. Kalian bisa beristirahat terlebih dahulu."


Selama di kota Haruhara, ayah dan ibu terus berjaga secara bergantian dan hanya tidur kurang dari dua jam sehari. Jadi, dalam perjalanan pulang ini aku menyuruh ayah dan ibu untuk beristirahat sejenak.


Rovell:"Tapi..."


Filia:"Ayah tidak perlu khawatir. Kapal ini punya sistem pendeteksi yang canggih. Jadi, ayah dan ibu tidak perlu selalu mengawasi. Jika ada kondisi, aku akan memberitahu ayah."


Rovell:"Hmmm... Kalau begitu, ayah akan beristirahat."


Aku sudah menyiapkan kamar untuk ayah dan ibu supaya beristirahat. Kamar itu sangat luas dan punya banyak fasilitas di dalamnya. Dengan begitu, ayah dan ibu bisa beristirahat dengan tenang.


Ayah mengangguk dan pergi bersama ibu untuk beristirahat. Meskipun mereka sudah berada di Tier satu dan tubuh mereka sangat kuat, tapi mentalitas mereka juga bisa kelelahan karena melakukan sesuatu hal secara terus-menerus tanpa beristirahat.


Setelah ayah dan ibu pergi, Sebas dan yang lainnya juga pergi untuk mengurus pekerjaan masing-masing. Sebas juga belum beristirahat banyak, jadi aku memintanya pergi ke kafetaria untuk makan siang sebelum menyuruhnya beristirahat. Dia adalah pelayan yang baik dan pekerja keras. Sebagai kepala pelayan House Of Rosefield, seluruh mansion akan kerepotan jika dia sakit.


Sementara Stern dan Liris, mereka pergi ke ruang latihan untuk berlatih. Setelah pertempuran dengan binatang buas, mereka mendapatkan banyak pengalaman dan tidak sabar untuk mencoba beberapa teknik baru.


Selain Frey dan Firstia, ada Ilma yang juga tetap menemaniku di ruang kontrol. Aku bertanya pada Ilma apakah dia perlu beristirahat, tapi Ilma mengatakan bahwa dia tidak perlu dan akan tetap menemaniku.


Firstia:"Yang Mulia, tanda-tanda kehidupan dari kabin medis menjadi lebih aktif. Sepertinya orang yang di rawat akan segera bangun."


Itu adalah kesatria yang aku temukan di awal. Jika aku tidak di ingatkan, mungkin aku akan melupakan orang itu. Meskipun seluruh lukanya telah di pulihkan, tapi karena dia juga mengalami kerusakan otak, jadi dia mengalami koma selama sepuluh hari. Jika bukan karena teknologi medis yang memadai dari Sylph, maka dia mungkin akan mati. Dan meskipun bisa selamat, tapi mungkin dia akan menjadi orang cacat selamanya karena kerusakan otak yang parah.


Layar monitor segera menampilkan keadaan yang ada di kabin medis. Dua puluh kabin kaca transparan berbaris rapi di ruang medis menjadi dua barisan. Di salah satu kabin medis terbaring seorang lelaki tanpa pakaian dengan kulit putih dan tubuh berotot yang di seluruh tubuhnya terdapat banyak instrumen medis.


Mulut dan hidungnya juga tertutup oleh alat bantu pernapasan. Setelah dahinya sedikit mengernyit, kesatria itu mulai membuka matanya. Mungkin karena visinya belum pulih dan dia masih dalam kondisi kebingungan, kesatria itu hanya menatap langit-langit dengan bodoh tanpa sepatah katapun.


Robot medis segera menghampiri kabin itu. Setelah beberapa pemeriksaan dan menentukan bahwa kondisi pasien telah stabil, ketiga robot medis itu membuka kabin medis dan melepas beberapa instrumen yang terpasang di tubuhnya.


Baru pada saat inilah orang itu kembali ke akal sehatnya. Dia duduk dan melihat sekeliling dengan bingung. Dia menatap ketiga wanita yang merawatnya dengan penuh kebingungan.


"Apakah aku sudah mati?."


Pertanyaan yang sangat bodoh. Jika kamu mati, masihkah ada alat bantu pernapasan di wajahmu?!.


"Indikator menunjukkan bahwa pasien dalam keadaan normal. Otot-otot tubuh mengalami penurunan sebesar 1,098% setelah tidak aktif selam beberapa saat."


Selain kata-katanya yang tak berperasaan, para robot medis itu tidak memiliki perbedaan dari manusia normal. Tubuh mereka telah di lapisi oleh nano silikon khusus yang memiliki warna dan tekstur yang hampir seratus persen menyerupai kulit manusia. Jadi, tanpa mempelajarinya lebih lanjut, tidak akan ada orang yang menyadari bahwa ketiga robot medis itu bukanlah manusia sungguhan.


"Manusia seperti kalian benar-benar aneh. Jika sudah mati, masihkah kalian dapat berbicara?!."


Salah satu robot medis menjawab pertanyaan kesatria itu dengan sedikit bingung. Robot tingkat atas seperti dia juga memiliki perasaan, tapi mereka jarang menunjukkannya. Mereka biasanya akan berbicara seperlunya dan bertindak seefisien mungkin tanpa bergantung pada perasaan.


Kesatria itu berdiri dari kabin medis dan melihat sekeliling dengan bingung.


"Dimana ini?."


Dia menatap pemimpin robot medis dan bertanya. Wajahnya penuh kebingungan dan ketidak pastian. Yah, baru saja terbangun dan tiba-tiba berada di tempat yang tidak di kenal bersama dengan orang asing, tentu saja akan merasa kebingungan. Aku juga pernah merasakan hal itu saat aku baru pindah ke tubuh 'Filia'.


"Kami tidak memiliki kewajiban untuk menjawab. Tapi, kami memiliki kewajiban untuk mengingatkan anda bahwa anda perlu pakaian."


Pemimpin robot medis menjawab dengan datar sambil melihat ke bagian bawah kesatria itu. Begitu di ingatkan, kesatria itu langsung menutupi seluruh tubuhnya dengan tangan. Seorang robot medis menyerahkan pakaian rumah sakit berwarna nila terang.


Filia:"Silias... Antar pasien ke ruang kontrol."


Silias:"Di terima, tuan."


Silias adalah nama dari pemimpin robot medis yang bertugas sebagai dokter utama di kapal ini. Meskipun dia memiliki pandangan terhadap manusia, tapi dia akan tetap bertanggung jawab jika manusia itu adalah pasiennya.


Setelah kesatria itu berganti pakaian, aku mematikan monitor dan menunggu mereka tiba. aku juga harus berterima kasih padanya karena dia rela berkorban untuk menahan gerombolan monster demi ayah dan ibu...


Aku bukan orang tanpa rasa terima kasih...


(Akhir dari chapter ini)


Beberapa pembaca benar-benar buruk. Mereka ingin membuat Filia tidak bisa menikah selamanya...


Yah, sebenarnya aku juga kesulitan untuk menentukan pasangan yang tepat untuknya dan agak setuju dengan pendapat seperti itu. Tapi, setelah pertimbangan yang matang, aku memutuskan untuk membuat tokoh ML yang menjadi pasangan Filia. Tapi itu masih sangat lama. Setidaknya itu hanya akan menjadi cerita penutup saat novel ini akan tamat.