
Aku membawa anak itu ke klinik kesehatan di akademi. Di sana ada seorang dokter perempuan berkacamata yang masih muda.
Filia:"Permisi, Instruktur Alneir."
Aku menyapa instruktur Alneir yang sedang membaca beberapa berkas di mejanya. Instruktur Alneir bekerja sebagai dokter di akademi ini. Selain sebagai dokter, dia juga kadang-kadang mengajar kelas kesehatan dan sihir pemulihan.
Dia mendongak dan sedikit terkejut melihat Khaim yang melayang di belakangku. Dia segera berdiri dan melihat keadaannya.
Alneir:"Ada apa ini?. Tubuhnya kelelahan dan sepertinya menderita hipotermia ringan."
Instruktur Alneir menyentuh mantel bulu yang aku selimutkan ke tubuh anak itu dan merabanya sebentar.
Alneir:"Yah, mantel ini cukup hangat dan sedikit meredakan hipotermia pada anak ini. Tapi, anak ini masih perlu istirahat lebih banyak dan mendapatkan perawatan lebih lanjut. Sebenarnya, apa yang terjadi?."
Instruktur Alneir menatapku dan bertanya. Aku hanya menjelaskan apa yang terjadi pada anak ini secara singkat dan meminta supaya anak ini di rawat terlebih dahulu sebelum aku pergi. Hari ini aku memiliki rencana lain, jadi aku segera pergi ke arena.
Ilma:"Putri, kenapa anda tidak menyembuhkannya dengan sihir, bukankah itu lebih cepat?."
Filia:"Anak itu bukan hanya terluka atau kelelahan tubuh, tapi mentalnya juga terlalu lelah karena banyak tekanan dan pikiran, jadi menurutku, istirahat adalah cara terbaik untuk memulihkan keadaannya."
Ilma:"Jadi seperti itu."
Sampai di arena, di sana sudah ada dua orang gadis kecil yang saling berhadapan dengan pedang. Salah satu gadis memiliki postur tubuh yang lebih tinggi dan ramping. Rambutnya pendek dan berwarna merah berapi-api. Gadis yang satu lagi adalah gadis yang terlihat biasa, tapi ada semacam keteguhan di wajahnya.
Mereka adalah Liris dan Stern yang sedang berlatih pedang. Gerakan mereka jauh lebih halus daripada saat terakhir kali aku melihatnya. Dari ingatan yang di berikan oleh Frey, aku tahu bahwa mereka sering berlatih bersama. Bahkan, kadang-kadang Liris akan mengambil inisiatif untuk memintaku untuk memberi mereka petunjuk.
Filia:"Kalian sudah semakin mahir."
Liris:"Yang Mulia."
Stern:"Putri."
Merek berdua memberikan salam hormat kepadaku. Saat ini, Stern sudah resmi menjadi salah satu kesatria pelatihan khusus House of Rosenfield. Jika suatu hari dia lulus dari akademi ini, dia akan langsung menjadi kesatria keluarga Rosenfield yang langsung bekerja di bawah tanganku.
Filia:"Gerakan pedang kalian sudah menjadi semakin halus."
Liris:"Terima kasih atas pujian anda, Yang Mulia. Berlatih dengan orang yang berbakat, dan di tambah dengan saran yang anda berikan, saya bisa berkembang lebih cepat."
Stern:"T, terima kasih, Putri."
Filia:"Tidak perlu di pikirkan. Jadi, apakah kalian menemukan masalah selama pelatihan?."
Liris:"Saya sepertinya sedikit kesulitan dalam penguasaan teknik berpedang yang anda ajarkan."
Stern:"Emm... Itu, saya masih belum memahami yang di maksud Sword intent."
Aku mulai membantu mereka mengatasi masalah yang mereka temui dalam pelatihan. Sebenarnya tidak terlalu sulit. Bakat Liris sangat kuat untuk berpedang, sebenarnya dia bisa dengan mudah memahami teknik pedang yang aku ajarkan, hanya saja dia kesulitan dalam pengendalian mana internal dalam tubuhnya, sehingga itu akan membuat teknik pedang menjadi tidak sempurna atau bahkan gagal. Aku hanya perlu mengajarinya pengendalian mana supaya bisa menguasai teknik berpedang dengan lebih mudah.
Dan untuk Stern, Niat Pedang itu sendiri tidak bisa aku jelaskan. Dia hanya bisa mempelajarinya dan memperkuat perasaannya terhadap pedang dengan perlahan. Semakin banyak dia bertarung dan berinteraksi dengan pedang, maka niat pedangnya juga akan menjadi semakin kuat. Hanya saja, Stern memiliki hati yang terlalu lembut, jadi niat pedang itu hanya terasa samar.
Filia:"Stern, untuk memahami niat pedang, maka hatimu juga harus menjadi pedang."
Stern:"Hati pedang?."
Filia:"Teguh, lurus, dingin, tenang, dan tajam. Jadikan hatimu menjadi pedang itu sendiri. Pikiranmu hanya akan tertuju pada pedang, dan kamu adalah pedang."
Aku hanya tahu apa itu Sword intent, tapi aku tidak benar-benar bisa memahami. Lagi pula aku tidak memiliki sword intent, jadi aku hanya sedikit tahu dari beberapa player yang menguasai sword intent.
Ada dua jenis sword intent di dunia ini, yaitu: Innate Sword Intent dan True Sword Intent. Innate sword intent adalah niat Pedang yang sudah di miliki sejak lahir. Pemilik niat pedang ini hanya perlu memahami sword intent untuk dapat menggunakannya. Dan milik Stern, adalah sword intent jenis ini.
Sementara True Sword Intent adalah niat pedang yang tidak terlahir secara alami. Mereka yang memiliki sword intent seperti ini adalah orang yang telah mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk berpedang, dan orang itu sudah memahami ilmu pedang dengan sangat dalam. Dengan kata lain, niat pedang jenis ini hanya akan muncul setelah latihan yang sangat keras. Sama seperti pedang yang harus di tempa dalam suhu tinggi dan di hantam dengan palu yang keras supaya menjadi tajam. Karena itulah niat pedang ini di namakan sebagai niat pedang sejati.
Sepanjang game Alterion, banyak perdebatan tentang dua sword intent ini. Ada pihak yang menganggap bahwa Innate sword intent lebih mulia, ada juga pihak yang menganggap bahwa true sword intent lebih Ortodok karena harus di dapatkan dengan cara bekerja keras yang lebih sesuai dengan pedang yang harus di tempa terlebih dahulu.
Yah, perdebatan itu tidak ada hubungannya denganku. Lagi pula, aku juga tidak menguasai sword intent.
Dengan title «Weapon God» yang aku miliki, aku tidak perlu memperdalam latihanku pada penggunaan senjata tertentu. Evolusi terakhir dari Weapon Master ini memiliki efek yang sangat menakutkan. Title ini dapat merubah job milikku menjadi job yang sesuai dengan senjata yang aku gunakan. Sebagai contoh, saat aku menggunakan tongkat ahli nujum, aku juga akan menjadi ahli nujum tanpa harus mempelajari job ahli nujum. Karena job inilah twelve constellations armor sangat cocok untukku.
Aku terus melihat dan sesekali memberi petunjuk dalam latihan Liris dan Stern. Saat melihat nafas mereka sudah mulai berat, aku memberi memerintahkan mereka untuk beristirahat dan memulihkan stamina sebelum melanjutkan latihan.
Mereka berdua benar-benar berlatih sangat keras. Meskipun ini hal baik, tapi jika berlatih terlalu keras, itu justru akan menimbulkan efek yang buruk bagi tubuh mereka. Jadi, setelah menemani mereka berlatih untuk beberapa jam lagi, aku menghentikan latihan.
Liris:"Yang Mulia, terima kasih atas ajaran anda hari ini."
Stern:"Saya juga sangat berterima kasih."
Mereka berdua menunduk sambil berterima kasih kepadaku.
Filia:"Tidak perlu di pikirkan."
Aku berbalik dan pergi bersama dengan Ilma. Namun saat aku akan pergi, aku mengingat sesuatu.
Filia:"Oh benar, jika kalian tertarik, mungkin kalian bisa menemaniku minum teh di kafetaria. Dan juga, tolong bawa seorang anak yang sedang di rawat di ruang kesehatan."
Aku yakin anak itu seharusnya sudah bangun. Lagi pula, dengan daya tahan tubuhnya yang kuat, dia pasti dapat pulih dengan cepat.
Ilma:"Putri, sepertinya anda sangat peduli dengan anak itu. Ada apa?."
Saat aku berjalan di sebuah lorong bersama Ilma, dia tiba-tiba bertanya padaku. Kenapa?. Aku juga tidak mengerti. Aku hanya sedikit peduli, mungkin?!.
Filia:"Emm... Entahlah, mungkin aku sedikit tidak mau menyia-nyiakan bakat. Ya, pasti seperti itu..."
Ilma:"Oh, saya mengerti."
Aku sampai di kafetaria. Meskipun banyak siswa yang tidak ada di akademi, tapi kafetaria saat ini masih cukup ramai dengan anak-anak yang sedang menikmati makanan sambil mengobrol dengan temannya.
Nima:"Nona Filia, apakah anda akan memesan sesuatu?."
Seorang gadis pelayan segera menghampiriku dan bertanya dengan hormat.
Filia:"Aku akan memesan nanti, aku masih menunggu beberapa teman."
Nima:"Mengerti. Jika anda membutuhkan sesuatu, anda bisa langsung memanggil saya."
Filia:"Ya."
Nima berbalik dan pergi untuk melayani pelanggan yang lain. Gadis itu sepertinya sudah berkembang. Dia tidak segugup pertama kali aku bertemu dengannya. Ngomong-ngomong, daun teh yang aku pesan untuk rumah makan ku memiliki kualitas yang baik dan banyak pelanggan dari berbagai kalangan yang menyukainya.
Sambil menunggu mereka datang, aku duduk di dekat jendela dan mengeluarkan buku untuk di baca.
.....
Ruang kesehatan...
Saat aku terbangun, aku mendapati diriku sudah terbaring di ranjang yang empuk. Dan....
Apa ini...!!!
Seluruh tubuhku selain mata, semuanya tertutup oleh perban. Apa, apa yang terjadi?!.
"Oh, kamu sudah bangun?."
Tiba-tiba ada suara wanita yang datang dari balik tirai pembatas. Tak lama kemudian, tirai itu tersingkap oleh tangan yang terlihat seperti tangan perempuan dengan jari-jari yang kecil.
Seorang wanita berkacamata masuk sambil tersenyum. Dia menghampiriku dan mengangguk saat melihatku.
Khaim:"Hmm..Emm...?!"
Sangat sulit bagiku untuk berbicara karena mulutku terbungkus oleh perban yang tebal. Bahkan aku mungkin bisa mati kehabisan nafas jika ini di teruskan.
Alneir:"Kulitmu terkena nekrosis ringan karena suhu dingin, jadi aku membungkus tubuhmu dengan perban supaya lukanya tidak terinfeksi."
Dia berbicara sambil menyingkirkan perban yang ada di wajahku, membuatku bisa mengambil nafas lega.
Alneir:"Tentu saja bisa. Tapi, aku sudah lama tidak menggunakan perban, jadi aku sedikit merindukan sensasi membungkus orang lain."
Tinggu!!. Apakah instruktur ini benar-benar seorang dokter?!.
Khaim:"Bisakah perban ini di lepas. Aku tidak bisa bergerak."
Alneir:"Apa kamu yakin?."
Khaim:"Ya. Aku sangat yakin."
Alneir:"Yah, karena kamu sudah sembuh, tidak apa-apa untuk melepas perbannya. Tapi, apa kamu benar-benar yakin?."
Khaim:"Ya, aku sangat yakin."
Alneir:"Sayang sekali, padahal perban ini sangat berkualitas dan nyaman saat di gunakan untuk membungkus luka."
Meskipun Instruktur Alneir banyak bicara, tapi dia melepaskan perban yang melilitku dengan jujur. Gerakannya sangat cepat dan halus, mencerminkan pengalamannya sebagai tenaga medis yang sudah pernah terjun ke Medan perang.
Saat ini, tubuhku hampir telanjang. Hanya celana pendek sederhana yang menutupi bagian vital.
Khaim:"Sepertinya tidak ada luka."
Tubuhku benar-benar baik-baik saja. hanya ada beberapa bekas luka lama yang masih tersisa.
Alneir:"Tentu saja. Aku sudah menyembuhkannya dengan sihir."
Lalu, kenapa aku harus di perban jika lukanya sudah sembuh?!. Instruktur Alneir benar-benar memiliki kepribadian yang sangat aneh.
Setelah berpakaian, aku duduk di depan instruktur Alneir yang memberiku instruksi selanjutnya.
Alneir:"Sebaiknya kamu berhenti berlatih di udara luar dengan pakaian tipis, atau itu akan buruk untuk tubuhmu di masa depan. Jika bukan karena nona Filia yang membawamu kemari dan memberikan mantel bulu, mungkin kamu akan mati membeku. Dan jika tidak mati, sangat beruntung jika kamu bisa menggunakan mana internal lagi."
Khaim:"Aku mengerti, tapi..."
Tapi aku tidak bisa. Saat berlatih keras pun, aku masih jauh dari harapan almarhum kedua orang tuaku, lantas, apa yang terjadi jika aku tidak berlatih?!. Impianku akan semakin jauh dan mungkin akan menghilang. Itulah yang aku takutkan.
Tiba-tiba bayangan seorang gadis berambut perak yang indah muncul dalam kepalaku. Kata-katanya yang hangat tanpa penghinaan, membuatku merasa sedikit tenang. Lalu, aku juga ingat kata-kata yang dia ucapkan, bahwa dia bisa membantuku.
Apakah yang di katakan itu benar atau tidak, mungkin aku bisa melihatnya nanti.
Khaim:"Emm... Instruktur, itu... nona yang mengantarku kemari, dimana dia?!."
Aku ingin tahu apakah yang dia katakan saat itu sungguh-sungguh atau hanya ingin menghiburku. Aku ingin bertanya langsung padanya, tapi aku tidak tahu dimana bisa menemukannya.
Alneir:"Oh?. Maksudmu nona Filia?."
Khaim:"Ya."
Alneir:"Aku tidak tahu. Meski aku memberitahumu, tapi kamu mungkin tidak akan bisa menemuinya."
Apakah begitu sulit hanya untuk menemui seorang siswa?!. Bagaimanapun dilihat dari penampilannya, dia mungkin seorang bangsawan berpangkat tinggi. Wajar jika aku tidak bisa menemuinya. Sudah sangat luar biasa bahwa seorang bangsawan mau berbicara dengan siswa biasa sepertiku. Terlebih lagi, aku merupakan siswa dengan nilai yang sangat rendah, sama sekali tidak layak untuk di perhatikan.
Khaim:"Instruktur, jika boleh tahu, dari keluarga mana nona itu?."
Alneir:"Keluarga mana?. Dia adalah Filia Rosenfield, putri tertua dari House Of Rosenfield."
Khaim:"Rosenfield!!."
Siapa yang tidak tahu rumah bangsawan itu. Nama Rosenfield adalah nama yang bahkan di ketahui oleh anak-anak berusia tiga tahun. Kisah kepahlawanan keluarga Rosenfield dalam perang di semenanjung Luk dan Padang Haruhara sudah sangat terkenal, dan bahkan masuk dalam cerita anak-anak. Selain itu, keluarga Rosenfield juga merupakan keluarga yang selalu menghasilkan kesatria terbaik.
Bisa di katakan, selain menjadi kesatria kerajaan, menjadi kesatria House Of Rosenfield merupakan impian dari banyak kesatria.
Karena itu wajar saja jika Instruktur mengatakan aku mungkin tidak bisa menemuinya. Ini sepenuhnya masuk akal.
Tok... Tok... Tok...
"Permisi."
Saat aku menghela nafas menyesal karena tidak bisa menemuinya, tiba-tiba aku mendengar suara ketukan dari pintu yang di ikuti oleh suara seorang anak perempuan.
Alneir:"Masuk."
Pintu perlahan di dorong terbuka. Aku bisa melihat seorang gadis berambut merah menyala yang masuk ke dalam ruangan bersama satu orang gadis lainnya. Mereka mengenakan seragam putih Komite siswa dengan pedang di pinggangnya.
Rambut merah yang khas, dia ras elf?. Di kabarkan, hanya satu Flame Elf yang berada di akademi ini. Dia adalah siswa tahun' pertama kelas rendah yang berhasil mengalahkan siswa kelas menengah dan hampir membakar seluruh arena dalam pertandingan itu. Si mawar api, Liris.
Dan di sebelahnya, gadis yang terlihat biasa, tapi dengan mata yang lembut itu, dia adalah Stern, salah satu siswa terbaik di akademi dan telah di rekrut sebagai kesatria magang langsung oleh putri pertama keluarga Rosenfield. Berita itu sangat ramai di perbincangkan di akademi, itulah yang membuatku langsung mengenalinya.
Dia juga memiliki catatan yang mengerikan dalam pertarungan. Dia berhasil mengalahkan banyak siswa kelas menengah dengan gerakannya yang halus dan anggun dalam pertarungan. Dia di sebut sebagai sang penari pedang.
Sudah aku duga, siswa yang masuk dalam komite siswa, mereka adalah monster humanoid.
Alneir:"Adakah yang bisa saya bantu?."
Stern & Liris:"Instruktur!."
Mereka berdua masuk dan memberikan salam kepada instruktur Alneir.
Liris:"Instruktur, saya di minta membawa seorang anak yang di rawat di ruang kesehatan ini untuk menemui Yang Mulia jika kondisinya memungkinkan."
Alneir:"Oh, kalau begitu, yang kalian maksud, mungkin anak ini."
Mereka berdua segera memandangku. Melihatku ke kanan dan ke kiri, atas dan bawah, seakan mereka mengatakan "Makhluk aneh macam apa ini" di matanya. Perasaan ini, benar-benar tidak nyaman. Tapi itu semua hanya sekilas dan mereka segera menyembunyikan ekspresinya.
Liris:"Ayo kita pergi, jangan membuat Yang Mulia menunggu terlalu lama."
Aku tidak tahu apa yang mereka inginkan, tapi aku tanpa sadar mengikutinya. Mungkin ini juga kesempatanku untuk bertemu dengannya.
Stern:"Kalau begitu instruktur, kami permisi."
Alneir:"Tunggu!."
Instruktur berdiri dari kursinya dan mengambil sebuah mantel bulu dari gantungan, lalu menyerahkannya kepada Liris.
Alneir:"Ini mantel milik nona Filia, tolong kembalikan padanya."
Liris:"Saya mengerti. Mohon permisi."
Aku Segera mengikuti mereka keluar dari ruangan. Aku ingin bertanya apa yang terjadi, tapi kami hanya diam di sepanjang perjalanan. Arah yang kami tuju adalah arah kafetaria akademi. Tempat itu sangat familiar denganku. Makanan di sana murah dan enak, tapi saat kesana, aku hanya bisa membeli sepotong roti kering untuk menghemat uang.
Di dalam kafetaria, banyak anak-anak berpakaian bagus dan rapi yang sedang makan atau mengobrol santai dengan yang lainnya. Pemandangan ini damai, tapi pusat perhatian selalu menjadi salah satu meja di dekat jendela.
Rambut perak yang berkibar tertiup angin dingin, seperti helaian benang perak yang sangat indah. Wajah kecil yang tersenyum sambil membaca buku, disinari oleh cahaya dari jendela, memberikan ilusi seakan peri salju sedang menampakkan dirinya. Dia seperti permata yang menyerap semua cahaya di sekitarnya, membuat semua warna yang lain menjadi tenggelam dan suram.
Banyak siswa dan siswi yang memandanginya, tapi gadis itu mengabaikan semua pandangan dan fokus pada buku yang ia pegang.
Tanpa sadar, aku menghentikan langkahku dan memfokuskan pandanganku padanya. Seperti merasakan pandanganku, dia mengangkat kepalanya dan tersenyum lembut kepadaku.
Plak...!
Tiba-tiba sebuah tamparan mengenai pundak ku, membuatku kembali ke kenyataan. Aku menoleh dan melihat mata Liris yang menatapku dengan menakutkan.
Liris:"Singkirkan pandanganmu dari Yang Mulia."
Aku hanya mengangguk dan pergi mengikutinya untuk menghampiri nona Filia.
(Akhir dari chapter ini.)
Sampai jumpa di update selanjutnya.