
Semua orang segera tersadar dari keterkejutan itu. Mereka yang masih dapat bergerak segera membantu teman mereka yang terluka. Lusian dan yang lainnya juga pergi untuk menghampiri Lowen.
Doglas:"Aku kira aku akan mati."
Doglas tidak lebih baik daripada Lowen dan Eleina. Dia juga mengalami luka yang parah termasuk beberapa tulang rusuk yang patah serta tubuh yang mengalami radang dingin parah.
.....
Hampir dua hari berlalu, mereka tidak melanjutkan perjalanan menuju ke pandang rumput karena mereka harus memulihkan diri terlebih dahulu. Selama dua hari ini, mereka membahas apakah akan melanjutkan atau kembali. Tapi karena mereka merasa bahwa kembali hanya akan membahayakan, maka mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
Saat ini, kondisi ketiga orang Lowen sudah sedikit membaik. Hanya Lowen yang mungkin tidak akan bisa menggunakan kedua tangannya lagi karena seluruh tulang tangannya benar-benar hancur berkeping-keping. Mungkin hanya obat mujarab dalam legenda yang dapat memulihkannya.
Melihat keadaan suaminya, Eleina merasa bahwa jantungnya telah di robek-robek dengan rasa sakit yang sangat menyakitkan. Lowen hanya bisa menenangkan istrinya itu supaya dia tidak terlalu sedih. Sebagai tingkat God of War, tangan yang hancur tidak akan sangat berpengaruh pada efektifitas tempurnya.
Mungkin dia akan kehilangan 10-20% kemampuannya, tapi itu tetap tidak akan terlalu berpengaruh padanya. Karena Eleina hanya menderita luka dalam dan patah tulang yang lebih ringan, dia sudah sembilan puluh persen pulih dan hanya perlu menunggu beberapa saat untuk pulih sepenuhnya.
Doglas:"Sisa perjalanan akan lebih berbahaya, sebaiknya kita mempersiapkan diri sebaik mungkin."
Doglas yang tubuh serta tangan kanannya di perban, dia berdiri dan berkata kepada semua orang. Lukanya lebih parah dari Eleina, tapi pemulihannya jauh lebih cepat. Mereka memutuskan untuk beristirahat satu hari lagi sebelum melanjutkan perjalanan.
Sekarang, hanya tersisa lebih dari dua puluh orang yang tersisa. Persediaan mereka juga menjadi jauh lebih sedikit karena sebagian besar sudah di hancurkan saat pertarungan itu. Bisa di katakan, meskipun selamat dari kematian, tapi kerugian mereka juga sangat besar.
Setelah satu malam lagi, semua orang mulai mempersiapkan diri untuk kembali melanjutkan perjalanan. Dengan perbekalan yang terbatas, mereka harus terpaksa mempercepat perjalanan mereka.
Lowen:"Aku akan memeriksa jalan di depan."
Sebelum yang lain bisa mengatakan apapun, Lowen sudah terbang dan pergi untuk memeriksa jalan. Mereka tidak perlu penunjuk arah, mereka hanya perlu mengikuti arah dari pilar cahaya merah itu untuk tiba di Padang rumput.
Dengan Lowen sebagai penunjuk jalan, mereka bisa melewati hutan dengan lebih cepat. Mereka juga bisa memutar arah dan menghindari bertemu dengan monster kuat yang dapat merugikan tim mereka.
.....
Tujuh hari berlalu, perbekalan mereka saat ini sudah habis. Tidak masalah bagi para pejuang tingkat tinggi, tapi bagi pejuang tingkat rendah, mereka masih memerlukan asupan nutrisi yang cukup untuk mengembalikan stamina mereka yang telah hilang dalam perjalanan.
Lusian dan yang lainnya mencoba untuk berburu beberapa binatang buas yang lemah sebagai ransum yang bisa mereka makan dan mengisi kekurangan perbekalan mereka. Meskipun hutan dalam adalah tempat bagi monster tingkat atas, tapi di sini juga ada beberapa jenis monster lemah yang bisa di makan, seperti kelinci dan tikus hutan raksasa.
Mereka biasanya memiliki indera bahaya yang sangat peka, maka dari itu mereka bisa bertahan hidup di antara monster-monster mengerikan di hutan dalam.
Di hutan dalam ini, kelompok Lowen dan yang lainnya sama sekali tidak berani ceroboh. Saat malam tiba, ketiga pejuang God of War akan berjaga secara bergantian dari waktu ke waktu untuk mencegah serangan binatang buas di malam hari.
.....
(Lusian)
Aku tidak menduga bahwa perjalanan ini akan begitu mengerikan. Bahkan orang sekuat kakek buyut harus kehilangan kedua tangannya sebelum kami tiba di tujuan. Aku tidak tahu kengerian macam apa lagi yang akan kami hadapi setelah ini.
Memikirkan hal itu, aku tidak bisa tidur. Kebetulan, saat aku keluar dari tenda, kakak Liez dan Senior Criss juga keluar dari tenda masing-masing secara bersamaan.
Liez:"Apa kalian juga tidak bisa tidur?."
Criss:"Ya. Entah kenapa aku merasa tidak aman saat tidur di hutan ini."
Lusian:"Aku ingin mencari udara segar."
Mereka berdua mengikutiku ke belakang kemah, dimana nyala api unggun sedikit lebih redup. Dari celah kanopi pohon, aku bisa melihat bulan Cyan yang menggantung tinggi di langit bersama dengan bintang-bintang.
Tanpa disangka, aku melihat pangeran Julius yang duduk di sebuah batu sambil memandangi bintang di langit. Aku menghampirinya dan menepuk pundaknya. Saat dia menoleh, pipinya menjadi menggembung seperti hamster. Di tangannya, dia memegang sepiring makanan yang sudah di makan setengah.
Liez:"Apa kamu sedang makan di tempat seperti ini?."
Kak Liez yang datang setelahku juga melihat pangeran Julius yang sedang makan dengan aneh. Pipinya yang menggembung sama sekali tidak mencerminkan cara makan seorang bangsawan. Tidak ada yang mengira bahwa pangeran Julius yang terkenal sebagai pangeran yang lembut dan sopan akan bersikap seperti ini.
Pangeran Julius tidak menjawab. Dia berusaha untuk mengunyah dan menelan makanan yang ada di mulutnya. Setelah dia menelan semuanya, dia minum air untuk melegakan tenggorokan.
Julius:"Ternyata pangeran Lusian dan yang lainnya. Yah, saat saya sedang khawatir, biasanya saya akan makan sampai memenuhi mulut, maka dari itu saya makan di tempat ini. Jika saya dilihat orang lain, itu agak memalukan."
Pangeran Julius menjawab dengan suara lembut dan wajah yang agak pemalu. Aku tidak terlalu mempedulikan hal itu dan ikut duduk di sebelahnya.
Selama beberapa saat tidak ada yang berbicara. Semuanya mendongak dan memandang bulan bintang di langit sambil memikirkan apa yang ada di kepala mereka masing-masing.
"A, anu..."
Aku menoleh dan melihat seorang wanita pembawa barang yang berusaha memanggilku. Dia agak malu-malu dan ragu-ragu. Dia adalah gadis pembawa barang milik Etienne Empire yang aku tolong saat di ganggu oleh Barbrosa dan orang-orangnya.
Aku menghampirinya. Aku penasaran apa yang ingin dia lakukan gadis untuk menemuiku dan yang lainnya.
Lusian:"Apakah ada sesuatu?."
"I, itu..."
Dia hanya menjawab sedikit dan segera mengeluarkan buntalan kain putih bersih di tangannya. Dilihat sekilas, kain putih itu adalah kain yang sangat mahal, bahkan jika hanya satu tamparan tangan yang bisa di jadikan sapu tangan untuk anak bangsawan, kain itu masih bisa di hargai dengan sangat mahal.
Kain putih itu sangat bersih dan halus. Setiap seratnya berkilau perak seperti satin, tapi lebih indah. Saat dia membuka ikatan bungkusan kain itu, lebar kainnya bisa di gunakan untuk membuat sebuah jubah.
Awalnya aku mengira bahwa kain itu kecil, tapi itu terlihat kecil dalam bungkusan karena kainnya yang sangat tipis tapi tidak tembus pandang.
Yang lebih membuatku terkejut, saat bungkusan kain itu terbuka, sama sekali tidak ada bekas kusut di atasnya yang membuktikan bahwa kain itu bukan kain yang bisa di temukan dimana saja.
Aku penasaran, darimana seorang gadis pembawa barang dengan pakaian kasar dan kotor bisa mendapatkan kain yang bahkan aku sendiri belum pernah melihatnya.
Bukan hanya aku yang nampaknya penasaran. Pangeran Julius dan yang lainnya juga maju untuk melihat kain indah di tangan gadis pembawa barangnya itu.
Gadis itu maju ke arahku dan menunjukkan apa yang begitu berharga hingga di bungkus menggunakan kain yang semewah itu. Di dalamnya, aku melihat empat buah lempengan logam berbentuk perisai yang tergeletak.
Lempengan logam itu berwarna perak murni dengan ukiran burung Phoenix dan bulan sabit yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Apakah ini lambang sebuah negara atau kekuatan di daratan lain?.
Aku berfikiran seperti itu karena aku benar-benar belum pernah melihat lambang seperti ini sebelumnya.
Gadis itu mengulurkan kedua tangannya yang menyangga kain itu dengan lempengan perak di atasnya, dan memberikan isyarat supaya kami mengambil hal itu.
Kak Liez maju dan mengambil lempengan itu lalu melihatnya dengan penasaran. Aku juga mengambil satu dan membolak-balikkan lempengan itu. Di baliknya terdapat ukiran rune emas yang sangat indah. Rune itu seakan bergerak saat aku melihatnya.
Liez:"Untuk apa ini?."
Bagaimanapun kami belum tahu tujuan kenapa gadis itu memberikan hal seperti ini kepada kami, jadi kak Liez bertanya apa tujuannya memberikan hal ini kepada kami.
"Itu untuk ucapan terima kasih karena sudah menolong saya, tolong di terima."
Liez:"Lalu, apa ini?."
Julius:"Ini seperti token, apa ini?."
Kak Liez dan pangeran Julius bertanya kepada gadis itu dengan penasaran benda apa yang di berikan gadis itu pada kami. Gadis itu melihat mereka berdua dan menjawab.
"Itu benar, itu adalah token."
Criss:"Untuk apa token ini?."
"K, kalian akan tahu nanti. Jangan sampai token itu hilang, itu akan berguna nanti."
Setelah mengatakan itu, gadis itu berbalik dan pergi meninggalkan kami yang masih bingung.
Lusian:"Pangeran Julius, apakah kamu pernah melihat lambang seperti ini?."
Julius:"Aku rasa tidak."
Mendengar jawaban itu, kami semua jatuh ke jalan buntu. Tidak ada satupun dari kami yang mengetahui lambang yang tertera di token ini.
Criss:"Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?. Apakah kita akan membuang benda ini?."
Liez:"Tidak. Karena ini adalah tanda ucapan terima kasih dari gadis itu, maka simpan saja. Jika kita membuangnya, mungkin kita akan menyakiti hati gadis itu."
Criss:"Ya, kamu benar."
Kami semua dengan suara bulat memutuskan untuk menyimpan benda ini. Aku punya firasat bahwa apa yang di katakan gadis itu benar.
Hoammm...!
Senior tiba-tiba menguap dan mengatakan bahwa dia mengantuk dan ingin tidur. Aku ingat bahwa sebelum dia bilang tidak bisa tidur, sekarang apakah dia akan tidur?.
Liez:"Ya, kita juga harus segera tidur. Akan ada perjalanan panjang besok. Dan Julius, berhenti makan, kamu akan menghabiskan sisa perbekalan kita jika kamu makan seperti itu."
Kak Liez menepuk pundakku dan berjalan pergi ke tendanya sendiri. Mendengar peringatan kakak, pangeran Julius menatap piringnya yang sudah kosong dan pergi ke tendanya sendiri sebelum meletakkan piring kayu di atas batu.
Aku melihat token itu lagi untuk sesaat sebelum aku juga mulai merasa mengantuk.
.....
Saat aku terbangun, matahari sudah tinggi di atas hutan. Namun karena kanopi pohon yang menghalangi sinar matahari, di hutan ini tidak terlalu panas. Malah udaranya sejuk, meskipun agak lembab.
Kak Liez dan yang lainnya sudah menyantap sarapan di dekat api unggun dan mereka melambai kepadaku. Perjalanan yang melelahkan sekali lagi harus aku lalui.
Kakek buyut sudah tidak ada di sekitaran kemah karena kakek buyut pergi untuk memeriksa jalan.
Setelah kakak buyut kembali, semua orang sudah siap untuk melanjutkan perjalanan. Aku melirik barisan pembawa barang dan melihat gadis tadi malam yang sedang berjalan di antara pembawa barang. Gadis itu berjalan di sudut yang tidak mencolok tanpa rasa keberadaan. Jika bukan karena apa yang dia lakukan tadi malam, mungkin aku bahkan tidak akan menyadari bahwa gadis itu ada di sana.
Perjalanan kami hari ini berlangsung sangat lancar tanpa halangan yang berarti. Hanya karena kami kehabisan perbekalan, jadi aku dan yang lainnya harus berburu untuk memenuhi konsumsi semua orang hari ini. Tentu saja aku tidak wajib ikut. Sebagai seorang pangeran, kesatria dan orang yang ikut bersama kami akan melayani ku dengan baik. Tapi berburu itu menyenangkan, jadi aku hanya ikut.
Kami tidak berani berburu terlalu jauh karena takut bertemu dengan monster yang kuat. Karena itu, aku dan yang lainnya hanya berburu di sekitar lokasi kemah. Dengan demikian, hasil kami juga hanya binatang kecil seadanya seperti kelinci dan tikus hutan.
Perjalanan aman berlanjut hingga lima hari yang sangat aneh. Di awal-awal kami bertemu monster yang mengerikan, tapi sekarang kami bisa berjalan dengan aman?.
Aman tentu saja tidak seratus persen. Di perjalanan kami masih bertemu beberapa monster setingkat Angel. Tapi karena itu hanya monster biasa, itu bisa di atasi kakek buyut sendirian sambil memeriksa jalur yang akan kami lalui.
Lowen:"Besok kita mungkin akan tiba di Padang rumput, kalian bisa istirahat lebih banyak malam ini."
Apakah akhirnya perjalanan yang panjang ini akan segera sampai?. Aku sedikit melonggarkan hatiku saat mendengar kakek buyut berbicara. Aku benar-benar sudah lelah dengan pemandangan yang hanya berisi pohon dan gangguan dari berbagai monster yang membuat hatiku tidak pernah tenang.
Saat malam tiba, aku benar-benar kelelahan dan langsung tidur di tenda tanpa memikirkan apa yang terjadi. Tapi karena ini adalah hutan, aku tetap mempertahankan sedikit kewaspadaanku.
Aku terbangun tepat di tengah malam. Hanya ada beberapa penjaga dan kakek buyut serta leluhur Doglas yang masih berjaga di dekat api unggun.
Karena hawa dingin, aku juga ikut kakek buyut ke dekat api unggun. Sesaat kemudian, nenek buyut terbang dari kejauhan ke arah kami. Luka nenek buyut sudah sembuh total dan kekuatan tempurnya sudah kembali seperti semula. Dengan hal itu, keamanan kelompok ini sedikit lebih meningkat, meskipun tidak sekuat sebelumnya karena kakek terluka dan beberapa orang tewas. Terutama, leluhur dari Etienne Empire yang melarikan diri. Bah, benar-benar pengecut.
Eleina:"Aku sudah memeriksa di sekitar kemah. Tidak ada monster yang berbahaya dan untuk saat ini, kemah masih aman."
Lowen:"Ya, kamu lelah. Beristirahatlah terlebih dahulu."
Nenek mengangguk dan duduk di dekatku sambil menggosok rambutku hingga berantakan.
Eleina:"Apakah kamu takut?."
Lusian:"Ya, tapi sekarang lebih baik."
Eleina:"Jika kita bisa selamat dari perjalanan ini, maka ini akan menjadi pengalaman yang sangat berharga di masa depan."
Lowen:"Ya, itu benar."
Doglas:"Aku juga berharap bahwa Julius juga akan mendapatkan pengalaman."
Semua orang berbicara sampai tidak menyadari bahwa hutan yang semula gelap menjadi lebih terang karena matahari sudah mulai terbit.
Dorma:"Apakah semuanya baik-baik saja."
Nenek Dorma juga muncul pada saat ini dari tendanya. Di belakangnya, pangeran Julius baru keluar dari tenda lainnya dan merenggangkan tubuhnya dengan malas.
Lusian:"Selamat pagi."
Julius:"Pagi. Pagi sekali?."
Lusian:"Ya, aku sudah cukup tidur."
Dorma:"Apakah kamu kira Lusian itu orang malas sepertimu?."
Julius:"Nenek tidak bisa membandingkan ku seperti itu."
Semua orang mulai bangun satu persatu dan menyiapkan segala keperluan kelompok seperti biasa. Entah kenapa, sepertinya aku belum pernah melihat gadis pembawa barang itu makan sekalipun. Saat ini dia juga hanya membantu menghidangkan makanan kepada orang lain tanpa menyisihkan bagiannya.
Lusian:"Apakah kamu tidak makan?."
Gadis itu terlihat sedikit terkejut saat aku bertanya. Dia melihatku dan melihat semua orang di sekitarku dengan wajah yang gugup.
"T, tidak. Saya sudah makan."
Gadis itu segera pergi dan menghilang di antara kerumunan orang.
Eleina:"Apakah kamu mengenalnya?."
Nenek bertanya dengan wajah penasaran ke arahku.
Lusian:"Tidak, tapi dia terlihat baik."
Liez:"Ya, dia memberikan hadiah terima kasih kepada kami. Aku rasa, dia gadis yang baik."
Kakak mengeluarkan token perak dari gadis itu dan membiarkan semua orang melihatnya. Kakek buyut meraih token itu dan melihatnya sebentar sebelum mengembalikannya kepada Kak Liez.
Liez:"Kakek buyut, apakah kakek buyut tahu lambang di atas token itu?."
Lowen:"Tidak, aku belum pernah melihatnya. Bagaimana dengan kalian?."
Kakek menjawab pertanyaan kakak dan segera menoleh ke orang-orang di sekitarnya, mencari tahu apakah ada yang mengenali lambang itu.
Semua orang termasuk wakil dekan dari dua akademi dan instruktur Gozales semuanya menggelengkan kepala.
Aku juga merasa aneh. Jika tidak ada yang mengetahui darimana asal lambang itu, lalu kenapa gadis itu memberikannya pada kami?!.
Doglas:"Yah, meskipun tidak ada yang tahu darimana lambang itu berasal, tapi ada baiknya jika kalian menyimpan token itu. Aku merasa bahwa ada semacam kekuatan besar di dalamnya."
Lowen:"Ya, itu benar."
Karena kakek buyut bilang seperti itu, maka aku juga di yakinkan. Jika benda itu berbahaya, tidak mungkin para tetua ini membiarkan kami menyimpannya.
Akhirnya siang hari tiba. Semua orang segera pergi melanjutkan perjalanan dengan di pandu oleh kakek.
Setelah beberapa jam perjalanan, kakek juga kembali ke tim dan mengatakan bahwa Padang rumput ada di depan.
Semua orang bersemangat dan mempercepat langkah mereka. Namun saat ini, tiba-tiba ada sebuah riak di udara yang membuat semua orang berhenti.
Sebuah lubang hitam tiba-tiba terbentuk. Dari dalam lubang hitam, perlahan seekor serigala putih muncul dengan tiga serigala hitam di belakangnya.
Semua orang terkejut. Itu adalah serigala yang di lawan oleh kakek buyut dan yang lainnya di awal. Saat ini lukanya telah sembuh dan bulunya sudah kembali seperti semula.
Doglas:"I, ini... Apa sebenarnya yang terjadi?."
Wajah semua orang pucat saat melihat kawanan serigala yang tiba-tiba muncul dari kekosongan. Kawanan serigala ini memiliki jumlah yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
Di antara kawanan serigala, muncul seekor Serigala dengan rambut ungu yang melangkah secara perlahan. Ukurannya lebih besar daripada pemimpin serigala putih dengan dua tanduk yang melengkung ke belakang.
Lowen:"Serigala itu, dia lebih kuat dari serigala putih."
Kawanan serigala itu mendarat di tanah dan mengelilingi kami. Mereka mendekat selangkah demi selangkah. Namun tiba-tiba serigala berambut ungu itu memberikan suara sehingga semua serigala yang lain berhenti.
Mereka membuka jalan untuk serigala berambut ungu. Serigala berambut ungu itu mendekat ke arah kami dan mengendus untuk sementara kemudian melihat ke arahku, tepatnya ke arah kami berempat termasuk kakak Liez dan pangeran Julius, serta senior Criss.
Lowen:"Kamu, apa yang coba kamu lakukan!!."
Kakek berlari ke arah serigala ungu yang mendekati kelompok kami. Semua pejuang tingkat rendah sudah terduduk di tanah dengan wajah pucat.
Dengan di pimpin kakek, petarung tingkat tinggi lainnya juga berlari untuk menghalangi serigala ungu itu. Mereka tidak langsung menyerang, tapi berdiri di depan serigala ungu yang melangkah perlahan itu.
"Amethyst, berhenti menakuti tamu kita."
Saat suasana menjadi sangat tegang, tiba-tiba terdengar suara lembut seorang wanita dari kejauhan. Semua orang mendongak dan melihat seorang wanita dengan pakaian serba putih dengan ornamen emas sedang melangkah perlahan di udara seperti menginjak permukaan padat.
Wanita itu memiliki rambut putih dan telinga binatang putih di kepalanya. Ada dua ekor yang berayun perlahan di belakangnya, membuatnya terlihat anggun. Di tangan kanannya, dia memegang sebuah tongkat sihir emas yang indah.
Melihat dari penampilannya, semua orang terkejut dan ketakutan.
Lowen:"Binatang buas yang bertransformasi?!."
Kakek buyut juga sangat terkejut dengan penampilan wanita itu. Seperti mendengar apa yang di katakan kakek buyut, wanita itu melihat ke arahnya dengan wajah tidak senang.
"Hati-hati saat berbicara denganku, atau aku akan membakarmu menjadi debu."
Suaranya tidak keras, tapi semua orang bisa mendengarnya dengan jelas. Sebuah nyala api keemasan muncul di tangan kirinya, membuat udara berdesis karena suhu panas. Meskipun jarakku dengan wanita itu adalah beberapa ratus meter, aku masih bisa merasakan panas yang menyengat dari api itu.
Setelah beberapa saat, wanita binatang buas itu melonggarkan wajahnya dan api di tangannya menghilang.
Wanita itu perlahan mendarat di atas rumput dan mendekat ke arah kami.
Lowen:"Berhenti, atau_."
Ugh...!
Kakek buyut dan semua orang yang berusaha untuk menghalangi wanita itu jatuh ke tanah dan berlutut. Aku bisa melihat bahwa mereka berusaha untuk berdiri, tapi tidak peduli seberapa keras mereka mencoba, mereka tetap tidak bisa berdiri.
Dari semua orang yang hadir, hanya kami berempat yang tidak berlutut. Kakak mencoba berdiri di depanku dengan mengacungkan pedangnya pada wanita binatang buas yang berjalan semakin dekat ke arah kami.
Wanita itu meraih pedang kakak dengan tangannya dan pedang itu memerah sebelum akhirnya meleleh menjadi cairan besi panas. Aku terkejut melihat pemandangan seperti itu. Pedang kakak terbuat dari logam khusus yang sangat kuat, suhu macam apa yang bisa melelehkan pedang sampai seperti itu?!.
"Heh... Gadis yang sangat berani. Bagus, sangat bagus."
Wanita itu mengangguk dan menatap kami berempat. Melawan?, Bagaimana kami bisa melawan monster seperti dia?!.
Saat aku mengira bahwa wanita binatang buas itu akan menyerang kami, dia mengulurkan tangannya.
"Token!."
Eh?
"Token."
Setelah kata-kata itu di ulangi, tiba-tiba aku teringat token yang di berikan oleh gadis pembawa barang waktu itu. Aku mencoba meraba sakuku dan mencari token itu.
Aku berjalan perlahan ke arah wanita itu dan menyerahkan token yang ada di tanganku. Melihat token yang aku serahkan, kakak dan yang lainnya juga memberikan token mereka.
Setelah beberapa saat, dia mengembalikan token itu kepada kami.
"Yah, kalian bisa mengikutiku. Jangan khawatir."
Semua tekanan langsung menghilang saat wanita itu berbalik. Kakek dan yang lainnya juga bisa berdiri. Mereka menatap punggung gadis itu dengan penuh kewaspadaan.
"Apa yang kalian lakukan, ayo cepat pergi."
Semua orang bingung. Tiba-tiba wanita itu berhenti dan melihat kembali ke arah kelompok kami dengan senyum di wajahnya.
"Arene, apakah kamu ingin bertemu Yang Mulia dengan keadaan seperti itu?!."
Wanita itu berbicara dengan tidak dapat di jelaskan. Tapi kemudian, aku melihat bahwa gadis pembawa barang itu berdiri di tempatnya dengan wajah yang luar biasa.
Arene:"Apakah kakak akan datang?."
"Ya. Yang Mulia tertarik dengan manusia dari tempat ini, jadi Yang Mulia akan datang secara pribadi nanti."
Gadis pembawa barang itu segera berlari ke arah wanita binatang buas itu dengan sangat bahagia. Seluruh tubuhnya tiba-tiba di selimuti oleh asap hitam. Setelah asap menghilang, penampilan gadis itu sudah berubah. Dia menjadi seorang gadis kecil sekitar 8-9 tahun dengan rambut hitam panjang dan sebuah tanduk di dahinya dengan ukiran yang sangat rumit.
Pakaiannya yang kasar dan compang-camping berubah menjadi gaun merah yang indah. Aku benar-benar terkejut, apakah selama ini binatang buas bersama kami tanpa di sadari?. Apakah binatang buas menjadi sekuat itu sekarang?!.
Wanita itu mengelus rambut gadis bertanduk itu dengan senyum di wajahnya.
"Jika Yang Mulia melihatmu memakai pakaian seperti itu, mungkin Yang Mulia akan mengira bahwa kami mengganggumu."
Arene:"Tidak mungkin. Kakak pasti akan mengerti."
"Ya, ya. Ayo segera pergi, Yang Mulia akan segera datang."
Wanita itu melayang di udara dan pergi. Gadis yang di panggil Arene itu melihat ke arah kelompok kami.
Arene:"Ayo, apa yang kalian tunggu?!."
Dia berlari ke arah kami dengan bahagia dan mengajak kami pergi.
Lusian:"Sebenarnya, kemana kita akan pergi?!."
Arene:"Jangan khawatir. Aku akan membawa kalian ke tempat yang baik."
Tidak ada cara bagi semua orang untuk pergi selain mengikuti gadis itu. Bagaimanapun, di belakang kami ada kawanan serigala yang menatap kami dengan penuh ancaman.
Kakek buyut mengangguk dan mengikuti kedua orang itu. Semua orang juga segera bergerak dengan kaki lemas karena di awasi oleh serigala yang sangat menakutkan. Tak berapa lama kami berjalan, tiba-tiba bidang pandanganku meluas, sebuah Padang rumput yang sangat luas membentang sejauh mata memandang.
Angin sepoi-sepoi segera menerpa wajahku, memberikan perasaan segar dan kebebasan yang sangat menyenangkan. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menghirup udara sebanyak mungkin yang bisa ditampung di paru-paruku, lalu menghembuskan secara perlahan.
Seluruh tubuhku terasa ringan dan menyegarkan. Setelah berhari-hari terjebak dalam hutan yang berbahaya, perasaan kebebasan ini benar-benar baik.
"Apa yang kalian bengongkan di sana. Jika tidak cepat, aku akan meninggalkan kalian."
Mendengar teriakan wanita itu, aku tersadar dan segera mengikutinya. Meskipun Padang rumput ini terlihat indah, tapi ini adalah wilayah yang lebih berbahaya dari wilayah hutan. Menurut kakek buyut, Padang rumput ini di huni oleh monster-monster besar yang sangat kuat.
Tidak ada orang yang berani melambat, kami semua mengikuti wanita itu dengan cepat. Padang rumput ini sangat luas, aku tidak tahu akan butuh waktu berapa lama untuk melewatinya. Wanita itu tiba-tiba berhenti dan memberi isyarat pada kami supaya mendekat padanya.
"Akan terlalu lama jika kita berjalan seperti ini. Amethyst..!"
Wauff...
Dengan panggilannya, serigala ungu itu maju ke depan wanita itu. Serigala itu membungkukkan lehernya supaya wanita itu mengelus kepalanya. Perlu di ketahui, tinggi serigala ungu itu mencapai sekitar lima meter yang jauh lebih besar dan tinggi daripada ukuran wanita berekor itu.
Setelah mengelus kepala serigala, wanita itu dan gadis bertanduk melayang dan naik ke atas punggung serigala. Perlahan, sebuah riak terbentuk di depan serigala ungu itu, menunjukkan sebuah lorong yang gelap seperti di awal.
"Ayo pergi."
Meskipun semua orang ragu-ragu, tapi kami tetap ikut masuk ke dalam karena menurut kakek buyut, dia tidak merasakan niat membunuh dari wanita itu.
Kami hanya berjalan beberapa saat hingga kami melihat seberkas cahaya di ujung lain lorong yang gelap ini. Saat keluar dari lorong, aku harus segera menutup mata karena cahaya yang menyilaukan.
Saat mataku terbuka, aku hampir tidak bisa menutupnya lagi. Ada puluhan bukit besar di tempat ini. Di tengah bukit, ada sebuah bukit terbesar dengan ketinggian lebih dari tiga ratus meter.
Aku pernah membaca dari buku, bahwa tempat yang mirip seperti ini di sebut sebagai hutan seratus bukit yang terletak di ujung lain Padang rumput. Di kejauhan, ada hutan lain yang lebih luas dari hutan yang aku lewati. Meskipun pohon-pohonnya saling berjauhan, tapi karena ukuran setiap pohon yang sangat besar, hutan itu terlihat sangat padat. Hutan hitam, tempat para monster yang sangat kuat merajalela.
Namun yang membuatku sangat kagum adalah tempatku berdiri saat ini. Aku berdiri tepat di bawah kaki bukit terbesar. Di depanku terdapat tangga batu putih yang sangat panjang menuju ke puncak bukit. Tangga batu putih itu sangat putih dan berkilau seperti mutiara.
Di ujung tangga, sebuah istana putih besar berdiri kokoh. Ukuran istana itu mengalahkan semua istana yang pernah aku lihat sebelumnya. Ada ratusan menara raksasa yang menjulang ke angkasa. Istana itu di pagari oleh tembok tinggi yang sangat kokoh.
Bukan hanya aku, semua orang terperanga kaget melihat pemandangan yang sangat kontras seperti itu. Meskipun banyak monster yang memiliki kecerdasan seperti manusia, tapi mereka tidak pernah membuat bangunan semegah ini. Para monster lebih suka tinggal di gua-gua atau lubang gunung dan menghiasi tempat itu daripada harus membangun sebuah bangunan.
Di belakang istana putih itu terdapat dua pilar raksasa yang setinggi gunung. Di antara dua pilar itu terdapat kegelapan tak berujung yang seakan menyedot siapapun yang melihatnya. Selain kegelapan, di tengah pilar itu juga mengeluarkan sebuah pilar cahaya merah raksasa yang dengan sombongnya menusuk langit. Itu adalah pilar cahaya yang kami lihat dari kejauhan. Ternyata dari tempat inilah pilar cahaya itu berasal.
"Ayo naik!."
Kami tersadarkan oleh suara wanita Serigala itu. Semua orang saling melirik dan akhirnya mengikuti wanita itu untuk menaiki tangga. Ada ribuan anak tangga yang menuju ke puncak bukit. Meskipun terlihat sangat panjang, tapi bagi para pejuang sepertiku, ini hanya masalah kecil.
Saat kami tiba di puncak bukit, kami di hadang oleh sebuah gerbang besar setinggi lima meter dan lebar tiga meter. Gerbang ini berwarna perunggu dengan relief yang rumit di atasnya. Relief itu menggambarkan seekor burung Phoenix yang bertengger di sebuah pohon besar yang terbakar. Di bawah pohon besar itu ada ribuan mayat dan tengkorak manusia yang merangkak. Ada sebuah benda terbang di sekitar pohon yang belum pernah aku lihat. Di batang pohon besar itu, ribuan serangga aneh dengan sabit sebagai cakar depannya sedang memanjat pohon dengan gembira.
"Ini adalah gambaran dari lima penguasa agung."
Seakan menyadari pandanganku terhadap relief di pintu gerbang, wanita serigala itu menjelaskannya kepadaku. Aku masih sangat penasaran, tapi aku tidak berani bertanya.
Seorang kesatria wanita dengan rambut coklat gelap menghampiri kami. Wajahnya tegas dan dia membawa tombak panjang.
"Nona Asche, Nona Arene".
Kesatria wanita itu sedikit membungkuk dan menyapa sambil menatap kami. Semua orang tahu apa yang dia maksud. Dia tidak datang untuk menghentikan wanita itu, tapi menanyakan kenapa dia membawa kami. Ini adalah prosedur yang umum bagi penjaga gerbang istana.
Asche:"Aku akan membawa mereka menemui Yang Mulia."
Mendengar itu, kesatria wanita itu melirik ke arah kami dan akhirnya mengangguk. Dia pergi ke gerbang, menghampiri kesatria wanita lain yang juga ikut berjaga. Mereka hanya menyentuh gerbang dan menyalurkan energi mereka ke gerbang itu. Perlahan, gerbang besar itu terbuka dengan sendirinya.
Ditemani oleh suara berderit dari gerbang yang berat, apa yang ada di balik dinding itu di sajikan di hadapanku secara perlahan. Saat bidang pandang meluas, aku bisa melihat istana itu dengan lebih jelas.
Luas, sangat luas. Dinding-dinding berwarna putih murni di hiasi dengan berbagai macam permata biru dan emas, membuat tempat ini nampak sangat elegan dan suci, seperti gadis penjaga kuil yang tak tersentuh.
Aku harus mendongak hingga leherku sakit saat ingin melihat puncak istana ini. Di depan istana, terdapat jalan yang di aspal menggunakan batu putih padat. Di samping kanan dan kiri terdapat sebuah taman luas dengan berbagai tanaman dan bunga yang tertata rapi. Banyak kupu-kupu dengan berbagai warna yang terbang dengan senang hati di antara bunga-bunga yang indah.
Seorang kesatria berarmor perak dengan ornamen emas menghampiri kami. Dia memakai jubah biru tua dengan sulaman burung Phoenix perak dan bulan sabit, sama seperti gambar diatas token yang aku terima.
Dia membawa tombak panjang berwarna perak yang berbeda dengan kesatria penjaga. Wajahnya sangat cantik dengan rambut keemasan yang memantulkan cahaya matahari.
"Nona Asche, nona Arene, saya akan menjadi pemandu anda."
Asche:"Ya"
Wanita Asche dan gadis kecil itu turun dari atas serigala ungu dan pergi memimpin kami untuk mengikuti wanita itu.
Liez:"N, nona Asche, b, bisakah saya bertanya sesuatu?."
Aku terkejut dengan keberanian kak Liez yang menanyakan sesuatu di kondisi seperti ini. Selain terkejut, aku juga sangat khawatir.
Lowen:"T, tolong jangan dengar kan gadis ini."
Eleina:"Y, ya, dia hanya asal bicara."
Kakek dan nenek buyut berusaha menutupi kelancangan kakak, berharap supaya tidak ada yang mempedulikan kelancangannya.
Asche:"Tidak masalah. Apa yang ingin kamu tanyakan?."
Suara wanita itu masih sangat lembut dengan kelembutan yang aneh, membuat suasana yang tegang menjadi sedikit lebih santai.
Liez:"I, itu. Cahaya merah di luar..."
Asche:"Cahaya merah?. Ahhh, mungkin maksud kalian adalah suar penanda. Itu adalah suar yang di gunakan untuk memandu arah dari orang-orang Moon Palace yang pergi ke luar dunia untuk menjelajah. Suar itu akan menandai titik transfer dan juga gerbang bintang supaya mereka mengetahui lokasinya."
Aku tidak sepenuhnya paham dengan apa yang dia katakan. Tapi, mendengar menjelajahi luar dunia, aku menjadi sangat terkejut. Tidak peduli seberapa kuat orang-orang di dunia ini, mereka tidak bisa terbang hingga ke luar dunia. Hingga saat ini, langit masih menjadi misteri bagi kami. Tapi, apakah monster dan binatang buas sudah menjelajahinya?!.
Ini adalah hal yang sangat mengejutkan dan tak terbayangkan. Kekuatan macam apa yang telah mereka raih hingga mampu melakukan hal-hal seperti itu?!.
Julius:"K, keluar dunia?. Jika, jika boleh tahu, apa yang ada di langit?."
Pangeran Julius memang terkenal sebagai orang yang sangat senang mempelajari hal baru, terutama tentang langit yang penuh misteri.
Asche:"Kalian akan ada waktu untuk belajar. Sebelum itu..."
Dia berhenti berbicara dan melihat ke depan. Tanpa di sadari kami telah melalui lorong yang sangat panjang. Di ujung lorong terdapat pintu besar yang terbelah dua setinggi lima meter. Ada dua kesatria perak yang menjaga pintu itu, namun aku tidak bisa melihat wajah mereka karena tertutup oleh helm kesatria. Tapi jika di lihat dari posturnya dan rambut panjang yang menjuntai di belakang, mereka adalah kesatria perempuan.
Asche:"Buka pintunya!."
"Ya!."
Saat pintu terbelah dua, pemandangan di dalamnya tersaji jelas di depanku. Itu adalah ruang takhta yang sangat luas dengan karpet merah panjang yang membentang ke kursi takhta tinggi.
Ada sekitar lima puluh kesatria berarmor emas yang berdiri di kedua sisi karpet merah yang terlihat sangat megah. Aku juga terkejut bahwa kesatria itu semuanya adalah wanita.
Lowen:"Mereka semua jauh lebih kuat dari diriku."
Kakek buyut berbisik kepadaku. Semuanya lebih kuat dari God of War?!. Entah kenapa, saat aku datang ke sini, seluruh kewarasanku telah di hancurkan seperti debu yang tidak berguna.
Nona Asche memimpin kami masuk ke dalam ruang takhta. Ruang takhta ini sangat luas dan cerah. Di pilar-pilar besar yang menopangnya terdapat kain panjang dengan gambar burung Phoenix dan bulan perak.
Di dekat kursi Takhta, terdapat seorang wanita cantik dengan tubuh tinggi. Ada tanduk hitam ramping di kepalanya. Wanita itu memiliki senyum ramah dan bibir merahnya sedikit melengkung.
Dia memakai gaun hitam bergambar bunga merah yang membuatnya memiliki kesan misterius yang aneh. Aura wanita itu juga sangat kuat. Saat aku mengira bahwa dia adalah sang penguasa, dia hanya berdiri di samping takhta sambil mengamati kami.
Asche:"Nona Intrometida."
Intrometida:"Asche, kamu sudah datang?, Kalau begitu kamu bisa Beristirahat sampai Yang Mulia datang."
Asche:"Terima kasih, Nona."
Nona Asche pergi ke samping dan sebuah kursi tiba-tiba muncul untuk nona Asche duduk. Dia duduk sambil menyisir bulu ekornya yang putih.
"Nona Intrometida."
Dari belakang, tiba-tiba terdengar sebuah suara wanita. Saat aku menoleh, aku melihat seorang wanita yang seluruh tubuhnya tertutup oleh jubah hitam. Di sekitarnya terdapat asap hitam tipis yang terus berkeliaran.
Aku melihat belasan orang orang di belakangnya. Keadaan mereka tidak lebih baik daripada kami. Mereka juga adalah rombongan lain yang ikut dalam eksplorasi.
Doglas:"Tiga orang itu, mereka adalah yang di serang oleh sekelompok serigala. Aku kira mereka sudah mati."
Aku mendengar bisikan Leluhur Doglas dan Kakek buyut. Mendengar apa yang mereka bisikkan, aku sedikit memiliki tebakan di hatiku.
Kelompok itu juga bergabung bersama kami tanpa sepatah katapun selain kebingungan dan keterkejutan.
Setelah ini, berbagai kelompok terus berdatangan dengan jumlah orang yang sudah sangat berkurang dari di awal. Bahkan sekitar lima kelompok telah menghilang termasuk kelompok dari Etienne Empire selain yang tersisa di kelompok kami.
Bajingan itu, aku berharap bahwa dia mati di dalam hutan.
Di ruangan ini terdapat sekitar tujuh sampai delapan puluh orang. Semuanya menunggu dengan tenang selama beberapa saat.
Beberapa saat kemudian, semua kesatria berlutut di tanah, termasuk nona Asche dan Nona Intrometida yang berada di dekat kursi takhta.
Sebuah lubang hitam pekat muncul di salah satu ujung paltform takhta. Dari dalam, secara perlahan muncul banyak sosok. Dua puluh kesatria wanita berarmor biru berlian muncul secara perlahan yang di bagi menjadi dua baris.
Setelah keluar, mereka berdiri dan mengangkat tombak aneh di tangan mereka dan saling menyilangkan ujungnya. Sesosok gadis kecil muncul dengan gaun putih yang indah.
Rambut gadis itu perak dan berkilau tujuh warna saat berkibar, seperti satin yang sangat indah. Dia memiliki mata yang indah seperti langit berbintang yang mencerminkan luasnya angkasa.
Telinganya runcing dan ramping. Meskipun dia adalah gadis kecil, tapi suasana yang ia berikan membuat semua orang mengaguminya. Itu adalah aura dari penguasa.
Tidak ada orang di ruangan ini yang meragukan gadis kecil itu bahwa dia adalah penguasa di tempat ini. Bagi binatang buas, mereka bisa menjelma menjadi manusia, bahkan seorang gadis kecil, tapi usia mereka yang sesungguhnya mungkin jauh lebih tua dari yang terlihat.
Aku tidak hanya bisa menatap gadis itu hingga dia duduk di kursi Takhta dan menghadap kami dengan wajah yang tenang.
Inikah, penguasa tempat ini....
(Akhir chapter ini.)
Lebih dari 5000 kata. Aku merasa ibu jariku mulai menjadi berotot...
Berhentilah membaca saat mata kalian sudah lelah. Tetap jaga kesehatan mata kalian, oke?!.