
aku hanya melihat ke bawah. di bawah, aku bisa melihat ibu kota yang mencerminkan cahaya merah. cahaya kuning dan biru dari batu cahaya menyinari jalan-jalan, menunjukkan orang-orang yang lalu-lalang dengan kesibukan masing-masing. mungkin ini adalah terakhir kalinya aku bisa melihat ibu kota, jadi aku akan sedikit menikmatinya lebih lama.
kapal udara perlahan mulai menjauh dari kota, pemandangan yang tersisa adalah tanah dan hutan-hutan kecil yang belum dikembangkan. bebatuan besar dan tajam menjulang tinggi menghadap langit.
setelah pemandangan ibu kota benar-benar menghilang dari pengelihatanku, aku berjalan dan masuk ke dalam kabin. di dalam kabin sudah terdapat seorang maid yang selalu bersamaku. Lusi, itulah namanya. dia selalu menemaniku, bahkan saat sedang di Medan perang. meskipun dia seorang maid, Lusi adalah seorang Animanids knight, dia dulu adalah kesatria musuh, tapi setelah aku menyelamatkannya serta adiknya dari pembantaian oleh Union, dia mengikutiku dan setia padaku hingga saat ini.
selain karena kesetiaannya padaku, dia pernah di selamatkan oleh seseorang dari kota gerbang iblis sewaktu dia terluka ketika melakukan tugas sebagai mata-mata di kerajaan ini. dia melarikan diri, tapi hampir mati di tengah hutan. pada akhirnya, ada seseorang dari kota gerbang iblis yang membawanya ke rumahnya untuk di obati. sepertinya dia masih menyimpan hutangbudi itu sampai saat ini.
Lusi:"putri, apakah ada yang sedang anda pikirkan?"
Aneria:"mungkin aku hanya ingin melihat pemandangan kota untuk terakhir kalinya"
Lusi:"apakah ada yang istimewa dengan pemandangan kota?, menurut saya semuanya sama saja"
Aneria:"mungkin begitu. lalu, apakah kamu yakin ingin ikut dalam misi bunuh diri ini?"
Lusi:"saya yakin. lagipula, saya setidaknya harus mengetahui keadaan orang yang telah menyelamatkan saya"
Aneria:"tapi mungkin kita tidak akan bisa kembali lagi"
Lusi:"nyawa saya pernah anda selamatkan, seharusnya nyawa saya sudah hilang sejak dulu, tapi kerena saya terus di selamatkan, saya tidak keberatan untuk mati bersama dengan penyelamat saya"
Lusi terus menjawab pertanyaanku dengan wajah datar tanpa ekspresi apapun. mungkin memang seperti ini orang yang telah berada di pertempuran sejak kecil. dia bahkan tidak menunjukkan ketakutan apapun dalam menghadapi kematian.
aku hanya bisa terus melakukan pembicaraan dengan Lusi di kabin. selain untuk menghilangkan kebosanan, kegiatan ini mungkin akan menghilangkan ketakutan ku. ya, aku takut, lagipula sebentar lagi aku akan mati. menurutku wajar untuk takut dengan kematian.
setelah sekian lama, Lusi pergi ke dapur kapal untuk membawakan ku makanan yang tersimpan di sana. karena hanya sebagai bekal perjalanan, makan yang ada di atas kapal adalah makanan sederhana dan seadanya. karena sudah terbiasa dengan hidangan seorang kesatria, aku bahkan tidak memikirkan rasanya. bagiku makan hanyalah untuk memenuhi nutrisi.
.....
perjalanan yang panjang dan membosankan ini, aku harap aku bisa cepat sampai di kota itu. setiap saat di udara, yang bisa aku lihat hanyalah langit yang tampak merah dan suram. di sepanjang perjalanan akan muncul berbagai jenis monster yang kuat, tapi meskipun begitu, kami sengat beruntung karena kapal ini di lengkapi oleh Barrier yang dapat menahan monster kelas bencana. pertahanan kapal ini di kembangkan berdasarkan dengan catatan yang pernah di temukan di reruntuhan kuno.
reruntuhan kuno itu juga yang menyebabkan Dragonis Kingdom dan Astium Union bermusuhan. meskipun reruntuhan kuno itu berada di wilayahnya Dragonis Kingdom, tapi Union terus berusaha untuk menguasai reruntuhan itu. di dalam reruntuhan banyak di temukan berbagai artefak kuno dan juga catatan tentang peradaban kuno.
pertempuran antara Dragonis Kingdom dan Astium Union terjadi selama bertahun-tahun dan telah menimbulkan banyak korban yang tidak terhitung jumlahnya. meskipun Astium Union gagal untuk merebut reruntuhan kuno, tapi mereka menyebarkan desas-desus bahwa siapapun yang berhasil menemukan rahasia di balik reruntuhan itu, maka mereka dapat menaklukan seluruh dunia. karena desas-desus itu, berbagai negara mulai menargetkan kerajaan. karena itulah kerajaan saat ini sedang dalam masa kritis.
aku hanya duduk dan merenung untuk menghilangkan kebosanan dan tekanan yang terus membebani pikiranku. aku berbaring di ranjang ku yang empuk dan menutup mata, memikirkan dan mencoba mengingat masa lalu yang bisa menenangkan pikiranku. selama perjalanan panjang ini, tidak dapat di hindari bahwa stress dan depresi akan menyerang. bahkan para kesatria tidak kebal terhadap hal itu. untuk mengatasi masalah tersebut, biasanya kesatria akan melakukan latih tanding di dek kapal atau kegiatan lain yang dapat menghilangkan kebosanan mereka.
perlahan, kantuk dan lelah mulai mengalahkan ku. di tambah dengan berbagai macam tekanan yang aku rasakan, kelelahan menjadi semakin kuat. ahh... sungguh... merepotkan...
.....
aku membuka mata dan merenggangkan tubuhku. aku tidak tahu kapan dan berapa lama aku tertidur, tapi begitu aku melangkah keluar kabin, aku melihat cahaya kuning yang terpancar di langit. aku berjalan menuju ujung dek untuk melihat pemandangan di bawah. saat aku melihat daratan, yang aku lihat adalah hutan luas yang tak berujung dengan pepohonan yang menjulang tinggi.
pohon-pohon itu rapat dan menyembunyikan tanah yang ada di bawahnya. ini adalah wilayah luar dari hutan terlarang. mekipun ini adalah wilayah luar, tapi level bahaya disini sama sekali tidak dapat di abaikan. karena bahaya yang tersimpan di dalam hutan, kapal udara hanya bisa mengambil jalan memutar dan menghindari Padang rumput dimana monster raksasa berkumpul.
aku memandangi lautan pepohonan yang lebat. meskipun lebat, tapi ini hanyalah di bagian luar. aku pernah membaca dari dokumen negara, bahwa bagian tengah yang paling berbahaya hanya akan memiliki pohon mati dan tanah yang tandus. di wilayah itu terdapat berbagai macam monster yang tidak di ketahui, bahkan di perkirakan di wilayah itu terdapat monster kelas bencana. catatan itu berhasil dibuat setelah pengorbanan darah dari kesatria yang tidak terhitung jumlahnya. meskipun pemetaan hanya sampai di pinggir wilayah hutan kematian, tapi itu sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan betapa mengerikannya tempat itu.
perjalanan kami sejauh ini berjalan lancar tanpa halangan yang berarti. entah berapa lama, kami sampai di tempat yang pohonnya mulai jarang.
GRAOOOO....!!!
saat para kesatria sedang berlatih di dek, tiba-tiba kami mendengar berbagai raungan dari kedalaman hutan.
aku memperhatikan ke kejauhan dan melihat berbagai jenis monster terbang dan monster lainnya dengan liar berusaha keluar dari hutan. kawanan monster terbang yang seperti menutupi langit, melaju dengan cepat ke arah kapal kami.
Aneria:"segera persiapkan pelindung terkuat..!!!"
"baik..!!"
aku segera memberi perintah kepada para kesatria untuk memasang Barrier terkuat yang dimiliki oleh kapal ini. menghadapi ribuan monster terbang, kau tidak boleh menahan apapun. aku tidak ingin mengambil resiko, meskipun kami memang hanyalah pasukan bunuh diri, tapi kami tidak bisa mati di tempat seperti ini.
pelindung langsung mengelilingi kapal udara dengan sangat cepat. taklama kemudian, berbagai teriakan monster terbang terdengar semakin jelas. monster terbang berukuran sekitar 2-3 meter yang tak terhitung jumlahnya menabrak Barrier kapal. suara benturan dan teriakan monster membuat hati menjadi dingin. aku hanya bisa menyaksikan pemandangan ini dengan sangat takjub. ini pertama kalinya aku melihat monster sebanyak ini, bahkan kekuatan terendah dari monster ini adalah kelas komandan.
aku sempat khawatir bahwa Monster-monster itu akan terus menyerang Barrier dan merusaknya, tapi setelah beberapa saat, gelombang monster itu sampai di ujungnya. yang aku kira ribuan monster terbang itu ingin menyerang kami, tapi ternyata mereka hanya melewati kami dan terus melanjutkan perjalanan.
Aneria:"apakah kita kurang beruntung dan bertemu dengan monster yang akan bermigrasi?"
aku bertanya kepada Lusi yang berdiri di sampingku dengan takjub. sepertinya dia juga baru pertamakali bertemu dengan kejadian seperti ini. mendengar pertanyaan itu, Lusi menundukkan kepala dan sedikit merenung.
Lusi:"saya kurang yakin, tapi saya dapat memastikan bahwa mereka bukanlah jenis monster yang bermigrasi. biasanya monster yang bermigrasi adalah sekawanan monster dari jenis yang sama, tapi kali ini saya dapat melihat berbagai macam jenis monster yang terbang secara bersamaan"
Aneria:"lalu, bagaimana menurutmu?"
Lusi:"menurut saya, daripada bermigrasi, monster-monster itu lebih seperti melarikan diri dari sesuatu. mungkin ada keberadaan yang membuat mereka harus melarikan diri dari wilayah hutan"
analisis yang di berikan Lusi memang dapat diterima. jika itu masalahnya, maka keberadaan macam apa yang dapat menimbulkan fenomena seperti itu!?. aku mengeluarkan peta yang memiliki gambaran kasar tentang hutan kuno, jika peta ini dapat di percaya, maka asal kerusuhan itu berasal dari hutan mati ataupun Padang rumput.
untuk mengantisipasi kejadian yang sama, aku memutuskan untuk terus mengaktifkan Barrier pelindung selama perjalanan.
setelah kejadian mengerikan itu, kapal terus melanjutkan perjalanan ke arah tujuan. karena Barrie terus di aktifkan, kapal juga mengkonsumsi lebih banyak kristal sihir. perjalanan berlangsung lama dan membosankan, hingga akhirnya cahaya kuning kedua terlihat. cahaya kuning itu menandakan bahwa kami hampir sampai di wilayah kota gerbang iblis.
Lusi:"menurut peta yang kita punya, saat ini kita sudah sampai di perbatasan wilayah manusia dan Padang rumput. diperkirakan kita akan sampai setelah tujuh kelopak terjatuh"
aku duduk di kabin sambil mendengarkan laporan yang di berikan oleh Lusi. akhirnya, perjalanan yang panjang dan membosankan ini akan segera berakhir.
Aneria:"lalu bagaimana keadaan kesatria yang lain?"
Lusi:"beberapa dari mereka mengalami stress yang berlebihan dan sedang di lakukan perawatan oleh yang lain. kerusakan kita selama perjalanan juga sangat minim karena adanya pelindung kapal"
Aneria:"itu bagus. aku ingi_"
Grudak...(berguncang)
tiba-tiba aku merasakan kapal udara berguncang dengan hebat hingga benda-benda berjatuhan dari tempatnya. bahkan Lusi yang memberikan laporan padaku terjatuh ke lantai.
saat aku menstabilkan diri dan mencoba membantu Lusi untuk berdiri, saat itu ada seorang kesatria yang berlari dengan panik masuk ke dalam kabin ku.
"lapor kapten. kita menghadapi serangan"
Aneria:"apa!!!"
aku segera berdiri dan pergi bersama Lusi menuju ke dek kapal. saat kami sampai di ambang pintu, aku melihat rantai merah ilusi yang melilit Barrier. Barrier yang dapat menahan monster kelas bencana benar-benar hancur seperti kaca. rantai ilusi itu segera melilit badan kapal udara dan mencegahnya untuk terus melaju. aku tidak bisa bereaksi terhadap pemandangan seperti itu dan hanya menatap kejadian ini dengan takjub. Barrier yang bahkan bisa menahan serangan monster kelas bencana, bisa di hancurkan semudah itu!?. kekuatan macam apa yang dapat melakukannya.
(akhir dari chapter ini)