
"A, apa yang harus kita lakukan sekarang?."
Seorang atasan militer bertanya dengan suara gemetar.
Phirios:"APA LAGI...!!, cepat, cepat pergi dari sini!."
Phirios dengan suara paniknya berteriak kepada orang militer itu.
Phirios:"Ini semua salah kalian, kalian yang membuat ku melakukan ini, ini salah kalian...!"
Luik:"Diam...!!"
Phirios terus berteriak-teriak gila dan menunjuk orang-orang Dragonis Kingdom. Karena kesal dengan tindakan Phirios, Marshal Luik berteriak dengan wajah marah yang mengerikan.
Phirios:"Apa... Kamu hanya seorang rakyat jelata, berani berteriak padaku?!. Aku dapat menghukum dan_"
Bang...!
Sebuah pukulan keras mendarat di ulu hati Phirios, membuatnya tidak sadarkan diri karena rasa sakit. Sebelum Phirios jatuh ke tanah, dia di tangkap oleh Marshal Luik.
"Pangeran...!"
"Apa yang kamu lakukan...!"
Teriakan terkejut dan marah datang dari para prajurit Xuan Ming. Mereka segera mengacungkan senjata mereka ke arah Marshal Luik.
Luik:"Dia hanya tidak sadarkan diri, bukan mati. Saat ini mental pangeran sangat berfluktuasi, aku hanya membantunya beristirahat."
Setelah mengatakan itu, Marshal Luik langsung melempar Phirios ke arah para prajurit. Mungkin karena merasa bahwa ucapan Marshal benar, para prajurit itu berhenti mengejar masalah ini dan membawa bola lemak itu ke kamar untuk beristirahat.
Marshal Luik menarik nafas panjang dan melihat seorang ajudan.
Luik:"Laporkan kondisi kita saat ini!."
"Eh... Ah, lapor, dari 50 kapal udara, hanya tiga yang tersisa dan kurang dari 10.000 awak kapal yang tersisa. Selain itu, ketiga kapal mengalami kerusakan parah, tidak mungkin untuk melakukan perjalanan kembali ke kota terdekat."
Marshal Luik mengangguk dan segera memberikan perintah lanjutan untuk segera melakukan pendaratan. Para penyihir medis yang tersisa di perintahkan untuk segera memberikan perawatan kepada seluruh pasukan yang masih hidup. Lebih dari 500.000 prajurit, hanya tersisa sekitar 25.000 orang. Dari ini, kita dapat membayangkan betapa tragisnya pembantaian itu.
Kami terpaksa harus mendaratkan kapal. Kami mendarat kembali di kemah awal kami di dekat gurun kematian (Sisa kota Gerbang iblis yang sudah menjadi gurun tandus.) yang berjarak cukup jauh dari Medan perang. Meskipun jaraknya jauh, entah karena peperangan tragis itu atau memang ada, tapi aku merasa bahwa aroma darah yang pekat masih tersisa di hidungku.
Aku masuk ke dalam tenda yang di bangun khusus untukku. Suasana perkemahan menjadi sangat sunyi, sangat berbeda dengan perkemahan sebelumnya yang penuh dengan kebisingan para prajurit. Yah, bagaimanapun setelah melihat hal seperti itu, mereka pasti akan terguncang.
Lusi:"Yang Mulia, ini makan malamnya..."
Meskipun kekuatan yang di tunjukkan oleh Moon Palace jauh melampaui ekspektasi kami, tapi itu tidak terlalu berdampak untukku dan Lusi. Namun, setelah melihat pembantaian seperti itu, akan bohong jika itu tanpa dampak sedikitpun, setidaknya melihat makanan yang di hidangkan Lusi, aku tidak memiliki nafsu makan sedikitpun. Hidungku selalu terbayangi oleh aroma darah yang pekat.
Aneria:"Lusi, sepertinya mental mu lebih kuat dari apa yang aku duga. Dalam kondisi seperti ini, kamu masih bisa makan."
Aku berbicara sambil melihat Lusi yang memakan sepotong roti keras di sudut, seperti tidak ada sesuatu yang salah sedikitpun.
Lusi:"Pembantaian itu adalah nyawa orang lain, sementara makan adalah nyawa kita sendiri. Akan terlalu bodoh jika kita merugikan diri sendiri karena kematian orang lain."
Aneria:"Bukan itu maksudku, bukankah kamu merasa kalau kamu agak mual setelah melihat mayat-mayat itu?."
Lusi:"Tidak. Awalnya saya hanya merasa takut dan beruntung saat melihat pemandangan itu. Rasa jijik karena melihat mayat, itu karena rasa simpati dan empati kita terhadap ras yang sama, sementara saya tidak memiliki hal seperti itu."
Itu benar juga, lagi pula Lusi sudah harus melihat banyak darah dan pembunuhan semenjak dia kecil. Tidak salah jika dia tidak memiliki hal seperti itu.
Melihat Lusi selesai makan, aku mengajaknya untuk pergi ke luar tenda karena tidak ada hal lain yang bisa aku lakukan di dalam tenda. Saat aku keluar, tidak ada pemandangan semarak seperti sebelumnya, aku hanya melihat beberapa orang prajurit yang duduk di dekat api unggun tanpa bicara sepatah katapun dengan wajah murung memandangi api yang bergoyang. Suasana di perkemahan benar-benar tertekan dan sangat suram seperti tidak ada lagi harapan atau keinginan, yang ada hanyalah keputusasaan dan ketakutan.
Kami berjalan hingga ke pinggir perkemahan. Karena sisa pertempuran Yang Mulia Filia waktu itu, sangat jarang ada pohon di area ini, jikapun ada, pohon itu hanyalah pohon mati dengan cabang-cabang tajam tanpa daun.
Lusi:"Yang Mulia, apakah anda tidak merasa sedih karena kehilangan banyak prajurit."
Aneria:"Eh?."
Aku agak salah, tiba-tiba Lusi bertanya seperti itu. Benar-benar tidak sesuai dengan Lusi yang aku kenal.
Aneria:"Ada apa, kenapa kamu tiba-tiba?. Apa kamu merasa kasihan para para prajurit itu?."
Lusi:"Tidak. Para pengkhianat itu pantas untuk mati. Hanya saja, biasanya anda akan sangat peduli."
Aneria:"Yah, mereka sudah memberontak dan tidak pantas untuk mendapatkan belas kasihan. Aku menyadari, bahwa menyimpan benih duri, suatu saat hanya akan melukai diri sendiri. Aku mulai berfikir, kalau akan lebih baik bagi para pengkhianat itu untuk di bersihkan sekarang."
Ya, selama ini kerajaan hanya menyimpan benih duri, dan mencoba menghambat benih duri itu untuk tumbuh. Para bangsawan dan prajurit yang tidak memiliki kesetiaan itu, mereka hanyalah duri yang menunggu waktu untuk menusuk kerajaan. Meskipun kami selalu tahu bahwa mereka sering melakukan pergerakan kecil atau bahkan mendukung beberapa kelompok pemberontak, kami tidak bisa membersihkan mereka tanpa bukti karena kami takut dengan opini publik, selain itu, kami takut menyebabkan masalah karena beberapa orang itu memegang kekuatan dan posisi penting di dalam pemerintahan.
Saat aku di khianati, aku akhirnya tahu bahwa duri tidak pantas untuk di simpan. Tidak peduli bagaimana kita menjaga, mereka akan menikam saat kita berada di titik lemah.
Saat terus berjalan agak jauh, aku melihat seseorang yang sedang duduk di bawah pohon sambil memandangi bulan merah yang menggantung di langit. Meskipun dari samping dan agak jauh, aku bisa melihat ekspresi sedih dan menyesal di wajah Marshal Luik. Dengan ekspresi seperti itu, aku tidak tahu apa yang dia pikirkan dengan menyendiri di tempat seperti ini.
Aku berjalan mendekatinya secara perlahan dari samping. Mungkin untuk memberi kami ruang berbicara, Lusi tidak mengikuti ku mendekat, dia hanya berdiri di tempat. Aku berjalan mendekat dan berdiri di samping Marshal Luik sambil ikut melihat bulan.
Luik:"Apakah saya terlihat bodoh?."
Marshal Luik bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari bulan. Meskipun bertanya, tapi dalam pertanyaannya mengandung celaan terhadap diri sendiri.
Aneria:"Ya."
Luik:"Jadi memang benar... Saya, saya sudah mengambil pilihan yang salah."
Aneria:"Ya, jika bukan karena kamu, ratusan ribu nyawa tidak akan hilang dengan sia-sia."
Mendengar kata-kata ku, Marshal Luik menunduk dan melihat tangannya sendiri. Meskipun mulutnya tersenyum, tapi penyesalan yang mendalam terlihat sangat jelas di mata itu.
Luik:"Ya, jika bukan karena aku... Mungkin, mungkin mereka tidak akan mati sia-sia. Semua ini karena salahku, aku, aku..."
Marshal Luik menatapku dengan sedikit harapan. Perasaan bersalah yang sangat kuat, hanya ada satu hal yang bisa membuatnya memiliki harapan, yaitu penebusan.
Luik:"Apakah, apakah dengan itu saya bisa menggantikannya?."
Aneria:"Tidak. Nyawamu tidak berharga dan tidak dapat menggantikan nyawa ratusan ribu orang yang telah mati. Kamu hanya dapat menembusnya dengan terus hidup dalam rasa bersalah dan penderitaan, jika kamu bunuh diri, kamu hanya akan melarikan diri dari tanggung jawab."
Luik:"Begitu ya... Bahkan sudah terlambat untuk menyesal, kan?!."
Aneria:"Penyesalan akan baik jika kesalahan itu bisa di perbaiki, tapi jika tidak, maka penyesalan itu juga tidak ada artinya."
Aku melihatnya yang menunduk putus asa, sangat berbeda dengan seorang yang aku kagumi dulu.
Aneria:"Yah, malam sudah mulai dingin, aku akan pergi."
Aku berbalik tanpa melihatnya lagi dan berjalan menuju Lusi. Setelah beberapa langkah, aku berhenti dan meninggalkan sepatah kata padanya.
Aneria:"Yah, aku tidak peduli apakah kamu akan bunuh diri atau tidak, tapi guruku pernah berkata: "Seorang pejuang yang lari dari tanggung jawabnya, dia hanyalah orang yang rendah dan tidak berguna"".
Aku melanjutkan langkahku dan pergi kembali ke perkemahan. Di sepanjang jalan, aku mendengar beberapa rintihan dari beberapa tenda. Aku terus berjalan dan sampai di tendaku untuk beristirahat.
.....
Aku bangun hanya untuk melihat semua orang berkumpul di tanah terbuka dekat perkemahan. Aku bisa melihat bahwa ada riak di kekosongan yang sangat aneh. Semua orang waspada dengan kejadian aneh itu, jadi semuanya berkumpul di sini.
Beberapa saat kemudian, Celah lebar terbuka di langit, sebuah kapal udara yang sangat-sangat besar, keluar perlahan dari dalam celah. Perlahan, kapal itu menunjukkan ukurannya yang sangat luar biasa, berkali-kali lebih besar dari kapal terbesar yang di miliki kerajaan.
Kapal itu berhenti dan mengambang di atas kami. Mungkin orang lain tidak tahu, tapi menilai dari bentuk kapal itu, aku tahu bahwa itu adlah salah satu kapal milik Moon Palace.
Dari atas dek kapal, aku melihat seorang gadis pelayan yang mengambang dan turun secara perlahan ke arah kami. Setelah mendarat, gadis pelayan itu di todong menggunakan tombak dan pedang oleh para prajurit. Nampak seperti tidak ada yang terjadi, dia memberikan hormat pelayan kepada kami.
Galerina:"Salam kenal semuanya, saya adalah maid tingkat tiga, Galerina Margina, saya datang untuk menyampaikan undangan dari Yang Mulia."
Tidak ada yang bodoh di tempat ini. Meskipun Galerina mengatakan bahwa itu undangan, sebenarnya itu adalah perintah supaya kita menghadap kepadanya.
"Bagaimana jika kami menolak?!."
Seorang bangsawan dari Xuan Ming berbicara, nampak bahwa dia tidak mau ikut pergi. Bagaimana pun, mereka tidak akan tahu apa yang akan di perbuat musuh kepada mereka, jadi wajar jika mereka takut.
Galerina:"Karena ini adalah perintah Yang Mulia, jadi semuanya harus ikut."
Phirios:"Apakah begini caramu berdiplomasi?. Aku adalah pangeran dari Xuan Ming Empire, kalian harus memperlakukanku dengan baik."
Galerina:"Saya tidak memiliki hak untuk hal seperti itu. Segala perlakuan yang akan anda terima, semuanya atas kehendak Yang Mulia sendiri, jadi tolong jangan mempersulit tugas saya, dan segera bersiap untuk pergi."
"Aku menolak. Berani sekali kekuatan tidak ternama begitu bersikap tidak sopan di hadapan kami. Jika memang dia mengundang, setidaknya kirimkan utusan yang layak, bukan seorang maid."
"Ya benar..."
"Itu benar..."
"..."
Banyak bangsawan yang mulai mempertanyakan dan tidak puas dengan apa yang di lakukan oleh Moon Palace. Tentu saja, bangsawan tingkat tinggi seperti Phirios dan yang lainnya tidak ikut dalam hal ini kecuali beberapa kata di awal, mereka tidak cukup bodoh untuk melakukan itu. Mendengar semua keluhan itu, Galerina hanya menghela nafas pelan dan terlihat kecewa.
Galerina:"Huh... Sepertinya kalian belum sadar di mana posisi kalian saat ini..."
Akh...!
ahhhh...!
Tiba-tiba beberapa gerakan datang dari para bangsawan tadi. Saat aku melihat apa yang terjadi, para bangsawan berisik itu terjatuh ke tanah dan mulai mengerang kesakitan. Kulit dan sklera mata mereka mulai menguning yang sangat aneh. Orang-orang itu mulai berteriak dan menggaruk-garuk kulitnya hingga berdarah. Yang lebih aneh, saat kulit mereka berdarah, darah yang keluar menjadi sangat banyak dan tidak berhenti mengalir. Selang beberapa saat, setelah mereka terus merintih kesakitan, tiba-tiba mereka diam dan tidak bergerak di tanah dengan tetap mempertahankan posisi tubuh mereka di awal, seakan mereka mati kaku secara mendadak. Mereka mati begitu saja dalam keadaan yang sangat mengenaskan.
Melihat kematian yang aneh itu, banyak suara menelan dan suara menghirup udara dingin dari sekitar. Kematian yang tiba-tiba dan begitu aneh, sangat jelas bahwa hal ini berhubungan dengan maid Galerina itu.
Galerina:"Jadi, bisakah sekarang anda mulai bersiap dan ikut dengan saya?."
Galerina tersenyum sambil bertanya kepada kami. Meskipun itu adalah senyum lembut yang sopan, namun ada perasan ancaman telanjang dalam pertanyaan itu.
Tidak ada lagi orang-orang yang berani ragu atau mempertanyakan hal itu. Mereka mengambil apa yang perlu di ambil dan segera kembali ke ruang terbuka. Dengan sekali flash kilat yang cepat, kami tiba-tiba berdiri di atas dek kapal milik Moon Palace. Beberapa orang yang tidak mengetahui hal ini, mereka terkejut dan segera melihat sekeliling dengan aneh.
Setelah semua orang di naikkan ke atas kapal, kapal ini mulai berputar dan kembali masuk ke dalam celah angkasa. Semua orang sangat penasaran dengan apa yang ada di balik celah itu, jadi semua orang bertahan di atas dek sambil melihat ke arah celah angkasa itu.
Begitu kapal melewati celah, sebuah pemandangan yang sangat mengejutkan terhampar di mata kami, menarik perasaan kagum orang-orang. Jauh di depan sana, terdapat daratan yang terbang di atas langit. Daratan itu di bagi menjadi dua lapis yang di hubungkan dengan berbagai akar pohon besar. Di sekitar daratan besar, terdapat pulau-pulau kecil lainnya yang tersebar.
"Naga... Itu naga...!!"
Aku tidak tahu siapa yang berteriak, tapi teriakan itu berhasil menarik perhatian semua orang. Kami melihat ratusan, atau bahkan ribuan naga putih yang terbang dari pulau-pulau itu dan mengelilingi daratan besar. Mereka mengaum ke atas kapal yang berhasil menakuti semua orang.
Aneria:"Meskipun aku sudah pernah melihat pemandangan ini, tapi aku tidak bisa berhenti mengaguminya."
Di tengah kepanikan karena kita akan terbang menuju gerombolan naga kami mendengar suara Galerina yang memperkenalkan kondisi.
Galerina:"Semuanya jangan khawatir, naga-naga ini adalah penjaga yang di tempatkan oleh Yang Mulia untuk menjaga Moon Palace, jadi mereka tidak akan menyerang kita."
Kami terbang secara perlahan di antara naga-naga. Dari dekat, aku bisa lebih memperhatikan naga-naga itu dan membuatku lebih kagum. Sangat indah dan luar biasa.
Galerina:"Sebentar lagi kita akan mendarat di pelabuhan udara..."
(Akhir dari chapter ini)
Kalau menemukan typo segera di infokan ya.