
tak berapa lama, Nima datang dengan empat bungkus kain di tangannya. dilihat dari bentuk permukaannya, sepertinya kain itu digunakan untuk membungkus sebuah kotak sebesar telapak tangan orang dewasa.
Nima:"i, ini sampel teh yang saya miliki"
dengan wajah yang agak takut-takut dan ragu-ragu, Nima meletakkan ke empat bungkusan kain itu di depanku. empat bungkusan itu di bungkus menggunakan empat potong kain dengan empat warna yang berbeda. aku membuka bungkus kain pertama yang berwarna merah kusam kecoklatan. ya, kusam. biasanya warna kain di dunia ini memang terlihat kusam karena warna yang berkualitas rendah. untuk kain dengan warna yang indah dan cerah, itu biasanya berharga dan hanya di miliki oleh orang kaya dan bangsawan.
saat aku membuka bungkusnya, di dalamnya terdapat kotak kayu dengan ukiran yang indah. nampaknya di ukir menyerupai kelopak bunga. mungkin dengan sedikit pemolesan, hiasan dan ukiran kayu ini akan lebih sempurna. dengan membuka tutup kotak kayu itu, aroma bunga melati yang khas segera menghampiri hidungku.
Filia:"apakah ini teh melati?"
Nima:"jadi ini di sebut teh melati...!"
saat aku menanyakan hal itu, Nima nampak merenung dan berbisik kepada dirinya sendiri tanpa menyadari bahwa aku bertanya kepadanya. tunggu..!, kamu menjual sesuatu tanpa mengetahui namanya?.
Nima:"o, oh.... m, maafkan saya, saya melamun"
seperti telah menyadari sesuatu dan dengan terkejut, Nima menjelaskan kepadaku dengan terburu-buru. yah, syukurlah kalau kamu bisa keluar dari lamunanmu.
Filia:"tidak apa-apa. tapi kamu sepertinya tidak mengenal barang jualanmu sendiri?"
Nima:"i, ini sebenarnya seperti ini..."
Nima mulai menceritakan pengalamannya dengan teh. ternyata selama ini karena di desanya banyak tanaman teh yang di sia-siakan, dia berusaha menjual tanaman teh itu dan sekaligus berusaha untuk membantu perekonomian penduduk desa, tapi ternyata teh yang ia jual karena belum ada yang mengenalnya jadi tanaman teh jualannya kurang di minati di pasaran. sebagai hasilnya, teh yang ia jual kadang-kadang akan rusak karena terlalu lama disimpan atau hanya di nikmati sendiri.
karena hal itu, Nima mencoba memutar otak dan mencoba membuat variasi minuman teh. dia sudah lama meneliti tentang berbagai bahan yang bisa di campurkan bersama dengan teh. akhirnya Nima menemukan sebuah tanaman bunga yang tanpa sengaja tercampur dan sebagai hasilnya, dia membuat teh melati ini tanpa sengaja.
karena mungkin sudah menemukan pintu yang baru, Nima melanjutkan berbagai bahan lain. berbagai bunga dan umbi-umbian. saat ini dia berhasil memproduksi tiga produk teh. dia berusaha untuk memperkenalkan teh itu dan berusaha menjualnya, tapi siapa orang yang akan membeli produk asing yang belum pernah ada.
yah, mirip dengan mobil listrik. bukankah pada awal penciptaannya mobil listrik tidak laku dan di pandang sebelah mata. tapi siapa yang menduga bahwa pada akhirnya mobil listrik dengan baterai kuantum akan merajai dunia otomotif hingga di temukan arelium seratus tahun kemudian.
semua inovasi dan produk baru pasti akan mengalami kendala pasar, terutama kepercayaan konsumen. jadi wajar jika teh produksinya belum dapat di terima dengan baik.
Nima:"t, tapi nona Filia yakinlah, saya sudah mencoba dan teh ini tidak beracun seperti yang di katakan orang-orang"
Nima menjelaskan kepadaku dengan panik. tentu saja aku tahu bahwa itu tidaklah beracun. bukankah teh melati adalah hal yang biasa ada.
meskipun di duniaku yang dulu harga teh pergram cukup mahal. mungkin hanya dengan sekali seduh seharga $2000 atau bahkan lebih. di duniaku dulu, sesuatu yang merupakan hasil dari pengolahan bahan pangan organik akan di anggap lebih berharga daripada emas. itu karena kelangkaan sumber daya dan tanaman serta binatang semakin menipis dan punah. jadi bahan pangan, bahkan rumput liar akan sangat di lindungi oleh pemerintah. hanya kalangan tertentu saja yang biasanya mampu menikmati makanan organik. untuk orang kalangan menengah ke bawah, biasanya mereka akan makan cairan nutrisi dan tidak akan pernah mampu menikmati gigitan sayuran dan buah-buahan segar.
Filia:"oh?. apakah ada yang pernah mengatakan bahwa teh yang kamu racik beracun?"
Nima:"i, itu sepertinya saya mendengar beberapa orang yang mengatakan bahwa teh yang saya buat beracun"
aku mengerti. jadi ini semacam persaingan yang mencoba menjatuhkan nama Nima dengan memberi label yang buruk. meskipun aku tahu kalau pihak akademi tidak akan percaya, tapi tetap saja hal ini tidak bisa di biarkan.
Filia:"lalu, bagaiman kalau kita membuat sebuah kesepakatan?"
Nima:"kesepakatan?"
Filia:"itu benar. aku ingin kamu menjadi penyuplai teh kepadaku".
Nima:"i, itu bisa"
Filia:"tapi setelah kamu menyepakati ini, kamu tidak di izinkan untuk menjual ataupun menyuplai kepada orang ataupun pedagang lain. apa kamu mengerti?"
Nima nampak bingung mendengar apa yang aku katakan. mungkin dia belum pernah membuat transaksi ataupun kesepakan seperti ini dengan orang lain.
aku berdiri dan mengambil ke-empat bungkusan itu ke dalam storage milikku. aku meletakkan satu koin perak Erasion di atas meja dan pergi meninggalkan Nima yang masih membatu di tempatnya.
aku menyadari bahwa para bangsawan di negeri ini memiliki minuman pokok berupa teh. dan dapat di pastikan bahwa mereka akan bosan dengan teh yang hanya begitu-begitu saja. jadi aku rasa dengan sedikit bantuan tangan dari keluarga Rosefield, Varian teh baru ini juga akan menyegarkan minat para bangsawan itu. setidaknya teh jenis ini akan populer di kalangan bangsawan. dengan membuat kesepakatan dengan Nima, aku bisa memonopoli teh ini dan mendapatkan keuntungan yang lebih besar. bukan berarti aku tidak bisa membuat teh seperti ini, hanya saja akan lebih mudah jika ada orang yang bisa mengerjakannya.
sekarang mungkin kita perlu merubah rencana. jadikan kedai sebagai sebuah restoran. tapi kita memerlukan beberapa koki yang kompeten. tidak mungkin aku menyuruh anak-anak untuk memasak hidangan, kan!?. paling-paling aku akan membuat mereka menjadi pelayan dan mengantarkan makanan untuk tamu.
aku terus berjalan di sekeliling akademi tanpa tujuan. aku hanya ingin melihat akademi dan membuka semua bagian hitam dari map sistem ku. saat aku melewati sebuah ruangan, aku merasakan aura aneh.
tidak peduli seberapa samar dan lemah aroma ini, aku tidak akan pernah bisa melupakan aroma aneh ini. aku mendekat ke ruangan itu dengan langkah pelan. siapa yang sangka saat tanganku ingin meraih gagang pintu, aroma itu telah lenyap tanpa sisa.
tidak, jangan lakukan sekarang. aku hanya melangkah pergi dan meninggalkan ruangan itu. kita lihat apa yang mereka rencanakan.
aku menghapus hal itu dari kepalaku dan pada akhirnya aku pergi ke perpustakaan. saat aku masuk, semua anak yang melihatku, mereka langsung menunduk dengan hormat tanpa bersuara. aku merasa bahwa pemandangan ini agak aneh. aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi hingga mereka akan memperlakukan ku seperti ini.
aku hanya tersenyum dan mengangguk lembut kepada mereka. akhirnya aku menghampiri sebuah rak buku dan mengambil sebuah buku bersampul putih dengan gambar bunga biru kecil di setiap sudut sampulnya. meskipun desainnya sederhana, tapi buku ini terlihat elegan dengan perpaduan warna biru muda dan putih. selain gambar hiasan bunga biru, di sampulnya hanya terdapat judul buku dan nama penulisnya saja. selain itu tidak ada apapun.
aku duduk kursi dekat jendela yang memiliki pencahayaan terbaik. buku ini berjudul "pangeran cahaya dan putri angsa" entah kenapa aku tertarik saat melihat buku ini. sebenarnya aku datang ke perpustakaan ini hanya untuk menghabiskan waktu, dan menunggu hingga lonceng pulang.
halaman pertama yang aku baca adalah kisah seorang pangeran yang tampan dan di puja oleh banyak orang. cerita yang klasik aku rasa.
kemudian cerita di lanjutkan dengan petualangan sang pangeran. banyak di ceritakan kehebatan pangeran, mulai dari menaklukan naga dan melawan iblis jurang. meskipun pangeran itu bisa mengalahkan iblis jurang dengan bantuan naga, pangeran itu juga terkena kutukan yang akan membuatnya buta, tapi karena pengorbanan sang naga, pangeran itu tidak buta, hanya kehilangan warna. apapun yang ia lihat hanya seperti gambar hitam putih yang samar dan tidak jelas.
tapi suatu hari, pangeran itu bertemu dengan seorang gadis di tepi sungai. hanya gadis itu yang bisa ia lihat dengan warna yang jelas.
yah, tidak perlu aku menceritakan lebih banyak tentang isi buku ini. aku yakin akhirnya akan sama saja dengan cerita romantis lainnya.
awalnya aku sama sekali tidak mengerti kenapa tokoh dalam cerita ini di sebut pangeran cahaya. pada akhirnya aku tahu bahwa pangeran itu mendapatkan sebuah pedang dari naga perak yang telah mengorbankan nyawanya demi pangeran itu.
pedang itu berwarna putih bersih dengan bilah berwarna emas. di bagian gagangnya terdapat ukiran naga perak dan permata merah di bagian tengah gagangnya. pedang itu akan selalu memancarkan cahaya perak keemasan yang menyilaukan. sejak itulah pangeran itu di sebut pangeran cahaya. dia menggunakan pedang cahaya itu untuk membunuh penyihir agung yang mengutuk putri menjadi seekor angsa hitam.
satu-satunya yang menarik buatku adalah deskripsi dari pedang itu. ada dua buah senjata yang aku menghabiskan hampir seluruh karir bermain game ku demi mendapatkannya. itu merupakan dua Divine Weapon seri perang pemusnahan atau pertempuran senja para dewa. satu adalah sabit iblis dengan dua bilah «Téleia Vradia», dan yang lain adalah sebuah pedang para dewa yang tidak di sebutkan namanya.
dikisahkan bahwa pedang itu di tempa oleh para dewa demi mengalahkan sabit iblis bermata dua. karena bertempur dengan dewa iblis di perang pemusnahan, pedang dan sabit sama-sama mengalami kerusakan dan hancur.
pedang itu terpecah menjadi enam bagian dan tersebar di seluruh alam semesta Erasion, tapi masih memiliki serpihan jiwa di setiap bagiannya. sementara sabit iblis bermata dua, sabit itu masih berada di bentuk awal. hanya saja jiwa dari senjata itu telah menghilang ke suatu tempat.
di kabarkan bahwa setiap serpihan pedang itu di tempa ulang oleh orang-orang yang menemukannya. mereka menempa serpihan-serpihan itu menjadi pedang yang baru dengan berbagai bentuk dan kemampuan. setiap senjata setidaknya merupakan Epic Class Weapon.
jika aku tidak tanpa sengaja memasuki makam dewa kuno dan mendapatkan sebuah buku di makam itu, aku tidak akan tahu hal ini. mungkin aku akan menganggap pedang itu hanya sebagai Epic Weapon biasa. di buku itu juga di ceritakan bagaiman dewa kuno itu tahu. dewa kuno itu tahu setelah mempelajari banyak reruntuhan peninggalan masa kejayaan para dewa.
di sana tertulis, apabila seluruh serpihan itu bisa di kumpulkan, maka mungkin untuk mengembalikan senjata itu menjadi Divine Weapon kembali seperti sedia kala.
sejauh ini aku sudah mendapatkan sabit iblis bermata dua tanpa jiwa dan tiga bagian dari pedang dewa itu. salah satu bagian pedang yang aku belum temukan di sebut «Holy Dragon Mist» yang mirip seperti di gambarkan oleh deskripsi di buku ini.
mungkinkah bahwa pembuat buku ini telah melihat pedang ini ataukah hanya sebuah kebetulan?.
tidak, apapun itu, aku tidak bisa melepaskan kesempatan ini...
(akhir chapter ini)
beri tahu aku kalau ada kalimat yang tidak cocok ataupun salah pengetikan. aku akan segera memperbaikinya supaya tidak menggangu pengalaman membaca kalian. ok, see you next time :)