
Beberapa hari telah berlalu semenjak pertemuanku dengan Yang Mulia. Aku dan adikku tinggal di rumah yang pernah aku tinggali waktu pertama kali di bawa ke Moon Palace.
Tidak ada kegiatan lain yang bisa aku lakukan selama tinggal di tempat ini, jadi aku hanya menghabiskan waktuku untuk berjalan-jalan mengelilingi kota. Barulah aku sadar, bahwa hampir tidak mungkin untuk menjelajahi seluruh kota hanya dengan berjalan kaki. Kota ini sungguh sangat luas, tapi juga sangat sepi.
Aku tidak melihat seorang penduduk pun yang tinggal di kota ini. Meskipun ada, mereka pasti pekerja di salah satu fasilitas Moon Palace, seperti: Penempa, kesatria, dan pekerjaan lainnya yang berada di bawah Moon Palace secara langsung. Tidak ada penduduk normal yang bekerja di ladang atau pekerjaan pribadi lainnya seperti di tempat-tempat lain.
Aku bahkan menduga, bahwa Moon Palace sebenarnya merupakan tempat tinggal para pekerja istana, bukan tempat tinggal orang-orang yang umum. Aku juga memperhatikan bahwa rumahnya banyak yang tidak di tinggali karena penduduk yang terlalu jarang. Mungkin dari 1000 bangunan, hanya satu yang di tempati.
Yang membuatku kagum bukan hanya arsitektur kota yang luar biasa, tapi juga prajuritnya yang selalu menjalankan tugasnya dengan sangat tertib dan teliti. Mereka tidak membuang-buang waktu untuk melakukan sesuatu di luar tugas mereka. Mereka baru akan bersantai setelah tugas selesai dan beristirahat di beberapa bar yang sudah di sediakan. Sangat berbeda dengan prajurit yang pernah aku lihat, saat menjalankan tugas, para prajurit di kerajaan, paling mereka akan mampir di beberapa kedai saat bertugas. Tidak pernah setertib seperti di Moon Palace.
Aku juga pernah mengunjungi salah satu bar yang biasa di kunjungi oleh para prajurit setelah bertugas. Bar itu sangat rapi, banyak prajurit yang duduk dan memesan minuman. Para prajurit itu tertawa dan bercanda, sama seperti prajurit pada umumnya. Bahkan, beberapa prajurit yang sangat gagah memiliki sepiring kue di depan mereka.
Aku duduk bersama dengan Lusi, sedangkan yang lain, mereka mencari tempat duduk sendiri. Bahkan ada anak buahku yang ikut duduk bersama dengan prajurit Moon Palace.
"permisi, nona ini, apakah akan memesan sesuatu?."
Begitu aku duduk, ada seorang pelayan laki-laki yang menghampiriku. Pelayan itu bertanya dengan sopan, tapi pertanyaannya justru membuatku bingung. Memesan?, apa yang bisa aku pesan?. Aku bahkan tidak tahu apa yang di hidangkan di tempat ini.
Aku melirik beberapa tamu yang sudah memesan sejak awal. Aku memperhatikan bahwa banyak yang memesan makanan dan minuman.
Aneria:"Bisakah aku memesan beberapa makanan dan minuman?."
"Tentu saja. Lalu, apa yang akan anda pesan?."
Aneria:"Aku, aku tidak tahu apa yang di sediakan di tempat ini, jadi..."
Aku berkata dengan malu. Aku juga memperhatikan wajah pelayan itu, ada kilatan aneh di matanya begitu dia mendengarkan apa yang aku katakan. Pelayan itu seperti nampaknya mengerti sesuatu dan tersenyum ke arahku.
"Jadi seperti itu. Sepertinya anda adalah salah satu pendatang itu."
Pelayan itu melangkah maju mendekati meja kami dan tiba-tiba meja itu bercahaya, menunjukkan deretan gambar dan tulisan yang tidak bisa aku kenali.
"Dengan mengalirkan mana ke meja, meja akan secara otomatis menunjukkan menu apa saja yang tersedia di tempat ini."
Aneria:"Tapi... Aku tidak mengenali tulisan di meja ini."
"Itu juga tidak masalah. Anda tinggal menyentuh bagian ini dan menuliskan sesuatu dengan pena sihir yang telah di sediakan di bawah meja."
Mengikuti kata pelayan itu, aku mengambil pena dan menulis beberapa patah kata. Setelah tulisan selesai, tulisan dan gambar di meja itu menghilang, di gantikan dengan gambar lingkaran yang terus berputar. Hanya beberapa detik, gambar kembali muncul. Hanya saja, pada saat ini tulisan yang ada di meja berubah menjadi tulisan yang aku kenali.
Aneria:"Baiklah, kalau begitu... Aku mau yang di sebut kue strawberry dan untuk minuman... Apakah ada yang tidak beralkohol?."
Aku melihat daftar minuman yang semuanya memiliki kandungan alkohol di dalamnya. Bagaimanapun ini berada di tempat asing. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku sampai mabuk.
"Kami mempunyai banyak jenis mocktail."
Akhirnya setelah beberapa saat berdiskusi dan bertanya pada pelayan, aku bisa menentukan untuk memesan sesuatu yang namanya sulit untuk aku ucapkan.
Lusi:"Di sini, semuanya sangat canggih. Banyak teknologi yang belum kami ketahui, Yang Mulia."
Lusi berbisik kepadaku. Yah, itu memang benar. Memang banyak teknologi aneh yang tidak kami ketahui, seakan dunia kami dan Moon Palace ini terpisah sangat jauh.
Makanan dan minuman yang kami pesan datang dengan cepat. Saat aku dan Lusi sedang makan, tiba-tiba kami mendengar suara pintu terbuka. Seorang gadis kesatria biru berambut pendek masuk dan langsung duduk di kursi dekat peracik minuman. kesatria wanita itu terlihat kuyu dan sangat kelelahan, sangat berbeda dari kesatria biru yang pernah aku lihat.
"Beri aku segelas Virgin Mary."
Kesatria itu memesan sambil meletakkan kepalanya di atas meja. Dia terlihat tanpa semangat dengan lingkaran hitam di sekitar matanya. Melihat kesatria yang lelah itu, peracik minuman meracik minuman yang telah di pesan oleh kesatria itu.
"Nona Seren, apakah ada masalah?. Sangat jarang melihat anda memesan non alcohol."
Sambil meracik minuman, peracik itu bertanya kepada kesatria bernama Seren itu dengan santai. Mendengar pertanyaan peracik minuman, Seren mengangkat kepalanya dengan cemberut.
Seren:"Hah... Aku sangat lelah. Banyak pekerjaan yang harus aku siapkan selama beberapa hari ini. Selain itu, aku juga harus melakukan sesuatu setelah ini, jadi aku tidak bisa meminum minuman beralkohol."
"Oh, apakah akan ada sesuatu. Saya memperhatikan bahwa kesatria istana semakin sibuk akhir-akhir ini."
Seren:"Kamu memiliki mata yang bagus. Akhir-akhir ini banyak pekerjaan yang harus di lakukan, terutama aku sebagai seorang komandan, aku perlu mempersiapkan pasukan ku untuk bersiap dengan perang yang akan datang."
Mendengar jawaban kesatria Seren, bartender itu terlihat tertarik. Bukan hanya bartender, aku juga sangat tertarik dengan berita itu. Mungkin berita yang akan di bawa oleh kesatria itu berhubungan dengan perang yang pernah di katakan oleh Yang Mulia waktu itu.
"Oh, perang?."
Seren:"Yah, perang. Mereka berani menentang Yang Mulia, jadi sepertinya Yang Mulia sedikit tidak senang. Jadi, Yang Mulia mulai menggerakkan pasukan."
"Apakah hanya karena Yang Mulia tidak senang?."
Mendengar pertanyaan dari peracik minuman itu, Seren berfikir sejenak lalu menjawab.
Seren:"Tidak juga. Mungkin alasan sebenarnya karena reruntuhan yang ada di sana. Apakah kamu ingat orang-orang rendahan yang di bawa kemari beberapa hari yang lalu?."
Kata-katanya penuh dengan penghinaan dan jijik terhadap orang-orang luar, tapi aku tidak terlalu perduli dengan hal itu. Aku lebih mempedulikan berita yang dia bawa.
Aku sudah menebak bahwa Yang Mulia tidak akan bertindak hanya dengan ego semata. Aku yakin penyerangan Yang Mulia memiliki alasan lain. Dan berita yang di bawa oleh kesatria biru itu mengkonfirmasi tebakanku.
"Ya, saya ingat."
Seren:"Seseorang dari mereka memberikan soul embrio kepada Yang Mulia, jadi Yang Mulia menebak bahwa reruntuhan di sana mungkin sisa-sisa guild kelas satu atau bahkan super guild."
Gerakan peracik minuman itu berhenti dan memandang Seren dengan tampang terkejut. Aku tidak tahu apa itu Soul embrio, tapi dari perilaku mereka, aku mungkin bisa menebak bahwa itu adalah hal yang berharga.
"Huh... Jika demikian, maka sepertinya kita akan mendapatkan untung yang sangat besar. Bahkan mungkin kita bisa mendapatkan salah satu jenderal agung baru."
Seren:"Tidak perlu mungkin. Soul embrio yang di berikan oleh orang itu sudah merupakan God's Seed, jadi hanya perlu inkubasi dan akan ada lagi seorang kesatria yang kuat di Moon Palace."
"Pantas saja Yang Mulia ingin segera menyerang tempat itu... Ini aku berikan gratis untuk mu, terima kasih beritanya."
Peracik minuman itu menyerahkan sebuah gelas berisi cairan merah kepada kesatria Seren.
Seren:"Oh, terima kasih."
Seren menyesap minumannya dengan anggun dan menghela nafas dengan nikmat, nampak sangat menikmati minumannya.
"Apa...!. Bahkan jenderal agung akan bergerak?."
Seren:"Yah, aku tidak tahu seperti apa jelasnya. Aku hanya mendengar sedikit berita dari komandan."
Beberapa percakapan setelah itu tidak terlalu penting. Kesatria Seren hanya menghabiskan minumannya dan pergi untuk kembali menjalankan tugasnya. Aku dan Lusi serta yang lainnya juga pergi setelah makan.
Awalnya aku lupa bahwa alat tawar menawar di tempat ini berbeda, untungnya emblem sayap perak yang aku terima dari Yang Mulia bisa di gunakan, jadi minuman dan makananku gratis.
.....
Selang beberapa hari, aku mendapatkan panggilan dari istana. Aku langsung pergi untuk memenuhi panggilan itu. Aku bertemu dengan Yang Mulia dan membahas beberapa hal. Kali ini kami tidak bertemu di ruang Takhta, tapi di sebuah ruangan yang sangat besar.
Ruangan itu sendiri memiliki lima tingkat, setiap tingkat di penuhi oleh berbagai macam buku, menjulang hingga ke langit-langit. Melihat dari penampilan ruangan ini, sepertinya ini adalah sebuah perpustakaannya istana.
Hanya saja, pemandangan yang aku lihat benar-benar berbeda dari perpustakaan pada umumnya, perpustakaan ini cerah dengan dinding krem dan ada sebuah pohon raksasa di tengahnya. Pohon itu menghasilkan cahaya yang menjadi sumber penerangan di perpustakaan ini. Sungguh sebuah pemandangan yang unik dan aneh.
Aku melihat sebuah kursi gantung yang berada di sebelah pohon itu. Di bandingkan dengan pohon, kursi itu terlihat sangat kecil. Di kursi, duduk seorang gadis kecil yang sedang membaca buku.
Aneria:"Yang Mulia."
Aku memanggil gadis itu dan menunggunya untuk merespon. Yang Mulia Filia mendongak dan melihatku. Dia memberiku isyarat supaya aku ikut duduk di sebelahnya.
Aku tidak tahu apa yang di inginkan oleh Yang Mulia, tapi aku tetap menurutinya.
Filia:"Sebentar lagi, perang akan berkecamuk, aku ingin menjadikan Dragonis Kingdom sebagai pijakan pertama kami, bagaimana menurutmu?."
Memang terdengar seperti meminta pendapatku, tapi sebenarnya mungkin Yang Mulia sedang memberitahuku rencananya. Meskipun demikian, aku harus tetap menjawab pertanyaannya.
Aneria:"Saya tidak ada masalah dengan itu, tapi apakah itu baik?. Kerajaan kami merupakan tempat terpencil dan juga sulit untuk menjangkau ke arah kerajaan lain. Bukankah itu tidak optimal untuk perluasan?."
Filia:"Yah, aku tahu semua itu. Kamu tidak perlu khawatir, aku sudah menyiapkan rencana yang sesuai. Yang ingin aku dengar adalah, bagaimana jika kamu memimpin pasukanku untuk menaklukan negara-negara kecil di sekitarnya, apakah kamu mampu?."
Aku tercengang dengan apa yang aku dengar. Memimpin pasukan?. Apakah Yang Mulia memintaku sebagai tombak depan dalam perluasan rencananya?.
Yang Mulia melihatku lalu tersenyum kecil.
Filia:"Kamu tidak perlu terlalu banyak berfikir. Tujuan perang kami adalah Xuan Ming Empire. Untuk negara kecil dan negara bawahannya, aku ingin kamu mengurusnya. Aku tidak mau berurusan dengan negara-negara kecil itu, tapi jika aku tidak mengurusnya, negara-negara kecil itu mungkin akan menjadi duri. Jadi apakah kamu sanggup?."
Jika memang seperti itu, maka tugas yang aku lakukan akan jauh lebih ringan. Tapi, tugas itu juga akan lebih merepotkan. Aku bisa menebak bahwa tujuan Yang Mulia menaklukkan negara-negara kecil di sekitarnya supaya tidak ada benih perlawanan di masa depan. Tapi untuk membersihkan benih perlawanan, pasti akan menekan waktu yang cukup lama.
Dan lagi, mungkin tugas itu terlalu remeh bagi Moon Palace, jadi Yang Mulia menyerahkan tugas itu kepadaku. Selain itu, aku lebih mengerti letak geografis dan keadaan topografi dari setiap negara yang akan sangat mempersingkat waktu.
Dengan bantuan pasukan Moon Palace, aku yakin dapat menjalankan tugas itu. Ini juga merupakan kesempatanku untuk menunjukkan kekuatanku di depan Yang Mulia.
Aneria:"Jika anda percaya pada saya, saya pasti tidak akan mengecewakan anda, Yang Mulia."
Filia:"Bagus, aku percaya padamu."
Yang Mulia berdiri dan merapikan pakaiannya.
Filia:"Kita akan berangkat tujuh hari lagi, pastikan bahwa kamu siap. Aku akan mengajakmu ke Medan perang utama."
Aneria:"Iya, Yang Mulia."
.....
Seperti Yang di katakan Yang Mulia, Tujuh hari kemudian, kami semua berkumpul di sebuah lapangan yang sangat luas. Di sekitarku berdiri banyak sekali kesatria. Ada lima kelompok barisan yang berbeda-beda.
Setiap kelompok terdiri dari sekitar 200.000 kesatria yang berbeda dalam penampilan dan armor yang di gunakan. Aku berada di barisan Kesatria berarmor perak yang terlihat seperti orang normal. Kelompok di sebelah kami merupakan kesatria dengan armor merah dengan taji tajam di beberapa bagian. Orang yang mengenakan armor itu juga aneh, mereka bertubuh besar dan tinggi sekitar tiga meter, dengan tanduk besar di kepalanya.
Aku tidak bisa menyebutkan satu persatu, tapi jika aku menjumlahkan semuanya, aku memperkirakan bahwa jumlah semua prajurit yang di kumpulkan setidaknya tidak kurang dari satu juta prajurit. Jumlah ini sangat banyak.
Perlu di ketahui, bahkan Dragonis Kingdom hanya memiliki total kurang dari 900.000 prajurit. Bisa di bayangkan perbedaan besar di antara keduanya. Namun, meskipun jumlah itu besar jika di bandingkan dengan Xuan Ming Empire, jumlahnya masih terlalu kecil. Aku pernah mendengar bahwa setidaknya ada empat juta prajurit di sana. Meskipun mungkin berita itu tidak benar, tapi setidaknya jumlahnya tidak akan jauh dari itu.
Semua prajurit yang berdiri di lapangan nampaknya adalah prajurit medan, jadi termasuk prajurit yang umum. Prajurit ini begitu tenang dan hanya berdiri tegak seperti patung.
Beberapa saat kemudian, Yang Mulia datang dengan di kawal oleh kesatria biru. Yang Mulia datang ke dapan pasukan dengan armor emas yang mencolok.
Filia:"Perang kali ini adalah awal kita untuk menaklukan kembali tanah ini. Aku harap, kalian akan bangga berada di Medan perang. Untukku, untuk Moon Palace, untuk empat penguasa lainnya, dan untuk diri kalian sendiri, berjuanglah demi masa depan."
"Untuk masa depan....!."
"Untuk masa depan..!!"
".....!!"
Teriakan dan seruan menggema seperti akan mengguncang tanah dan langit. Yang Mulia menatapku dan memberiku isyarat untuk ikut bersamanya. Aku maju dan berdiri di antara kesatria biru yang mengawal Yang Mulia.
Filia:"Bergerak...!."
Setelah seruan Yang Mulia, lapangan menjadi gelap, seperti ada yang menutupi matahari, saat aku mendongak untuk melihat langit, aku melihat pemandangan yang sangat mengejutkan. Lima buah kapal raksasa dengan panjang beberapa ribu meter dan ratusan kapal dengan panjang ratusan meter melayang di atas seluruh kota. Sebelum sempat mengagumi seluruh pemandangan itu, kilatan cahaya tiba-tiba menutupi pengelihatan ku.
Begitu pengelihatan ku kembali normal, aku mendapati bahwa aku sudah berpindah ke dalam kapal. Aku berada di ruangan yang sama dengan Yang Mulia. Selain kami, di dalam ruangan ini juga terdapat nona Arkne dan yang lainnya yang pernah aku lihat di ruang Takhta waktu itu.
Yang paling menarik perhatianku adalah lima sosok yang tubuh mereka di tutupi oleh cahaya sehingga tidak mungkin melihat sosok di dalamnya.
Meskipun aku tidak pernah mendengar tentang mereka, mungkin aku bisa menebak bahwa mereka adalah lima jenderal agung yang di katakan oleh kesatria biru di bar waktu itu.
Aku melihat Yang Mulia yang duduk di singgasana, matanya yang terpejam tiba-tiba terbuka, aku bisa melihat pupil tiga warna yang bercahaya seperti obor.
Aku pernah melihat mata itu, itu adalah mata saat Yang Mulia bertarung dengan monster itu. Mata itu menandakan bahwa Yang Mulia sedang serius.
Perang akan segera tiba...
(Akhir dari chapter ini).
Selamat menikmati....