
Saat Lusian mendekat ke arah kami, Nona Aqila langsung berlari dengan cepat dan memeluk anak laki-laki itu dengan erat. Dia mengaitkan lengannya di leher Lusian dengan wajah yang sangat bahagia.
Mereka berdua nampak bahagia seperti sepasang kekasih yang sudah lama tidak bertemu. Yah, sayang sekali aku tidak memiliki seorang yang mau menjemputku. Lagi pula aku adalah anak kedua dan kakakku tidak pergi ke akademi karena dia ingin mewarisi takhta.
Adeline:"Ahhh... Bukankah mereka terlihat sangat serasi, menurutmu apa hubungan di antara mereka berdua?."
Roselle:"Tentu saja sepasang kekasih. Bukankah sudah jelas terlihat."
Listiana:"Oke kalian berdua, jangan membuat keributan."
Aku menghentikan mereka berdua yang ingin segera bergegas dan bertanya kepada pasangan itu. Aku tidak mau mereka menganggu pertemuan antar pasangan.
"Yaampun. Siapa yang menduga bahwa Son Of Sword yang biasanya begitu tenang dan tidak tertarik pada wanita ternyata memiliki seorang kekasih?!."
Tiba-tiba ada suara mengejek dari kerumunan senior yang datang. Itu bukan ejekan yang bermusuhan, tapi merupakan ejekan ramah yang memang sengaja ingin mengganggu Lusian dan Nona Aqila.
Mendengar suara itu, Lusian melepaskan pelukannya dan berbalik menghadap ke orang yang bersuara. Ternyata dia adalah seorang anak laki-laki tinggi dengan wajah tampan dan rambut coklat gelap.
Melihat wajah itu, aku langsung ingat siapa dia. Dia adalah salah satu penunggang naga yang pernah aku lihat.
Lusian:"Santana. Apakah kamu juga akan menjemput seseorang?."
Lusian dan pria itu saling tersenyum dengan ramah. Santana menghampiri Lusian dan merangkulnya dengan kuat, memperlihatkan bahwa hubungan mereka berdua sangat baik.
Santana:"Ya. Aku akan menjemput adikku. Jadi,... Bisakah kamu memperkenalkan nona ini padaku?."
Lusian:"Dia adalah Aqila Del Lambrugh, tunangan ku. Aqila, ini adalah Santana, sahabatku di akademi."
Aqila:"Senang berkenalan dengan anda, senior."
Santana:"Ternyata ini adalah saudari. Selamat datang, jika ada yang mengganggumu, bicara saja sama senior ini."
Aqila:"Saya akan melakukannya."
Aku memperhatikan bahwa anak laki-laki yang di sebut Santana itu terlihat sangat ramah dan mudah di dekati. Dia terlihat seperti senior yang baik hati.
"Kakak...!"
Seorang anak laki-laki keluar dari kerumunan sambil membawa beberapa barang di tas ransel. Anak itu memiliki sembilan poin yang mirip dengan Santana, kecuali bahwa anak itu terlihat sedikit lebih muda. Mungkin dia seusia denganku. Anak itu berada di kapal yang berbeda denganku, jadi aku tidak mengetahui siapa dia.
Santana:"Perkenalan, ini adikku, Pierre Peterson. Dia tiga tahun lebih muda dariku."
Lusian:"Halo, aku Lusian."
Santana:"Pierre, Lusian adalah salah satu Title Holder, Jadi kamu bisa belajar darinya."
Pierre:"Jadi seperti itu. Senior Lusian benar-benar luar biasa."
Mendengar percakapan mereka, aku jadi ikut penasaran. Aku, Adeline, dan Roselle pergi ke kelompok mereka untuk mencoba mencari informasi. Salin itu, aku ingin mencoba berhubungan dengan senior yang mungkin bisa membantuku menjawab beberapa hal tentang akademi. Lagi pula, jika kita datang ke tempat asing, hal pertama yang harus di lakukan adalah mencari informasi. Dan mungkin saja nanti aku bisa mendapatkan informasi yang bermanfaat untukku.
Selain itu, dengan membuat relasi dengan senior, kehidupan akademiku mungkin bisa menjadi lebih mudah.
Listiana:"Permisi, maaf jika mengganggu. Bolehkah saya bertanya sesuatu kepada para senior?."
Pandangan mereka semua beralih kepadaku dengan sekejap mata. Aku memperhatikan bahwa tidak ada ketidaknyamanan sama sekali di wajah mereka. Mereka masih terlihat tersenyum kepadaku nampak tidak terganggu dengan kedatanganku. Aku bersyukur untuk keramahan para senior ini.
Santana:"Tentu, silahkan bertanya apapun kepadaku."
Seperti yang aku duga bahwa senior Santana adalah orang yang ramah dan mudah di dekati.
Listiana:"Saya baru saja mendengar anda menyebut "Title Holder ". Bisakah saya bertanya apa itu Title Holder?."
Akhirnya dari penjelasan senior, aku tahu apa itu yang di sebut sebagai Title Holder. Singkatnya, Title Holder adalah siswa terbaik dalam suatu bidang. Untuk menjadi Title Holder, tidak cukup dengan menjadi yang terbaik, tapi kemampuannya harus di akui oleh akademi.
Listiana:"Hanya lima Title Holder saat ini. Berarti, dua senior sangat hebat."
Aku mengungkapkan kekagumanku kepada mereka dengan tulus. Aku benar-benar kagum. Dari seluruh siswa Moonlight Academy, hanya yang terbaik dari yang terbaik yang akan bisa pergi ke Moon Palace. Dan di sini, hanya kumpulan monster dengan potensi yang sangat besar. Dari sekian banyak bakat monster, hanya ada lima yang orang yang berhasil meraih Title Holder. Bisa di bayang seberapa luar biasa senior Lusian dan senior Santana.
Santana:"Yah, bisa di katakan seperti itu. Aku Santana Peterson, Title Holder: Dragon Rider."
Lusian:"Aku Lusian Lincheon Augustus, Title Holder: Son of Sword."
Dua dari lima Title Holder. Aku rasa hari ini adalah keberuntunganku untuk bisa bertemu dua senior yang hebat seperti mereka.
Bukan hanya aku, anak-anak lain juga sangat bersemangat. Entah kapan, mereka sudah berkumpul di sekitar kami.
Santana:"Agak terlalu bising disini. Sebaiknya kita segera kembali ke akademi dan beristirahat. Apakah kalian bertiga mau bergabung?."
Senior Santana menawari kami tumpangan. Aku sedikit malu karena takut merepotkan, tapi aku rasa akan lebih mudah untuk ikut mereka. Lagi pula aku tidak akan tahu kapan jemputan akademi akan tiba.
Listiana:"Apakah itu tidak akan merepotkan anda?."
Santana:"Jangan khawatir. Kapal udaraku bisa menampung enam orang. Membawa kalian tidak akan merepotkan sama sekali."
Listiana:"Jika demikian, saya harus berterima kasih terlebih dahulu."
Santana:"Jangan di pikiran..."
Aku, Adeline, dan Roselle segera mengikuti mereka menuju ke kapal udara kecil. Kapal udara ini hanya berukuran sekitar delapan atau sembilan meter dengan enam tempat duduk. Tidak seperti kapal udara sebelumnya di mana kami bisa berdiri dan berjalan-jalan, di kapal ini kami hanya bisa duduk dengan tenang.
Tempat duduknya sangat nyaman dan aku bisa melihat bagian luar dari jendela pesawat. Sedikit jauh dari kami, senior Lusian dan Nona Aqila juga naik ke kendaraan mereka sendiri. Kapal udara senior Lusian berwarna biru dengan bentuk segitiga pipih yang terbelah dua. Ukurannya juga lebih besar daripada kendaraan senior Santana.
Santana:"Jangan terkejut dengan ukurannya. Meskipun ukuran dari pesawat terbang Lusian lebih besar, tapi pesawat itu hanya bisa menampung dua orang."
Senior menjelaskan kepadaku tentang jenis pesawat miliknya. Miliknya merupakan tipe Ss (Saloon spacecraft) yang umumnya mampu menampung lebih banyak orang dengan sedikit senjata yang terpasang. Sementara pesawat milik senior Lusian adalah kapal udara tipe SF (Speed Fighter) yang merupakan jenis pesawat tempur luar angkasa dengan daya serang dan kecepatan yang tinggi, namun hanya bisa di memuat lebih sedikit penumpang dan perbekalan.
Seperti yang aku duga. Dengan membuat hubungan yang baik dengan senior, aku bisa mendapatkan lebih banyak informasi.
Pierre:"Kak, apakah pesawat ini milikmu?"
Santana:"Tentu saja. Aku perlu membayar banyak poin hanya untuk membeli pesawat ini. Oh, aku akan menjelaskan kepada kalian apa itu poin."
Aku mendengarkan penjelasan senior dengan serius. Hal ini akan sangat bermanfaat bagiku. Poin adalah sejenis mata uang yang di gunakan oleh siswa untuk membeli apapun. Selama poin cukup, banyak hal yang bisa di beli, mulai dari senjata, mecha, dan kapal luar angkasa. Selain bisa membeli benda-benda di akademi, poin juga bisa di gunakan untuk berbelanja di kota.
Biasanya setiap siswa akan mendapatkan sepuluh poin setiap satu Minggu. Mereka bisa mendapatkan poin tambahan dengan memenangkan taruhan, berdagang, atau menyelesaikan berbagai misi yang tersedia di akademi. Bagi siswa Title Holder, poin juga sangat penting untuk meningkatkan kemampuan pertempuran individu dengan menyewa ruang latihan dan lain sebagainya. Siswa yang menjadi seorang Title Holder akan menerima seratus poin setiap Minggu yang sepuluh kali lipat dari siswa biasa.
Aku juga mengetahui dari senior bahwa aku harus hati-hati saat membelanjakan poin karena poin akan sangat penting. Juga, aku harus berhati-hati untuk tidak menunjukkan jumlah poinku kepada orang lain supaya tidak di rampok.
Listiana:"Terima kasih senior atas pengajaran mu!."
"Iya senior, kami sangat berterima kasih." x2
Santana:"Tidak perlu. Itu hanya pengetahuan umum."
Senior mengemudi dengan perlahan sehingga aku bisa melihat pemandangan kota yang ada di bawahku. Kota ini benar-benar besar. Bahkan setelah terbang sekian lama, aku belum bisa melihat ujungnya sama sekali.
Adeline:"Senior, seberapa besar kota ini?."
Santana:"Menurut yang aku tahu, kota ini sebesar sebuah negara berukuran sedang. Ada sangat banyak bangunan dan persimpangan di kota ini. Selain itu, setiap jalur di kota ini akan terus berubah, jadi jika kalian tidak mau tersesat, kalian harus selalu membawa gadget khusus untuk para siswa. Hanya dengan membawa gadget itu kalian bisa berjalan-jalan di kota. Jika tidak, kalian akan tersesat atau malah akan di setang oleh sistem pertahanan, jadi jangan pernah melupakan itu."
Luar biasa. Sebuah kota yang seluar sebuah negara berukuran sedang. Bisa di bayangkan seberapa besar kota ini. Ibu kota negaraku sudah cukup besar, tapi jika di bandingkan dengan kota ini, maka mungkin hanya seperseratusnya. Selain itu, kota ini di katakan sebagai labirin dengan jalur yang akan selalu berubah setiap saat yang akan sangat membingungkan. Jika senior tidak memperingatkan ku, aku mungkin akan segera pergi dan melihat-lihat kota ini tanpa tahu seberapa menakutkannya hal itu.
Listiana:"Senior, bukankah kota ini terlalu sepi?."
Aku benar-benar merasa seperti itu. Sejak pertama kali aku melihat kota ini, meskipun banyak bangunan, tapi aku merasa bahwa kota ini sangat sepi.
Santana:"Itu benar. Hanya padukan patroli dan beberapa orang saja yang tinggal di kota ini untuk melakukan tugas tertentu. Selain mereka, semua orang akan tinggal di lantai berikutnya atau istana."
Listiana:"Lantai berikutnya?."
Listiana:"Lalu bagaimana dengan lantai terakhir?."
Santana:"Tidak ada yang tahu."
Kami terus berbicara sambil melanjutkan perjalanan. Aku memperoleh banyak informasi dari senior Santana. Dia sangat baik dan menceritakan apa yang ingin kami ketahui. Waktu berlalu tanpa terasa. Hanya kurang dari satu jam, kapal senior berhenti di dekat sebuah kompleks bangunan yang sangat besar.
kompleks bangunan itu terdiri dari banyak bangunan yang tersusun rapi dan di kelilingi oleh tembok tinggi. Di tengah kompleks bangunan itu terdapat sebuah kubah raksasa dengan banyak bangunan di sekitarnya. Kapal senior mendarat di sebuah lapangan luas yang berjarak beberapa puluh meter dari lokasi akademi dengan beberapa kapal kecil lain termasuk kapal senior Lusian yang juga baru saja mendarat di tempat ini.
Kami turun dari pesawat udara dan datang menghampiri mereka sambil menyapa.
Aqila:"Lusian, kubah apa itu?."
Sepertinya nona Aqila sudah tidak bisa menahan keingintahuannya, jadi dia bertanya kepada Lusian begitu turun dari pesawat udara.
Lusian:"Itu adalah arena untuk pertarungan. Di dalamnya terdapat teknologi canggih yang dapat merubah Medan pertarungan sesuai yang kita inginkan. Apakah itu luar angkasa, pegunungan, lautan, ataupun gurun, semuanya dapat di proyeksikan di dalamnya."
Adeline:"Itu sangat luar biasa. Aku tidak tahu bagaimana hal seperti itu di ciptakan?."
Lusian:"Aku juga tidak tahu. Namun mengingat keberadaan Moon Palace yang sudah sangat lama, aku tidak terkejut dengan itu semua."
Aku bingung dengan apa yang di katakan senior Lusian. Dia seakan tahu seberapa lama Moon Palace ini telah ada. Menurut apa yang aku ketahui, Moon Palace adalah kekuatan yang tiba-tiba muncul dengan sangat misterius.
Santana:"Hahaha... Kalian tidak perlu penasaran seperti itu. Lusian telah bertemu Yang Mulia secara langsung. Selain itu, dia sudah di perlihatkan masa lalu Moon Palace."
Seakan melihat keraguanku, senior Santana menjelaskan kepada kami. Mendengar penjelasannya, aku melihat senior Lusian dengan kagum.
Lusian:"Ya. Aku melihat Yang Mulia saat pertama kali Moon Palace tiba di Celt."
Aqila:"Seperti apa dia?."
Lusian:"Aku tidak bisa menjelaskannya. Tapi yang pasti, dia kuat. Sangat kuat."
Santana:"Tidak ada gunanya di jelaskan. Kalian sebaiknya bersiap, para senior akan menyambut kalian hari ini."
Sambil mengatakan itu, senior Santana berjalan pergi. Kami segera mengikuti senior supaya tidak tersesat. Perlu di ketahui, luas dari seluruh kompleks bangunan akademi ini setara dengan ibu kota kekaisaran. Jika aku tidak mengikuti senior, mungkin aku akan benar-benar tersesat.
Sebelum aku pergi jauh, aku melihat ke langit. Di langit ada benda panjang yang terbang ke arah akademi dengan sangat cepat. Saat mendekati akademi, benda itu terlihat seperti ular panjang yang terbuat dari besi.
Lusian:"Itu adalah kereta levitasi yang menjemput para siswa baru."
Seperti yang di katakan senior. Sesaat kemudian, kereta itu mulai melayang lebih rendah ke tanah. Setelah mendarat, pintu di setiap bagian terbuka dan anak-anak yang lainnya turun satu persatu. Mata mereka melihat sekeliling dengan penasaran. Mereka menunjuk-nunjuk dan saling membahas hal itu dengan lembut kekaguman.
Santana:"Benda terbang tidak di izinkan untuk terbang di atas kota tanpa izin khusus. Meskipun memiliki izin, tapi ada beberapa tempat yang tetap tidak mengizinkannya, salah satunya adalah akademi. Jadi semua benda terbang akan mendarat di lapangan ini."
Sambil berjalan, senior Santana menjelaskan kepada kami. Aku mendengarkan setiap penjelasan dari para senior dengan sangat serius. Akhirnya kami tiba di depan gerbang akademi. Gerbang ini sangat besar dan terdapat tulisan Moonlight Academy berwarna perak di atasnya.
"Selamat datang..!"
"Selamat datang siswa baru..!"
"..."
Beberapa senior perempuan yang cantik menyambut kami dengan antusias. Saat aku melewati gerbang, aku melihat banyak senior yang mendirikan lapak dagang atau hanya berjalan-jalan sambil tersenyum. Aku menyadari bahwa Moonlight Academy benar-benar mengumpulkan siswa dari berbagai ras dan suku.
Aku melihat orang-orang dengan fisik yang sangat berbeda dengan manusia sepertiku. Beberapa orang memiliki kulit berwarna merah atau hijau, beberapa memiliki tanduk di atas kepalanya, dan beberapa memiliki ekor atu tangan menyerupai binatang. Bahkan ada beberapa anak yang memiliki tubuh tinggi dengan beberapa pasang lengan. Pemandangan di sini benar-benar membuka mataku.
Santana:"Jangan takut. Mereka sebenarnya orang-orang yang baik."
"Adik junior, mampir ke tempat kami. Kami menjual sumber daya yang bagus."
"Ada Mecha buatan sendiri di sini. Yang berminat bisa datang."
"Bahan obat langka tersedia di tempat kami."
"Kami menjual anak monster, yang berminat bisa datang..."
"..."
Suasana di sini sangat ramai seperti pasar. Tapi hal yang mereka jual adalah sesuatu yang sangat berharga di tempatku dulu. Namun di sini, itu hanya seperti benda buangan yang kurang berharga, bahkan di jual dalam bentu bets.
Namun saat aku melihat harganya, aku hany bisa menggigit jari. Yang termurah adalah lima poin. Setiap siswa hanya di beri sepuluh poin sebelum kami pergi ke sini. Dengan seratus poin hadiah dari memenangkan kompetisi, aku hanya memiliki sekitar 110 poin.
Di akademi sebelumnya juga ada sistem poin, tapi masih bisa menggunakan uang. Jadi, karena aku masih dekat dengan keluarga, aku lebih memilih untuk menggunakan uang untuk membeli sesuatu karena lebih mudah di dapatkan. Tapi di sini semuanya harus menggunakan poin. Jika aku tahu akan jadi seperti ini, aku akan berusaha untuk mengumpulkan lebih banyak poin.
Swiss...!
Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara berdesing seperti mesin kapal yang beroperasi. Saat aku melihat ke atas, sebuah kapal udara perak emas melayang turun tepat di atas akademi. Bukankah sebelumnya senior mengatakan bahwa benda terbang dilarang masuk ke akademi, tapi bagaimana bisa kapal itu masuk sampai ke sini?!.
Kapal udara itu mendarat perlahan di halaman akademi yang luas, menarik perhatian dari banyak siswa.
"Itu model RISW yang hanya di gunakan oleh anggota keluarga Kerajaan. Bagaimana bisa hal seperti itu muncul di tempat ini."
Seorang pria berkacamata tiba-tiba melompat dengan semangat dari kerumunan dan memandang kapal perak emas itu dengan penuh cinta. Di lengan kanannya terdapat ban lengan biru dengan gambar roda gigi. Melihat hal itu, aku tahu bahwa dia merupakan salah satu dari lima Title Holder.
Santana:"Muse, apa kamu tahu pesawat udara itu?."
Muse:"Tentu saja aku tahu, tapi aku belum pernah melihatnya secara langsung. Kapal udara itu termasuk dalam jenis RISW tipe half dove. Oh ya, RISW atau «Royal Intergalactic Space Warship» Merupakan kapal yang di miliki oleh anggota keluarga Kerajaan. Meskipun kecil, tapi teknologi yang terkandung di dalamnya merupakan teknologi kelas atas. Kapal itu mampu melakukan perjalanan lintas galaksi tanpa perlu perbaikan atau pengisian daya. Dengan kemampuan pertahanan, serangan, dan manuver yang sangat tinggi, kapal kecil itu sangat menakutkan di Medan perang. Kapal itu bisa terbang dengan kecepatan dua kali kecepatan cahaya dan dilengkapi dengan meriam Photon DX 300."
Aku tidak terlalu mengerti apa yang dia katakan. Tapi melihat dari ekspresi lara senior, aku bisa menebak bahwa kapal itu pasti sangat luar biasa. Aku tidak bisa memahami itu semu, tapi yang jelas, kapal itu hanya bisa di gunakan oleh keluarga Kerajaan yang berarti bahwa anggota keluarga Kerajaan akan datang untuk festival penyambutan siswa baru ini.
Santana:"Kira-kira siapa yang akan datang?."
Seluruh alun-alun terdiam dengan sedikit gugup. Keluarga Kerajaan Moon Palace bukanlah sesuatu yang dapat di singgung.
Kapal luar angkasa itu mendarat perlahan. Begitu kapal mendarat, pintu samping kapal udara itu terbuka perlahan. Sebuah tangga cahaya muncul dengan sangat indah.
Dari dalam kapal, dua gadis kecil berjalan perlahan. Salah satu dari mereka mengenakan gaun berwarna biru langit, sementara salah satunya mengenakan seragam akademi berwarna putih bula. Dengan ban lengan warna emas di tangan kanannya.
Kedua gadis itu sangat cantik dan lucu. Namun salah satunya memiliki senyum yang sangat tenang dan anggun, sementara yang satu memiliki senyum anak-anak yang bersemangat.
Mereka menuruni tangga cahaya secara perlahan sambil bergandengan tangan. Angin lembut meniup gaun dan rambut, membuat suasana yang dramatis.
Lusian:"Siswa rendahan menyambut kedatangan Yang Mulia Moon Palace Supreme Lord."
Senior Lusian tiba-tiba berlutut di tanah tanpa berani mengangkat kepalanya. Mendengar seruan dari mulutnya, semua orang menjadi bodoh, namun mereka segera berlutut serendah mungkin dan berseru:
"Siswa rendahan menyambut kedatangan Yang Mulia Moon Palace Supreme Lord."
Tubuhku gemetar dengan keringat dingin. Aku tidak tahu siapa dari kedua gadis kecil itu yang merupakan penguasa Moon Palace, tapi perasaan agung itu datang dari gadis bergaun biru. Aku bisa menebak bahwa dialah yang merupakan penguasa dari Moon Palace.
Di hadapannya, aku merasa bahwa aku adalah sesuatu yang tidak berarti dan sangat lemah. Tekanan yang tidak sengaja keluar dari tubuhnya sudah cukup untuk membuatku gemetaran.
"Jangan khawatir. Angkat kepala kalian...!"
Suara gadis itu begitu lembut. Semua ketegangan seakan hanyut dan menghilang tanpa jejak. Aku memberanikan diri untuk melihat ke arah suara itu.
Sosok kecil itu berdiri dengan tenang. Tubuhnya memancarkan aura mulia dan anggun dengan senyum lembut tersungging di wajahnya. Rambut perak logam berkilau tujuh warna itu terlihat sangat indah.
Perasaanku menjadi tenang tanpa sebab, seperti menghadap di depan ibuku sendiri yang penuh kasih sayang.
Inikah penguasa Moon Palace....
(Akhir dari chapter ini.)
Selamat menikmati, semuanya.
Perbaikan ponselku selesai lebih cepat dari yang aku duga, jadi aku segera update... Aku sangat bersyukur untuk itu...