Still Loved Even In The New World

Still Loved Even In The New World
CHAPTER 130: Kisah Dewi Bulan (1)



.....


.....


"Milein, ayah pergi dulu."


Milein:"ayah hati-hati."


menatap wajah polos yang penuh senyum bercampur dengan kekhawatiran itu membuatku enggan untuk meninggalkannya. aku mengusap kepalanya dan memberikan janji untuknya.


Cliff:"ayah akan pulang nanti. ayah juga sudah menyiapkan beberapa roti untuk kamu makan sampai besok, jadi kamu tidak perlu keluar di cuaca dingin seperti ini."


Milein:"iya, saya tahu."


aku mengangguk sambil tersenyum lalu mengenakan mantel tebal dari bulu binatang. mantel ini berwarna abu-abu dan di buat dengan kasar, meskipun demikian, mantel ini cukup untuk menahan hawa dingin yang menusuk dari dinginnya salju.


saat keluar dari pintu, langit biru tanpa awan dan selimut salju putih yang menutupi tanah terlihat cukup indah. tapi tidak ada waktu untuk menikmati hal-hal seperti itu. aku harus segera pergi bekerja untuk mencari beberapa penghasilan.


pekerjaanku sendiri adalah sebagai seorang petualang, jadi agak susah untuk mencari penghasilan di musim dingin seperti ini. bagi seorang petualang, cara paling mudah untuk mencari uang adalah dengan mengumpulkan tanaman obat, tapi di musim dingin seperti ini para petualang hanya bisa berburu beberapa monster di pinggir kota untuk di jual, atau menjalankan beberapa misi yang di sediakan oleh Guild Petualang.


hari ini aku sudah memiliki janji untuk berburu monster bersama beberapa orang teman. sebenarnya pemburu bintang tiga sepertiku sudah cukup kuat untuk memburu beberapa monster rank tiga sendirian, tapi akan tetap lebih aman jika kita berburu bersama.


aku tidak tahu kapan akan pulang, mungkin nanti atau jika memiliki keberuntungan yang buruk kami akan kembali ke kota besok. maka dari itu aku menyiapkan makanan untuk Milein sampai besok. aku tidak tega membiarkan anak itu pergi keluar di cuaca dingin seperti ini.


aku berharap bahwa Milein akan mau tinggal di asrama akademi selama musim dingin, tapi dia menolak dan lebih memilih untuk menemani pria tua sepertiku. entah kenapa, sejak ibunya, Alein meninggal, dia menjadi sangat lengket kepadaku.


ibunya dulu juga adalah seorang petualang yang hebat. dia adalah seorang Magic Caster dan menjadi petualangan bintang lima, yang jauh lebih kuat dariku. mungkin karena mewarisi bakat dari ibunya, Milein juga baik dalam hal sihir. itulah kenapa dia mendapatkan hak untuk belajar di akademi secara gratis.


aku menapaki jalan bersalju dan pergi ke Guild petualangan, tempat dimana aku dan beberapa teman berjanji untuk bertemu. banyak petualangan lain selain diriku yang keluar masuk dari bangunan Guild. sebenarnya bukan hanya petualang yang mondar-mandir di sekitar guild. ada juga beberapa orang biasa yang ingin menjual hasil buruan atau bahan obat yang mereka tanam ke guild.


bagaimana lagi. banyak orang yang kesulitan untuk mencari penghasilan di musim dingin seperti ini. gandum dan sayuran tidak bisa di tanam, pedagang kecil menengah tidak bisa menjalankan karavan karena salju dan suhu dingin, kecuali mereka mau mengeluarkan uang lebih untuk membeli alat sihir yang mahal.


namun, jika mereka mengeluarkan uang untuk membeli alat sihir yang mahal, mereka tidak akan mendapatkan keuntungan kecuali mereka menaikkan harga dagangan mereka dengan marging yang cukup tinggi.


menaikkan harga juga menjadi masalah tersendiri. jika harga di naikkan cukup tinggi, maka daya beli masyarakat juga akan berkurang. apalagi di musim dingin seperti ini dimana orang-orang akan kesulitan mengumpulkan uang.


itulah kenapa, bahkan para pedagang itu akan mengirimkan orang-orang mereka atau petani yang mau bekerja untuk mereka sebagai petualang dadakan selama musim dingin.


aku masuk dan mencium aroma berbagai makanan hangat yang di pesan oleh para petualang.


"oee... Cliff, sebelah sini...!"


aku melihat orang yang berdiri sambil melambaikan tangannya kepadaku. aku berjalan ke arah mejanya, disana sudah ada tiga orang lain yang akan berburu bersama.


"Yo, Cliff. lama tidak bertemu."


Cliff:"yah, Croom, itu karena kamu terlalu sibuk setelah mendapatkan istri."


Croom:"hahaha... aku tidak bisa menyangkal itu."


ketiga temanku bernama: Croom, Rule, dan seorang wanita bernama Linze. yang memanggilku di awal adalah Croom yang memang selalu memiliki kepribadian bersemangat.


Linze:"hei..!. apa kalian sudah dengar?!."


Cliff:"apa itu?."


Linze:"di kabarkan bahwa di hutan barat ada kelompok petualang yang di serang oleh Ogre."


Rule:"oh, bagaimana itu?."


Linze:"dari 9 orang hanya satu yang berhasil melarikan diri."


Croom:"lalu, apakah kita akan merubah tujuan kita?."


awalnya tujuan kami adalah hutan sebelah barat, dimana biasanya monster rank tiga kebawah, tapi karena di kabarkan ada penampakan Ogre, jadi mungkin lebih baik memang mengganti tujuan. Ogre sendiri tergolong dalam monster rank 4-5, tapi jarang ada Ogre yang berkeliaran sendirian. biasanya Ogre akan bersama kelompok 3-4. jika sudah seperti itu, maka sekelompok Ogre akan masuk dalam kategori rank enam.


Linze:"tidak mungkin untuk bintang tiga seperti kita melawan sekelompok Ogre, jadi kita akan mengganti tujuan."


Croom:"tempat lain sangat jauh. satu-satunya tempat yang bisa kita tuju selain di hutan barat adalah hutan di dekat danau Eisseen."


hutan di dekat danau Eisseen berbatasan langsung dengan hutan barat, jadi jaraknya tidak terlalu berbeda.


Linze:"ya. meskipun disana hanya ada Goblin, tapi lebih baik daripada berhadapan dengan sekelompok Ogre."


Cliff:"tapi, tempat itu masih berbatasan langsung dengan hutan barat. apakah..."


Croom:"mungkin, tapi kita tidak punya pilihan lain, kan!."


Rule:"apa boleh buat. ayo segera berangkat."


sebenarnya aku masih sedikit khawatir bahwa Ogre itu akan berpindah ke hutan dekat danau Eisseen, tapi memang tidak ada pilihan lain. kami segera bersiap dan berangkat dengan empat orang menyusuri hutan di tengah hawa dingin.


kami pergi ke tujuan dengan berjalan kaki. sebenarnya ada kereta kuda yang di sewakan, tapi harga sewa 4 Copper Coin terlalu mahal bagi kami. jika di gunakan untuk membeli makanan, uang segitu bisa untuk makan selama satu hari penuh.


bahkan harga untuk mantel bulu yang aku kenakan adalah seharga 3 Copper Coin, jadi terlalu mahal untuk 4 Copper Coin sekali jalan. untuk itu kami memutuskan berjalan kaki.


hanya sekitar tiga balikan pasir kami sudah sampai di pinggir hutan yang kami tuju. saat masuk ke dalam hutan, hanya ada pemandangan putih salju dan pohon-pohon tanpa daun.


kami berjalan masuk ke dalam hutan menapaki salju tebal dan hawa dingin. melalui deretan pohon-pohon yang hanya menyisakan ranting tanpa daun, memberikan ilusi bahwa mereka telah berubah dari pemandangan hijau subur menjadi cakar-cakar iblis yang tajam di tengah hamparan salju.


Linze:"lihat!."


kami berhenti dan melihat ke arah dimana Linze menunjuk. di sana, kami melihat sekawanan rusa bertanduk kristal yang jarang di jumpai. tanduk rusa itu dapat di jual sebagai bahan obat yang mahal. sayangnya, mereka sangat jarang di jumpai, dan hanya bepergian dengan sekelompok kecil yang terdiri antara 3-5 ekor saja.


Linze:"Croom!."


Croom:"iya."


Croom segera mengeluarkan anak panah dan membidik salah satu rusa jantan dengan tanduk paling besar. tanduk rusa itu berwarna biru transparan seperti kristal, dan sangat indah, sementara bulunya berwarna putih kecoklatan yang tidak terlalu mencolok dengan latar belakang salju.


Swoss....!!


setelah membidik beberapa saat, Croom melepaskan anak panah ke sasaran. dengan suara membelah angin, anak panah itu melesat sangat cepat.


splas...!!


panah tepat mengenai bagian leher rusa tanduk kristal. karena daya tahan yang kuat, rusa itu tidak langsung mati, tapi berlari ke dalam hutan karena terkejut.


Linze:"ayo ikuti rusa itu."


anak panah yang di tembakkan Croom memiliki racun di atasnya, jadi meskipun rusa itu melarikan diri, kita hanya perlu mengikuti jejaknya.


Cliff:"hati-hati. rusa itu masuk jauh ke dalam hutan."


yang lain memberikan 'um' dan mengangguk dengan serius. sebagai petualang, tidak ada yang tidak menyadari seberapa berbahayanya di dalam hutan.


kami mengikuti jejak rusa yang di tinggalkan di atas salju. di atas salju terdapat jejak rusa yang berantakan karena sekawanan rusa itu melarikan diri dengan panik ke segala arah. beruntung bahwa panah itu memberikan luka ke rusa, jadi kita bisa mengikuti jejak darah yang di tinggalkan.


kami mengikuti selama beberapa waktu dan melihat seekor rusa jantan dengan tanduk kristal yang makmur, sedang terbaring lemah di bawah pohon. nafas rusa itu sangat lemah dan tidak stabil dengan beberapa kali mengeluarkan suara rengekan yang lemah.


aku menghampiri rusa itu dan mengeluarkan sebuah belati yang aku simpan di pinggulku .


Cliff:"terima kasih atas berkah darah dan daging mu."


slap...!!


aku langsung menikamkan belati itu ke arah jantung rusa untuk mengakhiri penderitaan dari rusa itu.


Rule:"buruan pertama adalah keuntungan besar."


Croom:"ya. setidaknya jika kita menjual semuanya, kita bisa mendapatkan 1 Silver Coin."


Linze:"kita bahas nanti. ayo cari tempat istirahat dulu."


kami segera mencari tempat untuk beristirahat, dan menemukan sebuah gua dangkal tidak jauh dari rusa itu tumbang. sejak berangkat, ini adalah pertama kalinya kami beristirahat, jadi semua orang menghela nafas lega dengan wajah yang tampak bahagia setelah mendapatkan binatang buruan.


Linze:"aku akan membongkar rusa ini dulu, kalian berjaga di luar."


tanpa banyak bicara, aku dan dua lainnya keluar untuk mengawasi wilayah sekitar. dalam hal pembongkaran mayat monster, Linze adalah yang terbaik, jadi kami tidak bisa membantu apapun.


Cliff:"Croom, bunuh Goblin archer itu."


Croom:"ok!."


Goblin adalah monster humanoid berwarna hijau dengan wajah yang kelak serta mulut lebar penuh gigi runcing. mereka menggunakan berbagai senjata sederhana yang mereka buat sendiri, atau beberapa peralatan petualang yang mati karena bertarung dengan monster di hutan.


swoss...!!


guya...!


anak panah tepat menembus dada Goblin archer itu dan membunuhnya. terbunuhnya Goblin archer sangat mengurangi tekanan kami sebagai pejuang.


Linze:"aku sudah selesai."


aku melihat Linze yang baru keluar dari goa dengan tas yang sudah penuh. dia mengeluarkan tongkat dengan kristal merah di atasnya.


Linze:"api merah yang menyala-nyala, tunjukkan kengerianmu dan bakar musuhku menjadi abu. «Fire Burst»"


sebuah bola api merah kecil meluncur dengan cepat ke arah sekumpulan Goblin yang tersisa.


Booom...!


Bola api kecil itu meledak sangat keras dan meratakan semua Goblin di sekitar area ledakan.


akhirnya setelah hari benar-benar gelap, kami selesai membersihkan semua Goblin dan mengambil Cristal di kepala mereka. setidaknya ada sekitar 40 Goblin yang menyerang kami, jadi ini masih menjadi penghasilan tambahan yang bagus.


Rule:"kami sudah membuat keributan besar, bersama aroma darah, mungkin akan ada predator kuat yang kemari. kita harus segera pergi."


kami semua segera meninggalkan tempat ini dengan cepat. meskipun malam, tapi dengan bulan yang cerah tergantung di langit, kami tidak akan kesulitan untuk mencari jalan.


grosak... grosak...!!


tiba-tiba kami melihat pohon-pohon besar yang terguncang bersama dengan suara gemericik dari salju yang berjatuhan.


Cliff:"waspada...!!"


kami semua segera mengambil posisi tempur masing-masing. Rule berdiri paling depan dengan palu dua tangan besar sebagai senjata, aku bersiap dengan pedang, Croom sudah memasang anak panah di busurnya, sementara Linze berdiri paling belakang dengan persiapan mantra.


muncul dari deretan pepohonan, kami melihat tiga sosok besar yang tingginya lebih dari lima meter. kulit mereka pucat dengan perut buncit yang membulat, tangan berotot memegang pentungan dari kayu yang besar, sementara wajah terlihat menyeramkan dengan mulut lebar penuh taring.


Cliff:"Ogre...!!"


Croom:"sial!. bagaimana mungkin kita bisa bertemu monster-monster ini...!!"


ini benar-benar sial. kami berburu ke hutan ini untuk menghindari mereka, tapi malah bertemu mereka disini.


Rule:"kalian segera pergi. aku bisa menunda beberapa saat. kalian ambil kesempatan ini untuk lari."


Linze:"sepertinya itu tidak mungkin."


aku melirik Linze dan ada Ogre ke empat beberapa puluh meter yang mencegat jalur retret kami. tidak ada jalan lain, aku langsung bergerak mundur dan menempatkan Linze di tengah antara kami bertiga. sebagai seorang Magic Caster, dia memiliki daya tembak paling besar, tapi juga paling rentan terkena serangan karena fisik yang lebih lemah daripada pejuang seperti kami.


Croom:"kita hanya bisa bertarung."


Rule:"bergerak."


hoaaa...!


monster itu meraung dan berlari ke arah kami dengan mengacungkan pemukul di tangan mereka. Ogre pertama mengayunkan pemukul itu secara vertikal ke arah Rule yang memegang palu besar. Rule menghindar ke arah kiri dengan lincah, langsung berlari ke depan dengan cepat untuk menutup jarak. palu besar itu di ayunkan dengan cahaya merah yang melapisi permukaannya.


Rule:"matilah monster jelek...!"


Bang...!


Roar...!


palu itu tepat mengenai kaki monster itu dan membuatnya meraung keras karena rasa sakit. sebelum Rule senang, Ogre itu telah mengayunkan kembali pemukul di tangannya ke arah Rule. tanpa bisa menghindar, Rule menggunakan palu besar di tangannya sebagai tameng.


Bang..!!


benturan keras itu membuat Rule terlempar karena dampak benturan yang sangat keras. tubuhnya menghantam batang pohon hingga dia memutarkan darah dan tidak mampu lagi untuk berdiri.


sialnya, bukan cuma Rule yang terlempar, tapi Croom juga terlempar cukup keras di atas salju dan menerima pukulan lagi saat mencoba untuk berdiri.


untukku, aku menyelinap di antara setiap celah gerakan Ogre itu dan memberikan beberapa sayatan di tubuh dan kakinya, tapi karena kulit yang tebal, luka yang di timbulkan oleh pedang kualitas rendah ini sama sekali tidak mengancam para Ogre itu.


kerja sama kami berempat terpecah karena masing-masing harus menghadapi satu Ogre. aku sedikit memandang Linze dengan sudut mataku. dia saat ini sedang berlindung di balik perisai sihirnya yang terus di pukul oleh dua Ogre yang telah menyingkirkan lawannya.


Ogre-Ogre itu akan meninggalkan lawannya yang sudah tidak bisa melawan dan beralih ke arah lawan yang masih memiliki kemampuan untuk melawan.


tak lama kemudian, perisai sihir Linze hancur dan punggungnya terkena pukulan yang cukup keras hingga dia terlempar karena inersia.


pukulan itu sangat telak dan mungkin akan mematahkan tulang punggungnya. meskipun dia dapat di sembuhkan, mungkin dia tidak akan bisa lagi menjadi petualang, dan kemungkinan terburuk adalah dia menjadi lumpuh.


Cliff:"Linze...!"


kemarahan seketika memenuhi hatiku karena melihat teman-teman ku yang terluka.


Cliff:"monster sialan... «Martial Art: Lightning Sword Slash»."


aku menghindari pemukulan dari Ogre yang melawanku dan lari menuju Ogre yang memukul Linze. aku melompat tinggi dengan kilatan petir cerah di atas pedang ku yang terus berderak.


Cliff:"matilah...!!"


aku menghujamkan pedangku ke arah dada monster itu dengan kekuatan penuh. saat pedang menusuk, ledakan kilat petir tiba-tiba terjadi dan membuat hutan menjadi sangat cerah untuk sesaat.


monster yang tertusuk itu meraung dan jatuh dengan tubuh besarnya. di sekujur tubuh monster itu mengepulkan asap dan aroma daging terbakar.


meskipun serangan itu efektif, itu juga akan memakan banyak energi milikku. aku terengah-engah sambil menatap Ogre lain yang masih tersisa. mungkin karena marah, Ogre yang terdekat dengan ku langsung mengayunkan pemukulnya ke arahku. karena kehabisan stamina, aku hanya bisa melihat pemukul itu datang ke arah wajahku.


sepertinya cuma sampai di sini. Milein, maafkan ayah.


saat pemukul itu menjadi semakin dekat dengan wajahku, aku menutup mata dan menanti kematian yang akan datang.


Bang...!!.


tapi tiba-tiba aku mendengar suara benturan keras dan rasa sakit yang aku tunggu tidak pernah datang. aku membuka mata dan melihat Ogre yang akan memukulku terlempar beberapa meter dengan bekas luka berdarah panjang di sisi tubuhnya.


aku bingung dan melihat sekitar dengan penasaran. akhirnya aku melihat sekelebat bayangan putih panjang yang berkilau menghantam Ogre yang aku lawan di awal dengan sangat cepat. Ogre itu terlempar dan darah serta daging terlempar ke udara. menyisakan bekas luka panjang berdarah yang mengerikan di sisi tubuh mereka.


aku melihat ke arah bayang itu datang dan melihat seorang gadis melayang di udara, menatap Ogre itu dengan dingin menggunakan matanya yang berkilau seperti langit berbintang dengan cahaya musim dingin yang mempesona.


kulitnya putih seperti susu dan terlihat sangat lembut seperti gelatin. memberikan bayangan seorang bangsawan yang tidak bisa di ganggu gugat.


rambutnya perak yang memancarkan kilau kaleidoskop di bawah sinar bulan yang cerah. rambutnya berkibar pelan melambai-lambai seperti sihir yang memberikan pesona seperti gadis suci dalam cerita-cerita dongeng.


armor perak itu berkilau logam dingin seperti armor ilahi yang nampak mewah dan anggun. di tangannya, gadis itu memegang sebuah cambuk perak emas yang memiliki duri-duri tajam seperti silet.


meskipun postur gadis itu seperti seorang gadis kecil yang bahkan tidak lebih dewasa dari anakku, tapi ketenangan di wajahnya memberikan pesona seorang ratu yang mendominasi dan dekaden.


cambuk yang ada di tangannya berkilau dengan kilau logam cerah, lalu dia mencambukkannya kepada dua Ogre yang masih berdiri dengan ketakutan. cambuk itu langsung melemparkan mereka berdua sejauh beberapa meter. dapat di bayangkan seberapa kuat tenaga yang di perlukan untuk mencapai efek tersebut.


"«Martial Art:Whip Blade»"


dia mengeluarkan suara halus seperti bisikan angin, tapi memiliki ketangguhan dan kekuatan. dia kembali mengayunkan cambuk itu ke arah Ogre yang mencoba berdiri. kali ini Ogre itu tidak terlempar, tapi terbelah menjadi dua seakan cambuk itu adalah pedang yang sangat tajam yang memotong lumpur tanah liat.


Ogre itu bahkan tidak memiliki kesempatan untuk merasakan sakit dan dia sudah menjadi dua bagian yang terpisah. darah merah cerah yang hangat langsung menodai salju yang putih bersih. antara darah dan salju memberikan pemandangan yang kontras dan menakutkan, namun ada keindahan tersendiri. seakan darah itu adalah bunga mawar merah yang mekar di atas salju yang dingin.


sangat kuat...!!


(akhir dari chapter ini)


cahaya musim dingin yang aku katakan adalah Aurora.


jika karyaku cukup baik menurut kalian, tolong untuk memberikan dukungan, namun jika masih ada kekurangan dan kesalahan, mohon untuk koreksi dan beri saran. see you next time;)