Still Loved Even In The New World

Still Loved Even In The New World
CHAPTER 215: Festival. (2)



"Terima kasih atas kebaikan anda, Yang Mulia!!."


Filia:"Ya. Hari ini aku hanya berkunjung sebagai pengunjung biasa, kalian tidak perlu terlalu memperhatikannya. Sekarang, kalian bisa kembali ke urusan kalian masing-masing."


Meskipun Yang Mulia berkata seperti itu, tapi aku rasa akan sulit bagi kami untuk tidak memperhatikannya. Tidak ada orang yang berani berdiri dari keadaan berlutut, semua orang saling memandang dengan wajah ragu-ragu dan bingung untuk sementara waktu.


"Apa yang kalian lakukan?!."


"Ikuti perintah Yang Mulia dan segera kembali ke pekerjaan masing-masing!!."


Para instruktur yang juga ada di tempat berdiri dan berteriak kepada kami. Dengan pengingat instruktur, semua orang langsung berdiri dan membungkuk, lalu pergi ke pekerjaan masing-masing. Namun suasana menjadi agak tegang, berbeda dengan suasana sebelumnya.


Listiana:"Senior, Yang Mulia, apakah dia masih anak-anak?."


Meskipun aku rasa tidak mungkin, tapi aku tidak bisa menahan diri untuk bertanya kepada senior. Menurutku, meskipun terlihat seperti anak-anak, tapi aku rasa itu hanya wujud manusianya. Aku pernah mendengar bahwa wujud sesungguhnya dari Yang Mulia adalah makhluk mitos.


Lusian:"Tidak. Yang kalian lihat tadi hanyalah wujud manusianya. Sejak Moon Palace berdiri, Yang Mulia Filia sudah menjadi pemimpin Moon Palace bersama empat pemimpin agung lainnya."


Adeline:"Berapa lama itu?."


Filia:"Dua belas milyar tahun!."


"Ahh...!"


Tiba-tiba Yang Mulia muncul di sampingku dan menjawab. Aku sudah dilatih sangat keras di Moonlight Academy. Baik reaksi dan kewaspadaan ku sudah sangat tinggi, tapi saat Yang Mulia mendekatiku, aku sama sekali tidak bisa merasakannya. Yah, aku rasa itu juga wajar.


Filia:"Kenapa kalian diam?. Tunggu!!!... Kalian tidak berfikir bahwa aku seorang wanita tua kan?!."


Lusian:"Tidak!!."


Santana:"Bagaimana mungkin kami berani berfikiran seperti itu?!."


Benar. Bahkan jika aku memiliki beberapa nyawa lagi, aku tidak akan berani berfikiran seperti itu. Meskipun, waktu dua belas milyar tahun itu, adalah waktu yang sangat panjang dan bahkan tidak bisa aku bayangkan, tapi aku sama sekali tidak berani memikirkannya.


Filia:"Kenapa kalian begitu khawatir?!. Hari ini aku pergi sebagai orang biasa, jadi jangan terlalu khawatir."


Yang Mulia berbicara seperti itu sambil tersenyum lembut kepada kami. Dia terlihat seperti anak yang cerita, bahkan matanya kadang-kadang melihat ke sekeliling dengan bahagia.


"Kakak, apakah ini pertama kalinya kakak datang ke acara seperti ini?."


Perhatianku langsung teralih ke arah gadis yang bertanya sambil tersenyum. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ekspresi gugup, malah dia terlihat bersemangat.


Filia:"Ya. Ini adalah pertama kalinya aku datang ke tempat seperti ini. Ini terlihat menyenangkan."


Wajah Yang Mulia benar-benar terlihat bersemangat. Aku sedikit terkejut mendengar pernyataan Yang Mulia, bahwa dia baru pertama kali menghadiri acara seperti ini. Bukankah Yang Mulia sudah cukup tua untuk menikmati banyak hal?.


Filia:"Jangan melihatku seperti itu. Saat Moon Palace di dirikan, itu bukanlah masa yang damai. Kami harus siap berperang kapan saja, jadi tidak ada waktu untuk membuat acara seperti ini di tempat ini. Setelah sebuah perang besar, Moon Palace berada di masa tidak aktif sehingga semua orang di dalamnya tertidur hingga bangkit kembali beberapa tahun yang lalu."


Seakan melihat apa yang aku pikirkan, Yang Mulia menjelaskan situasinya dengan santai. Jika apa yang di katakan oleh Yang Mulia itu benar, maka Moon Palace melewati dua belas milyar tahun itu tanpa mengetahui apapun.


Lusian:"Apakah itu perang yang waktu itu, Yang Mulia?."


Filia:"Tidak. Perang yang kami alami jauh lebih brutal daripada yang pernah aku tunjukkan padamu melalui proyeksi. PDA perang yang kami alami, banyak semesta yang tercabik dan hancur. Moon Palace waktu itu hancur dan jatuh ke tanah. Perlu sumber daya yang sangat besar untuk memperbaiki Moon Palace setelahnya. Namun setelah Moon Palace kembali normal, aku tertidur terlebih dahulu, dan hanya empat saudariku yang lain yang mengatur Moon Palace. Setelah aku bangun beberapa tahun lalu, aku mengetahui bahwa tidak lama setelah aku tertidur, Moon Palace juga masuk ke mode tidur dan keempat saudariku sudah tidak ada lagi."


Sambil menceritakan hal itu, aku bisa melihat sedikit kesedihan di mata Yang Mulia. Meskipun hanya sebentar, tapi aku bisa menyadarinya.


Filia:"Sudahlah jangan pikirkan hal itu lagi."


Yang Mulia kembali menjadi gadis yang tenang dan kembali menikmati suasana di festival.


Filia:"Hey, Arene. Acara apa yang bagus?."


Arene:"Kakak, siang nanti akan ada pameran dari siswa. Mereka ingin memperkenalkan beberapa hasil penelitian mereka. Dan mereka ingin mengembangkannya. Untuk itu, mereka ingin menarik siswa baru sebagai anggota mereka dan bisa memberikan kontribusi untuk hal itu."


Filia:"Oh, itu akan menarik. Jika proyek yang yang mereka katakan cukup menarik, aku tidak keberatan untuk mendukung mereka. Baiklah, sambil menunggu acara itu, ayo kita berkeliling."


Arene:"Iya."


Filia:"Kalau begitu, kalian melanjutkan sendiri, saya akan pergi dulu."


"Iya, Yang Mulia."


Kami membungkuk untuk mengirim kepergian Yang Mulia. Mereka berdua segera pergi sambil bergandengan tangan. Setelah punggung Yang Mulia menghilang di antara kerumunan, kami baru berani mengangkat kepala dan melihat ke arah kepergian Yang Mulia. Saat Yang Mulia pergi, saat itulah aku menyadari bahwa suasana yang awalnya agak tegang sekarang menjadi kembali meriah. Itu bukan karena kepergian Yang Mulia, tapi karena Yang Mulia berhasil menghilangkan ketegangan siswa yang lain dengan berbicara santai dengan kami.


Mereka mungkin melihat Yang Mulia yang begitu mudah di dekati sehingga ketegangan mereka mereda tanpa mereka sadari. Itu hanyalah tindakan kecil dari Yang Mulia, tapi dia berhasil merubah keadaan di sekitarnya. Aku bahkan tidak tahu kapan aku bisa menjadi begitu santai saat berbicara dengan Yang Mulia.


Santana:"Menakutkan bukan?!."


Eh...?.


Apa yang menakutkan?


Lusian:"Yang Mulia bisa merubah situasi hanya dengan beberapa tindakan kecil sekan semuanya telah di perhitungkan dengan matang. Yang Mulia tahu bahwa kedatangannya akan menyebabkan yang lain tegang, jadi Yang Mulia berbicara dengan kami untuk meredakan suasana tegang tersebut."


Itu juga benar. Aku benar-benar mengagumi kecerdikannya. Namun mengingat bahwa dia adalah penguasa Moon Palace, aku bisa memahami hal itu.


Kami melanjutkan untuk berkeliling dan melihat festival penyambutan ini. Banyak siswa baru yang juga datang ke lapak-lapak senior untuk bertanya atau membeli sesuatu dengan poin yang mereka miliki.


"Minggir, semuanya tolong minggir."


Beberapa kelompok anak dengan mengoperasikan sebuah kendaraan bak terbuka di lingkungan akademi. Di bak belakang terdapat sesuatu yang ditutupi menggunakan kain hitam sehingga orang lain tidak bisa melihat apa yang ada di balik kain itu.


Kendaraan itu terus melaju menuju ke kedalaman akademi.


Roselle:"Senior, apa yang mereka bawa?."


Santana:"Aku tidak tahu. Aku rasa itu merupakan benda pameran untuk siang nanti."


Lusian:"Aku rasa akan menyenangkan untuk melihatnya. Aku dengar anak tekhno membuat sesuatu untuk di pamerkan."


Pierre:"Jika mereka tahu bahwa Yang Mulia akan melihat pameran itu, aku tidak tahu akan seperti apa reaksi mereka!?."


Santana:"Aku rasa akan sangat menyenangkan... Hahaha..!"


Adeline:"Tapi, apa yang akan mereka pamerkan?."


Roselle:"Itu benar-benar membuatku penasaran. Tapi yang membuatku lebih penasaran... Siapa gadis kecil yang bersama Yang Mulia tadi?. Dia terlihat sangat akrab dan tidak takut pada Yang Mulia."


Aku juga penasaran pada gadis itu. Dia mengenakan seragam yang sama dengan siswa akademi, tapi dia terlihat begitu dekat dengan Yang Mulia. Apakah gadis itu merupakan keluarga Kerajaan?.


Santana:"Dia adalah Arene. Apakah kalian melihat ban lengan di lengan kirinya?."


Roselle:"Ya. Apakah dia juga termasuk Title Holder?. Tapi sepertinya ban lengan di yang dia kenakan berbeda."


Santana:"Ban lengan itu menandakan bahwa dia merupakan seorang Banners Holder."


Lusian:"Tidak peduli profesi apa yang kalian pilih, ingatlah bahwa di Moon Palace, hanya kekuatan yang paling penting."


Listiana:"Kami akan mengingat saran senior."


Sambil berbincang, kami terus melihat-lihat festival ini. Semakin aku memperhatikan, semakin aku kagum pada akademi ini. Semuanya sangat canggih dan luar biasa. Kakek buyut di kekaisaran adalah orang yang sangat kuat bagiku, tapi di akademi ini, hampir setiap siswa memiliki kekuatan yang sama atau bahkan lebih kuat daripada kakek buyut yang sungguh membuatku takjub.


Aku terus melihat-lihat dengan takjub. Aku merasa bahwa aku adalah orang udik desa yang baru saja pergi ke sebuah kota besar. Meskipun begitu, tidak ada pandangan menghina ataupun merendah. Para senior justru akan memperkenalkan semua hal yang membuat ku bingung.


Akhirnya kami di antarkan ke sebuah bangunan tiga lantai yang sangat panjang. Seluruh bagian bangunan memiliki warna abu-abu dan putih.


Santana:"Ini adalah asrama putri bangunan B yang sesuai dengan kartu pelajar kalian. Mulai sekarang kalian akan tinggal di asrama ini. Laki-laki tidak di izinkan masuk, jadi kalian bisa masuk sendiri. Di dalam akan ada pengawas yang membantu kalian."


Lusian:"Sebaiknya kalian beristirahat terlebih dahulu. Jangan khawatir, festival ini akan berlangsung selama tiga hari, jadi kalian tidak perlu takut terlewat."


Listiana:"Senior, kami harus berterima kasih dan kapan-kapan harus mengundang para senior untuk makan."


Santana:"Aku akan menantikannya. Kalau begitu, aku harus pergi dulu."


Senior Santana dan Lusian pergi bersama dengan Pierre. Mereka menuju ke asrama pria untuk beristirahat.


Saat aku masuk ke asrama, aku melihat sebuah lobi yang sangat luas dengan seorang wanita tinggi yang duduk di belakang meja resepsionis. Di sebelah kanan meja resepsionis itu terdapat tangga meliuk yang menuju ke lantai berikutnya. Pengaturannya mirip dengan asrama di Moonlight Academy sebelumnya, jadi aku tidak terlalu bingung.


Kami menghampiri resepsionis itu dan menyerahkan kartu pelajar kami. Resepsionis itu hanya tersenyum sambil menerima kartu kami tanpa berbicara sedikitpun. Setelah kartu di periksa, resepsionis itu mengangguk dan melemparkan kartu kami ke udara.


Kartu itu melayang di depan kami yang membuat kami terkejut. Ini adalah kartu baru yang di berikan oleh instruktur setelah aku memenangkan kuota ke Moon Palace. Aku tidak pernah tahu bahwa kartu ini memiliki fungsi seperti itu. Apakah ini sihir dari resepsionis?!. Tidak, aku yakin tidak seperti itu.


"Kartu pelajar itu akan menunjukkan kalian di mana tempatnya."


Setelah mengetahui itu, aku hanya mengangguk dan mengikuti kartu yang terbang ke depan secara perlahan. Kartu itu melayang menuju anak tangga. Anak tangga itu menuju ke lantai berikutnya.


Di lantai dua, ada sebuah lorong panjang yang di sebelah kanan dan kirinya terdapat kamar. Kartu milik kami berhenti di depan sebuah pintu persegi berwarna abu-abu. Saat kartu menempel di pintu, pintu langsung mengeluarkan cahaya biru samar dan terbuka.


Begitu pintu terbuka, aku bisa melihat sebuah ruang tamu yang luas dengan kursi sofa yang lembut dan empuk. Kami berempat sedikit tidak sabar dan menjelajahi ruangan ini. Meskipun aku merupakan seorang tuan putri, tapi perabotan di tempat ini jauh lebih baik daripada yang pernah aku lihat.


Aku dan nona Aqila yang lahir di sebagai bangsawan menjadi begitu bersemangat, apalagi Adeline yang berasal dari sebuah desa kecil. Dia begitu bersemangat dan melihat setiap ruang satu persatu.


Adeline:"Ruangan ini memiliki .empat kamar yang luas dan indah serta satu kamar mandi yang besar."


Aqila:"Kalau begitu, kalian bisa memilih kamar masing-masing."


Adeline:"Aku pilih yang ini."


Dia menunjuk ke salah satu pintu dengan bersemangat. Kartu di tangannya melayang ke arah pintu dan menempel di pintu itu. Saat kartu menempel, nama "Adeline" langsung tercetak di plat nama di bagian atas pintu.


Roselle:"Hey lihat!."


Roselle berseru dan menunjukkan kartunya. Kartu itu mengeluarkan sebuah layar biru transparan dengan kata-kata di atasnya yang mengatakan bahwa selain pemilik kamar dan orang yang di izinkan oleh pemilik kamar, maka orang lain tidak akan bisa memasuki kamar orang lain.


Sepertinya akademi ini menjaga ketat privasi dari setiap siswanya. Aku mengira bahwa kami berempat akan berbagi satu kamar dengan empat ranjang seperti sebelumnya, tapi ternyata dalam ruangan ini terdapat empat kamar dan fasilitas yang lengkap.


Roselle:"Bukan hanya itu, lihat!."


Dia mengarahkan kartu siswanya ke sebuah benda persegi panjang yang menempel di dinding. Saat itulah informasi dari benda itu keluar. Benda itu di sebut sebagai televisi yang dapat menyiarkan berbagai acara dan informasi dalam bentuk gambar serta suara.


Aku melihat kartu siswa di tanganku dengan lebih kagum. Nampaknya selain menjadi kartu pengenal para siswa, kartu ini juga memiliki banyak fungsi lain yang dapat membantu ku. Aku benar-benar penasaran bagaimana Moon Palace meletakkan berbagai teknologi ke dalam sebuah kartu yang sangat kecil seperti ini.


Kami berempat memilih kamar masing-masing dan mulai meletakkan barang-barang kami di kamar. Kamar ini sangat luas dengan perabotan yang lengkap. Di salah satu sudut ruangan terdapat sebuah tempat tidur besar yang sangat empuk dan hangat. Dari dalam kamar, aku bisa melihat pemandangan di luar melalui jendela besar yang terpasang. Menurut apa yang di perkenalkan oleh kartu siswa, kaca itu merupakan kaca yang bisa di atur menjadi kaca satu sisi atau dua sisi.


Saat menjadi satu sisi, penghuni kamar dapat melihat pandangan di luar, tapi orang dari luar tidak bisa melihat apa yang ada di dalam ruangan. Jika jendela menjadi mode dua sisi, maka kedua sisi dapat saling melihat satu sama lain.


Ini sangat bagus. Apapun yang aku lihat di tempat ini benar-benar tidak dapat di temukan di dunia luar. Apalagi benda yang di sebut sebagai komputer ini, yang memiliki banyak fungsi dan kegunaan.


Selesai membereskan barang-barangku, aku berbaring di tempat tidur yang nyaman. Namun saat aku melihat keluar, aku melihat langit yang cerah dan indah. Akan sia-sia jika aku hanya tidur di hari yang baik ini. Jadi, aku segera bangun dan keluar dari kamar untuk kembali ke festival.


Nampaknya bukan hanya aku yang berfikir demikian. Saat aku keluar dari kamar, Adeline dan yang lainnya juga sedang bersiap untuk pergi.


Listiana:"Kenapa kalian tidak mengundangku?."


Aku bertanya sambil berpura-pura kesal kepada mereka.


Adeline:"Aku kira kamu mau beristirahat, jadi kami tidak ingin mengganggumu."


Listiana:"Omong kosong. Ayo pergi!."


.....


Akademi..


(Filia)


Arene:"Kakak, sepertinya pameran akan segera di mulai."


Arene berbicara padaku sambil memegang makanan di tangannya. Dia sudah membawaku berkeliling di seluruh tempat festival untuk melihat-lihat. Tentu saja tidak ada benda yang menarik bagi kami, tapi untuk makanan, itu berbeda. Mereka menyajikan berbagai jenis makanan khas dari tempat mereka berasal yang merupakan sebuah pengalaman baru bagiku. Arene juga sangat bersemangat untuk mencoba hal-hal baru.


Filia:"Ok, habiskan dulu makananmu dan ayo kita pergi."


Aku menjawab Arene sambil tersenyum dan mengelap saus yang ada di sudut mulutnya dengan menggunakan sapu tangan.


Arene memaksakan makanan yang tersisa di tangannya untuk masuk ke dalam mulut dan menelannya dengan susah payah. Ekspresinya yang tidak sabaran benar-benar lucu.


Kami berdua segera pergi ke arena untuk melihat pameran itu. Tentu saja aku tidak mau terburu dan hanya berjalan dengan santai. Lagi pula, aku belum pernah menghadiri acara seperti ini sebelumnya. Ternyata acara seperti ini cukup menyenangkan, jadi tidak masalah untuk mengimplementasikan hal seperti ini ke Regalia Academy.


Arena ini adalah sebuah arena yang sangat luas dengan kursi penonton yang melingkari arena pertarungan dibtengah. Di sekitar arena terdapat perisai pelindung yang membatasi Anatar tempat duduk penonton dan arena.


Saat aku mencari tempat duduk, aku tanpa sengaja melihat kelompok Lusian yang pernah aku temui sebelumnya. Namun ada tiga orang tambahan di dekatnya. Tiga orang itu adalah kakaknya, seniornya, dan seorang pangeran yang aku lupa namanya.


Karena di dekat mereka kebetulan ada tempat duduk kosong untuk dua orang, jadi aku pergi menghampiri mereka.


Filia:"Arene, ayo kita pergi kesana!."


Arene:" Iya."


Karena mereka duduk di barisan paling depan, aku harus melewati beberapa baris kursi untuk sampai di sana. Mungkin kursi di sekitar mereka kosong karena siswa lain ragu-ragu untuk duduk bersama dengan para Title Holder.


Filia:"Permisi, boleh aku duduk di sini?."


(Akhir chapter ini.)


Ahhh... Aku merasa leherku sakit karena terlalu banyak menunduk.


Jika kalian menemukan kesalahan dalam chapter ini, silahkan langsung memberi tahuku di kolom komentar. Leherku terlalu sakit untuk memeriksa ulang dari atas.