
Setelah kemarin aku mendapatkan botol aneh dari wanita berjubah itu, hari ini aku berniat untuk menggunakan apa yang tersimpan di botol itu sesuai dengan petunjuk yang dia berikan.
Aku membiarkan ketiga pelayan terpercayaku untuk menyiapkan sebuah bak mandi besar yang di isi dengan air mendidih. Air mendidih bukanlah hanya kata kiasan, melainkan air yang benar-benar mendidih dengan uap panas.
"Yang Mulia, a, apakah anda yakin ingin masuk ke dalam air panas ini?."
Salah satu pelayan bertanya padaku dengan keraguan besar dalam kata-katanya. Jika jujur, aku sebenarnya juga ragu akan melakukan itu. Tapi, saat aku memikirkan kekuatan untuk membalas dendam, aku menguatkan diriku untuk berani mencobanya. Lagi pula, setelah aku memikirkannya, untuk apa orang itu membohongiku. Jika dia mau membunuhku, maka dia bisa membunuhku dengan sangat mudah.
Zhang Zilin:"Ya, aku yakin."
Setelah aku memberikan penegasan kepada para pelayan, dua dari mereka bergerak dan melepaskan setiap helai pakaianku. Aku berjalan mendekat ke tungku yang di atasnya ada bak mandi berisi air panas.
Satu orang pelayan membawa botol kaca itu dan menuangkan isinya ke dalam air mendidih. Segera setelah cairan merah itu masuk ke dalam air, air itu langsung berubah menjadi merah selayaknya darah. Namun, air merah darah itu memiliki aroma yang sangat harum seperti parfum beraroma bunga. Setiap aku menghirup aromanya, tubuhku terasa sangat nyaman dan ingin langsung berendam di dalamnya.
Semakin aku mendekat ke arah bak mandi, aku semakin merasakan panasnya api dan air mendidih yang menerpa kulitku. Dari jarak beberapa jengkal, aku berhenti dan menempelkan kertas itu di bagian dada.
Pelayan dengan sigap mengambilkan pijakan yang terbuat dari kayu untuk membantuku naik ke atas bak mandi yang berisi air mendidih. Melihat air merah yang bergejolak dengan gelembung-gelembung kecil uap air, aku menjadi sedikit ragu.
Tidak, aku tidak bisa ragu di sini. Aku menguatkan diri dan memasukkan kaki kiriku ke dalam bak mandi. Segera, rasa sakit dan nyeri yang sangat hebat menerpa, tanpa sadar membuatku terkejut dan menjerit kesakitan.
Karena terkejut itu, kaki kananku tanpa sengaja terpeleset dan menjatuhkan seluruh tubuhku ke dalam air mendidih.
"Yang Mulia....!!!."
Rasa sakit dan panas yang menusuk hati langsung menyerbu ke dalam pikiranku. Para pelayan berteriak dengan panik, tapi aku tidak punya kekuatan lebih untuk memedulikan teriakan panik mereka. Saat ini pikiranku menjadi sangat kacau karena rasa sakit yang sangat luar biasa yang aku rasakan.
Aku bisa merasakan setiap lapis kulitku yang mulai terkelupas dan matang karena air mendidih yang sangat panas. Rasa sakit yang sangat sakit mencengkeram erat kepalaku dan seakan menelan kesadaranku sedikit demi sedikit.
Semakin lama, kesadaran ku mulai terbuyarkan dan membuatku jatuh ke dalam kegelapan...
(Zhu Cai).
Hari ini Yang Mulia permaisuri membuat permintaan yang sangat aneh dengan meminta kami menyiapkan bak mandi yang berisi air mendidih. Aku tidak tahu akan di gunakan untuk apa air itu, tapi kami harus merebus air itu di dalam istana perak tempat kediaman permaisuri, dan menyembunyikan kegiatan itu dari siapapun.
Hanya kami bertiga yang di izinkan untuk masuk ke dalam istana untuk membantu Yang Mulia. Kami bertiga menyiapkan bak mandi berisi air mendidih tanpa tahu akan di gunakan untuk apa air itu.
Yang tidak terduga, Yang Mulia ingin menggunakan air mendidih itu untuk berendam. Sontak saja, hal seperti itu membuatku sangat terkejut. Apakah Yang Mulia mulai kehilangan akal atau sesuatu...
Aku ingin menyakinkan Yang Mulia untuk tidak melakukan hal itu, namun Yang Mulia masih terus bersikukuh dengan keputusannya. Yang Mulia memberikan sebuah botol kaca aneh yang berisi cairan merah kepada Zhu'er dan memerintahkan Zhu'er untuk menuangkan cairan di dalam botol itu kedalam bak mandi air mendidih.
Setelah cairan dalam botol itu membuat air mendidih menjadi merah darah, bak mandi itu mulai mengeluarkan aroma bunga yang harum seperti parfum. Mencium aroma dari arah bak mandi, ada semacam perasaan nyaman dan menyegarkan, bahkan sampai membuatku tanpa sengaja ingin melangkah ke arah bak mandi.
Kewarasanku kembali setelah aku melihat punggung Yang Mulia. Aku melihat bahwa Yang Mulia melangkah dan maju ke arah bak mandi.
Setelah kami membantu Yang Mulia naik ke bak mandi, Yang Mulia memasukkan kaki kirinya ke dalam bak.
Aghh...!.
Yang Mulia tiba-tiba terkejut dan berteriak dan tanpa sadar aku melihat Yang Mulia jatuh ke dalam bak air panas. Kulit Yang Mulia mulai memerah dan akhirnya menghitam serta terkelupas karena terendam oleh air panas.
Zhu'er:"Cepat, bantu Yang Mulia...!."
Zhu Mei:"Cai Cai, ayo bantu angkat Yang Mulia dari bak...!."
Kami bertiga sangat panik melihat pemandangan itu. Kami ingin segera membantu Yang Mulia, tapi tiba-tiba saat kami ingin menyentuh Yang Mulia, sebuah kertas yang di tempelkan oleh Yang Mulia di dadanya menyala.
Begitu kertas itu menyala, ada semacam gelombang kejut yang mendorong kami menjauh dari Yang Mulia. Dadaku terasa seperti baru saja terpukul oleh tangan prajurit, sangat sesak dan menyakitkan. Kami bertiga mencoba untuk bangun dan akhirnya melihat Yang Mulia yang sedang berteriak dan bergerak tak beraturan dengan tubuh yang melepuh dan sangat mengerikan di dalam air mendidih.
"Yang Mulia...!."
"Tidak...!"
Tanpa sadar, kami bertiga menangis dan ingin langsung berdiri membantu Yang Mulia lagi, tapi kami menyadari bahwa di sekitar bak mandi telah terhalangi oleh semacam pelindung berwarna kuning transparan yang mencegah siapapun untuk melewatinya.
Aku terus mencoba untuk memukul penghalang yang menghalangi kami, tapi semuanya sia-sia. Penghalang ini sangat kokoh dan kekuatan kami bertiga tidak akan mampu untuk menggoyahkannya.
Pada akhirnya kami hanya bisa memanggil dan berteriak melihat keadaan Yang Mulia yang semakin melemah dan akhirnya kehilangan kesadarannya.
Ada semacam garis-garis aneh menyala yang menyebar dari arah bak mandi ke seluruh ruangan. Namun tidak ada waktu bagiku untuk memperhatikan semua itu.
Aku melihat bahwa tubuh Yang Mulia sudah berhenti bergerak dan hanya berbaring diam di bak mandi. Kulit, daging, dan darah di sekujur tubuh Yang Mulia sudah rusak dan melepuh karena air panas.
Melihat pemandangan yang sangat mengerikan seperti itu, aku merasa sangat, sangat sedih. Hanya sedikit orang yang akan menghargai budak, apalagi mengangkat seorang budak rendahan dari negara yang kalah untuk menjadi pelayan pribadinya.
Kami bertiga awalnya hanya beberapa anak perempuan dari negara yang telah kalah perang dan di jual sebagai budak, namun Yang Mulia membawa kami dan menjadikan kami bertiga sebagai pelayannya. Kami bertiga telah bersumpah untuk terus melayani Yang Mulia dan berusaha untuk membantu Yang Mulia. Namun, apa yang terjadi pada Yang Mulia saat ini kami sama sekali tidak berdaya untuk membantunya.
Aku hanya bisa terduduk di lantai dan menundukkan kepala, sama sekali tidak sanggup untuk melihat kondisi Yang Mulia saat ini.
Zhu Mei:"Se... hiks.. Sesuatu terjadi..."
Dengan suara yang tersedu, Zhu Mei mengatakan sesuatu. Saat aku melihat ke arahnya, aku melihat bahwa dia sedang menunjuk ke arah Yang Mulia. Aku juga melihat ke arah itu, dan aku melihat hal yang sangat mengejutkan.
Air merah mendidih itu bergerak ke arah Yang Mulia, membentuk seperti benang-benang merah halus dan menembus ke dalam tubuh Yang Mulia melalui dagingnya yang tanpa kulit. Perlahan, kulit di tubuh Yang Mulia mulai tumbuh kembali, namun segera akan melepuh dan terkelupas dari daging.
Hal mengejutkan seperti itu terus menerus berulang hingga beberapa waktu. Kami bertiga hanya melihat pemandangan seperti itu dengan terkejut dan heran. Kejadian aneh dan menakjubkan seperti itu, ini adalah pertama kalinya aku melihat.
Zhu'er:"Cepat dan tutup pintu. Jangan biarkan siapapun memasuki ruangan."
Aku dan Zhu Mei mengangguk dan pergi menutup pintu. Setelah kami memastikan bahwa tidak akan ada orang yang bisa menerobos masuk, kami terus berdiri di pinggir penghalang itu untuk menyaksikan pemulihan Yang Mulia.
Setelah kematian dan kelahiran kembali jaringan kulit Yang Mulia, akhirnya proses itu berakhir dan tubuh Yang Mulia yang mengerikan secara bertahap mulai memulihkan jaringan tubuh yang rusak sedikit demi sedikit.
Seluruh tubuhnya mulai menumbuhkan kulit untuk mengganti kulit yang lama. Beberapa saat kemudian, tubuh Yang Mulia telah kembali seperti sediakala. Tubuh yang indah dan ramping dengan setiap lekukan dan tonjolan berada di tempat yang tepat, di lapisi oleh kulit berair yang terlihat sangat lembut dan putih seperti agar-agar, terbaring di atas air tanpa penjagaan sedikitpun.
Rambut yang awalnya berwarna coklat gelap, kini telah rontok dan tumbuh kembali menjadi rambut yang memiliki warna coklat kemerahan cerah dan halus seperti sutra. Di tambah dengan beberapa helai rambut panjang berwarna putih yang tumbuh di dahi, menambahkan semacam pesona yang aneh. Meskipun rambut itu tidak teratur dan kusut karena air, tapi orang yang melihatnya akan tahu bahwa rambut itu sangat lembut.
Setelah seluruh tubuh di pulihkan, Yang Mulia perlahan mulai membuka matanya. Di air yang mendidih, Yang Mulia bangkit dan melihat sekeliling dengan warna kebingungan di matanya. Dia melihat kondisi tubuhnya dengan terkejut dan turun dari bak mandi.
Dengan air yang menetes mengikuti lekuk tubuhnya, Yang Mulia memberikan semacam pesona keindahan yang sangat sulit untuk di abaikan.
Wajahnya yang cantik itu di tutupi oleh butiran air yang tipis dan memiliki kulit yang halus serta putih, kemudian di hiasi dengan alis yang tajam dan ramping seperti daun pohon willow, bulu mata yang panjang dan lentik, serta pupil mata yang berwarna merah amber, memberikan kesempurnaan pada sebuah keindahan yang sulit untuk di bandingkan.
Setiap langkah yang di ambil oleh Yang Mulia membuat pinggang yang ramping itu sedikit berkelok seperti pinggang ular dan terlihat sangat anggun.
Jujur, meskipun kami sama-sama perempuan, aku tidak bisa untuk tidak menelan saat melihat Yang Mulia. Matanya tajam dan lembut seperti mata rubah yang akan merayu setiap orang yang melihatnya.
"Sangat indah."
Zhang Zilin:"Apa yang kalian bengongkan. Ayo bantu aku mengganti pakaian."
Zhu Cai:"Eh?.. ah... B, baik Yang Mulia."
Aku segera tersadar dan memimpin Zhu'er dan Zhu Mei untuk memilih dan mengganti pakaian Yang Mulia.
Kami memilihkan serangkaian hanfu berwarna jingga bergradasi putih yang indah dengan sulaman emas di beberapa bagian. Saat aku menyentuh kulit dan rambut Yang Mulia untuk di tata dan di keringkan dari air, aku bisa merasakan sensasi yang sangat lembut dan halus di telapak tanganku. Jika bisa, aku bahkan tidak ingin melepaskan tanganku dari Yang Mulia, namun itu akan sangat tidak sopan, jadi aku berusaha keras untuk fokus pada pekerjaanku sendiri.
Setelah semua pakaian dan aksesoris telah selesai di pakai, aku mulai merias dan menggambar bindi berbentuk teratai jingga di dahi Yang Mulia, menambahkan suasana halus dan bijak padanya.
Aku berfikir untuk memakaikan pewangi di tubuh Yang Mulia, namun saat aku akan memakaikannya, aku menyadari bahwa tubuh Yang Mulia telah mengeluarkan aroma harum yang jauh lebih baik daripada pewangi ini, jadi aku membatalkan niatku dan membiarkan apa adanya.
Zhu'er:"Ini benar-benar karya seni...!"
Zhu Mei:"Kamu benar. Ini sangat indah."
Aku mendengar seruan dari Zhu'er dan Zhu Mei di belakangku. Aku mundur dan memperhatikan Yang Mulia yang sedang menutup mata. Aku harus mengakui bahwa ini benar-benar contoh wanita yang akan meruntuhkan sebuah kota dan negara.
Bulu mata panjang Yang Mulia perlahan bergetar dan terbuka. Mata amber yang penuh pesona dan lembut itu seakan memancarkan semacam godaan bagi orang yang menatapnya.
Pandangan Yang Mulia menatap pantulan dirinya yang terpantul dari cermin perunggu besar di depannya. Meskipun bayangan pada cermin perunggu agak kabur, tapi itu sama sekali tidak menghalangi penampakan indah dari Yang Mulia.
Yang Mulia menyentuh wajahnya dengan jari-jari rampingnya yang di hiasi dengan kuku panjang putih seperti mutiara.
Zhang Zilin:"Apakah aku.. Sebaik ini?."
Yang Mulia bertanya kepada kami dengan suara yang tertegun. Memang, jika di bandingkan dengan Yang Mulia yang dulu, itu benar-benar sebuah perbedaan yang sangat besar.
Zhu Cai:"Yang Mulia memang cantik sejak dulu, namun hari ini, Yang Mulia nampak sangat luar biasa."
Zhang Zilin:"Hahahaha... Kalian bertiga memang pandai membuatku senang."
Yang Mulia tertawa dengan suara yang sangat lembut dan menyihir. Tidak adil, adakah wanita yang seperti ini di dunia?.
Zhu Mei:"Yang Mulia, apakah anda ingin menunjukkannya kepada dia?."
Zhu Mei bertanya dengan ragu. 'Dia' yang dia maksud adalah Yang Mulia kaisar. Memang terdengar sangat tidak sopan, tapi kami semua sebagai pelayan pribadi Yang Mulia permaisuri sejak awal, kami mengetahui kebenciannya kepada Yang Mulia kaisar. Jadi, kami sama sekali tidak memiliki perasaan baik kepada kaisar itu.
Zhang Zilin:"Tidak. Aku ingin mengurung diri di istana perak. Jika ada yang ingin menemuiku, siapapun itu, katakan padanya bahwa aku sedang tidak bisa menemuinya."
"Kami mengerti, Yang Mulia."
.....
Menurut waktu yang telah di tentukan, hari ini adalah waktunya bagi orang-orang kerajaan yang mengalahkan kami untuk tiba. Kami bertiga membantu Yang Mulia untuk mempersiapkan diri dan menyambut penguasa itu.
Karena hal itu juga, Yang Mulia menjadi sangat bersemangat hari ini. Wajahnya selalu tergantung dengan senyuman yang hangat.
Zhu Cai:"Zhu Mei, ambilkan jepit rambut Phoenix untuk Yang Mulia!."
Zhu Mei:"Ok."
Persiapan ini memakan waktu yang cukup lama karena Yang Mulia ingin tampil sebaik-baiknya saat bertemu dengan orang-orang itu.
Hari ini, Yang Mulia memakai hanfu sederhana berwarna jingga dan kuning. Meskipun desainnya tergolong sederhana, justru pakaian yang sederhana itu mampu menunjukkan sosok Yang Mulia yang sangat mempesona.
Sosoknya yang cantik dan pinggang yang tipis, membuat setiap gerakannya mengandung semacam pesona yang sulit untuk di tolak oleh siapapun.
Zhang Zilin:"Apakah semuanya sudah selesai?."
Zhu Cai:"Iya, Yang Mulia."
Zhang Zilin:"Hari ini, Yang Mulia akan tiba, jadi pastikan kalian juga tampil baik di hadapannya."
"Kami mengerti, Yang Mulia."
Kami bertiga mengikuti Yang Mulia untuk sampai di halaman istana, tempat semua orang akan menyambut Yang Mulia penguasa baru di kekaisaran ini. Di sepanjang jalan, aku bisa melihat bahwa mata orang-orang yang memandang Yang Mulia permaisuri menjadi sangat panas dan terkejut.
Permaisuri yang awalnya terlihat seperti wanita yang lembut, saat ini lebih seperti seorang peri yang lembut dengan semangat tinggi di matanya. Hal itu mungkin membuat mereka merasakan sensasi tersendiri?!.
Begitu tiba di halaman istana yang luas, tempat semua orang berkumpul, semua mata tiba-tiba tertuju ke arah kami. Bahkan mata kaisar menjadi sangat panas saat melihat permaisuri.
Namun sayang, harapan kaisar itu akan sia-sia. Itu karena aku melihat Yang Mulia berhenti dengan jarak yang cukup jauh dari kaisar. Sebelum ada yang mengatakan sesuatu, kami mendengar suara mendesign dari kejauhan.
Di atas langit, aku melihat banyak benda terbang besar yang terbang menuju ke arah kami. Semakin dekat, benda-benda terbang itu menjadi semakin jelas. Ada ribuan kapal terbang kecil dengan sayap tipis, dan di belakangnya ada sebuah kapal udara besar berwarna putih yang di dampingi oleh tujuh kapal udara besar berwarna hitam.
Kapal-kapal itu di tangguhkan di atas istana. Dari posisi ini, aku menyadari seberapa kecilnya kami di bawah kekuatan yang menakutkan.
Sebuah pintu besar terbuka dari bagian bawah kapal putih, menunjukkan bagian dalamnya yang penuh dengan cahaya keemasan.
Dari dalam kapal, sebuah musik yang lembut dan khidmat di mainkan untuk di dengan semua orang.
Ratusan wanita cantik dengan rambut dan sayap emas keluar dari kapal itu sambil memegang tombak cahaya yang indah, seakan pintu menuju kerajaan para dewa telah terbuka.
Wanita bersayap itu membentuk dua barisan dan berhenti di halaman istana, membentuk jalan di tengah barisan mereka. Kemudian, dari dalam kapal itu muncul wanita tinggi dengan armor hitam dan mata yang di tutup menggunakan kain sedang memimpin prajurit berarmor biru berkilau.
Serangkaian tindakan ini berlangsung dengan sangat khidmat dan mengagumkan. Dari hal ini saja, aku bisa melihat perbedaan besar di antara kedua pasukan.
Setelah kesatria dan wanita bersayap mengambil tempat, aku kembali melihat ke arah kapal putih itu, tapi tidak ada yang terjadi. Hanya alunan musik yang merdu dan indah yang mengalir dengan lembut seperti aliran sungai di musim kemarau, memberikan rasa sejuk dan nyaman.
Dari balik cahaya, datang seorang gadis kecil dengan rambut perak serta sayap perak yang sangat indah, melayang secara perlahan dan mendarat di tanah. Ada kilau petir emas dan api putih di sayap yang menerangi wajah halus gadis berambut perak itu.
Aku melihat bahwa Yang Mulia permaisuri adalah wanita yang sangat cantik. Tapi, gadis kecil itu memiliki semacam pesona agung dan anggun seperti tempramen seorang penguasa di atas dunia.
Ini... Adalah sang penguasa baru kekaisaran ini...
Mengagumkan...
(Akhir dari chapter ini).
Aku tidak menduga bahwa novel ini bisa sejauh ini. Terima kasih untuk dukungannya.