Still Loved Even In The New World

Still Loved Even In The New World
CHAPTER 121: Sky Phoenix Fleet



dengan di infeksi oleh teriakan seorang kesatria, semua orang langsung mengarahkan pandangannya ke arah portal. bagikan efek domino, bahkan orang di dalam istana juga mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh. meskipun demikian, mereka sama sekali tidak berani membuat keributan besar. hanya menonton dengan penasaran dan sedikit ketakutan terhadap sesuatu yang asing bagi mereka.


swos...!!


tiba-tiba makhluk terbang yang sangat cepat keluar dari dalam portal Dengan suara mendesign yang sangat keras. aku memperhatikan bahwa makhluk terbang itu berputar mengelilingi ibu kota sebelum kembali lagi ke dalam portal.


jika itu menggunakan kereta kuda untuk memutari seluruh ibu kota, maka akan diperlukan waktu kurang lebih hampir setengah hari, tapi ini, bahkan makhluk terbang itu tidak membutuhkan waktu setengah jam untuk mengelilingi langit ibu kota. bisa di bayangkan berapa cepat makhluk terbang itu.


beberapa kebingungan terjadi saat makhluk terbang itu kembali ke dalam porta dan menyebabkan suasana menjadi hening. suasana hening ini berlangsung selama hampir dua menit sebelum ada makhluk terbang lain yang keluar dari dalam portal.


kali ini makhluk terbang itu tidak tebang cepat seperti sebelumnya. makhluk terbang itu terbang dengan lambat dan perlahan di kejauhan ibu kota. saat makhluk terbang itu terbang dengan lambat, saat itulah aku menyadari bahwa tubuh makhluk terbang itu memantulkan cahaya bulan merah seperti kilau logam yang dingin. seakan makhluk terbang itu terbuat dari logam.


makhluk itu memiliki tubuh berwarna hitam pekat dan berbentuk lonjong pipih dengan bagian depan yang terpisah menjadi kiri dan kanan. kedua bagian yang terpisah itu berwarna silver metalik dingin seperti bilah pedang yang siap untuk memotong apa saja yang ada di depannya. di bagian belakang makhluk terbang itu menyemburkan api biru yang menimbulkan suara bising.



karena aku bisa melihat makhluk itu dengan jelas, aku menyadari bahwa itu bukanlah makhluk hidup sama sekali. dilihat dari semua aspek, itu adalah murni benda yang di buat oleh tangan-tangan pengrajin.


aku benar-benar tidak tahu bagaimana di Moon Palace perkembangan di bidang pengrajin bisa sampai berkembang ke tahap seperti itu. tidak mungkin tanpa perkembangan selama ribuan tahun untuk mendapatkan hasil seperti ini. itupun sejak awal, pengetahuan dan penguasaan dalam teknologi harus sudah jauh lebih unggul daripada yang lain. terutama sumber daya manusia dan pendanaan yang tiada hentinya.


aku sebagai seorang anggota keluarga kerajaan sejak kecil sudah di beri perbekalan dan pendidikan tentang perkembangan negeri dan pengaturan keuangan, jadi aku menyadari bahwa semua yang aku lihat di Moon Palace jauh melebihi kondisiku untuk memahami bagaimana sumber daya di alokasikan.


keterkejutan ku tidak sampai di situ. setelah satu benda terbang itu keluar, di belakangnya muncul ratusan, atau mungkin ribuan benda terbang yang mirip. karena banyak, mereka lebih mirip seperti segerombolan burung daripada benda terbang buatan.


selain itu, ukuran mereka yang besar, dengan panjang sekitar 15 meter dan lebar 5 meter yang setara dengan elang bermata darah.


pemandangan ratusan benda terbang yang menutupi langit itu membuat pemandangan yang sangat megah dan mengagumkan. orang-orang yang melihat ke angkasa, mereka memiliki rasa penindasan. aku merasa seakan, aku begitu kecil dan tidak berdaya.


Darmond:"i, ini. apa ini?!!."


ayah bertanya dengan linglung. suaranya tergagap seperti ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya.


Aneria:"ayah. inilah sebagian kecil dari kekuatan Yang Mulia."


mendengar jawabanku, ayah mengalihkan pandangannya dari langit menjadi ke arahku. ekspresinya mengatakan 'aku benar-benar bodoh. apa yang kamu katakan?'. tentu saja aku juga akan bereaksi sama jika aku belum pernah melihatnya.


aku terus melihat ke angkasa di kejauhan ibu kota. yang aku kira ini adalah pemandangan yang paling spektakuler, tiba- muncul sebuah moncong logam besar dari dalam portal. sebuah kapal angkasa berwarna hitam yang di kelilingi oleh benda terbang di sekitarnya itu keluar dari portal secara perlahan.


setelah kapal itu menunjukkan seluruh wujudnya, aku melihat orang-orang di sekitar yang membuka mulutnya lebar-lebar karena terkejut. itu wajar jika mereka terkejut. ukuran dari kapal angkasa itu sangat besar. panjangnya lebih dari seratus meter dan lebar puluhan meter yang sangat megah.


Darmond:"b, benda apa lagi itu?!."


Aneria:"saat aku berada di Moon Palace, aku pernah mendengar tentang hal itu."


bagaimanapun, untuk pulang dari Moon Palace, aku harus di antarkan menggunakan pesawat terbang bersama dengan semua orang. waktu itu tanpa sengaja aku melontarkan pertanyaan saat melihat kapal angkasa terbang itu sedang di rawat oleh para pekerja. pertanyaan ku juga sama dengan ayah. kemudian salah seorang pekerja yang kebetulan mendengar pertanyaanku, dia menjawab dengan suara bangga.


Aneria:"seorang pengrajin dari Moon Palace pernah mengatakan benda itu padaku. kalau tidak salah, mereka menyebutnya sebagai kapal angkasa penghancur kelas dua. kapal itu biasanya tidak akan di operasikan kecuali dalam keadaan perang ataupun untuk pengawalan kapal kerajaan dan kapal induk. dan juga melihat dari angka 11 di lambung kapal, aku tahu dari pengrajin di sana bahwa itu adalah angka yang menunjukkan armada ke sebelas. «Sky Phoenix Fleet» "


Darmond:"Sky Phoenix Fleet?"


Aneria:"itu adalah salah satu dari 16 armada angkatan udara di Moon Palace."


bagaimana aku tahu?. aku tahu karena Nona Arkne sendiri yang menjelaskan tentang berbagai armada dan legiun kesatria di sana dengan ekspresinya yang bangga. seakan semua yang dia katakan bukanlah informasi penting sama sekali dan sangat umum untuk di ketahui.


Darmond:"lalu, kapal kerajaan dan kapal induk?. apa itu?".


Aneria:"itu_"


sebelum aku bisa menjawab, dua kapal penghancur telah keluar dari portal dan terbang menuju ibu kota. yang membuatku linglung saat ini adalah hal lain.


di belakang kapal dua kapal angkasa penghancur itu, muncul sebuah kapal angkasa baru. kali ini desainnya sangat berbeda. kapal angkasa itu berwarna putih dengan berbagai macam lampu-lampu kuning keemasan, membuat kapal itu terlihat mewah dan elegan. jika semua kapal di awal tadi mengejutkan, maka kapal angkasa raksasa yang muncul saat ini terlalu mengejutkan untuk di ungkapkan dengan kata-kata.


Aneria:"itu adalah kapal angkasa kerajaan."


aku melanjutkan menjawab pertanyaan ayah tadi sambil melihat kapal angkasa kerajaan yang sangat besar dan mengejutkan itu. panjang dari kapal kerajaan lebih dari 500 meter dan dikelilingi oleh banyak benda terbang di sekitarnya. di belakang kapal kerajaan, terdapat tiga lagi kapal penghancur yang bertindak sebagai pengawal.


inilah keagungan sejati.


inilah kekuatan absolut.


barisan seperti ini memberi tahu semua orang tentang kekuatan Moon Palace. kekuatan absolut yang tidak dapat di tentang dan di provokasi. kekuatan yang mampu memandang rendah dunia dan memegang erat apa yang di sebut sebagai kekuasaan dan keagungan.


di tengah keterkejutan dan kebodohan dari semua orang, kapal-kapal itu sudah terbang di atas ibu kota dan menutupi langit ibu kota seperti Awan cumulonimbus raksasa yang memberikan rasa penindasan.


kapal-kapal itu berhenti di ketinggian sekitar seratus meter dari tanah, dan perlahan menjadi semakin rendah. setelah ketinggiannya hampir menyentuh atap bangunan, kapal kerajaan dan kapal lainnya berhenti untuk menurunkan ketinggian.


pintu kapal dari lima kapal penghancur terbuka. setiap kapal setidaknya memiliki ratusan pintu yang terbuka secara bersamaan. setelah semua pintu terbuka, tangga cahaya terbentuk di setiap pintu, bersama dengan ratusan kesatria dengan baju zirah logam hitam yang terlihat tangguh. di dada kanan mereka di sematkan sebuah emblem burung Phoenix perak dengan bulan sabit yang melambangkan kesatria dari Moon Palace.


mereka turun melalui jalan cahaya biru dan langsung membentuk barisan di sepanjang jalan. mereka membentuk barisan menjadi dua dan saling berhadapan membentuk jalan di tengah.


tanpa aba-aba sedikitpun, mereka mencabut pedang panjang bermata satu dengan bilah yang menyala biru dari pinggang mereka secara bersamaan. dari cara mereka mencabut pedang, dapat di ketahui bahwa mereka adalah kesatria yang benar-benar terlatih.


wajah mereka semua terlihat dingin tanpa banyak ekspresi selain dari kesungguhan dan rasa hormat yang terpancar dari mata mereka. tatapan itu adalah tatapan yang sangat fanatik dan hormat yang besar. dari itu tercermin seberapa besar pengaruh dari Yang Mulia Filia di hati rakyatnya.


aku benar-benar iri. setiap hari yang aku lihat hanyalah pandangan serakah dan licik demi keuntungan mereka sendiri, kecuali dari teman-teman kesatria ku yang sudah mengalami hidup dan mati bersama, aku belum pernah melihat tatapan seperti itu, bahkan tatapan dari teman seperjuangan hidup dan mati tidak akan sampai seperti itu. sangat mengagumkan bisa memimpin dan dihormati pada usia Yang Mulia.


segera setelah para kesatria itu membentuk barisan yang panjang dan rapi, pintu utama kapal kerajaan terbuka secara perlahan. cahaya emas kuning yang menyilaukan terpancar dan membentuk tangga cahaya yang indah.


beberapa tokoh mulai melangkahkan kakinya dari dalam kapal dan menampakkan sosoknya. yang muncul pertama adalah seorang gadis kecil berusia 9-10 tahun dengan rambut perak kaleidoskop yang panjang hingga menyentuh paha.


gadis itu mengenakan pakaian yang elegan dan rapi berwarna putih dengan sentuhan aksen berwarna biru. sebuah selendang putih transparan tergantung di tubuhnya yang mungil. wajahnya begitu halus dan putih seperti porselen. mata bulat besar berair dengan warna pupil hitam, tapi saat terkena cahaya emas dari tangga cahaya, pupil hitam itu akan memantulkan cahaya berbagai warna seperti batu bintang.


(catatan:batu bintang di sini merupakan sebutan untuk batu mulia Opal hitam. hanya saja efek cahayanya lebih holografik. ok, bayangkan sendiri)


semua fitur wajah yang sempurna itu, tempramen agung dan lembut, di tambah dengan tangga cahaya yang di lewatinya, ini benar-benar pemandangan yang mirip seperti yang di tulis dalam literatur kuno saat seorang Dewi turun ke dunia fana.


siapa lagi anak seusia 9-10 yang bisa terlihat seperti itu selain dari Yang Mulia Filia?!. meskipun dia masih seorang gadis kecil, tapi temperamen agung dari seorang ratu terpancar jelas dari tubuhnya.


di belakang Yang Mulia berjalan seorang wanita dengan gaun hitam dan mata yang di tutup menggunakan kain. nona Arkne terlihat heroik seperti biasa meskipun ke dua matanya di tutup menggunakan kain. di bibirnya yang merah ceri tergantung senyum yang mampu melelehkan salju, hangat dan ramah. tapi aku yang sudah mengetahuinya, aku tahu bahwa dia sebenarnya memiliki sifat kejam yang menakutkan.


selain nona Arkne, aku juga melihat seorang pria tinggi berbadan tegap. pria itu mengenakan jubah militer hitam dengan berbagai macam aksesoris dan mendali. di bagian belakang jubah militer itu di bordir dengan burung Phoenix perak yang melambangkan Moon Palace.


ke dua orang berjubah yang selalu mengawalku, mereka langsung pergi dan berlari dengan cepat menuju ke tangga cahaya. mereka berhenti dan menunggu di bawah tangga cahaya sambil berlutut dengan khusyuk dan hormat.


"hormat kami, Yang Mulia!!"


saat Yang Mulia menginjak anak tangga terakhir, kedua orang itu memberikan sambutan kepada Yang Mulia. Yang Mulia hanya mengangguk ringan dan mengatakan 'kerja bagus' kepada kedua orang berjubah hitam itu.


Yang Mulia memimpin nona Arkne dan yang lainnya, termasuk ratusan kesatria berzirah emas yang ikut turun bersama dari kapal kerajaan. selain mereka, sebenarnya masih ada dua kesatria berzirah emas yang berjalan di dapan Yang Mulia sambil memegang bendera bergambar Phoenix dan bulan perak untuk menunjukkan identitas sebagai keluarga kerajaan Moon Palace.


Yang Mulia berjalan dia bawah pedang yang di angkat oleh dua barisan kesatria berzirah hitam dengan anggun dan perlahan. setiap kesatria yang telah di lewati oleh Yang Mulia, dia akan menurunkan pedangnya, dan menyarungkannya kembali ke pinggang mereka.


saat Yang Mulia semakin dekat, aku ingin berlutut dan menyambutnya. alhasil, aku mendengar suara manis di pikiranku yang menghentikan ku untuk berlutut. menatap mata inda Yang Mulia, aku tahu bahwa itu merupakan suara Yang Mulia yang di salurkan langsung ke kepalaku dengan cara khusus yang tidak aku ketahui.


tanpa daya, aku hanya mengangguk dan memberikan sambutan sebagaimana seorang ratu seharusnya.


Aneria:"selamat datang, Yang Mulia Filia di kerajaan kami yang sederhana."


meskipun aku mencoba untuk percaya diri mengatakan itu, tapi dalam hati aku sudah merasa lemas. hanya melihat Yang Mulia tersenyum lembut setelah mendengar sambutanku, barulah hatiku mulai merasa tenang.


Filia:"terima kasih atas sambutan anda, Yang Mulia Aneria Klaus Dragonia."


setelah mengucapkan beberapa patah kata lagi, aku memimpin Yang Mulia beserta rombongannya masuk ke dalam ruang pertemuan sebelum ke ruang perjamuan. itu karena Yang Mulia ingin membicarakan sesuatu tentang perkembangan selanjutnya.


saat memimpin Yang Mulia, entah kenapa aku memiliki firasat, bahwa pembicaraan ini akan melelahkan. huh... yah, lihat saja nanti.


(akhir dari chapter ini)


jika terjadi typo atau salah kata, dimohon untuk segera memberitahukannya di kolom komentar, supaya bisa segera di revisi dan di perbaiki demi kenyamanan membaca. ok, see you next time.