Still Loved Even In The New World

Still Loved Even In The New World
CHAPTER 220: Dark Creature.



Kling...


Kling...


Kling...


Putri Filia berjalan perlahan di atas lapisan es biru cerah. Wajahnya tidak terlihat bagus dan sedikit marah. Armor perak melekat di tubuhnya, di tangan kanannya memegang sebuah pedang es biru yang padat dan berkilau hingga mampu memantulkan sinar matahari. Di sekitarnya, kepingan salju yang berkilau berjatuhan secara perlahan seperti serbuk peri yang ditaburkan untuk menghormati kedatangan sang ratu. Setiap langkah yang di ambil oleh Putri Filia dibarengi oleh suara lonceng lembut dan renyah seperti suara lonceng angin.



Aria:"Putri !."


Liris:"Yang Mulia....?. Apa, apa yang anda lakukan di sini. Tolong segeralah pergi, saya akan menahan monster ini."


Suara nona Liris terdengar sangat khawatir. Dia memegang pedangnya lebih erat dan menghadap monster ruang perlahan berdiri dari tanah. Bagian dada monster itu sudah menjadi cekung dengan darah ungu yang membeku. Di sudut mulutnya, darah ungu gelap juga mengalir perlahan dan jatuh ke tanah.


Filia:"Kalian tidak cukup kuat untuk menghadapi monster itu. Tapi kalian sudah melakukannya dengan baik, jadi sekarang serahkan saja semuanya kepadaku."


"Sial.. Sial... Bagaimana mungkin, bagaimana mungkin aku yang telah mendapatkan kekuatan dari malaikat gelap menjadi seperti ini. Ini tidak mungkin...!!."


Suara monster itu terdengar sangat tidak mau dan bingung dengan apa yang terjadi padanya. Luka sayatan dan tusukan yang kami sebabkan sudah sembuh, hanya luka yang disebabkan oleh Putri Filia lah yang masih sukar untuk hilang. Bekas es di dadanya tidak kunjung meleleh dan tetap membuat jejak beku yang bertahan lama.


Melihat es yang tidak kunjung menghilang, monster itu menggunakan cakarnya yang panjang untuk menghilangkan es itu dari dadanya. Setelah es itu jatuh, luka cekung seperti tabrakan bola meriam terlihat jelas. Meskipun aku tidak tahu apa-apa, tapi aku tahu bahwa serangan itu sudah pasti telah mematahkan beberapa tulang rusuk dari monster itu.


"Aku yang telah mendapatkan berkah dari malaikat gelap, tidak mungkin bisa di lukai oleh makhluk rendahan seperti itu....!."


Melihat luka di dadanya, monster itu kembali berteriak dengan tidak percaya kemudian mengerang dengan rasa sakit...


Filia:"Itu karena kamu terlalu lemah. Jika kamu ingin menjadi lebih kuat, serahkan kewarasanmu pada dark creature yang merasuki tubuhmu. Biarkan dia menguasai tubuhmu..."


"Sarankan kesadaranku... Jadi lebih kuat... Jadi lebih kuat...!"


Monster itu bergumam dengan suara bingung. Tiba-tiba, aura ungu gelap di tubuhnya menjadi lebih tebal...


"Aghhh...."


Monster itu berteriak keras, membuat aura ungu yang mengelilingi tubuhnya meledak menjadi asap ungu tebal. Sebuah pusaran terbentuk di dada monster itu, menghisap semua aura ungu yang tersebar di sekitarnya.


Tubuhnya menjadi semakin besar dan tinggi. Di tubuhnya mulai muncul taji tulang tajam yang mengerikan. Tubuhnya yang semula ungu menjadi lebih gelap hingga hampir hitam.


Kurang dari sepuluh detik, monster itu kembali tenang dan menatap putri Filia. Tatapan itu bukan lagi tatapan yang penuh kebencian seperti di awal, tapi itu merupakan tatapan ganas dan haus darah seperti binatang buas. Sama sekali tidak terlihat seperti mata manusia, melainkan hanya mata binatang buas tanpa kecerdasan.


"Gerr...!"


Monster itu menggeram seperti serigala marah. Melihat hal yang mengerikan seperti itu, aku dan yang lainnya tanpa sadar mundur beberapa langkah. Namun Putri Filia yang melihatnya, dia tetap berdiri di sana dengan tenang.


Filia:"Hahahaha... Bagus, sangat bagus. Dengan begini, aku sama sekali tidak memiliki beban untuk membunuh manusia, tapi aku membunuh seekor binatang bisa yang berbahaya..."


Bang... Swos...!.


Kaki belakang monster yang kuat mulai menegang, mengambil momentum untuk menerkam ke arah Putri Filia dengan kecepatan yang sangat mengerikan. Jarak beberapa puluh meter di lalui hanya dalam waktu kurang dari satu detik. Cakar yang tajam dari monster itu merentang, siap untuk mencabik Putri Filia yang berdiri di depannya.


Meskipun monster itu sudah mulai menyerang, Putri Filia tetap berdiri dengan senyum di wajahnya.


Dentang...!


Sesaat kemudian, suara logam yang berbentuk terdengar. Tiba-tiba, sesosok hitam muncul di depan Putri Filia dan menghalangi serangan monster itu yang ditujukan untuk Putri Filia. Dengan momentum yang sangat kuat, seharusnya tubuh hitam kecil itu akan tertabrak dan terlempar, tapi saat cakar monster itu berbenturan dengan dua bilah pisau di tangan sosok hitam itu, sosok itu hanya mundur sekitar satu meter dan meninggalkan jejak panjang di tanah.


Baru pada saat inilah aku bisa bereaksi terhadap serangan monster itu. Aku terkejut melihat nona Ilma bisa menahan serangan yang sangat menakutkan seperti itu dengan dua pisau hitam di kedua tangannya.


Bayangan hitam di bawah kaki nona Ilma bergoyang. Bayangan itu berkumpul membentuk sebuah cambuk besar seperti ekor kadal berwarna hitam.


Bang...!


Ekor hitam itu menghantam tubuh monster itu dan membuat monster itu harus terdorong ke kejauhan.


Huh... Huh...


Suara nafas berat nona Ilma dapat aku dengan dengan jelas dari jarak yang cukup jauh. Keringat perlahan menetes di pipinya dan jatuh ke tanah, membuktikan bahwa untuk menahan serangan itu, nona Ilma harus mengorbankan energi yang sangat besar.


Filia:"Ilma, mundurlah..."


Ilma:"Tapi Putri..."


Filia:"Tidak apa, serahkan hal ini padaku. Aku punya tugas yang lebih penting untuk kamu lakukan. Kamu akan membawa pangeran dan yang lainnya pergi ke tempat perlindungan. Bahaya yang sesungguhnya akan segera tiba."


Nona Ilma terlihat sangat ragu untuk meninggalkan Putri Filia, tapi pada akhirnya nona Ilma hanya bisa mengangguk dan menghampiri kami.


Ilma:"Tolong, saya akan melindungi kalian."


Elion:"Saya akan membantu nona Filia."


Sophia:"Saya juga."


Filia:"Tidak perlu. Kalian pergilah. Kekuatan kalian masih terlalu lemah, kalian hanya akan membebaniku."


...


Nona Liris mengepalkan tangannya dengan erat setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Putri Filia. Hingga kurang dari waktu dua detik, nona Liris melonggarkan genggamannya dan menarik nafas panjang.


Liris:"Huh... Baik Yang Mulia, tolong jaga diri anda."


Nona lIris langsung pergi. Kami mengikuti kepergian Nona Liris dengan didampingi oleh Ilma.


.....


(Filia)...


Hmph, dasar manusia bodoh. Dia bahkan menyerahkan kewarasannya pada makhluk menjijikkan Dark creature itu.


Di Alterion, dark creature adalah makhluk tanpa eksistensi. Biasanya mereka hanya berwujud seperti asap ungu gelap dengan energi negatif yang kuat. Untuk terus ada, mereka harus merasuki makhluk lain dan mengambil alih tubuhnya, atau keberadaan mereka akan segera menghilang dalam kurun waktu tertentu.


Namun, dari creature merupakan makhluk seperti bug dalam sebuah program. Untuk menjadi lebih kuat, mereka hanya perlu mengambil alih tubuh makhluk yang kuat. Sebagai contoh, jika mereka ingin mendapatkan kekuatan Tier tiga, maka mereka hanya perlu merasuki makhluk Tier tiga dan mengambil alih tubuh serta kekuatan mereka. Namun, setelah mengambil alih tubuh, mereka memerlukan waktu beberapa saat untuk menstabilkan tubuh dan kekuatan itu. Lagi pula, awalnya itu bukan kekuatan mereka, jadi wajar jika ada konflik atau ketidakstabilan.


Hanya saja, kemampuan mereka itu hanya bisa berguna untuk makhluk yang memiliki kecerdasan buruk atau makhluk yang secara sukarela mau menyerahkan tubuh mereka sebagai wadah bagi dark creature demi mendapatkan kekuatan instan.


Dari kemampuan mereka itu, mereka memiliki kelemahan fatal, yakni mereka hampir tidak bisa menjadi Tier empat dan di atasnya karena tubuh Tier empat merupakan Mana Body yang sangat berbeda dengan tubuh Tier tiga yang masih tubuh darah dan daging normal.


Untuk menjadi Tier empat, mereka harus menerobos dengan cara mereka sendiri, namun salah satu syarat untuk menjadi Tier empat adalah mana control, yang harus di pelajari secara bertahap mulai dari Tier zero. Makhluk yang mengambil jalan pintas dan melewatkan proses pembelajaran seperti dark creature tidak mungkin memiliki kontrol mana yang baik, kecuali kalau dark creature itu bisa sabar dan menaikkan level seperti makhluk normal. Tapi kebanyakan dari dark creature memiliki bakat yang buruk, jadi eksistensi seperti itu sangat jarang terjadi. Itulah kenapa meskipun kuat, dark creature dikatakan sebagai makhluk cacat atau tikus yang hanya bisa bersembunyi.


Melihat orang itu yang sepenuhnya menjadi monster, aku hanya bisa tertawa. Dengan begini, aku tidak memiliki pertimbangan apakah akan menyelamatkannya atau membunuhnya. Lagi pula aku juga membenci anak itu. Tapi jika aku membunuhnya sebelum dia menjadi monster seutuhnya, mungkin orang lain akan melihatku sebagai gadis brutal dan liar.


Filia:"Aku ingin bermain lebih banyak dengan mu, tapi sepertinya tidak ada banyak waktu..."


Aku mendongak mengabaikan monster itu. Langit di atas kepalaku mulai menjadi lebih gelap karena awan hitam tebal berkumpul untuk membentuk sebuah pusaran raksasa yang menutupi seluruh kota. Petir merah menyambar dan membuat awan hitam itu berkilat dengan warna merah yang membuat suasana menjadi sedikit lebih menyerupai efek dalam film.


Graoo...


Saat aku masih melihat langit, monster itu meraung dan berlari ke arahku.


Filia:"Sudah aku bilang, aku tidak ada waktu untuk bermain denganmu..."


Aku mengepalkan tinju kananku. Salju yang melayang di sekitarku berkumpul di kepalan tanganku dan membentuk lapisan es biru tebal seperti kristal.


Monster itu menggunakan cakar kanannya dan melancarkan serangan padaku secara vertikal. Aku menghindar ke sebelah kanan, dan langsung menunjuk bagian perut monster itu.


Bang...


Aku merasakan bahwa tinjuku masuk ke dalam daging monster itu dan membuat tubuh monster itu terhempas ke belakang seperti bola meriam.


Bang....


Setelah menghantam sebuah batang pohon yang tebal dan mematahkannya, tubuh monster itu merosot ke tanah. Meskipun tidak ada luka fisik yang terlihat, tapi aku dapat yakin bahwa organ dalam perutnya sudah mengalami kerusakan.


Monster yang tengkurap di tanah itu masih menatapku dengan mata penuh kebencian. Aku berjalan ke arah monster itu secara perlahan sambil tersenyum ringan.


Setelah sampai di hadapan monster itu, aku berjongkok dan mengulurkan tanganku ke kepala monster itu. Aku bisa merasakan rambut yang kaku dari kepala kambing itu.


Filia:"Melihat matamu saat ini, kamu seperti binatang peliharaan yang sangat menyedihkan."


Seberkas api putih perak menyala di tanganku dan membakar kepala monster itu.


Graoo... Grao....


Bersama dengan teriakan kesakitan, api perak putih itu mulai menyebar dan membakar seluruh tubuh Monster itu mulai dari kepala hingga ujung kaki, merubah monster itu menjadi abu sepenuhnya dalam waktu kurang dari satu menit.


Melihat tumpukan abu di hadapanku, aku hanya berdiri dan menepuk telapak tanganku. Saat aku mendongak, awan gelap itu masih berputar di sana dengan petir yang semakin sering muncul seperti ular merah di antara awan hitam.


Sebuah lingkaran sihir merah besar muncul di atas akademi. Dari tengah lingkaran sihir, sebuah pilar cahaya merah besar melesat ke langit, tepat ke pusat pusaran awan hitam.


Filia:"Segel?. Apakah dark creature itu disegel dalam formasi itu?."


Swos... Swos...


Arsh:"Filia...!."


Tiba-tiba dari belakang, sosok ibu dan beberapa instruktur datang ke arahku sambil membawa senjata dan armor.


Senjata ibu adalah sebuah pedang yang seluruhnya terbuat dari besi tanpa bahan tambahan. Mata ungu ibu menyala seperti bintang yang indah.


Ibu melompat di antara atap bangunan dan mendarat langsung di depanku. Dia memegang pundakku dan melihatku dari atas ke bawah.


Arsh:"Apakah kamu baik-baik saja?."


Filia:"Iya ibu, jangan khawatir."


Dalsam:"Nona Filia, dimana monster itu?."


Seorang instruktur laki-laki dengan armor coklat dengan senjata tombak bertanya kepadaku. Dia seperti seorang pria yang berusia tiga puluhan dengan rambut kecoklatan pendek.


Filia:"Monster itu bukan masalah lagi."


Aku mengatakan itu sambil menunjuk ke arah tumpukan abu di sebelah pohon besar yang sudah patah.


Arsh:"Apakah monster itu sudah mati?."


Filia:"Ya."


Arsh:"Syukurlah."


Kiki:"Sepertinya ini belum berakhir."


Yang berbicara adalah seorang instruktur perempuan dengan tubuh ramping setinggi sekita 1,6m yang termasuk pendek jika di bandingkan dengan ibu yang lebih dari 1,7m. Wanita itu memakai jubah putih dengan pola emas yang indah. Tudung dari jubah itu menutupi kepalanya, dan menutupi sebagian wajahnya. Namun karena dia mendongak, aku bisa melihat wajah instruktur itu yang masih muda dengan rambut pirang. Ekspresi terlihat serius saat memandang langit.


Melihat dari tongkat sihir yang dia pegang, instruktur wanita itu adalah seorang penyihir tipe support.


Aku juga melihat ke atas. Dari Pusat awan hitam itu, sebuah peti mati sepanjang empat meter berwarna hitam mulai jatuh secara perlahan dan melayang di ketinggian. Rantai ungu berduri melilit peti mati itu dengan erat.


Setelah peti mati itu muncul, bola-bola ungu gelap berbagai ukuran mulai berjatuhan dari awan gelap. Bola-bola itu berjumlah sangat banyak dan hampir memenuhi langit. Ukurannya mulai dari diameter beberapa puluh sentimeter hingga beberapa meter.


Filia:"Aku Filia Rosefield, ketua dari komite siswa. Bagi seluruh anggota komite siswa, aku ingin kalian untuk membantu seluruh siswa pergi ke tempat perlindungan dan membantu para instruktur berjaga. Siswa yang bisa bertarung, aku harap kalian juga mengangkat senjata kalian untuk segera bertarung kapan saja..."


Aku tidak perlu berteriak. Dengan kemampuan mentalku, aku hanya perlu berbicara dengan cara biasa dan menyampaikan suaraku langsung ke seluruh siswa di akademi.


Bola-bola ungu hitam itu terus berjatuhan ke seluruh kota dengan jumlah yang sangat banyak.


Filia:"Instruktur, segera beritahukan keadaan darurat ke seluruh kota dan minta para kesatria untuk bersiap."


Arsh:"Filia sayang, ada apa?."


Filia:"Terdapat kehidupan monster di dalam bola-bola itu. Jika monster-monster itu keluar, itu akan menjadi bencana bagi seluruh kota."


Ibu terdiam untuk beberapa saat kemudian menarik nafas panjang dan mengangguk.


Arsh:"Aku mengerti. Segera sampaikan berita ini kepada kesatria penjaga kota secepatnya."


"Dimengerti."


Seorang instruktur segera pergi dengan cepat, hanya menyisakan aku dan tiga orang ibu.


Bola-bola ungu hitam itu berjatuhan dengan cepat, tapi meskipun jatuh dari ketinggian seperti itu, bola-bola itu tetap utuh dan tidak pecah. Atap berbagai bangunan di hancurkan oleh bola-bola ungu yang tak terhitung jumlahnya. Dengan kekuatan mental, aku bisa melihat para Siswa yang belum diungsikan sepenuhnya, mulai berteriak panik saat melihat pemandangan seperti itu. Mereka berlari cepat ke arah tempat berlindung sambil meletakkan tangan di atas kepala untuk melindungi kepala mereka dari puing yang berjatuhan.


Bang... Bang... Bang...


Aku, ibu, dan yang lainnya mulai memukul dan menjauhkan bola-bola aneh yang berjatuhan ke arah kami, membuat ruang kosong di sekitar kami.


Melihat jumlah yang sebanyak ini, aku merasa sedikit buruk. Bukan karena aku takut, tapi aku rasa seluruh kota akan menjadi sangat kacau dari kejadian ini...


(Akhir chapter ini.)