
aku membawa Ilma lari cukup jauh dari tempat kejadian dan berhenti untuk mengambil nafas. saat berhenti aku menoleh kebelakang untuk melihat Ilma, dia menundukkan kepala dengan kedua tangan yang mengepal erat, tubuhnya bergetar.
apa dia takut padaku?. apa dia akan berubah membenciku atau menganggap ku sebagai monster berdarah dingin?.
meski dia menganggap ku Monster, aku juga tidak bisa menyalahkannya, seorang gadis kecil yang melihat seseorang terbunuh dengan kejam di depan matanya pasti akan merasa takut kepada pembunuhnya kan.
Filia:"Ilma.."
aku mencoba meraih Ilma dan berbicara pelan kepadanya. dia tidak menanggapi suaraku, tanpa sadar aku menarik kembali tangan ku yang terulur ke arah nya.
Filia:"apa kamu takut padaku..?"
aku... aku seharusnya tidak mengambil keputusan dengan cepat kan?!. dan ada apa dengan ku?. aku membunuh manusia tapi tidak merasakan apapun.
mungkin mental ku juga sudah berubah atau aku mungkin memang monster berdarah dingin?.
dulu saat bermain Alterion aku menggunakan mode grafis ultra realistis, dimana semuanya akan terlihat nyata, termasuk mayat dan bekas luka. apa itu juga merubah mentalitas ku menjadi kejam?!.
Ilma:"putri maaf..."
aku mendengar suara Ilma yang sepertinya berbicara sambil menangis, hatiku terasa masam dan sakit saat mendengar suaranya.
ada apa dengan permintaan maaf itu?, tidak ada yang perlu di salah kan jika kamu takut bukan?.
Ilma:"maaf... andaikan saya lebih kuat, saya bisa melindungi putri dan tidak bergantung pada Putri lagi. saya tidak berguna"
tunggu?!. dia tidak takut?. dia hanya merasa bersalah karena aku melindunginya dan bukan dia yang melindungi ku?. kesetiaan macam apa ini?.
Filia:"apa kamu tidak takut padaku?"
setelah aku bertanya, Ilma mengangkat wajahnya yang berlinang air mata.
Ilma:"tidak. saya, saya hanya merasa tidak berguna. seharusnya saya yang melindungi putri"
sambil berbicara Ilma menggenggam tangannya lebih erat lagi. aku langsung melangkah maju dan memeluknya dengan erat.
Filia:"aku kira....aku kira kamu takut padaku"
tanpa sadar air mata ku juga menetes, ini adalah air mata kerena merasa lega. aku kira Ilma akan takut dan pergi meninggalkan ku. aku kira aku akan kehilangan sahabatku.
perasaan tidak mau di tinggalkan ini begitu kuat, aku tidak mau kehilangan sesuatu yang berharga lagi.
aku merasakan tepukan di kepalaku, saat aku mendongak, Ilma sedang menatap ku.
Ilma:"saya pernah berjanji, apapun yang terjadi Ilma ini akan selalu bersama tuan putri"
Filia:"iya"
perasaan ku mulai tenang. aku tidak merasakan apapun saat menghabisi nyawa seseorang, tapi sepertinya hatiku sangat rapuh dengan hal-hal melankolis seperti ini. bahkan kurasa aku agak cengeng setelah mengambil alih tubuh ini, mungkin ini terinfeksi oleh perasaan pemilik sebelumnya. biar bagaimanapun pemilik sebelumnya adalah gadis kecil yang lembut dan rapuh.
karena aku dan Ilma sudah cukup lama di luar kami berdua berencana untuk kembali ke mansion sebelum ada yang mencurigai bahwa aku menyelinap pergi. meski berencana kembali sesegera mungkin, aku masih menyempatkan diri untuk melihat beberapa tempat yang menurutku menarik.
melewati gerbang bangsawan, aku segera terbang bersama Ilma menuju mansion of Rosefield. kami mendarat di taman belakang dan segera melepas jubah hitam yang kami kenakan.
supaya tidak ada yang curiga, kami langsung melompat ke balkon kamarku dan segera menyuruh Ilma untuk mengganti pakaian nya dengan pakaian maid.
aku turun dari tangga bersama Ilma yang mengikuti di belakangku seperti biasa. sampai di lantai bawah aku langsung merasakan niat membunuh yang sangat kental.
dengan cepat sebuah bilah angin datang menghampiriku, karena refleks yang cepat, aku berhasil menangkis bilah angin itu, tapi meski aku berhasil menangkis serangan itu, lantai dan dinding serta beberapa perabotan di sekitar hancur terkena dampak dari serangan.
aku baru turun dan sudah ada yang mencoba membunuh ku?. seberapa berani mereka menerobos mansion of Rosefield.
setelah asap dan debu mengendap, ada sosok yang langsung menerkam ku. ini bukan serangan seperti yang aku harapkan, tapi ini adalah sebuah pelukan yang erat.
Harnas:"sayang... apa kamu baik-baik saja?!"
itu adalah ibu, tubuhnya bergetar karena ketakutan.
Filia:'ibu?"
pelukannya sangat erat. aku mengangkat wajah ku dan melihat ayah berlari dengan cepat ke arahku dengan wajah khawatir. dia berusaha untuk meraih ku, tapi sebelum itu...
plak...
ibuku menampar tangan ayah yang berusaha menjangkau ku dengan keras hingga Suara tamparannya bergema di seluruh ruangan.
Harnas:"jangan pernah menyentuh nya dasar sampah"
ini pertama kalinya aku mendengar ibu mengumpat dengan kata-kata kasar. biasanya ibu akan selalu menunjukkan sikap anggun dan tegas seorang bangsawan sekaligus Marshal.
ayah hanya memalingkan mukanya dengan ekspresi yang tidak berdaya dan tanpa sepatah katapun, meski begitu aku bisa dengan jelas melihat bahwa ada kesedihan di mata ayah.
sebelum aku bisa memahami apa yang terjadi, aku melihat seorang gadis kecil dengan rambut coklat kemerahan yang menghampiri ayah dan membelai tangan ayah yang memerah karena tamparan.
gadis itu sekitar dua tahun lebih muda dariku dengan wajah polos dan Mata bulat besar berwarna aprikot.
apa ini adegan legendaris, dimana seorang bangsawan memiliki anak tidak sah di luar dan kemudian dia membawanya ke keluarga karena suatu alasan?. bukankah ini seperti plot dimana aku akan menjadi villain dalam sebuah novel?. apa aku akan masuk ke dalam plot dimana aku akan menjadi saudari jahat dan penindas?.
tidak, tidak, tidak, aku tidak mau menjadi tokoh saudari jahat yang akan berakhir buruk. tapi melihat wajah ibuku yang penuh amarah dan kekecewaan aku tidak keberatan untuk menjadi penjahat.
namun, aku juga tahu bahwa jika memang kejadiannya seperti yang aku bayangkan, anak itu tetap tidak bersalah. semua dosa dan kesalahan akan di limpahkan kepada orang tuanya yang telah melewati batas.
semua kesalahan ini adalah kesalahan ayahku. bukankah dia sangat mencintai ibu?. kenapa ayah memiliki wanita lain di luar?. setelah memikirkannya dengan baik sepertinya ada sebuah potongan cerita yang tidak lengkap.
Harnas:"huh... aku akan membawa Filia pulang ke Holy Kingdom dan tinggal bersama dengan orang tuaku"
ibu menarik menghela nafas dan segera ekspresi nya berubah kembali seperti biasanya, hanya saja kekecewaan dan kesedihan di matanya tidak bisa di sembunyikan. meskipun aku belum pernah mengalaminya sendiri, aku bisa tahu betapa kecewanya ibu saat ini.
Rovell:"tunggu... aku.."
sepertinya ayah ingin mengatakan sesuatu tapi di tengah ayah menghentikan kata-katanya dan nampak ragu-ragu untuk melanjutkan.
aku melepaskan diri dari ibu ku dan berjalan melewati ayah dan ibu.
Filia:"sebaiknya ayah dan ibu membicarakannya terlebih dahulu. saya akan pergi ke taman belakang terlebih dahulu untuk memberi ayah dan ibu waktu berbicara. Ilma bawa anak itu!"
aku tahu bahwa ayah sangat mencintai ibu, ayah pasti punya penjelasan untuk ini. sepertinya ayah ragu-ragu untuk menjelaskannya karena masih ada sesuatu yang sulit untuk di ungkapkan.
aku akan memberi ayah dan ibu waktu berbicara supaya mereka berdua bisa saling terbuka satu sama lain dan masalah ini dapat menemui titik terangnya.
aku hanya memikirkan, jika aku menerima gadis kecil ini belum tentu ibu akan menerimanya. dan aku bahkan tidak tahu harus bagaimana menghadapi gadis kecil ini setelah keadaan canggung tadi.
memang aku mengharapkan seorang adik perempuan yang manis, tapi tidak dengan cara yang seperti ini.
kami bertiga akhirnya sampai di taman belakang mansion.aku bejalan menuju tempat duduk di sebuah gazebo di taman sementara gadis itu hanya berdiri dan menunduk tanpa sepatah katapun di hadapanku.
huh.... masalah ini cukup rumit. mungkin aku harus bertanya terlebih dahulu kepada gadis ini.
sambil memikirkan banyak hal, aku menyesap teh merah yang di sediakan Ilma.
Filia:"siapa namamu?"
"s,saya Felmina Rosefield"
Rosefield?. jadi apa benar seperti yang aku duga?.
Filia:"apa hubungan mu dengan ayah ku?"
Felmina:"tuan Rosefield sangat baik kepada keluarga saya. setelah ayah saya meninggal tuan Rosefield mengadopsi saya dan memberikan nama Rosefield"
tunggu?. jika seperti itu, ini berarti aku sudah salah paham sejak awal kan?!. ayah maaf kan aku kerena tidak mempercayaimu.
jika masalahnya seperti ini, ini dapat berakhir dengan baik kan?!. aku tinggal menunggu hasil pembicaraan dari ayah dan ibu, aku harap mereka akan saling mengerti dan ayah akan menjelaskannya dengan baik.
(akhir dari chapter ini)