
Kapal mulai mengurangi ketinggian dan mendarat di tempat yang sudah di sediakan. Tempat mendarat kali ini berbeda dengan saat aku di bawa ke Moon Palace saat itu. Saat ini, tempat mendarat kapal berada di permukaan tanah. Tempat mendarat ini mirip seperti sebuah pelabuhan dengan peron pendaratan yang sangat panjang di sebelah kanan dan kirinya, selain itu pelabuhan ini juga di bangun di ketinggian sekitar 30-35m di atas permukaan tanah. Di tengah peron, terdapat jalur tempat mendarat. Saat kapal udara mendarat di jalur yang sudah di sediakan, tiba-tiba lambung kapal di apit oleh cakar besi untuk mempertahankan keseimbangannya.
Galerina:"Silahkan lewat sini."
Kami mengikuti maid Galerina menuju jalan keluar. Seperti yang aku tahu, jalan keluar dari kapal Moon Palace merupakan sebuah tangga cahaya yang sangat indah. Begitu kami mendarat di platform dan berdiri berdampingan dengan kapal raksasa ini, kami benar-benar terlihat seperti seekor semut yang berdiri di samping gajah.
Setelah semua orang turun, kapal itu di bawa pergi oleh cakar-cakar penjepit itu melalui jalan seperti rel dan di parkir di tempat yang sudah di sediakan.
Phirios:"I, ini... Seberapa kaya tempat ini?!."
Kharel:"Astaga... I, ini...?!"
Banyak orang yang sangat terkejut. Bukan karena ukuran kapal, tapi di samping kapal itu masih terlihat banyak deretan kapal-kapal lain yang mirip, setidaknya ada lebih dari lima puluh kapal yang terparkir di tempat ini.
Lusi:"humph... Aku pernah mendengar seseorang yang sangat bangga dengan kekayaannya dan meremehkan peringatan Yang Mulia Aneria. Tapi sekarang, sepertinya orang itu sadar bahwa dia hanyalah pengemis yang mencoba membandingkan dirinya dengan seorang Raja."
Mendengar keterkejutan Phirios dan Kharel, Lusi tidak bisa tidak mencibir. Ya, saat aku memperingatkan Phirios, dia hanya tertawa sinis dan berkata bahwa dia akan menghancurkan Moon Palace, sebuah kekuatan kecil yang tidak berharga. Dia juga mempertanyakan tentang sumber daya perang macam apa yang bisa di miliki kekuatan tak bernama seperti Moon Palace.
Saat itu, semua kata-kata yang dia ucapkan benar-benar menghina dan meremehkan, bahkan dia tidak menghiraukan sedikitpun peringatan yang aku berikan. Tapi saat ini, mereka menyadari bahwa nampaknya merekalah yang hanya orang miskin, tidak... mereka bukan orang miskin, tapi orang keterbelakangan mental.
Menghadapi sinisme dari Lusi, Phirios dan para bangsawan lain yang sempat meremehkan sumber daya yang dimiliki Moon Palace, mereka hanya bisa diam dan menelan ketidakpuasan mereka atas kata-kata Lusi. Bagaimanapun, fakta telah menampar wajah mereka.
Galerina:"Ini adalah sebagian dari bahtera kami. Selain serangan Proyektil jarak dekat dan menengah, kapal ini tidak memiliki mode serangan lain karena kapal ini hanya di peruntukkan sebagai sarana pengangkutan, bukan untuk berperang."
Kharel:"A, apakah masih ada lagi?."
Galerina:"Ya, ini merupakan pelabuhan udara nomor 0137. Selain yang tersimpan dalam galangan atau yang masih di bangun oleh para pengerajin, bahtera yang lain tersebar di berbagai pelabuhan udara lainnya."
Prajurit yang mendengar hal itu hanya bisa membuka mulut tanpa bisa berbicara sepatah katapun. Jangankan prajurit itu, bahkan para bangsawan juga membuka lebar mulut mereka. Mungkin bagi orang biasa jumlah kapal seperti ini hanya menandakan kekayaan, tapi bagi para bangsawan yang memiliki ambisi, ini adalah kekuatan. Bayangkan saja, ratusan ribu, atau bahkan jutaan prajurit akan di angkut oleh kapal raksasa itu ke Medan perang. Tentunya itu adalah hal yang sangat strategis dan membuang banyak masalah. Baik itu pengiriman personil atau pasokan jarak jauh, itu akan menjadi jauh lebih mudah.
Dan menilai dari kata-katanya yang menyebutkan angka empat digit, itu berarti bahwa setidaknya ada 1000 pelabuhan udara seperti ini. Jumlah yang sangat mencengangkan.
Phirios:"I, itu... Apa itu?!."
Phirios bertanya sambil menunjuk ke suatu tempat. Mengikuti jari telunjuknya, aku bisa melihat bahwa dia menunjuk langsung ke Moon Palace yang berdiri kokoh seperti gunung berlian.
Galerina:"Itu merupakan Moon Palace, tempat dimana Yang Mulia tinggal."
Phirios:"Sebesar itu?."
Seorang pangeran yang sangat sombong, benar-benar terlihat seperti orang udik desa setelah dia sampai di tempat ini. Yah, aku juga tidak akan menghinanya, lagi pula ukuran istana itu benar-benar keterlaluan. Ukurannya sendiri jauh lebih tinggi dan besar daripada gunung tertinggi yang pernah aku lihat.
Selain mengagumi istana di kejauhan, kami juga melihat bangunan-bangunan kota yang menjulang tinggi seperti tiang-tiang penyangga langit. Karena bangunan-bangunan itu sendiri setinggi puluhan hingga ada beberapa yang setinggi ratusan meter, kami hanya melihat sebagian saja.
Galerina:"Maaf semuanya, sepertinya anda akan tinggal di sini sedikit lebih lama. Ini karena kapal penjemput kami masih dalam perjalanan."
Sambil menunggu, kami beristirahat di sebuah ruangan yang cerah dan sangat bersih. Di dalam ruangan ini terdapat banyak orang yang mengerjakan tugasnya masing-masing. Orang-orang itu memeriksa barang bawaan kami.
Kami menunggu tidak terlalu lama dan lima buah kapal yang lebih kecil datang ke peron dari arah kota. Meskipun aku mengatakan lebih kecil, kapal itu sendiri sepanjang ratusan meter dengan bentuk yang ramping. Desain kapal ini juga sangat berbeda, dengan seluruh kapal berwarna hitam dan lambang burung perak di beberapa bagian. (Mirip dengan kapal ruang angkasa)
Setelah kelima kapal itu mendarat sempurna, pintu palka mulai terbuka. Dari dalam kapal, keluar seorang kesatria wanita dengan armor biru metalik. Dia memegang sebuah senjata yang mirip tombak sepanjang 1-2m, tapi bagian ujung tombak itu bukanlah besi tajam seperti yang aku tahu, melainkan mirip seperti sebuah Blade bergerigi. (Guan Dao). Warna gagang senjata itu berwarna merah, sementara di bilahnya berwarna biru metalik yang hampir seragam dengan armor yang di kenakannya.
"Segera berangkat, Yang Mulia sudah menunggu."
Kesatria wanita itu sangat dingin dan hampir tanpa ekspresi. Dia hanya mengatakan kalimat itu dan segera berbalik menunggu kami di samping pintu kapal.
Galerina:"Mari..."
Galerina memimpin kami untuk masuk ke dalam kapal udara itu. Karena masih banyak orang dari kami, jadi kami berpisah dan di bagi di kapal yang berbeda. Di dalam kapal terlihat lebih sederhana, dengan beberapa orang berpakaian rapi yang lalu lalang. Dilihat dari pakaian dan kesibukan mereka, nampaknya mereka adalah operator dari kapal ini, atau setidaknya anggota kru.
Aneria:"Kapal ini terlihat berbeda."
Aku benar-benar penasaran. Di Moon Palace, aku melihat bahwa kapal di sini memiliki banyak jenis dengan fungsi yang berbeda-beda. Perlu di ketahui, kapal udara yang aku tahu sebelumnya hanya dua jenis, yakni: Kapal perang dan kapal angkutan yang biasanya di gunakan oleh para pedagang super kaya atau angkutan para bangsawan.
Namun, setelah aku bertemu dengan Moon Palace, aku sudah melihat setidaknya 4 jenis kapal, yakni: Bahtera, kapal penumpang kecil, kapal perang, dan kapal pengintaian yang bisa menjadi tidak terlihat.
Meskipun bahtera dan kapal penumpang kecil masih sama-sama kapal penumpang, tapi mereka memiliki fungsi yang berbeda. Bahtera di gunakan untuk angkutan sejalan besar, sementara kapal angkutan kecil di gunakan untuk angkutan skala kecil juga. Tapi, di tempatku baik itu kapal angkutan, atau kapal perang, mereka memiliki bentuk desain dan ukuran yang hampir mirip, tidak terlalu berbeda seperti kapal Moon Palace yang benar-benar terdapat perbedaan yang sangat mencolok.
Galerina:"Ini kapal kelas destroyer meskipun daya serangnya masih kalah dengan battleship, tapi kapal ini masih cukup kuat. Kapal ini memiliki 10 meriam Proton, 20 meriam energi panas, 3 meriam elektromagnetik dengan kecepatan proyektil subluminal, senjata energi kecil untuk pertahanan jarak dekat, dan beberapa misil subluminal berdaya ledak tinggi. Untuk mengangkut semua itu, baik ruangan maupun dekorasi di dalam kapal di buat seminimal mungkin untuk menambah ruang sekaligus mengurangi beban. Meskipun demikian, kapal ini masih bisa mengangkut setidaknya 5000 orang, jadi tidak perlu khawatir."
Aku tidak tahu banyak tentang apa yang di katakan oleh maid Galerina, tapi aku tahu bahwa kapal ini pasti sangat kuat.
Galerina:"Saya hanya akan menemani anda sampai di sini, anda di persilahkan untuk memilih ruangan beristirahat. Jika anda membutuhkan saya, anda tinggal memanggil saya menggunakan alat komunikasi yang tersedia."
Setelah mengatakan itu, maid Galerina berjalan berlawanan arah dengan kami, dan pergi bersama kesatria berarmor biru itu. Tanpa bisa melakukan apapun, kami masing-masing memilih kamar untuk beristirahat sementara hingga kapal sampai di tujuan.
Kesatria perempuan berarmor biru itu berjalan lebih dulu bersama Galerina dan memimpin kami melewati gerbang itu. Ini pengalaman baru bagiku, waktu di bawa kesini, aku langsung melewati gerbang teleportasi, jadi aku belum melihat bagian dalam istana ini selain ruang takhta dan sebagian kecil tempat.
Jalannya tidak berkelok-kelok ataupun rumit, bisa di katakan bahwa kami hanya melewati beberapa belokan yang sederhana. Di sepanjang jalan, aku memperhatikan bahwa ksatria yang menjaga di tempat-tempat itu mulai berubah. Mulai perak yang berjaga di luar hingga ksatria mas di dalam.
Selain itu juga banyak kesatria yang lain, atau setidaknya aku menganggapnya seperti itu. Para kesatria itu memiliki tubuh yang tinggi sekitar 2-3m dengan armor yang menutupi seluruh tubuh mereka selain kepala. Jika bagian kepala mereka tidak terbuka, aku akan mengira bahwa mereka adalah Golem besi yang berdiri di sana.
Armor mereka sangat aneh, beberapa bagian menyala seperti batu cahaya, dan armornya sangat rumit. Aku bahkan belum pernah melihat desain armor seperti ini. (Armor sci-fi).
Akhirnya kami di bawa ke sebuah pintu yang sangat besar dengan lebar sekitar 8m dan tinggi lebih dari 20m yang sangat luar biasa. Pintu ini berwarna coklat dengan berbagai ukiran berlapis emas dan perak. Di samping kanan dan kiri pintu itu ada dua orang kesatria berarmor biru dengan tombak di tangan mereka.
Melihat kami dan kesatria biru yang memimpin, para kesatria penjaga pintu itu mengangguk sedikit dan membuka pintu dengan menempelkan tangan mereka ke bola kristal. Pintu besar terbuka secara perlahan. Semakin pintu terbuka, bidang pandang kami juga menjadi semakin luas.
Setelah pintu terbuka sepenuhnya, aku bisa melihat langsung ke dalam ruangan. Kami di pimpin untuk memasuki ruangan oleh kesatria biru dan Galerina. Tidak kalah dengan pintunya, ruangan ini juga sangat besar. Saat pertama masuk, kami di sambut dengan deretan ratusan orang yang berbaris di kedua sisi karpet merah di bawah kaki kami. Barisan pertama di kanan adalah kesatria berarmor biru dan bersenjata sama dengan yang memimpin kami, sementara di bagian kiri adalah orang-orang yang memakai jubah biru dengan tudung kepala. Di tangan mereka memegang tongkat berulir dengan kristal transparan di atasnya.
Baru beberapa langkah dari pintu, kesatria yang memimpin kami membungkuk ke arah takhta lalu pergi ke barisan bersama ksatria biru yang lain.
Galerina:"Mari..."
Galerina berbalik memandang kami sambil tersenyum dan membawa kami terus maju di karpet merah. Karpet merah ini cukup panjang, sekitar 200m atau lebih. Di atas kepala kami ada lampu kristal gantung yang indah dan sangat rumit, lampu-lampu kristal ini berjejer hingga ke ujung karpet merah, setidaknya ada sekitar dua puluh lampu kristal.
Di ujung karpet merah terdapat platform yang lebih tinggi yang merupakan tempat singgasana. Di atas platform itu terdapat lima kursi takhta?. Ini sangat baru bagiku, tidak peduli ke kerajaan mana aku pergi, ruang takhta seharusnya hanya memiliki satu singgasana, tapi disini, itu memiliki lima?.
Semakin kami mendekat ke takhta, baris yang awalnya kesatria mulai berubah menjadi maid yang memiliki pakaian sama dengan Galerina. Tidak seperti kesatria biru, Galerina tidak langsung datang ke barisan maid, tapi terus memimpin kami ke singgasana. Setelah barisan maid, di bawah platform, barisan berubah lagi. Kali ini yang menempati barisan sangat berbeda dari sebelumnya, melihat dari pakaian dan fisik mereka, mereka berasal dari ras yang berbeda.
Aku mengenal beberapa di antara mereka, di antaranya ada nona Arkne dan nona Upirina yang berdiri di sebelah kanan, di samping mereka terdapat delapan orang lain termasuk wanita aneh yang menemui ku waktu itu, sementara itu, di sebelah kiri, aku melihat nona Mimosa yang berdiri dengan delapan orang lainnya.
Setelah sampai di sini, aku menyadari bahwa baik kesatria sampai pelayan yang ada di sini semuanya adalah perempuan. Aku hanya melihat kesatria laki-laki di luar istana. Aku tidak tahu apakah ada tujuan dari pengaturan seperti itu, tapi aku merasa bahwa hal seperti ini... Emm... sedikit, unik?.
Aku berhenti memperhatikan barisan itu dan melihat ke arah singgasana. Di atas singgasana paling tengah, duduk seorang gadis cantik dengan pakaian indah. Bulu mata yang lentik, kulit yang putih bersih, dan rambut kaleidoskop yang berkilau di bawah cahaya lampu kristal.
Dengan kedatangan kami, Yang Mulia Filia tidak memandang sedikitpun, melainkan matanya masih tertuju pada buku yang ada di tangannya dan terus membaca. Buku itu memiliki sampul berwarna biru dengan hiasan emas yang indah. Aku penasaran, tapi aku tidak berani menatap buku itu terlalu lama. Siapa yang tahu jika nanti tatapanku di salah artikan sebagai tindakan tidak sopan.
Meskipun Yang Mulia Filia tidak melihat kami secara langsung, tapi aura karismatik sebagai seorang pemimpin tetap tumpah dan dapat di rasakan oleh semua orang.
Jarak beberapa meter jadi tangga menuju ke platform, Galerina berhenti dan berlutut di tanah dengan satu lutut untuk memberikan hormat.
Galerina:"Pelayan Galerina telah menyelesaikan perintah, Yang Mulia."
Setelah galerina mengatakan itu, Yang Mulia Filia masih tidak mengalihkan perhatiannya dari buku. Baru setelah beberapa detik, Yang Mulia Filia mengangkat kepalanya dan menatap ke arah kami.
Filia:"Kerja bagus... kamu bisa kembali ke barisan!."
Galerina berdiri dan membungkuk, setelah itu pergi ke barisan para maid di samping. Yang Mulia Filia menutup buku itu dan menatap kami, tidak ada kemarahan atau ketidakpuasan di matanya. Mata itu tetap tenang seperti air danau.
Aneria:"Hormat saya Yang Mulia."
Aku segera berlutut ke arahnya. Bukan hanya aku, tapi juga kesatria bawahanku juga ikut berlutut. Bagaimanapun, kami sudah memutuskan untuk mengabdi kepada Yang Mulia, jadi tidak ada beban bagiku untuk berlutut. Namun, itu berbeda untuk Phirios dan yang lainnya, mereka tidak berlutut dan tetap berdiri.
Arkne:"Sangat tidak sopan di depan Yang Mulia, kalian tidak layak untuk hidup!."
Swoss...
Filia:"Hentikan!."
Suara siulan angin terdengar dari samping menuju ke arah Phirios dan yang lainnya. Siulan itu berasal dari sebuah kapak hitam yang di ayunkan ke arah Phirios dengan kecepatan yang sangat tinggi. Namun, tepat sebelum kapak itu menyentuh mereka, suara Yang Mulia Filia menghentikan tindakan nona Arkne.
Aku yakin, jika sampai serangan itu tidak di hentikan, group Phirios yang tersisa dapat di hitung dengan jari. Bagaimanapun, aku sudah melihat sendiri kengerian dari nona Arkne.
Filia:"Arkne, kembali ke posisi!."
Mendengar perintah Yang Mulia Filia, nona Arkne menurunkan kapaknya dan membungkuk hormat kepada Yang Mulia.
Arkne:"Maafkan saya, Yang Mulia."
Setelah nona Arkne pergi, Phirios dan beberapa orang lainnya di barisan terdepan hampir jatuh karena ketakutan. Keringat dingin menetes di dahi mereka yang sudah pucat.
Yang Mulia memandang kami dan berbicara dengan perlahan.
Filia:"Meskipun kalian hanya melakukan tindakan kecil, tapi tindakan kalian masih menggangguku. Jadi... Aku harus mengambil beberapa tindakan untuk membersihkan hal yang mengganggu itu, Untuk... Selamanya..."
(Akhir dari chapter ini.)
Typo dan kesalahan bisa langsung di beri tahukan. Jika kalian punya pertanyaan, author akan senang menanggapinya, jadi jangan sungkan-sungkan untuk bertanya.