Still Loved Even In The New World

Still Loved Even In The New World
CHAPTER 149: Simfoni Medan Perang.



"Aku sangat berterima kasih atas kesabaran kalian menemaniku berlatih. Sekarang, syarat exp dan level komprehensif ku telah terpenuhi. Selanjutnya, perang yang sesungguhnya akan di mulai...!"


Beberapa saat setelah kata-kata itu berakhir, langit mulai memunculkan banyak lubang bundar gelap yang memiliki ukuran berbeda. Banyak kapal udara keluar dari lubang-lubang itu secara perlahan. Satu demi satu, hingga mereka memenuhi angkasa seperti awan gelap yang tiba-tiba muncul.


Dengan kedatangan kapal itu, benar-benar mengejutkan semua orang, bahkan teriakan prajurit pun terhenti, membuat seluruh Medan perang menjadi sunyi senyap.


Apa-apaan ini. Kapal udara mereka yang berbentuk aneh itu berukuran lebih besar dan lebih banyak daripada kapal udara kami. Bagaiman mungkin sebuah negara yang tidak di kenal memiliki kekuatan seperti itu?.


Kapal udara itu tidak seperti kapal kami yang terbuat dari kayu, tapi kapal mereka terbuat dari logam. Kapal-kapal itu melayang di udara seperti monster yang mengawasi Medan perang.


Zhao Yun:"Tembak... Tembak kapal udara musuh. Siapkan meriam pemusnah di seluruh kapal, dan hancurkan kapal mereka. Aku tidak percaya bahwa kapal sebesar itu dapat menghindari serangan kita."


Aku pulih dari keterkejutan dan langsung memberi perintah kepada para prajurit. Aku tidak mungkin memberi musuh kesempatan untuk menyerang duluan. Sebelum mereka menyerang, aku harus menyerang mereka terlebih dahulu dan menghilangkan ancaman itu.


Meriam silinder dengan panjang Seratus meter di setiap kapal mulai membidik ke arah kapal musuh. Aku memiliki kepercayaan yang sangat besar kepada meriam ini. Meskipun meriam ini sekilas mirip dengan meriam di benteng, tapi sebenarnya meriam ini merupakan versi yang jauh lebih kuat.


Cahaya biru mulai menyala di moncong setiap senjata. Karena memerlukan mana yang sangat besar, setiap meriam perlu di isi mana selama 30 detik sebelum dapat di tembakkan. Meskipun itu lama, tapi dengan sasaran yang sebesar itu, bagaiman mungkin mereka akan menghindarinya?!.


Setiap kapal udara di lengkapi dengan dua buah meriam yang dioperasikan oleh 4.000 penyihir setiap meriamnya. Jadi, waktu meriam siap di tembakkan, tiba-tiba langit merah di terangi oleh lebih dari seratus cahaya biru yang sangat terang. Jarak sekitar 1000m dapat di lalui oleh cahaya biru itu dalam sekejap mata.


Seperti yang aku duga, kapal udara musuh samasekali tidak bergerak. Mereka hanyalah sasaran empuk untuk meriam.


Bang...!!


Ledakan besar segera terjadi, kapal terdepan musuh segera di selimuti oleh cahaya biru yang sangat menyilaukan. Ledakan itu sangat besar hingga gelombang kejut yang di hasilkan mampu untuk mengangkat debu di tanah setinggi beberapa ratus meter.


Setelah cahaya menghilang, yang aku lihat selanjutnya sangat mengejutkan. Aku sama sekali tidak melihat kapal yang meledak menjadi debu, tapi aku melihat bahwa kapal udara musuh masih tetap utuh tanpa goresan. Ada sekitar seratus kapal yang terkena serangan itu, tapi tidak satupun di antara mereka yang di hancurkan. Konsep macam apa ini?!.


Aku melihat bahwa kapal-kapal itu memiliki lapisan cahaya biru transparan di depan mereka. Meskipun aku tidak tahu apa itu, tapi aku yakin bahwa itulah yang menahan serangan meriam.


Zhao Yun:"A, apa yang terjadi... Bagaimana, bagaimana ini mungkin?!."


Senjata rahasia kekaisaran, bahkan tidak mampu untuk menggoreng kapal mereka?. Tidak, tidak mungkin. Aku tidak percaya pada kejahatan ini. Meskipun pikiranku berteriak demikian, tapi dalam hati, aku tahu bahwa ini terjadi.


"Hahahaha....!"


Tiba-tiba aku mendengar suara tawa yang sangat nyaring datang dari dalam jiwa dan menyebar di seluruh Medan perang. Aku mencoba untuk menemukan asal tawa itu. Saat itulah aku melihat bahwa yang tertawa itu ada seorang gadis muda berambut merah terang seperti api.


Gadis itu berdiri di moncong kapal udara terbesar di barisan terdepan. Gadis muda itu memakai armor yang sama merahnya dengan rambut yang dia miliki. Dia berdiri di sana dengan tawa sembrono sambil tangan kanannya memanggul sebuah pedang besar di pundaknya, seperti gadis pemberontak yang sulit di atur.


"Sebuah serangan penuh Tier empat ingin menjatuhkan «Earth»?. Kalian sungguh bermimpi."


Saat gadis berambut merah itu masih berbicara, mataku teralihkan oleh kilatan cahaya emas dari arah gadis bersayap putih perak. Saat mata pengawas menyoroti daerah itu, aku melihat bahwa armor gadis itu telah berubah. Armor yang rusak itu telah berganti menjadi armor lain yang terlihat baru, warnanya juga sama emas, tapi desain dari armor itu berbeda. Saat ini, armor yang dia kenakan memiliki ekor emas panjang seperti kalajengking.


"Bersiap untuk perang...!"


(Aneria)


Aku sangat yakin bahwa senjata yang di tembakkan oleh kekaisaran Xuan Ming sangat kuat, namun meskipun sangat kuat, tapi senjata itu bahkan tidak mampu untuk menembus pertahanan dari kapal induk ini.


"Sister Mala... Tembak mereka...!"


Itu adalah suara nona Rubidea yang duduk di atas kapal udara. Nona Rubidea adalah gadis yang cantik dengan kepribadian yang sangat bersemangat dan ceria. Menurut apa yang aku ketahui dari nona Arkne, nona Rubidea adalah salah satu petarung yang setingkat dengannya.


Nona Rubidea memiliki sosok yang ramping dan tinggi dengan rambut merah menyala. Dia membawa senjata berupa pedang besar dengan ukiran api yang sangat rumit berwarna merah di atasnya.


Malahayati:"Tidak. Sesuai perintah Yang Mulia, kita tidak di izinkan menembak supaya tidak mengejutkan ular dan membuat mereka melarikan diri. Perang ini adalah latihan untuk pasukan kita, jadi kita harus mengikuti langkah demi langkah."


"Oke, aku mengerti..."


Laksamana Malahayati membalas nona Rubidea dengan suara yang lembut dan sangat tenang. Selain lima jenderal agung, dalam perang, perintah nona Arkne adalah yang tertinggi, tapi jika dalam armada, nona Arkne dan bahkan kelima jenderal agung tidak akan lebih tinggi dari Laksamana Malahayati. Meskipun kelima jenderal agung jauh lebih kuat dan memiliki posisi yang jauh lebih tinggi, tapi mereka hanya berani memberi perintah dasar kepada armada. Dan untuk eksekusi dari perintah itu, itu terserah pada Laksamana Malahayati yang memimpin armada.


Arkne:"Kita hanya akan menurunkan Pasukan Zero dan Tier satu sementara Tier 2 dan di atasnya akan bersiap untuk musuh yang tidak di ketahui."


"Bersiap untuk perang...!"


Tiba-tiba suara Yang Mulia Filia bergema. Semua pasukan serta para petinggi yang saat ini berada di ruang Takhta langsung bergerak cepat. Palka segera di buka dan ribuan prajurit Keluar dari kapal-kapal yang mengapung di udara, seakan gerombolan lebah keluar dari sarang mereka. Langit segera di penuhi oleh awan gelap yang terbuat dari ratusan ribu prajurit perang.


Prajurit dari Moon Palace memiliki armor yang desainnya berbeda yang menandakan dari pasukan mana mereka berasal. Setelah pasukan itu keluar dari kapal di ketinggian ratusan meter, ada yang melayang dan turun ke tanah, ada yang mengeluarkan sayap dari punggung mereka, dan ada yang mengeluarkan api biru dari punggungnya sebagai pendorong. Aku mengetahui bahwa mereka yang mengeluarkan api biru adalah pasukan Divisi Mecha yang di miliki oleh salah satu dari ratu agung selain Yang Mulia Filia.


Semua prajurit itu mendarat di tanah dengan sangat rapi dalam barisan yang tertata tanpa kesalahan sedikitpun. Aku tidak tahu, seberapa sulit melatih prajurit supaya dapat melakukan hal itu.


Segera, lebih dari 600.000 prajurit Moon Palace mengambil posisi yang berlawanan dengan kekaisaran Xuan Ming. Kedua pasukan saling berhadapan dengan jarak sekitar seribu meter. Kedua pasukan tetap diam, dan Medan perang menjadi sangat hening. Sangat tenang, tapi ketenangan ini adalah ketenangan sebelum badai.


Meskipun Pasukan Moon Palace yang di turunkan di Medan perang berjumlah lebih kecil dari pasukan musuh, tapi aku sama sekali tidak melihat keragu-raguan dari wajah mereka. Mereka sangat percaya diri dan tegas, seakan kematianpun bukanlah apa-apa bagi mereka.


"Waktunya bulan kembali naik ke langit dan memancarkan cahaya kemuliaannya. Hilangkan segala halangan dan awan gelap yang ingin menutupi bulan. Demi kemuliaan Silver Moon Guild,.... SERANG....!!!"


Satu batu akan mengaduk danau. Dengan satu suara aba-aba, Medan perang kembali di aduk. Ketenangan yang semula terjadi langsung pecah dengan teriakan prajurit yang berlari di Medan perang. Pasukan Moon Palace berlari dengan sangat cepat ke arah pasukan Xuan Ming. Pasukan Moon Palace di bagi menjadi dua, pasukan yang maju pertama adalah Prajurit Zero, sementara Tier satu tetap berdiri di belakang tanpa bergerak. Pasukan Tier satu yang di turunkan kali ini adalah 300.000 pasukan Mecha.


Serang...


Serang...


Tak mau kalah, pasukan Xuan Ming juga mulai menyerang ke arah pasukan Moon Palace. Dua gelombang hitam yang sangat besar akan segera berbenturan.


Kedua belah pihak terus mendekat hingga akhirnya kedua pasukan bertemu. Saat kedua pasukan bertemu, teriakan pengobar perang dan teriakan kesakitan terus di pentaskan. Tanpa menunggu jalannya perang, pasukan Tier satu dari Moon Palace segera bergerak dan berlari menuju Medan perang.


Saat jarak sudah semakin dekat, pasukan Tier satu segera melompat dan terbang tinggi ke udara. Mereka mendarat di dalam barisan pasukan Xuan Ming, membuat formasi mereka kacau.


Langit di penuhi oleh cahaya sihir dan api, sementara di darat tanah berpasir kuning itu menjadi semakin gelap dan berubah menjadi lumpur lengket, menenggelamkan mayat dan potongan tubuh dari pasukan yang mati dalam perang. Asap debu dan asap pembakaran sihir membumbung tinggi ke angkasa, membuat langit merah menjadi sangat keruh, seakan langit pun sedih melihat kematian dari jutaan orang yang sedang berperang.


Dalam perang yang melibatkan jutaan orang, pemandangan ini begitu spektakuler, tapi juga sangat menyedihkan. Orang beruntung, mayat mereka akan berserakan di Medan perang, namun bagi mereka yang tidak beruntung, mayat mereka akan hancur karena terinjak oleh prajurit lain, membuat darah dan daging mereka berubah menjadi lumpur.


Semakin pertempuran berjalan, Medan perang menjadi semaki tragis. Semua senjata dan sihir yang kejam mulai di pentaskan. Kutukan, racun, sihir hitam dan berbagai macam metode penyerangan mulai di gunakan. Tidak ada cara kesatria, tidak ada cara terhormat. Dalam perang, semua hanya memikirkan cara untuk membunuh musuh..Tidak peduli apakah cara itu ortodoks, hina, ataupun tercela, asalkan musuh mati, maka merekalah yang benar.


"Kakak... Kapal udara musuh mulai bergerak."


Laporan dari nona Rubidea mengalihkan perhatianku dari Medan perang ke arah kapal udara musuh. Kapal udara Xuan Ming mulai mengisi kembali daya, namun serangan mereka tidak di tunjukkan kepada kapal kami, melainkan ke arah Medan perang.


Apakah mereka bodoh?!. Jika meriam dengan daya hancur seperti itu jatuh ke Medan perang, maka bukan hanya prajurit Moon Palace yang akan mati, tapi mereka juga akan membunuh pasukan mereka sendiri.


Malahayati:"Huph... Halangi mereka untuk menembak... Selain kapal kerajaan musuh, seluruh kapal harus di hancurkan. Gunakan meriam elektro magnetik proyektil padat dan ledakkan mereka."


Kurang dari dua detik setelah perintah di keluarkan, Ribuan cahaya biru segera melesat dengan sangat cepat ke arah kapal udara Xuan Ming. Cahaya biru itu langsung mengenai tubuh kapal dan menembus tubuh kapal seperti menembus kertas. Kapal-kapal udara Xuan Ming mulai meledak dan berjatuhan.


Bahkan, kapal terkuat, Kapal kerajaan Xuan Ming tertembak dan mengalami kerusakan hingga berasal. Mereka tidak memiliki cara lain selain mendarat di tanah dengan jujur.


Melihat kapal udara mereka di hancurlah, para prajurit Xuan Ming terperanga. Tapi itu adlah kesalahan fatal untuk teralihkan saat berperang. Memanfaatkan celah itu, prajurit Moon Palace menyerang dengan lebih ganas dan menghancurkan garda terdepan musuh. Mereka langsung merangsek masuk ke dalam garis depan musuh dan mulai melakukan pembantaian sepihak.


Prajurit Xuan Ming yang kembali tersadar, mereka segera mencoba untuk melakukan perlawanan sengit ke arah prajurit Moon Palace. Rasa takut dan gentar mereka sudah mati karena adrenalin yang tinggi.


Pasukan Moon Palace yang jumlahnya sedikit, mereka mengalami kesulitan untuk memecah kebuntuan. Hal itu di perparah dengan serangan sihir serta anak panah yang terus menghujani mereka dari atas benteng.


Arkne:"Pasukan penembak, habisi semua pengganggu di benteng itu."


Pasukan baru Tier Satu kembali di turunkan, namun kali ini mereka sangat berbeda. Mereka memegang sebuah tongkat aneh sebagai senjata.


Pasukan baru itu tidak mendarat di tanah, tapi mereka terus melayang puluhan meter di udara. Tongkat aneh itu di angkat dan di arahkan ke benteng musuh.


Draaa.... draaaa...


Tongkat itu mengeluarkan suara letupan berkelanjutan yang sangat keras. Moncong mereka memiliki kilatan api yang terus menerus. Aku melihat ke arah benteng, dan tidak tahu apa yang terjadi, tapi dinding benteng serata prajurit dan penyihir di dalamnya tiba-tiba terjatuh dengan lubang berdarah di tubuhnya.


Meskipun aku tidak melihatnya, aku yakin bahwa senjata tongkat aneh yang mereka pegang menembakkan semacam proyektil dengan kecepatan yang sangat tinggi, hingga bahkan mataku tidak mampu mengikutinya.


Dengan hilangnya dukungan dari belakang, para prajurit kekaisaran Xuan Ming menjadi seperti domba tua yang di sembelih. Meskipun alot, mereka akan mati.


Teriakan kesakitan, putus asa, keras Kapala, dan penderitaan bergema seperti lagu simfoni yang sangat menyedihkan, di iringi oleh benturan besi dan logam, pedang dan perisai sebagai musik yang tajam dan menyayat hati.


Tanah berlumpur yang mengeluarkan aroma anyir darah ke udara, adalah karya seni memilukan sebuah Medan perang. Sebuah gambaran menyedihkan dari kematian dan kekejaman sebuah perang.


Pertarungan yang kejam dan sangat tragis berlangsung selama lebih dari 10 kelopak yang sangat lama. Para prajurit Xuan Ming yang masih berjuang, mereka hanya seperti mayat hidup yang telah kehilangan indera mereka. Mereka tidak bisa merasakan kelelahan tubuh mereka karena terus di pacu dengan adrenalin pertempuran.


Bisa di katakan, bahwa mereka bertempur hanya dengan tekat mereka. Sudah tidak ada lagi pikiran mengenai dunia luar. Seluruh pemikiran mereka sudah tumpah dalam peperangan.


Dalam kurun waktu 10 kelopak ini, Lebih dari 700.000 prajurit dari kedua belah pihak telah di makamkan di Medan perang ini. Dari ujung ke ujung Medan perang, di sejauh mata memandang, hanya hamparan mayat dan lumpur berdarah yang dapat terlihat. Bahkan makhluk buas pun yang biasanya sangat agresif saat mencium darah, mereka tidak berani menjulurkan kepala mereka untuk menemui darah di Medan perang karena aura kekerasan dan kekejaman Medan perang yang sangat kental...


Arkne:"Pertarungan ini akan segera berakhir..."


Nona Arkne yang melihat perang itu berkata sambil menggelengkan kepalanya. Memang seperti yang di katakan nona Arkne, pertarungan ini sudah sampai pada puncaknya.


"Letakkan senjata dan menyerahkan kepada Moon Palace, kami akan mengampuni nyawa kalian. Tapi, jika kalian bersikeras melawan, aku dan pasukanku akan menemani kalian sampai akhir...!!"


Suara Yang Mulia Filia yang lembut terdengar seperti angin di seluruh Medan perang yang kacau. Segera, setelah suara itu keluar, langit berkabut di atas tiba-tiba terbelah. Cahaya emas terpancar dari bekas belahan itu.


Perlahan, kaki telanjang yang sangat ramping mulai terlihat di antara cahaya emas. Sosok wanita cantik keluar dari retakan itu. Wajah wanita itu begitu cantik dengan rambut emas panjang dan Tiga pasang sayap putih bersih di punggungnya. Wanita itu mengenakan pakaian kain tipis yang memancarkan cahaya suci. Di tangan kanannya, wanita itu memegang sebuah tombak cahaya yang menyilaukan.


Yang lebih membuat putus asa, di belakang wanita itu muncul ribuan, puluhan ribu, ratusan ribu wanita bersayap dengan pakaian yang sama. Jumlah mereka terus bertambah hingga seluruh langit yang gelap di terangi oleh cahaya mereka.


Seluruh Medan perang telah berhenti untuk sekian kalinya. Semua prajurit Xuan Ming membeku di tempat dan mendongak untuk melihat pasukan wanita bersayap itu.


Hati dan keyakinan para pasukan mulai goyah. Hanya satu dalam pikiran mereka.


Malaikat...!


"Menyerah lah...!. Tidak ada lagi harapan bagi kalian jika terus melanjutkan perang ini."


Dengan kata-kata Yang Mulia Filia, orang bodohpun akan tahu bahwa pasukan wanita bersayap di langit adalah bagian dari Moon Palace.


"Tidak mungkin lagi untuk menang...!"


"Xuan Ming... Berakhir...!."


"Beginilah akhirnya."


Banyak deru ketidakmauan dan keputusasaan dari para prajurit Xuan Ming. Mereka menunduk dengan air mata dan melemparkan senjata mereka ke dalam genangan lumpur berdarah...


Menyerah...!


Dengan penyerahan ini, maka perang... Berakhir...!


(Akhir dari chapter ini)


Maaf... Update chapter ini agak terlalu lama. Aku sibuk dalam mengurusi beberapa masalah pribadi di rumah....


Terima kasih sudah sabar menunggu


(≧∇≦)//~