Still Loved Even In The New World

Still Loved Even In The New World
CHAPTER 140: Mimpi Buruk.



"Yang Mulia sangat baik hati dan memberikan kalian kesempatan untuk segera menyerah."


Meskipun wanita itu berkata dengan lembut, tapi aku bisa mendengar kesombongan dan kebanggan dalam kata-katanya. Mungkin dalam hatinya, Yang Mulia Filia adalah orang yang berdiri di atas segalanya. Yah, aku pun juga berfikir bahwa merupakan sebuah kebaikan hati bahwa kami di izinkan untuk menyerah, tapi...


Phirios:"Jangan bercanda!. Menyerah?, dengan kekuatan kami, kalian lah yang seharusnya menyerah."


Phirios langsung berteriak tidak puas. Orang yang biasanya berada di atas dan sombong kepada orang lain, tiba-tiba dia di rendahkan oleh seorang wanita, bagaiman mungkin dia bisa menerimanya?, kesombongan dan harga dirinya akan terasa di injak-injak oleh orang lain. Tapi, justru karena kesombongan dan harga dirinya itu, dia akan terjun ke dalam lubang api.


Dengan wajah tersenyum menjijikkan, Phirios maju ke ujung dek kapal dan memandang wanita yang berdiri di kekosongan itu.


Phirios:"Saya yakin jika kamu adalah seorang petinggi atau bangsawan. Bergabunglah dengan kami, dengan kekuatan ini, kami akan membantumu meraih kekuasaan dan tidak menjadi bawahan dari penguasa boneka itu."


"Hahaha....!!"


Wanita itu tiba-tiba tertawa dengan nyaring. Aku bisa melihat bahwa wajah tersenyum bangga Phirios berubah menjadi wajah tersenyum yang tidak percaya diri. Bagaimanapun Phirios bukan makhluk tanpa IQ tentu saja dia akan menyadari bahwa tawa itu adalah untuk mentertawakan perkataannya.


Untuk beberapa saat wanita itu tertawa lalu berhenti dan memandang ke arah kami. Wajahnya yang baru saja tertawa tiba-tiba berubah menjadi wajah yang sangat dingin seperti kerucut es ribuan tahun. Ekspresinya saat ini, sama sekali tidak ada jejak kakak perempuan yang baik di awal. Benar-benar menakutkan, bahkan dengan melihat ekspresinya, entah kenapa rasa dingin merayap dari tulang punggung dan menghujam langsung ke dalam hatiku.


"Jika bukan karena perintah Yang Mulia untuk tidak membunuhmu, saat ini kamu sudah mati ribuan kali. Kekuatan?, yang aku lihat saat ini hanyalah setumpuk sampah dan mayat yang tidak berharga."


Phirios:"A, apa yang kamu k, katakan?!."


Suara Phirios menjadi terbata-bata karena gugup. aku bisa melihat keringat dingin mengalir di samping wajahnya.


"Aku tidak mau banyak bicara, tapi sepertinya tidak sopan jika kalian mati tanpa mengetahui siapa yang membunuh kalian. Aku Mimosa, kakak tertua dari «Southern cross sister» Ksatria yang melayani Yang Mulia Filia."


Phirios:"L, lalu kenapa?!."


Phirios berteriak kepada Mimosa dengan wajah panik. Dia segera memberi perintah kepada para petinggi yang lain yang masih melihat sambil terdiam dengan keringat dingin di wajah mereka.


Phirios:"Apa yang kalian lakukan dengan diam saja, segera perintahkan prajurit untuk berperang!."


Perintah segera di jalankan dan pasukan kapal udara mulai membentuk formasi menyerang, kapal Phirios mundur ke posisi belakang sambil di jaga oleh empat kapal udara lain, sementara empat puluh lima kapal yang tersisa maju ke depan dan siap menembak, begitupun dengan prajurit di darat, mereka segera menyiapkan mantra dan senjata jarak jauh lainnya, seperti panah raksasa anti kapal udara.


Melihat pemandangan seperti itu Mimosa menggelengkan kepalanya dengan kecewa dan membuka mulutnya untuk berbicara.


Mimosa:"Apakah kalian benar-benar tidak ingin menyerah?."


Meskipun jarak wanita itu saat ini ratusan meter, suaranya yang pelan dan perlahan masih dapat terdengar dengan sangat jelas di telinga kami, seakan di berdiri di depan kami dan berbicara.


"Yang Mulia..."


"Yang Mulia, haruskah kita menyerah?."


Banyak petinggi yang mulai ragu-ragu dan mulai membujuk Phirios untuk menyerah. Tidak ada yang bodoh disini, seorang diri berani menghadang puluhan kapal udara bersenjata dan ratusan ribu prajurit yang hanya memiliki dua kemungkinan. Satu, orang itu bodoh, dan yang ke dua bahwa orang itu memiliki kepercayaannya diri pada kekuatannya atau kekutan di belakangnya.


Dan wanita yang memperkenalkan diri dengan nama Mimosa ini, dia sama sekali tidak terlihat seperti orang bodoh, jadi dia memiliki kepercayaan diri tertentu, kecuali...


Phirios:"Apa yang kalian takutkan!. Wanita itu pasti menggertak.. Ya, wanita itu pasti menggertak."


"Benar, benar, ini pasti gertakan!."


"Ya, ya. Ini hanya gertakan."


Dalam keadaan seperti ini, terkadang orang-orang akan lebih suka mempercayai apa yang membuat mereka senang daripada mempercayai kenyataan yang mereka lihat dengan mata kepala sendiri.


Seperti mendengar apa yang kami bicarakan di dalam kapal yang berjarak ratusan meter, Mimosa menggelengkan kepalanya dengan kecewa.


Mimosa:"Sayang sekali kalian tidak menghargai kebaikan Yang Mulia Filia. Sebenarnya aku berharap kalian bisa menyerah, dengan begitu, mungkin kalian bisa menjadi salah satu koleksi di gudang Yang Mulia Affinis... Yah, karena kalian menolak menyerah, saya hanya bisa mengirim kalian ke jalan."


Setelah mengatakan itu, Mimosa mengangkat pedangnya dan garis-garis merah yang ada di bilah pedang itu bersinar redup. Seketika, aroma darah yang menyengat langsung tersebar di udara tanpa ada asal-usulnya. Aroma darah yang sangat pekat ini bahkan membuat ku yang sudah berada di Medan perang selama bertahun-tahun merasa mual yang sangat kuat.


«Teknik Pedang Tinggi: Slaughter Sword»


Tanpa banyak gerakan yang istimewa, sebuah cahaya pedang merah menuju ke deretan kapal yang berada di formasi sayap kanan. Seketika, lebih dari 7 kapal dengan panjang ratusan meter terbelah dengan sangat mudah, seakan tubuh dari kapal-kapal itu hanya terbuat dari kertas tipis.


Perlu di ketahui, meskipun tubuh kapal-kapal udara itu terbuat dari kayu, tapi kayu yang di gunakan adalah kayu Lignum yang berusia setidaknya tujuh abad. Selain itu, tubuh dari kapal udara itu juga di perkuat dengan formasi sihir dan susunan oleh para penyihir yang membuat tubuh kapal itu lebih kuat daripada logam sihir.


Serangan yang bisa menghancurkan kapal udara seperti itu, bisa di bayangkan seperti apa kekuatannya. Namun, bukan kekuatan penghancur itu yang paling mengerikan, tapi setelah kapal terbelah, aku bisa melihat orang-orang di dalam kapal itu mengeluarkan kabut merah dari mata dan mulut mereka yang terbuka. Bersama dengan asap merah yang mengepul itu, tubuh orang-orang itu mulai mengkerut dan mengering seperti zombie.


Kemudian, yang menambah kengerian, saat cahaya jiwa dari orang-orang itu mulai keluar dan akan menyatu dengan dunia, asap merah yang memenuhi angkasa tiba-tiba berubah menjadi rantai-rantai merah berduri yang langsung menembus tubuh jiwa itu dan menariknya ke kumpulan kabut merah darah.


Setelah jiwa-jiwa itu masuk ke dalam kabut merah, dari dalam kabut terdengar teriakan-teriakan yang sangat mengerikan dan menyakitkan. Seluruh kejadian itu hanya berlangsung kurang dari dua tarikan nafas yang sangat cepat, bahkan sebelum bangkai kapal-kapal udara itu sampai di tanah, orang-orang itu sudah menjadi mayat kering yang mengerikan.


Melihat pemandangan yang seperti itu, seketika, perasaan dingin yang mencekam merayap dari kaki ke seluruh tubuh, membuat tubuh gemetar tak terkendali.


Phirios:" A, apa yang di lakukan pasukan darat?!. C, cepat tembak dia!. Kalian, segera pimpin kapal udara untuk menyerang dan melindungi kapal kami saat mundur....!!."


Setelah melihat kejadian mengerikan seperti itu, Phirios segera sadar dan memberi perintah pada para prajurit melalui alat komunikasi di kapal. Meskipun demikian, dia memberi perintah dengan wajah yang sangat ketakutan dan nampak gila. Seluruh tubuhnya telah basah dengan keringat dingin yang terus bercucuran seperti banjir.


Benar-benar prajurit sejati. Semua prajurit darat dan kapal udara segera menyiapkan senjata dan menyerang Nona Mimosa di udara.


Melihat semua serangan itu, nona Mimosa hanya menggelengkan kepala tanpa sepatah katapun.


«Negative Matter Shield»


Sebuah bola bundar berwarna abu-abu transparan tiba-tiba menyelimuti Nona Mimosa. Tidak peduli serangan apa yang datang, apakah itu panah raksasa anti kapal udara, meriam kapal, ataupun sihir dari para penyihir, semuanya di tiadakan setelah menyentuh bola abu-abu itu, seakan, semua serangan itu adalah batu yang jatuh ke dalam air.


«Negative Matter Armor»


Setelah semua serangan itu menghilang, bola abu-abu yang mengelilinginya tiba-tiba berubah menjadi hitam pekat dan mulai menyusut menjadi pakaian ketat dan membungkus tubuh Nona Mimosa. Saat ini, seluruh tubuh Nona Mimosa telah tertutupi oleh pakaian kecuali sepasang mata yang bersinar dingin (Woahh... Seorang ninja.).


«Dark Shadow Chain»


Kekosongan retak, dan dari dalamnya keluar rantai hitam berduri yang langsung mengikat dan menembus ke bagian dalam kapal tempatku berada. Tidak peduli seberapa keras pengemudi mencoba, kapal tidak mau bergerak, kapal benar-benar terhenti di udara seakan ada tangan yang memegang seluruh badan kapal.


Phirios:"C, cepat! singkirkan rantai-rantai itu!!."


Para prajurit yang ada di dalam kapal segera bergegas dan mencoba memotong rantai setebal lengan itu dengan pedang dan berbagai serangan lainnya. Selin menggunakan pedang, ada juga prajurit yang memiliki teknik penguatan tubuh yang mencoba untuk melepas rantai dengan tangan kosong. Namun, saat tangan mereka menyentuh rantai, tangan itu tiba-tiba berubah menjadi ungu seperti terkena racun. Tanda ungu itu terus menyebar, dan tangan yang terkena pertama kali mulai membusuk dan terkelupas, memperlihatkan tulang putih di bagian dalamnya.


Slash....!!


Splash...!!


Ahhhh...!


Sebelum tanda itu benar-benar menyebar ke tubuhnya, tiba-tiba Marshal Luik datang dan memotong ke dua lengan prajurit itu. Darah merah di cipratkan dari luka itu dan berubah menjadi kabut yang bercampur dengan kabut darah di awal.


Luik:"Bawa dan sembuhkan dia."


Setelah memerintahkan seorang tabib, Marshal Luik mengeluarkan pedangnya dan menggunakan teknik pertempuran. Pedang baja itu bersinar merah panas dengan intensitas tinggi. Pedang itu di ayunkan dengan sangat cepat untuk memotong rantai, tapi...


Dentang...!


Hawa panas langsung tersebar ke seluruh ruangannya, tapi tebasan itu hanya meninggalkan sedikit goresan, namun, goresan seperti rambut itu segera menghilang. Dari sini, kita dapat melihat bahwa rantai hitam tebal ini dapat memulihkan diri. Jadi, tidak mungkin untuk memotongnya dengan kekuatan orang-orang ini.


Melihat semua pemandangan ini, aku mundur dan menjauhkan diri dari rantai-rantai ini. Bukan hanya aku, tapi semua atasan di kapal juga menjauhkan diri, hanya prajurit dan Marshal Luik yang menebas rantai itu, meskipun usahanya sia-sia.


Kami semua mencoba menjauhkan diri dan pergi ke dek kapal yang di sana terdapat perahu terbang penyelamat. Namun, setelah kami sampai di tempat sekoci, aku melihat bahwa seluruh sekoci sudah di hancurkan oleh rantai hitam. Tanpa bisa apa-apa, kami hanya berhenti di dek kapal.


Dari sini, aku bisa melihat seluruh Medan perang. Aku melihat bahwa di sekitar Nona Mimosa tiba-tiba terdapat asap hitam yang mengepul dan mengembun menjadi sepuluh sosok yang identik dengannya.


«Living Shadow»


Seluruh sosok yang baru muncul itu identik, hanya saja mereka memiliki mata merah berdarah, dan pedang di tangan mereka berwarna hitam pekat, berbeda dengan pedang Nona Mimosa yang berwarna ungu dengan garis merah.


Dengan lambaian tangan Nona Mimosa, sepuluh sosok itu segera menyebar dan menyerang kapal-kapal perang yang mencoba melarikan diri atau menyerang. Setelah sosok-sosok itu pergi, nona Mimosa juga mengikuti dan menyerang kapal-kapal lainnya.


Badan kapal udara yang sangat keras seakan menjadi lumpur di hadapan pedang-pedang itu. Mereka memasuki kapal segera setelah membuat lubang atau menerobos di jendela dan melakukan pembantaian di dalam kapal.


Aku melihat bahwa kabut darah terus menerus keluar dari kapal-kapal yang di serang, tidak sulit membayangkan apa yang terjadi di dalam kapal-kapal itu. Teriakan dan tangisan kesakitan, serta permintaan tolong dan meminta pengampunan terdengar di telingaku.


Setiap jeritan dan suara itu adalah bisikan setan yang dapat membuat orang dengan mental yang lemah akan langsung menjadi gila.


Aku melihat banyak prajurit yang berlari ke arah jendela kaca dan berteriak minta tolong ke arah kami, tapi selanjutnya, tubuh mereka terpotong, cipratan darah mewarnai jendela kaca menjari semerah rubi yang menakutkan.


Pembantaian ribuan prajurit di dalam kapal hanya berlangsung sesaat dan mereka langsung pindah ke kapal yang lain. Tidak mengikuti, nona Mimosa memandang kami lalu turun ke arah prajurit infanteri yang melarikan diri ke segala arah. Rantai-rantai hitam berduri yang setebal jari tiba-tiba keluar dari tanah dan menembus tubuh para prajurit yang melarikan diri itu.


Tentu saja hasil dari tetap berada di Medan perang dan melawan adalah kematian. Nona Mimosa bergerak cepat dan mengayunkan pedangnya ke arah para prajurit yang berada di jangkauannya. Bertarung seorang diri di dalam kerumunan ratusan ribu prajurit, nona Mimosa bergerak sangat lincah seperti ikan di dalam air. Tidak ada satu serangan pun dari para prajurit yang mampu melukainya, bahkan ujung pakaiannya pun tidak tersentuh sama sekali. Sebaliknya, setiap serang yang dia lancarkan, itu akan memotong bagian tubuh dari lawannya.


Teriakan memekakan telinga terdengar sangat riuh di berbagai sisi Medan perang. Tunggul dan bagian tubuh yang terpotong, terhampar luas di tanah, seakan itu hanyalah dedaunan jatuh yang tidak berguna.


Entah karena sudah penuh atau apa, tapi kabut berdarah itu berhenti menghisap darah, namun masih mengambil cahaya jiwa yang akan menyatu dengan dunia.


Satu persatu bangkai kapal mulai berjatuhan ke daratan, jatuh ke dalam tanah berlumpur yang tercipta oleh campuran darah kental. Darah merah pekat membasahi dan membanjiri tanah, menodai udara dengan aroma anyir darah yang menyesakkan dada dan memberikan rasa mual yang hebat.


Dari udara, aku bisa melihat hampir keseluruhan Medan perang darat yang sangat mengenaskan. Tidak peduli dimana mereka berlari, tidak peduli seberapa cepat mereka berlari, mereka hanya akan terpotong menjadi potongan-potongan tubuh yang tersebar di tanah.


Seluruh pertempuran ini.... Hanyalah, neraka.


(Akhir dari chapter ini)


#1/2.


Typo bertebaran, tolong beri tahu aku jika kalian menemukan salah satunya.