Still Loved Even In The New World

Still Loved Even In The New World
CHAPTER 155: Intermediate Mental Control.



Permainan catur dalam papan yang sebesar ini memang sulit, tapi selama kita memegang bidak yang tepat untuk kondisi yang tepat, maka semuanya akan berjalan lancar. Tentu saja aku harus memperhitungkan faktor-faktor ketidak pastian yang mungkin akan mempengaruhi jalannya permainan.


Arkne:"Yang Mulia, bidak mana yang ingin anda mainkan saat ini?."


Ini memang pertanyaan yang menarik. Setiap bidak yang akan aku mainkan akan memulai jalannya permainan, tapi aku juga harus mempertimbangkan efek selanjutnya dari memajukan bidak itu.


Filia:"Jangan khawatir, aku sudah memikirkan hal ini."


Setiap langkah akan mempengaruhi langkah selanjutnya. Aku menyingkirkan peta holografik di depanku dan berbaring tertidur di ranjang. Ahhh... Aku bahkan hampir lupa berapa lama aku di sini. Setelah menyelesaikan beberapa hal lagi, aku akan kembali ke daratan utama dan melanjutkan menikmati masa-masa di akademi.


Aku merasa terlalu sibuk akhir-akhir ini dan melupakan kehidupan santai yang harusnya aku jalani. Jangan mengira bahwa bersikap sebagai ratu yang mendominasi itu adalah sesuatu yang mudah. Aku harus mengeluarkan semua kemampuan aktingku supaya tetap terlihat sempurna.


Yah, meskipun aku kadang-kadang terlalu serius dan tenggelam di dalamnya. Mungkin ini juga terpengaruh oleh kebiasaan ku saat bermain game di Alterion.


Filia:"Arkne, suruh beberapa pelayan untuk datang dan membawakan aku teh."


Arkne:"Ya, Yang Mulia."


Arkne segera membungkuk dan pergi keluar untuk melakukan perintahku. Tak lama kemudian, seorang datang dan mengetuk pintu.


Zhang Zilin:"Yang Mulia, saya membawakan teh yang anda minta."


Bersama dengan itu, datang suara lembut seperti lonceng kecil di hutan bambu yang berdering di transmisikan dari balik pintu.


Jujur, sebenarnya suara itu sangat menyenangkan, tidak kalah dengan suara ras harphy Oriole dan Oceanid yang di anggap sebagai diva Alterion.


Mungkin juga karena di pengaruhi oleh darah rubah sehingga suaranya mengandung sedikit fluktuasi mental yang dapat membuat orang lain merasa nyaman dan menyenangkan.


Mendengar suara itu, aku bangkit dari tempat tidur dan membiarkannya masuk. Saat ini, permaisuri itu memakai pakaian yang lebih sederhana dengan nampan teh porselen di tangannya.


Filia:"Kenapa kamu?."


Seingat ku, aku memerintahkan supaya Arkne membawa beberapa orang pelayan, tapi kenapa yang datang adalah permaisuri ini?!.


Zhang Zilin:"Ini adalah apa yang di katakan oleh Nona Arkne, supaya saya sedikit lebih berguna dan melayani anda, Yang Mulia."


Alasan itu memang cukup masuk akal. Mungkin dia juga ingin memperkuat keberadaannya di sekitarku dan membuktikan diri sebagai pelayanku. Jadi, biarkan saja dia melakukan apa yang dia inginkan, asalkan tidak menggangu misi yang aku berikan kepadanya. Lagi pula tidak ada ruginya untuk mendapatkan seorang pesuruh baru.


Sambil meminum teh, aku juga membicarakan tentang tugas yang harus di lakukan olehnya. Aku ingin dia mempengaruhi kaisar secara perlahan dan akhirnya merebut kekuasaan dengan cara yang paling tidak mencolok supaya tidak meninggalkan kontradiksi dan masalah lain.


Biarkan dia terus memupuk kekuatannya dan mengumpulkan banyak pendukung bangsawan untuk memperkokoh kekuasaannya dan akhirnya mengambil alih kekuasaan secara penuh tanpa keributan.


Cara ini lambat, tapi lebih sempurna dengan sedikit masalah di belakang. Lagi pula aku tidak bisa terlalu terburu-buru untuk memainkan papan catur besar ini.


Filia:"Malam ini kamu akan tidur di sini."


Setelah aku mengatakan itu, ada kilau aneh di matanya. Namun, kilau itu hanya sekejap dan dia kembali tersenyum lembut seperti biasa.


Zhang Zilin:"Dimengerti, Yang Mulia."


Filia:"Jangan memikirkan yang aneh-aneh."


Aku menyuruhnya untuk tidur di kamar ini karena kamar ini adalah kamar miliknya. Tapi bukan itu masalahnya. Aku tidak mau bahwa akan ada kabar yang beredar bahwa seorang permaisuri tidur di kamar tamu. Hal itu akan sangat mempengaruhi prestisenya di mata orang lain.


Tentu saja hal ini tidak akan terlalu mempengaruhi rencana kedepannya, terutama setelah dia berhasil menyatukan darah rubah ke tubuhnya. Meskipun demikian, tapi aku tidak mau mengambil resiko sedikitpun.


Lagi pula, kami adalah sesama perempuan, jadi apa yang bisa terjadi dengan tidur di tempat yang sama. Bahkan ranjang di tempat tidur di sini juga sangat luas. Tidak masalah untuk menampung empat hingga lima orang tanpa berdesakan. Jadi aku tidak terlalu peduli dengan hal itu.


Sebenarnya aku bisa kembali ke Moon Palace secara langsung, tapi aku terlalu malas untuk melakukannya. Tinggal saja di sini dan mengganti suasana baru. Itu juga bisa menenangkan hatiku setalah banyak melihat kematian.


Meskipun aku mengatakan bahwa psikologisku kuat dan tidak akan terganggu dengan pembunuhan ribuan orang, tapi tetap saja akan tersisa beberapa perasaan tidak nyaman setelah melihatnya. Lagi pula itu adalah ribuan nyawa dengan kondisi tragis.


.....


Singkatnya, malam di dunia ini telah tiba. Meskipun aku tidak bisa membedakan antara siang dan malam di tempat ini, asalkan penanda waktuku menunjukkan waktu malam, maka aku akan tidur.


Seperti yang aku katakan, Permaisuri itu juga ikut tidur di sampingku dengan pakaian yang ringan yang menunjukkan sosoknya yang tinggi dan bangga. Oh... Kadang-kadang membandingkan diri sendiri dan orang lain itu adalah sesuatu yang menyakitkan. Kapan aku bisa memiliki benda menonjol itu...


Yah, mungkin tidak memiliki yang terlalu menonjol juga baik. Aku ragu bahwa jika sedang bertarung, hal menonjol itu akan sangat mempengaruhi fleksibilitas gerakan tubuh. Lagi pula, apakah itu tidak terlalu berat?!.


Entah kenapa, semakin malam, permaisuri itu semakin dekat ke arahku dan akhirnya memelukku. Dia memeluk tubuhku dari belakang dan mendekapnya sambil tertidur. Awalnya aku ingin melepaskan diri, tapi tidak peduli seberapa banyak aku mencoba, di akan kembali memelukku seperti boneka beruang. Daripada aku menghiraukan hal itu dan menggangu waktu tidurku sendiri, lebih baik aku membiarkannya memelukku dan tertidur.


Yah, sebenarnya tidur dengan pelukan besar seperti ini tidak terlalu buruk. Setidaknya aku bisa merasakan hangat.


Sama seperti jam psikologisku, aku hanya tertidur selama kurang dari lima jam dan terbangun untuk melatih tubuhku. Karena kamar ini masih sangat luas, jadi aku melatih tubuhku di tempat ini dan langsung mandi pemandian air hangat setelah selesai.


Hari ini banyak sekali pelayan yang sangat sibuk untuk menyiapkan perjamuan di malam hari. Aku mendengar dari para prajurit yang aku perintahkan di luar bahwa banyak kereta bangsawan yang telah tiba di ibu kota untuk mengikuti perjamuan di malam hari.


Yah, aku juga bisa menebak bahwa mereka kebanyakan hanya ingin menemuiku dan menyanjung supaya posisi mereka tetap bertahan. Bahkan mungkin ada yang ingin menyenangkanku supaya mendapatkan dukungan dariku. Tentu saja akan ada yang hanya ingin memberikan penghormatan kepada kaisar yang baru. Lagi pula di negeri ini hal seperti ini adalah hal yang sangat normal.


Aku tidak terlalu menghiraukan hal itu dan lebih memilih untuk memikirkan langkah selanjutnya.


Setelah perjamuan selesai, aku berencana untuk segera mengunjungi reruntuhan kuno itu dan melihat apakah ada sesuatu yang berharga di dalamnya. Setelah aku melihat reruntuhan itu, aku bisa langsung kembali ke benua utama dan menyerahkan urusan di sini kepada Arkne dan yang lainnya.


Sambil menunggu malam tiba dan perjamuan di adakan, aku memilih untuk bersantai di taman istana perak, tepatnya di bawah pohon mentari yang memiliki bunga berwarna kuning keemasan dan menghasilkan cahaya. Aroma kelopak bunganya juga sangat harum dan lembut yang dapat memberikan perasaan rileks tertentu. Di bawah pohon ini ada sebuah kursi santai dan sebuah meja yang memang di sediakan khusus untuk beristirahat.


Bisa di katakan bahwa kondisi saat ini sangat sempurna untuk mengobati kelelahan mental. Hanya saja, sangat di sayangkan bahwa tidak ada cahaya matahari yang hangat dan langit biru di tempat ini. Di sini hanya ada langit merah yang kusam dan cahaya bulan merah seperti darah. Bisa di katakan bahwa pemandangan sangat suram.


Meskipun aku mengatakan bahwa ini adalah beristirahat, tapi aku sebenarnya juga mengolah kontrol atas kemampuan mentalku. Dulu saat berada di Alterion, aku hanya bisa mengolah mentalku ke kelas epic. Karena di beri kesempatan untuk mengolah kembali kekuatan mental, aku ingin mengolahnya setidaknya hingga ke kelas Legendary.


Jangan salah paham, meskipun hanya sampai pada kelas epic, tapi itu sebenarnya merupakan pencapaian yang sangat tinggi. Mungkin hanya kurang dari 10% pemain Alterion yang mampu untuk mengolah kontrol mental mereka hingga epic. Jadi, terbayang betapa sulitnya untuk sampai pada kelas epic.


Mengolah mental sendiri akan memiliki efek yang sangat besar pada kenaikan Tier seorang pemain. Semakin tinggi kontrol jiwa, maka akan semakin mudah untuk maju ke tier selanjutnya. Selain itu, semakin tinggi kontrol mental, maka kekuatan dan kendali kita juga akan menjadi lebih kuat dalam pertarungan.


Bisa di katakan bahwa di dalam Alterion, mental hampir mencakup segalanya. Tidak peduli apakah itu dalam proses pembentukan tubuh mana atau pertarungan, mental selalu akan mengambil posisi yang sangat penting.


Di permukaan air itu muncul riak-riak samar dan semakin lama semakin besar, hingga menjadi ombak puluhan meter. Teratai mental yang sangat indah itu juga mulai di kelilingi oleh kabut putih emas yang merupakan manifestasi dari kekuatan mental yang di serap dari dunia luar.


Kabut putih emas itu semakin lama semakin pada dan mulai membentuk sebuah pusaran di sekitar teratai. Perlahan, kabut itu mulai menyusut dan menyatu bersama bunga teratai mental itu, menambah kecerahan dan ukuran dari teratai mental milikku.


Tapi ini belum berakhir. Setelah semua kabut menyatu dan ombak di lautan mental kembali tenang, aku harus melakukan tahap selanjutnya. Teratai yang indah itu tiba-tiba hancur menjadi kabut yang menutupi seluruh lautan jiwa dan tersebar tak beraturan.


Seperti sebuah embrio, muncul bola emas di tengah lautan jiwa. Perlahan tapi pasti, bola emas itu mulai kembali mengumpulkan kabut di lautan mental yang tersebar dan mulai membentuk kembali embrio teratai emas.


Namun, saat embrio teratai belum sempurna, teratai itu kembali hancur dan tersebar. Proses itu berlangsung terus menerus sebanyak beberapa kali hingga pada akhirnya sebuah bunga teratai yang sangat rumit dengan berbagai rune di atasnya dapat terbentuk dengan sempurna. Di bandingkan dengan teratai penuh rune di awal, teratai jiwa saat ini jauh lebih hidup dan indah dengan di kelilingi rune ungu dan emas di sekitarnya. Nampak sangat mulia.


[Kontrol mental: 140%] (Epic Intermediate)


Aku menyelesaikan latihan ku setelah mendengar pesan prompt dari sistem yang menunjukkan peningkatan dalam latihan ku.


Mulai dari kontrol 100% hingga 190% merupakan tingkat kontrol epic yang di bagi menjadi tingkat: Basic, intermediate, dan advanced . Barulah setelah melewati ambang batas 190% kontrol mental akan berubah menjadi Legendary yang hampir tidak mungkin untuk di capai.


Jangan mengira bahwa menaikkan tingkat kontrol mental akan sangat mudah, tapi pada kenyataannya itu adalah hal yang sangat sulit. Ini mirip seperti memajukan teknologi yang matang dan menembus ke teknologi baru, dan bahkan mungkin lebih sulit.


Kali ini aku beruntung dapat dengan mudah menaikkan tingkat kontrol mental aku, selain karen lingkungan yang baik, tapi juga karena aku sudah memiliki pengalaman sebelumnya.


Aku membuka mata dan melihat langit merah yang di hiasi dengan beberapa kelopak bunga kuning emas bercahaya yang sedang berguguran, yang menambah sedikit warna pada dunia yang suram ini.


Dengan meningkatnya kontrol mentalku, kemampuan dari Omniscient Eye juga meningkat dan kekuatan mental yang di habiskan saat mengaktifkan Mata ini juga berkurang. Dengan begini, setidaknya efektivitas tempurku dapat meningkat sebesar 20%.


Jangan meremehkan dua puluh persen itu. Dalam pertempuran tingkat atas, bahkan perbedaan satu persen dapat membuat hasil yang mengejutkan.


Aku menonaktifkan Omniscient eye dan menghembuskan nafas berkabut. Saat ini, jam sudah menunjukkan sekitar 6 sore, waktu ini sudah mendekati waktu pesta yang akan berlangsung. Dengan mengambil nafas panjang, aku berdiri dan pergi untuk mengganti pakaian dan menghadiri acara itu.


Tentu saja, aku tidak ingin terlalu terpaku pada hal seperti ini, jadi kau hanya berniat untuk menyapa para pejabat itu dan pergi mengunjungi reruntuhan.


Aku mengganti pakaianku dengan pakaian sederhana berwarna merah. Desain gaun ini sangat cocok untuk di kenakan di tubuhku yang mungil saat ini, tanpa merusak citra sebagai ratu, sekaligus tidak terlihat dewasa yang akan sangat mempengaruhi penampilan gadis kecilku. Aku hanya ingin tampil lebih alami.


Riasannya juga sangat sederhana yang sangat natural bagi gadis kecil seusiaku. Hanya ada beberapa tambahan hiasan mata dengan warna yang lebih mencolok supaya wajah ku tidak terlihat terlalu pucat dan menyesuaikan dengan warna gaun yang terang.


Selesai mempersiapkan diri, aku pergi ke ruang perjamuan bersama dengan Arkne dan Zhang Zilin. Mereka berdua mengikutiku berjalan dengan di dampingi oleh beberapa orang kesatria Diamond Class. (Kesatria biru).


"Yang Mulia Filia memasuki ruangan...!"


Saat aku masuk, ada banyak pejabat yang duduk di kedua sisi karpet merah selayaknya tradisi Tiongkok kuno. Mereka semua tiba-tiba berdiri dan memberikan hormat padaku dengan wajah menyanjung yang terlihat jelas.


Filia:"Duduk...!"


"Terima kasih atas kemurahan hati anda, Yang Mulia."


Aku mengangguk dan duduk di tempat yang telah di sediakan khusu untuk ku. Dengan tempat yang lebih tinggi, aku bisa melihat semua wajah-wajah para pejabat ini.


Filia:"Aku mengucapkan terima kasih atas ketersediaan kalian untuk menghadiri acara yang aku adakan ini."


"Tolong jangan berterima kasih Yang Mulia. Ini semua adalah kewajiban kami."


"Itu benar. Panggilan anda adalah perintah bagi kami..."


"Ya benar..."


"Ya...!"


Dengan kata-kata ku, mereka mulai menyanjung dan mencari muka di hadapanku. Apa gunanya itu, apakah mereka pikir bahwa aku adalah orang yang akan sangat senang karena menerima pujian?!.


Meskipun sikap menjilat mereka membuatku sedikit tidak nyaman, tapi karena ini adalah pertemuan bangsawan, aku harus selalu menjaga wajahku dan tidak memperlihatkan ketidaknyamanan ku. Ingat, dalam bersosialisasi, memiliki dua atau lebih wajah adalah hal yang sangat penting. Karena itu, aku masih memasang senyum dan memandangi para pejabat ini.


Filia:"Tentunya dalam acara ini, kalian sudah mengetahui apa maksudnya. Sekarang kerajaan ini telah berada di bawah kekuasaanku, berada di bawah Moon Palace."


Aku berhenti dan melihat wajah-wajah senyum paksa mereka, terutama wajah kaisar lama yang senyumnya seperti wajah sembelit.


Filia:"Namun yakinlah, aku tidak bermaksud untuk ikut campur dalam pemerintahan negeri ini. Aku ingin tetap mempertahankan tatanan sosial dan memimpin di negeri ini seperti apa adanya. Tapi, aku juga memiliki hak untuk mengganti pejabat yang di anggap merugikan atau tidak berguna bagi negeri ini. Jadi... Aku berharap supaya kalian bisa bekerja tulis demi negeri ini dan membawa kemajuan yang lebih baik di masa depan."


"Yakinlah, Yang Mulia. Kami pasti akan berusaha sebaik mungkin demi negeri ini dan demi Yang Mulia."


"Benar, tolong yakinlah, Yang Mulia."


Meskipun para bangsawan itu terlihat sangat tidak nyaman, tapi mereka masih memaksakan diri untuk menerima apa yang aku katakan. Aku bisa tahu bahwa wajah yang paling buruk dari mereka adalah orang yang paling banyak menghisap darah suatu negara. Meskipun demikian, aku tidak bisa bertindak secara langsung tanpa bukti demi menjaga kestabilan tatanan sosial.


Perjamuan ini berlangsung hingga pagi, tapi hanya sekitar dua jam, aku meninggalkan tempat perjamuan ini dan kembali ke kamarku. Aku sedang bersiap untuk pergi ke reruntuhan kuno itu dan melihat keberuntungan macam apa yang bisa aku dapatkan di dalamnya.


Aku mengetahui bahwa reruntuhan itu terletak di sebuah hutan terlarang dekat dengan sebuah kota. Karena jalur yang rumit dan orang di sini tidak memahami kordinat, jadi aku harus memerintahkan seseorang untuk menjadi penunjuk jalan.


Kali ini aku pergi dengan mengunakan kereta kuda bersama dengan Arkne dan sepuluh orang kesatria. Selain kami, aku juga membawa dua orang penunjuk arah yang merupakan pejabat dari istana.


Karena ini merupakan perjalanan ke dalam hutan dengan banyak rintangan seperti daun kering dan Medan yang tidak menentu, aku harus memakai pakaian sederhana yang tidak akan mempengaruhi gerakan ku.


Tak lama kemudian, sekitar perjalanan 4-5 jam, aku sudah bisa melihat sebuah dinding kota tinggi yang di bangun menggunakan batu hitam. Di setiap sisi dinding itu terpasang lentera yang memiliki cahaya kuning lembut, menampakkan suasana malam yang menenangkan.


Di atas dinding kota terdapat beberapa penjaga yang setia mengawasi dan memperhatikan segala bentuk ancaman yang mungkin membahayakan kota ini.


Yah, tujuanku semakin dekat... Aku ingin tahu kejutan macam apa yang akan di bawa oleh reruntuhan itu padaku....


(Akhir dari chapter ini.)


Kali ini jeda updatenya sangat jauh. Maafkan aku....


Update selanjutnya akan lebih singkat.