
Malam ini langit masih sangat indah, aku tidak akan bosan melihat pemandangan ini. Duduk di sebuah batu besar sambil menikmati langit malam yang indah.
Pemandangan ini mengingatkanku dengan orang tuaku di bumi. Ayah, ibu, apa kalian baik-baik saja?.
Aku berharap bahwa kalian akan bahagia selamanya, dan aku yakin setelah Aria terlahir dia akan menemani kalian. Tunggu, sepertinya aku melupakan hal yang penting, tapi apa?.
Gawat, aku belum mengetahui jenis kelamin calon adikku, dan aku asal memberinya nama Aria?. Bagaimana jika dia laki-laki. Aku pasti akan meninggalkan noda di kehidupan calon adikku. Ohh.... Aku adalah kakak yang buruk, aku hanya berharap bahwa dia adalah adik perempuan. Tapi tunggu, nama Aria juga bisa untuk laki-laki kan?.
Malam mulai dingin, sebaiknya aku kembali ke kereta dan beristirahat. Agak jauh dari kereta ada beberapa kesatria yang sedang merawat kuda, sementara kesatria yang lain duduk di dekat api, bercanda dan tertawa, tapi di lihat dari matanya, para kesatria itu tidak pernah mengendurkan kewaspadaan nya.
Tidak jauh dari sana terdapat api unggun ke dua yang dibuat untukku. Ini seperti tradisi para bangsawan dimana bawahan tidak di izinkan untuk makan di meja yang sama dengan tuannya. Selain untuk menunjukkan gengsi bangsawan, hal itu juga menunjukan rasa hormat yang di berikan oleh bawahannya.
Yah, bahkan di zaman modern ku rasa juga seperti ini. Aku baru saja membuka pintu kereta dan sensor deteksi ku menangkap sekolompok sekitar seratus orang berjarak sekitar satu kilometer yang mendekat dengan sangat cepat.
Sensor deteksi ini sebenarnya seperti map dalam game. Hanya saja sebagian besarnya masih gelap karena belum ku jelajahi. Dan di area gelap itu terdapat titik-titik biru cerah pertanda manusia yang tidak di kenal sedang menuju kemari.
Tapi di saat masih di ALTERION, fungsi deteksinya hanya untuk monster karena jika itu Players mereka akan memiliki skill untuk menyembunyikan keberadaannya terutama assassin dan Sniper.
Filia:"Bersiap, ada yang mendekat!."
Para kesatria terlihat ragu saat mendengar perintahku. Aku tidak akan menyalahkan mereka soal sikap mereka itu, aku ingat bahwa pemilik sebelumnya adalah seorang yang naif dan tidak memiliki kemampuan.
Eden:"Semua bersiap!."
Oh?, sepertinya ada yang mendengarkan perintahku. Tak lama terdengar langkah tapal kuda yang menghantam tanah. Sebenarnya, karena ini di jalur kereta kuda yang terbuka, jadi cahaya bulan tidak terhalang oleh bayangan pepohonan, tidak seperti di dalam hutan.
Bayangkan saja, jika bumi yang memiliki satu bulan yang sekecil itu saja dapat menerangi malam, bagaimana jika ada empat bulan, yang terkecil setara bulan yang kita lihat di bumi, dan yang lain beberapa kali lebih besar daripada fenomena supermoon, seberapa cerah itu di malam hari.
Beberapa menit kemudian, terlihat beberapa sosok penunggang kuda yang di pimpin oleh wanita tinggi dengan rambut putih seperti sutra, wanita itu mengenakan armor perak dan pelindung kepala dengan ornamen emas diatasnya, serta sebuah pedang di pinggangnya, sekilas dapat dilihat bahwa itu adalah seorang kesatria berpangkat tinggi.
Pasukan yang lebih dari seratus orang itu berhenti tidak jauh dari kami dan perlahan mendekat. Saat semakin dekat terlihat wajahnya yang putih, halus dan cantik, tapi masih terlihat mendominasi.
Di mata biru berlian nya dengan jelas terlihat bawa dia sedang sangat khawatir. Setelah turun dari kuda, ia melihat ke arahku dan berhenti selama beberapa saat. Matanya perlahan mulai memerah dan menjadi lembab. Akhirnya dia berlari dengan cepat ke arah ku dan memelukku dengan erat.
Dan tanpa aku sadari, pelukan itu membangkitkan semua kesedihan dan kehilanganku, dan saat hal itu tercampur dengan perasaan tubuh ini, tanpa aku sadari air mataku mulai tumpah menetes dan membasahi di sepanjang garis pipiku.
Filia:"Ibu..."
wanita ini adalah Harnas Zilveren. Dia adalah ibuku, atau ibu tuan rumah sebelumnya. Dia sangat menyayangi Filia dan bahkan akan sering meninggalkan pekerjaannya untuk menemani Filia. Perasaan kasih sayang ini pasti akan aku balas.
Harnas:"Syukurlah, syukurlah tidak terjadi apa pun padamu".
Filia:"Iya..."
Aku menjawab sambil tersedu-sedu. Aku tidak mengira, bahwa pelukan yang tampak biasa ini dapat menguras semua kesedihanku yang telah tersimpan selama ini. Jika dia tahu bahwa pemilik sebelumnya telah meninggal, aku yakin bahwa akan sangat sulit untuk menerima hal itu.
Perlahan dia melepaskan pelukannya, matanya masih memerah. Dia melihat ku ke atas dan kebawah mencari jika ada yang salah. Kemudian dia tersenyum lembut dan menepuk kepalaku sambil berlutut.
Dia berdiri dan berbalik menghadap para kesatria. Kelembutan nya yang tadi menguap seketika, digantikan oleh keseriusan dan aura yang mendominasi. Aku mengagumi peralihan sikapnya yang dapat berubah dalam sekejap mata.
Harnas:"Sepertinya aku terlalu berharap tinggi kepada kalian. Jika melindungi seorang gadis kecil saja tidak mampu, masih layakkah kalian disebut sebagai kesatria?."
Para kesatria yang mendengarkan hanya menundukkan kepala tanpa ada satupun yang berani bicara. Bahkan lebih dari seratus kesatria yang di bawa ibu juga menundukkan kepalanya tanpa ada yang berbicara. Ini mirip seperti sekumpulan siswa yang ketahuan membolos dan tertangkap basah.
Ibu perlahan berbalik dan meraih tangan ku. aku tidak akan mengatakan apapun. Ibu ku memberikan makian, hukuman ini adalah yang paling ringan, jika yang menangani hal ini adalah bangsawan yang lain, maka aku dapat meyakinkan bahwa para kesatria itu akan kehilangan kepala mereka.
setelah berjalan beberapa langkah ibu berhenti. tanpa berbalik ibu berkata.
Harnas:"Hari ini aku sangat kecewa dengan pekerjaan kalian. Terutama kamu Eden. Aku akan secara pribadi membawa Filia ke ibu kota."
Eden:"Maafkan ketidak bergunaan kami. Kami pasti akan berlatih lebih keras lagi"
Harnas:"Aku ingin tahu, kenapa goblin itu bisa menyerang kalian. Biasanya goblin akan menghindari manusia yang lebih kuat. Aku ingin kalian menyelidikinya"
Eden:"Baik nyonya!."
Setelah itu ibu melanjutkan langkahnya menuju ke arah kuda perang putih sambil memegangi tanganku. Seratus orang kesatria juga mengikuti, menyisakan kelompok kesatria Eden.
Harnas:"Kamu tidak masalah dengan naik kuda kan sayang?.
Filia:"Tidak, tidak sama sekali."
Ibu menatap ku dengan senyum nya yang lembut, mengangguk lalu mengangkat tubuhku ke atas kuda. Ibu naik di belakangku sambil memegang pengendali kuda dan memelukku supaya tidak terjatuh. Tali kuda di hentakkan dan kuda melesat di ikuti oleh kuda dari seratus kesatria di belakangnya.
Filia:"Bagaimana ibu bisa tahu kalau aku mendapatkan bahaya?."
Aku cukup penasaran dengan hal itu. Aku yakin bahwa kejadian itu baru terjadi sekitar tiga hari yang lalu, dan ibu bisa mendapat berita secepat ini.
Harnas:"Aku menerima surat yang di berikan Eden menggunakan merpati pos. Setelah menerima berita itu, aku membawa beberapa bawahan ku untuk pergi mencari mu".
Tapi jika benar, maka surat itu akan tiba kemarin, dan berarti jika saat ini ibu tiba di sini. Dengan asumsi bahwa dari sini ke ibukota akan memakan waktu satu hari, maka berarti bahwa setelah mendapatkan surat itu dia langsung berangkat. ini membuktikan betapa berharganya Filia baginya.
Harnas:"Sebenarnya Rovell akan pergi mencari mu. Jika aku dan raja tidak menghentikannya dia akan membawa kesatria penjaga kerajaan di ibu kota bersamanya."
Rovell Rosefield adalah ayahku. Dia juga sangat mencintai putrinya. Bagaimana pun Filia adalah putri satu-satunya dari keluarga Duke Rosefield.
Selama ini ayah tinggal di ibu kota karena tugasnya dan ibu di Rosefield Dukedom bersamaku. Tapi karena masalah tertentu, ibuku di panggil ke ibu kota dan meninggalkan wilayah Rosefield ke kakek ku. Dan aku, karena sudah hampir berumur sembilan tahun, sudah waktunya untuk masuk ke akademi.
Harnas:"Sayang, apa kamu mau beristirahat?."
Kuda melambat dan ibu bertanya kepadaku.
Filia:"tiydak, saya tidak apa-apa. Kita bisa melanjutkan perjalanan."
Sejujurnya dengan kekuatan ku saat ini bahkan mungkin aku tidak lagi membutuhkan tidur. Tetapi demi kepuasan, aku akan tidur di malam hari. Tapi, untuk malam ini tidak perlu, lagi pula dengan kecepatan ini diperkirakan besok siang aku sudah sampai di ibu kota.
Ibu ku menunduk dan memandang ku sebentar, lalu menganggukkan kepalanya dan mempercepat laju kuda.
Kami menunggangi kuda sepanjang malam tanpa beristirahat. Selama perjalanan, ibu tidak banyak bicara kepadaku bahkan tidak menanyakan perubahan pada warna rambutku.
Siang harinya aku sudah dapat melihat dinding kota putih yang berkilau karena memantulkan cahaya matahari.
(Akhir dari chapter ini)
catatan: oh, jika ada yang menyukai cerita tentang Vampir bisa membaca
PRINCESS OF THE NIGH.