Still Loved Even In The New World

Still Loved Even In The New World
CHAPTER 43: Menang



kapten Grams mengacungkan pedang besarnya ke arahku sambil tersenyum. melawan seorang kesatria terlatih, aku ingin tahu seberapa tinggi level pertarungannya. kadang seseorang tidak menang hanya dengan mengandalkan level, tapi juga kepekaan bertarung.


Grams:"putri bisa menyerang terlebih dahulu!"


Filia:"aku ingin melihat seberapa kuat yang di sebut kapten kesatria"


karena dia memberiku kesempatan untuk melakukan serangan pertama, maka aku tidak akan sopan. aku langsung memperkuat pijakanku di lantai marmer, lalu dengan ledakan dari kekuatanku, aku meluncur cepat ke depan. teknik ini mirip dengan yang aku gunakan saat memukuli bawahan dari Eden waktu itu.


Dentang...!!!


seperti yang diharapkan dari seorang kapten kesatria. dia mampu menahan serangan ku dengan pedangnya yang lebar dan berat hingga menciptakan suara benturan logam yang menggema di seluruh gedung pelatihan. namun, meski seranganku berhasil di tangkis, dia masih terpental sejauh dua meter atau lebih. meninggalkan jejak goresan panjang di lantai dengan kakinya.


Grams:"kadang-kadang penampilan memang bisa menipu"


kata kapten Grams ke arahku sambil menyeringai. aku bisa mendengar suara berderit dari gagang pedang yang di pegang dengan erat. apakah tangannya mati rasa?!.


Filia:"terima kasih atas pujiannya. saya sungguh merasa terhormat"


kataku sopan. meskipun aku memegang senjata dan berdiri di tengah pertarungan, tapi sikap seorang bangsawan tidak bisa di hilangkan begitu saja. sebagai seorang bangsawan yang terhormat, aku harus selalu menjaga penampilan dalam keadaan seperti apa pun.


Grams:"sepertinya saya masih terlalu meremehkan anda".


Filia:"saya akan sangat terhormat jika anda mau menunjukkan beberapa kemampuan yang anda kuasai".


Grams:"kalau begitu saya tidak akan menahan diri lagi"


aura merah mulai muncul dan menyelimuti seluruh tubuh kapten Grams. «Sixth Sense». dengan menggunakan Sixth Sense, aku bisa melihat bahwa aliran tenaga internal yang ada di tubuhnya mulai beredar dengan gila-gilaan mengisi seluruh pembuluh darah nya dan memperkuat tubuhnya.


Grams:" Martial Art:«Twelve Consecutive Slashes»".


aura merah itu juga mulai mengembun dan melapisi bilah pedang besar yang ada di tangannya. udara mulai bersiul di sekitar kapten Grams dan tendon biru mulai muncul di tangannya. kapten Grams melesat cepat ke arahku dengan momentum yang besar, hingga lantai marmer di bawah kakinya retak dan terpisah.


Filia:"Sword Technique:«parry»"


Dentang....!!


meskipun di mata orang lain gerakannya terlihat cepat, tapi di mataku dia seperti manusia yang bergerak dengan lambat. pedang pertama berhasil aku tangkis dengan mantap. meskipun dia kurang cepat, tapi tenaga yang di kandungnya cukup besar untuk membelah kendaraan berlapis baja dengan mudah.


tebasan kedua... tebasan ke tiga....


aku merasakan bahwa di setiap tebasan, kecepatan dan kekuatan yang di gunakan kapten Grams semakin bertambah. di tebasan ke dua belas, baik kecepatan dan tenaganya hampir 14 kali lebih besar dari pada tebasan awal. selain itu, setiap tebasan mengarah ke titik buta lawan. jika yang menjadi lawannya adalah orang biasa, aku yakin kalau orang itu sudah akan di kalahkan sejak awal. nama kapten penjaga kerajaan memang bukan hanya omong kosong belaka, tapi dengan kemampuan seperti itu, itu masih jauh dari cukup untuk mampu bersaing denganku.


mungkin karena merasa serangannya telah gagal, kapten Grams langsung melompat mundur dan mengambil jarak beberapa meter denganku. dilihat dari ekspresi wajahnya, aku tahu kalau kapten Grams sedikit terkejut saat semua serangannya bisa di patahkan dengan mudah.


Filia:"ada apa kapten Grams?, mari kita lanjutkan"


Grams:"menarik"


tanpa banyak teknik serangan, aku langsung melancarkan serangan cepat ke arah kapten Grams. ini bukan serangan tunggal, tapi ini adalah serangan bertubi-tubi. aku mencoba untuk mengincar perutnya, tapi kapten Grams berhasil menangkisnya tepat waktu. dia bisa membuat pedang yang sangat besar itu berkerak secara fleksibel yang membuatku mengaguminya.


perlu di ingat, bahwa pedang kapten Grams memiliki panjang sekitar 2,5-3 m dan lebar sekitar 50-60 cm. dengan ukuran seperti itu seharusnya pedangnya akan sulit di gunakan dalam pertarungan jarak dekat, apa lagi di gunakan untuk menangkis serangan cepat. kecuali memang kapten Grams memiliki skill khusus untuk itu.


seranganku kali ini tidak mengutamakan aspek kekuatan, tapi lebih mengutamakan aspek kecepatan. aku ingin mendapatkan celah untuk mendaratkan serangan ke kapten Grams, tapi aku tidak menduga kalau pertahanannya sangat solid. meskipun aku mengatakan kalau seranganku berfokus pada kecepatan daripada kekuatan, tapi karena konstitusiku yang kuat, serangan itu masih menghasilkan gelombang kejut di udara yang akan mengangkat partikel debu di lantai ke udara.


benturan dari dua logam terus bergema di seluruh gedung. membuat gelombang kejut yang menerbangkan debu dan serpihan marmer ke udara. lubang dan retakan dengan berbagai ukuran mulai terbentuk di seluruh lantai tempat kami bertarung. aku melihat bahwa kapten Grams sudah mulai kewalahan dan terus mundur saat menangkis serangan ku. keringat mulai menetes dari keningnya, nafasnya juga mulai terengah-engah.


inilah pertarungan, inilah rasanya menggerakkan tubuh, dan inilah rasanya bisa menggunakan tubuhmu dengan bebas tanpa takut segera pingsan. kenikmatan ini, sensasi ini. inilah pertarungan.


kesadaran ku mulai melayang karena kegembiraan. aku mulai meluncurkan serangan demi serangan. semakin menyerang semakin menyenangkan. sensasi menggerakkan tubuhku dengan bebas yang selama ini aku impikan, akhirnya aku mendapatkannya di dunia ini.


Filia:"ehem... apa anda masih bisa melanjutkan kapten Grams?"


Grams:"hah...hah...hah... t, tentu saja!"


Grams menjawab pertanyaanku sambil terengah-engah dan menyeka keringat yang mengalir di wajahnya. aku menghargai semangat bertarungnya. meskipun dia sadar akan jarak yang memisahkan kemampuan kami, dia masih terus mencoba dan bertahan.


Grams:"saya tahu kalau sang putri bahkan belum serius. saya sadar akan jarak yang memisahkan antara saya dan sang putri, tapi izinkan saya untuk melihat teknik serangan yang sang putri miliki"


selain dari teknik pedang yang aku gunakan untuk menangkis di awal, aku memang tidak menggunakan skill pertarungan apa pun. karena aku menghargai semangat bertarungnya, maka aku akan memperlihatkan salah satu teknik pertarungan ku.


Filia:"karena kapten Grams begitu ingin melihat, maka saya akan menunjukkan salah satu teknik pertarungan yang saya miliki"


Grams:"suatu kehormatan bagi saya"


Filia:"Sword Technique:«Tidal Wave»"


aura biru mengelilingiku dan katana hitam pekat yang ada di tangan ku. teknik ini mengutamakan gerakan yang anggun tapi mematikan.


Grams:"Martial Art:«Flood Dragon Roar»"


dengan mataku, aku bisa melihat bahwa semua tenaga internalnya di alirkan ke bilah pedang, hingga bilah pedang besar itu bersinar dengan cahaya merah yang kuat. ilusi seekor naga berkepala buaya muncul di bagian belakang kapten Grams. kapten Grams lalu mengayun kan pedang itu ke arahku secara vertikal.


cahaya vertikal merah setinggi tiga meter melesat dari bilah di tangannya dan menciptakan garis memotong panjang di lantai marmer yang keras. cahaya merah itu masih dengan cepat melaju ke arahku.


aku langsung bertabrakan dengan cahaya merah yang menghancurkan itu. tapi, saat cahaya merah itu bersentuhan dengan katana milikku, cahaya merah yang membawa ilusi naga itu seperti batu yang di lemparkan ke lautan. cahaya merah itu dengan cepat tenggelam dan di telan oleh cahaya biru.


memanfaatkan momentum, aku tidak menghentikan gerakanku dan dengan cepat melesat ke arah kapten Grams. ada ilusi ombak tinggi bagaikan tsunami di belakangku yang menerjang langsung ke arah kapten Grams. sebelum kapten Grams mengambil tindakan, dia sudah terkena sebuah pukulan yang keras di perutnya.


Bang...!!


suara teredam keras terdengar. bersama dengan suara itu, kapten Grams terlempar sejauh lebih dari lima meter dan memutarkan darah. mungkin dia menderita beberapa patah tulang, tapi dia tidak akan mati. aku sengaja menghindari bagian vital dari kapten Grams.


tadi saat aku menebas kapten Grams secara horizontal, sebelum bilah pedang memotong perut kapten Grams, aku dengan cepat membalik bilah yang tajam dan memukul kapten Grams dengan punggung pedang yang tumpul. jika aku menggunakan bagian yang tajam, mungkin kapten Grams akan terpotong menjadi dua bagian olehku. itu bukan pemandangan yang layak untuk di tonton oleh anak-anak.


aku melihat kapten Grams yang batuk darah dan masih terduduk di lantai sambil memegangi bagian tubuhnya yang sakit. Mrs. Elen dan yang lainnya langsung membantu kapten Grams untuk berdiri. bahkan sang putri mencoba mengobati luka yang di derita oleh kapten Grams. luka itu tidak terlalu parah, luka seperti itu bisa aku sembuhkan dengan mudah.


aku berjalan dan menghampiri kapten Grams. katana yang ada di tangan ku sudah kembali ke storage.


Filia:"maaf kan saya karena sudah keterlaluan".


aku benar-benar kehilangan kontrol ku sendiri saat sedang dalam pertarungan. bahkan sejak awal jika aku tidak segera sadarkan diri, aku mungkin sudah membunuh kapten Grams tanpa aku sadari. aku terlalu terbawa suasana.


Grams:"uhuk... uhuk.... tidak apa putri. lagi pula saya yang meminta anda untuk menggunakan kemampuan yang anda miliki. siapa yang menduga, bahwa, bahkan teknik terkuat saya bisa di patahkan dengan mudah oleh anda".


Filia:"tapi meskipun begitu, saya masih harus meminta maaf kepada anda. sebagai gantinya, saya akan menyembuhkan cidera yang anda alami"


Arsh:"apa!. kamu masih bisa menggunakan sihir penyembuhan?"


tanya kepala sekolah tiba-tiba dengan wajah kaget. itu hanya luka ringan, tentu saja aku bisa menyembuhkannya dengan mudah.


Filia:"saya hanya bisa mencoba"


(akhir dari chapter ini)


selamat menikmati. see you next time ;)