
Ruang pertemuan itu merupakan sebuah ruangan yang luas dengan dinding berwarna coklat bata serta jendela besar dengan kaca patri yang menggambarkan sejarah kerajaan ini. di dalam ruangan diterangi oleh lampu kristal bercahaya kuning hangat. Di tengah ruangan, sebuah meja panjang di siapkan dengan rapi.
Di atas meja panjang itu berderet 6 buah tempat lilin bercabang 3, dan satu tempat lilin bercabang 5 yang di letakkan di tengah meja. Ada 15 kursi di bagian kanan dan 15 kursi di bagian kiri. Di ujung meja ada sebuah kursi yang lebih besar dan memiliki ukiran ular naga. Seluruhnya, total ada 31 kursi.
Aku hanya memimpin Yang Mulia dan berhenti sebentar sebelum duduk di kursi utama. Aku ingin tahu, kursi mana yang akan di ambil oleh Yang Mulia. Jika Yang Mulia mengambil kursi utama, itu sudah menegaskan sikap Yang Mulia untuk mengambil alih kerajaan ini di bawah Panji Moon Palace, dan mengambil pimpinan secara langsung tanpa memperhatikan bagaimana tanggapan kami.
Aku berhenti dan tidak segera menempati kursi. Sebenarnya aku menyisakan kursi utama kepada Yang Mulia, tapi Yang Mulia langsung mengambil kursi di kiri yang dekat dengan kursi utama. Sementara itu, ayah duduk berhadapan dengan Yang Mulia, dan duduk di sebelah kanan.
Aku tahu apa maksud dari Yang Mulia. Yang Mulia bermaksud untuk menyisakan kursi utama untukku. Tindakan seperti itu merupakan pengakuan dari Yang Mulia terhadap posisiku sebagai seorang ratu saat ini. Meskipun begitu, aku juga menyadari kedudukan ku jika di bandingkan dengan Yang Mulia.
Selain itu, Yang Mulia juga menegaskan bahwa meskipun mungkin dia mengambil kerajaan ini di bawah kekuasaannya, Yang Mulia masih memperhatikan bagaimana pendapat kami dan tidak mengambil keputusan secara sepihak. Yah, meskipun menurutku Yang Mulia akan tetap menjadikan kerajaan ini sebagai miliknya dan bergabung dengan Moon Palace, tapi setidaknya Yang Mulia masih memberi kami wajah dengan mau mendengar pendapat kami.
Meskipun mungkin Yang Mulia hanya ingin melihat bagaimana sikap dari orang-orang kerajaan kami.
Tanpa daya aku mengambil kursi utama yang kosong dan duduk disana. Karena ini adalah kunjungan mendadak, sebenarnya aku tidak tahu apa tujuan dari Yang Mulia untuk datang langsung ke kerajaan ini.
Aku mengambil nafas dalam sebagai upaya untuk menenangkan diriku yang gugup.
Aneria:"Selamat datang, Yang Mulia Filia di kerajaan kami. Saya tidak tahu ada keperluan apa hingga Yang Mulia mampu menyempatkan waktunya untuk berkunjung ke kerajaan kecil kami ini?."
Yang Mulia hanya tersenyum setelah mendengar pertanyaan ku. Aku kira nona Arkne dan bawahan Yang Mulia yang lain akan ikut duduk, tapi pada kenyataannya hanya Yang Mulia yang duduk, dan nona Arkne serta pria berjas militer itu berdiri di belakang Yang Mulia dengan sangat setia. Mereka menunjukkan posisi mereka yang sebagai bawahan.
Dari 30 kursi yang tersedia, selain kursi utama, hanya ada 29 yang terisi. Selebihnya, semuanya di kosongkan. Di bagian sebelah kiri hanya Yang Mulia Filia yang duduk, sementara di sebelah kanan, selain ayah juga terdapat menteri dan jenderal serta para tetua dan beberapa bangsawan.
Sebenarnya ada lebih banyak tokoh yang bertanggung jawab, tapi saat ini aku hanya mengizinkan tokoh inti saja yang berpartisipasi dalam pertemuan ini. Tokoh-tokoh ini mewakili berbagai kelompok, termasuk kelompok oposisi dan pendukung keluarga kerajaan.
Tujuanku memanggil orang-orang ini supaya setiap kubu tahu apa yang terjadi. Ini akan memudahkan ku mengambil keputusan dan meminimalisir terjadinya kesalahpahaman.
Jika mereka melihat langsung dan berpartisipasi dalam pembicaraan, tentunya mereka akan memahami apa itu Moon Palace. Dengan begitu, mereka akan tahu apakah mereka harus menolak keputusanku atau setuju dengan keputusanku. Dengan begini, terjadinya konflik karena keputusan yang aku ambil akan menjadi lebih kecil.
Filia:"Tujuan dari kunjungan saya kemari hanyalah untuk memupuk persahabatan. Tentu saja, tujuan utama kami adalah untuk menanyakan bagaimana keputusan kerajaan ini."
Banyak wajah kebingungan atas apa yang di katakan oleh Yang Mulia. Aku tahu apa maksud dari perkataan Yang Mulia, jadi itu tidak membingungkan untukku.
Darmond:"Jika saya boleh tahu, keputusan dalam hal apa yang anda maksud?."
Setelah ayah menanyakan hal itu, aku bisa melihat senyum misterius di sudut bibir nona Arkne dan pria berjubah militer di belakang Yang Mulia.
Filia:"Oh?. apakah Yang Mulia Ratu Aneria Klaus Dragonia, belum mengatakannya?."
Dengan itu, semua orang mengalihkan perhatiannya padaku. Bukan bermaksud untuk menyembunyikan apapun, tapi aku sedang mencari waktu yang tepat untuk mengatakan itu. Tapi, karena Yang Mulia tiba-tiba datang dan mengungkit hal itu, maka aku tidak ada cara lain selain menjelaskannya di sini.
Martias:"Yang Mulia, bisakah anda menjelaskannya?."
Huh...
Aku menghela nafas sambil memilah bahasa seperti apa yang akan aku gunakan untuk menjelaskan perkara ini. Perkara ini cukup rumit untuk di jelaskan. Jika aku membuat kesalahan, akan di pastikan bahwa para bangsawan ini akan menentang dengan keras. Pada akhirnya kerajaan ini yang akan menjadi korbannya.
Aneria:"Sebenarnya sebelum menjadi ratu negeri ini, aku telah memutuskan untuk mengabdi kepada Yang Mulia dan membuat kerajaan ini di bawah panji-panji kekuasaan Moon Palace."
BANG....!!
Suara meja di pukul bergema di seluruh ruangan. Pukulan itu sangat keras hingga beberapa tempat lilin di atas meja berguncang. Perlu di ketahui bahwa meja ini terbuat dari kayu keras dan memiliki ketebalan 10 cm. Untuk membuat guncangan di atas permukaan meja seperti itu, pastinya akan memerlukan tenaga yang besar.
Luik:"Apa ini!!. sebagai seorang penguasa, anda menjual negara anda sendiri?!. Apakah anda tahu apa yang anda lakukan?!."
"Itu benar!!. Sudah seperti yang saya katakan sebelumnya. Seharusnya raja tidak turun takhta secepat ini. Inilah hasilnya, seorang pemimpin yang tidak bertanggung jawab."
"Itu benar. Pemimpin macam inilah yang akan meruntuhkan kerajaan...!!"
"Sangat tidak memuaskan...!!"
"Pengkhianat negara...!"
Suara ketidakpuasan dari berbagai pihak mulai melayang di seluruh ruangan. Memang inilah yang seharusnya terjadi. Apa yang mereka tahu?!. Mereka hanya tahu untuk memuaskan kerakusan mereka sendiri dan haus akan kekuasaan. Mereka bahkan tidak memikirkan nasib dari rakyat.
Mereka hanya tidak tahu bagaimana kekuatan dari Moon Palace. Mereka tidak memikirkan apa yang akan terjadi jika berkonflik dengan kekuatan macam itu. Apakah mereka memikirkan bagaimana nasib rakyat?. Tidak, setiap hari mereka hanya memikirkan bagaimana cara untuk memperkuat posisi mereka sendiri dan mencari keuntungan setiap saat.
Mengingat hal itu, amarah di hatiku menjadi semakin bergejolak. Sekujur tubuhku merinding dan darah seakan mendidih, berpindah ke otak.
Aneria:"DIAM...!!"
"Apa, apakah pengkhianat sepertimu masih layak untuk berbicara?!. Turunlah dari kursi itu dan pergilah. Kami tidak membutuhkan pemimpin yang tidak berguna."
Martias:"Yang Mulia. Sebagai seorang Perdana Menteri, saya memiliki kepercayaan terhadap Yang Mulia. Tapi, saya mohon supaya Yang Mulia memikirkan hal ini kembali."
Aneria:"Perdana Menteri Martias, aku sudah memikirkannya dengan baik. Saat ini negara kita telah berkonflik dengan Astium Union. Bukan hanya itu, setelah serangan di kota gerbang iblis, banyak monster yang berlari keluar dari hutan kuno dan menyebabkan kerusakan berat di berbagai kota dan ladang pertanian.
Hal ini menyebabkan kelaparan dan kerugian yang sangat besar bagi negara kita. Untuk mengembalikan ekonomi negeri ini, kita hanya bisa menjadi negara bawahan dari Moon Palace."
Martias:"Tapi, tidak bisakah kita menempuh jalan yang lain?. Misalnya, kita bisa berhutang terlebih dahulu."
Sebelum aku menjawab, ada suara tawa kecil yang manis seperti lonceng angin. Meskipun itu adalah suara tawa yang lembut, suara itu menarik perhatian semua orang ke arahnya.
Filia:"*H*ahaha... Mungkin, kalian bisa melakukan pinjaman luar negeri dengan batas waktu tertentu. Kami memiliki semua yang kalian butuhkan."
Martias:"Kalau begitu_"
Darmond:"Waktu?."
Filia:"Bena, waktu... Kami akan segera melakukan agresi militer di daratan ini. Berapa banyak yang akan kalian hutang, saya ragu bahwa anda akan mampu melunasinya dalam kurun waktu kurang dari tiga cahaya kuning."
Bukan hanya orang-orang ini yang terkejut dengan perkataan Yang Mulia, tapi aku juga terkejut. Aku tidak menyangka bahwa Yang Mulia akan memiliki rencana seperti ini. Sekarang aku menyadari kenapa kerajaan kecil kami di incar oleh kekuatan besar misterius seperti Moon Palace. Itu karena tempat kami akan di jadikan sebagai pijakan untuk melakukan rencananya.
Darmond:"Tidak bisakah hal ini di bicarakan?."
Filia:"Tidak."
"Apa manfaat yang akan kami dapatkan jika kami menyetujuinya?!."
Pertanyaan itu seketika membuat wajah ku berkedut keras tak terkendali. Disaat seperti ini, mereka masih memikirkan tentang keuntungan?. Seberapa tebal urat rasa malu mereka?.
Filia:"Tentu saja kalian akan mendapatkan keuntungan. Kami akan memasok persediaan dan tenaga untuk membangun kembali semua kota yang telah hancur."
"Itu tidak cukup. Bagaimana dengan kami?."
Aneria:"Diam!!. Apa yang kamu bicarakan?!. Dalam situasi seperti ini, kalian masih memikirkan soal keuntungan pribadi?."
Aku benar-benar sudah tidak tahan lagi. Sudah lama aku menjauh dari kehidupan istana. Siapa yang menduga bahwa pemerintahan negeri ini akan begitu hancur dan berantakan.
Filia:"Aku datang kemari bukan untuk berdiskusi. Aku datang kemari untuk mendengar keputusan kalian!. Apakah menurutmu, kalian masih berhak untuk membicarakan apapun denganku?!."
Aku melihat bahwa senyum Yang Mulia benar-benar menghilang. Suaranya dingin mengigit tulang belakang, membuat bulu kuduk merinding tak terkendali.
Suasana menjadi hening dalam beberapa detik sebelum seorang bangsawan kembali angkat bicara.
"M, meskipun kami tidak akan mendapatkan apapun, tapi kami tetap bangsawan. Seharusnya anda memberikan keuntungan bagi kami untuk mengelola pemerintahan."
Filia:"Aku rela memberikan jabatan pada orang-orang, tapi bukan untuk orang seperti kalian. Aku tidak menginginkan pemimpin seperti Xia Jie."
(Xia Jie: Merupakan raja ke 17 dari Dinasti Xia, sekaligus raja terakhir. Xia Jie di kenal sebagai raja yang otoriter, kejam, suka bersenang-senang, dan mengabaikan negaranya, hingga membuat rakyatnya menderita. Dia di cap sebagai raja yang tidak kompeten dan menyebabkan keruntuhan Dinasti Xia. Lebih lanjut, bisa di cari di Wikipedia.)
Aku tidak tahu apa yang di katakan Yang Mulia, tapi aku bisa memahami makna dari Yang Mulia. Aku tahu bahwa semua pemimpin dan bangsawan di Moon Palace memiliki kesetiaan kepada yang mulia. Aku juga yakin bahwa untuk menciptakan Moon Palace hingga seperti saat ini, maka orang-orang yang berkuasa di bawah Yang Mulia haruslah orang-orang yang bersih, jadi bangsawan yang hanya mementingkan urusannya sendiri, tidaklah di anggap penting oleh Yang Mulia.
"Apakah kamu berniat untuk menyingkirkan kami?!."
Seorang bangsawan berdiri dan berkata dengan marah. Hanya saja, Yang Mulia menyambut kemarahannya dengan ekspresi wajah yang tidak berubah sedikitpun, seakan Yang Mulia tidak mendengarnya.
Filia:"Aku tidak membutuhkan orang yang tidak relevan seperti kalian. Jadi, seperti yang kamu katakan.!"
Jika orang lain yang seumuran Yang Mulia yang mengucapkan kata-kata itu, maka mungkin orang yang mendengarnya hanya akan tertawa dan menganggapnya sebagai anak yang berakting. Tapi sekarang, apa yang di katakan oleh Yang Mulia membuat tulang belakangku dingin.
Kata-kata itu bukan hanya untuk para bangsawan itu, tapi juga peringatan untukku. Mungkin suatu saat jika aku tidak bisa menunjukkan pekerjaanku yang memuaskan Yang Mulia, aku akan di singkirkan sebagai orang yang tidak relevan.
"Omong kosong. Kalau begitu kami akan melakukan perlawanan. Aku tidak percaya kalau yang kamu sebut sebagai Moon Palace mampu menahan serangan kerajaan kami setelah menggabungkan kekuatan dengan kekaisaran Xuan Ming. *H*umph..!!"
Bangsawan itu berdiri dan menunjukkan senyum sembrono yang sombong sambil memicingkan matanya kepada Yang Mulia.
Arkne:"Kamu bisa mencobanya. Tapi, aku dapat berjanji bahwa pemandangan di kota Mofas akan di pentaskan di seluruh negeri ini, termasuk di ibu kota."
Nona Arkne yang selalu diam di belakang Yang Mulia tiba-tiba berbicara. Dalam kata-katanya, terdapat niat membunuh yang sangat dingin. Jangankan aku yang sudah berada di Medan perang, bahkan para bangsawan yang hanya duduk di kenyamanan pun dapat merasakan niat membunuhnya yang kental, hingga membuat ekspresi ketakutan di wajah mereka.
Aku bahkan kembali mengingat kejadian di kota Mofas sebulan yang lalu. Kota Mofas merupakan kota besar dengan penduduk yang sangat padat. Tapi, satu bulan yang lalu, kota Mofas menjadi neraka pembantaian yang sangat kejam.
Monster serangga tingkat pertama dan kedua membentuk gelombang bencana serangga dan membantai seluruh penduduk di kota Mofas. Darah dan daging yang tercabik-cabik, Tunggul dan potongan tubuh, tersebar di seluruh tempat. Anak-anak, orang tua, wanita hamil, semuanya di bantai secara menyedihkan dan menjadi santapan serangga. Pemandangan yang aku lihat saat itu, benar-benar seperti sebuah neraka yang turun ke dunia fana.
Jika hal itu benar-benar di pentaskan di seluruh negeri, maka dapat di pastikan bahwa negeri ini akan benar-benar hancur lebur dan menghilang dari catatan sejarah. Yang lebih mengerikan, Moon Palace benar-benar memiliki kemampuan untuk melakukan itu.
Filia:"Aku akan menunggu keputusan kalian. Ini, aku berikan kepadamu!."
Yang Mulia melemparkan sebuah emblem perak berbentuk Phoenix perak dengan permata biru berbentuk bulan sabit di tengahnya kepadaku.
Filia:"Dengan emblem itu, kamu akan memiliki akses untuk langsung berteleportasi ke Moon Palace. Aku sudah menyiapkan kediaman untukmu. Datanglah, dan katakan keputusan kalian jika sudah siap. Tapi aku memperingatkan kalian, kami tidak punya banyak waktu dan kesabaran."
Setelah mengatakan itu, Yang Mulia berdiri dan bersiap untuk pergi.
Bang...!
Tiba-tiba suara dentuman keras terdengar. secara refleks, aku melihat ke arah pintu yang di tendang terbuka. Aku melihat seorang pria gemuk yang merangkul seorang wanita setengah telanjang di tangan kanannya, sementara botol minuman keras di tangan kirinya.
Melihat dari cara jalannya yang tidak stabil dan semburat merah di wajah serta sklera matanya, aku tahu bahwa dia sedang mabuk.
Phirios:"Aku... Hicks... Tidak menduga bahwa... Hicks... Kalian akan membicarakan pernikahanku secepat ini."
Dengan sempoyongan, pangeran Phirios berjalan ke arahku dari sisi kiri meja sambil membawa wanita mabuk setengah telanjang itu. Dia berjalan dan berhenti di kursi yang diduduki oleh Yang Mulia.
Pandangannya terhadap Yang Mulia terlihat sombong dan meremehkan. Aku bahkan bisa merasakan tatapan jijik dari matanya.
Phirios:"Menyingkir, Gadis Tersesat...!!"
(akhir dari chapter ini)