
Tanah terus di basahi oleh aliran darah dan berubah menjadi lumpur. Mayat-mayat dan Tunggul yang tersebar di tanah akan terinjak-injak oleh para prajurit lain yang berlari dan hancur. Tempat yang sangat tragis, disinilah para kesatria yang bangga terkubur bersama lumpur. Tempat dimana mereka akan dilupakan, hanya menyisakan kenangan dan kengerian musuh yang seharusnya tidak di tentang.
Nona Mimosa terus menerjang prajurit yang mencoba melarikan diri dan menebas mereka. Jejak darah di tinggalkan di belakangnya, mengalir seperti sungai darah yang panjang.
«Sword Technique: Ten Shadows Sword»
Sepuluh bayangan pedang hitam melayang di belakangnya dan langsung menuju para prajurit yang mencoba melarikan diri. Zirah besi ataupun perlindungan sihir mereka, semuanya di tembus dengan mudah oleh bayangan pedang itu. Setelah menembus dan memotong, pedang itu tidak berhenti, tapi terus melaju ke depan dan menimbulkan lebih banyak korban berjatuhan. Melihat saat ini, setidaknya tidak kurang dari seratus ribu prajurit telah terbunuh dalam waktu yang sangat singkat.
Bisa di katakan bahwa para prajurit tidak datang ke sini untuk berperang, melainkan mereka datang ke sini untuk menumbalkan nyawa.
Menyaksikan pemandangan tragis seperti ini, aku sudah tidak tahan lagi dan muntah di atas dek kapal. Beruntung aku hanya muntah, berbeda dengan Phirios dan Kharel yang sudah memiliki wajah pucat dan ekspresi yang putus asa karena tekanan dari ketakutan. Bersama dengan jeritan yang terus-menerus yang membuat mental semua orang semakin jatuh ke tempat terendah.
Phirios:"C, cepat, cepat panggil kapal lain untuk menyelamatkan kita..!!."
Phirios berteriak kepada seorang ajudan yang biasanya akan menyampaikan perintah darinya kepada seluruh pasukan. Mendengar perintah Phirios, ajudan itu gemetar dan mencoba untuk mengatakan sesuatu dengan kata-kata yang terbata-bata.
"M, maaf Yang Mulia, t, tapi seluruh kapal udara telah di lumpuhkan. Tidak ada lagi yang bisa membantu kita..."
Setelah apa yang di katakan oleh ajudan itu, tiba-tiba Phirios bersimpuh dan berlutut.
Phirios:"Bagaimana mungkin, bagaimana mungkin jadi seperti ini...?!."
Setelah meratap untuk beberapa saat, Phirios tiba-tiba berdiri dengan ekspresi wajahnya tampak gila dan tidak rasional. Aku yakin semua yang terjadi sudah membuat mentalnya runtuh saat ini. Seorang komandan yang tidak bisa menjaga ketenangan dalam kondisi seperti ini, dia hanya akan mengambil keputusan yang salah dan membuat kerugian yang sangat besar kepada pasukannya sendiri.
Phirios:"Benar, benar. Ini semua salah orang-orang Dragonis, jika mereka tidak menipuku untuk menyerang tempat ini, maka ini semua tidak akan terjadi. Ini semua adalah salah kalian...!!."
Phirios berkata dengan tawa gila. Dia berteriak kepada Duke Kharel dan menyalahkan semuanya kepada Dragonis Kingdom.
Kharel:"Bagaimana mungkin anda membuang pot hitam ini kepada kami?!. Ini semua adalah salah kalian karena terlalu rakus dan percaya diri?."
Duke Kharel yang juga marah, berdebat dengan Phirios. Dalam keadaan biasa, tidak mungkin hal seperti ini terjadi, bagaimanapun Kekaisaran Xuan Ming jauh lebih kuat dari kami, tapi dalam keadaan hidup dan mati seperti ini, tidak ada lagi posisi siapa yang paling kuat, yang ada hanyalah melimpahkan kesalahan kepada orang lain dan menggunakan orang lain demi keselamatannya sendiri.
Luik:"Hentikan!. Prioritas saat ini adalah untuk mundur dari Medan perang. Daripada membuang-buang waktu untuk berdebat, lebih baik kita memikirkan cara..."
Seorang Marshal yang sudah melewati ombak dan api memang berbeda. Dia bisa tetap tenang dan berfikir rasional dalam kondisi penuh kepanikan saat ini.
Phirios:"Hump... Apa lagi yang perlu di pikirkan?!. Karena ini semua gara-gara kerajaan kalian, kalian harus mengulur waktu dan membiarkanku melarikan diri."
Kharel:"Apa kamu pikir prajurit Dragonis Kingdom kita mampu?."
Saat mereka akan lanjut bertengkar, tiba-tiba terdengar suara tenang yang masuk ke telinga semua orang.
Mimosa:"Jangan terlalu memikirkannya, kalian sama sekali tidak akan bisa lari."
Nona Mimosa menghentikan pembantaiannya di bawah dan terbang ke arah kapal kami. Setelah itu, nona Mimosa melemparkan pedangnya ke tanah dan pedang itu menancap cukup dalam.
«Domain: Shadow Maze Field.»
Udara sejauh mata memandang terdistorsi dan seperti berputar, tapi selain distorsi singkat tadi, tidak ada sesuatu yang lain terjadi. Meskipun tidak terlalu terlihat, tapi aku melihat bahwa tidak peduli ke arah mana prajurit itu berlari, dia akan tetap kembali ke Medan perang. Bisa di katakan, bahwa semua orang yang berada di dalam area Domain ini tidak akan bisa melarikan diri.
Aku bisa melihat ekspresi kebingungan dan putus asa dari para prajurit yang mencoba melarikan diri. Menyadari bahwa mereka tidak akan pernah bisa melarikan diri, mereka hanya mengeratkan pegangan mereka pada gagang pedang. Melihat ekspresi itu, aku tahu bahwa mereka akan melakukan perjuangan yang putus asa.
Meskipun sejak awal Nona Mimosa melakukan pembantaian, dia hanya membunuh kurang dari dua ratus ribu prajurit, jadi sebenarnya masih ada banyak prajurit yang dapat menambah rasa percaya diri mereka untuk melakukan perlawanan, di tambah lagi mereka hanya bisa maju dan tidak bisa mundur, jadi dengan orang dan keyakinan terakhir, mereka menggertak kan gigi dan berteriak pada Nona Mimosa.
Nona Mimosa yang berdiri di udara kosong di depan kami melihat ke bawah saat dia mendengar teriakan perang para prajurit. Pandangan matanya berubah menjadi jijik dan sangat meremehkan.
Mimosa:"Tidak peduli seberapa lemah seekor serangga, mereka akan tetap mengganggu jika berkerumun."
Sepuluh bayangan yang identik nona Mimosa berkumpul di sekitarnya dan kembali menyatu dengan tubuhnya. Sebenarnya apa yang akan dia lakukan, masih ada ratusan ribu prajurit di bawah, apakah Nona Mimosa akan melepaskan mereka?.
Tidak, tidak mungkin!. Melihat sikap orang-orang Moon Palace dan ekspresinya saat ini, dia tidak akan melepaskan para prajurit itu.
Mimosa:"Selama berada di dalam domain milikku, kalian tidak akan pernah bisa keluar. Tidak peduli kemana kalian akan berlari, kalian hanya akan kembali ke titik semula."
Sepertinya tebakanku benar. Domain nona Mimosa akan menyesatkan siapapun yang ada di area Domain itu, dan membuat mereka berlari kembali ke titik yang sudah di tentukan. Dan jika tebakanku tidak salah, pedang yang di tancapkan ke tanah oleh nona Mimosa di awal adalah titik tersebut. Kenapa aku menyimpulkan hal itu?, Nona Mimosa tidak akan melakukan tindakan yang tidak berguna, jadi aku menduga bahwa tindakannya melemparkan pedang ke tanah memiliki makna tertentu, dan hanya itu yang bisa aku pikirkan.
Luik:"Pedangnya, cabut pedangnya...!!."
Marshal Luik langsung berteriak ke bawah dan memperingatkan para prajurit yang masih mengaum dan menantang nona Mimosa. Sepertinya bukan hanya aku yang menyadarinya, tapi Marshal Luik juga menyadari anomali tersebut. Akan sangat tidak berguna jika dia tidak menyadari hal itu, bagaimanapun, di adalah seorang Marshal yang sudah berada di Medan perang selama bertahun-tahun yang panjang.
Para prajurit putus asa yang mendapatkan perintah itu langsung menyalakan api semangat mereka. Karena mereka mendapatkan kembali secercah harapan, kilau di mata mereka telah berubah, yang awalnya mereka berniat berperang untuk mati, saat ini mereka berniat berperang untuk hidup.
Para prajurit yang paling dekat dengan pedang yang menancap itu, mereka langsung berduyun-duyun untuk meraihnya, namun setelah tangan mereka menyentuh permukaan pedang, prajurit itu langsung berteriak ke arah langit, nampak sangat kesakitan.
Kembali, kabut merah berdarah keluar dari rongga mata dan mulutnya, tapi kali ini kabut merah itu tidak datang ke gumpalan awan darah, melainkan langsung di serap oleh pedang. Dalam cara itu, ratusan prajurit tewas secara mengenaskan menjadi mayat kering.
Menyadari bahwa cara itu gagal, para prajurit itu mulai mencari cara lain. Mereka mencoba menebas pedang itu dengan senjata mereka atau mencoba mencabutnya dengan sihir, tapi tidak peduli cara apa yang mereka gunakan, mereka tetap gagal.
Cahaya harapan yang tadi mereka dapatkan, seakan itu adalah sebuah ilusi dan menghilang dengan sekejap mata. Keputusasaan, kemarahan, ketakutan, kekecewaan, penyesalan, dan berbagai perasaan negatif lainnya dapat di lihat dari para prajurit itu.
Luik:"Kamu, apa yang ingin kamu lakukan?!".
Mimosa:"Yang Mulia memerintahkan saya untuk mengurangi jumlah kalian, jadi sebelum jumlah kalian mencapai kriteria yang di tetapkan oleh Yang Mulia, saya akan terus membunuh."
Luik:"Apakah kamu Monster!!."
Mendengar jawaban nona Mimosa, Marshal Luik berteriak dengan marah, sementara para bangsawan lain dengan mental yang lebih lemah mulai berlutut dan memohon sambil menangis.
Seolah tidak mendengarkan teriakan Marshal Luik dan para bangsawan ataupun melihat tindakan para prajurit yang menjadi semakin gila di bawah, Nona Mimosa tetap mengambang di udara dan malah mulai menutup matanya. Setelah beberapa saat, dia membuka kembali matanya dan sedikit mengangguk.
Mimosa:"Sepertinya memang tidak muncul."
Nona Mimosa bergumam tidak jelas. Dia mendongak dan melihat awan darah yang masih terus mengeluarkan suara jeritan mengerikan dari dalamnya. Melihat pemandangan itu, Nona Mimosa menghela nafas dan menggelengkan kepala.
Mimosa:"Akan sangat sia-sia jika hal bagus seperti ini di hilangkan begitu saja."
Setelah merenung sejenak, Nona Mimosa seakan sudah memutuskan.
Mimosa:"Syarat sudah terpenuhi, tersanjung lah kalian karena melihat sihir nona Upirina."
"Wujud dari jiwa-jiwa yang telah mati, kamu yang tidak berada di cahaya atau kegelapan, kamu yang mampu menentang para Sura dan Raksasa. Muncullah dengan wujudmu yang menggambarkan dosa-dosa ku, muncullah sebagai kegelapan dalam hatiku. Merasa terhormat lah kalian yang akan mati dengan menyaksikan wujudnya."
"Datanglah sebagai perwujudan kegelapan ASURA...!!"
Mantra yang panjang dan misterius seperti sebuah nyanyian dan pujian terdengar di telinga kami. Para prajurit yang masih mencoba menyerang pedang ataupun yang masih berteriak-teriak pada nona Mimosa, seketika menjadi hening.
Semua orang mendengarkan mantra yang di ucapkan nona Mimosa. Meskipun suaranya sangat lembut dan menyenangkan untuk di dengar, tapi orang dapat merasakan kengerian dari setiap kata-kata yang keluar.
Duar.... Duar....!!.
Suara guntur yang sangat keras memekakan telinga mengejutkan semua orang. Aku mendongak dan melihat bahwa awan darah yang tadi mengambang dengan tenang, kini mulai mendidih, dan di antara awan darah itu berkelebat kilat dan guntur yang mengerikan seperti awan badai.
Awan darah itu mulai berkumpul dan mengembun menjadi sebuah bola raksasa. Bola raksasa itu terus menyusut dan membentuk sebuah sosok humanoid besar.
Semakin lama, wujud dari sosok itu menjadi semakin jelas. Sosok itu kekar dan berdiri tegak di udara dengan kaki telanjang. tingginya sekitar lima meter atau lebih. Sosok itu bertelanjang dada dan memiliki kulit berwarna merah padam. Ada kulit binatang yang menutupi bagian bawahnya, serta beberapa perhiasan berwarna emas di beberapa tempat.
Yang lebih mengejutkan, sosok humanoid itu memiliki tiga wajah marah dengan taring di setiap sudut mulutnya yang sangat mengerikan, dan enam lengan, dimana setiap lengan memegang suatu benda dengan bentuk yang berbeda-beda.
Di bagian belakangnya terdapat cincin halo yang bersinar keemasan, menunjukkan sosok yang sangat menyeramkan tapi juga mulia, seperti seorang dewa.
Makhluk humanoid itu langsung turun ke darat dan mengangkat salah satu lengannya yang memegang pedang tajam. Pedang itu di ayunkan dan banyak prajurit yang masih tercengang langsung terbunuh di tempat.
Makhluk itu terus menerjang ke arah prajurit dan setiap tangannya melakukan serangan. Para prajurit yang sudah kembali dari tercengang, mereka mulai mencoba melakukan perlawanan.
Berbagai serangan dan sihir menghantam monster itu, tapi serangan mereka menghilang tanpa mampu menyentuh kulit monster itu.
Monster itu mengayunkan pedang panjang yang di pegang di salah satu lengan kanannya dan menebaskan secara vertikal ke bawah. Seketika, barisan prajurit yang ada di depannya terpotong secara mengerikan. Selain membunuh ribuan prajurit, tebasan itu juga menciptakan parit sepanjang ratusan meter.
Saat inilah aku menyadari bahwa setiap benda yang ada di tangan monster itu adalah senjata sihir yang sangat kuat. Monster itu mengangkat salah satu tangannya yang memegang sebuah benda aneh, benda itu adalah tongkat logam yang di kedua sisinya di hiasi dengan banyak sula. Sula-sula itu membentuk sebuah formasi dengan sula utama ditengahnya yang dikelilingi banyak sula-sula lain yang melengkung ke dalam dan ujungnya menyambung bersatu dengan sula utama di tengahnya (Vajra / wajra).
Saat senjata itu di angkat, petir seketika mengamuk di langit. Langit yang awalnya berwarna merah cerah, kini menjadi gelap dan ganas karena awan badai.
Petir terus menyambar tumpang tindih dan akhirnya jatuh ke antara kerumunan, membuat semua prajurit di area itu berubah menjadi kokas hitam hangus. Petir terus menghantam ke arah para prajurit, melakukan pembantaian yang sangat kejam.
Kekuatan yang di tunjukkan Moon Palace selama ini sudah benar-benar menakutkan, membuat hati siapapun menjadi dingin dan penuh keputusasaan. Mungkin karena merasakan keputusasaan itu, Marshal Luik dan orang-orang yang ada di atas kapal hanya bisa terdiam sambil melihat ratusan ribu prajurit yang di bantai dengan sangat kejam.
Semakin lama, area perang di darat menjadi lebih sepi, hanya prajurit yang sangat jarang yang terlihat, setidaknya ada puluhan ribu. Jangan bayangkan bahwa itu banyak, lebih dari empat ratus ribu prajurit (Di kurangi dengan yang menaiki kapal udara) akan memakan tempat yang sangat luas saat berbaris, setidaknya beberapa kilometer, dan sekarang, area seluas itu hanya akan ada puluhan ribu prajurit dan terus berkurang, jadi bisa di bayangkan kenapa aku mengatakan bahwa itu menjadi jauh lebih sepi.
Meskipun hanya puluhan ribu dari ratusan ribu yang tersisa, makhluk itu tidak berhenti melakukan pembantaian. Makhluk itu terus membunuh seakan makhluk itu haus akan kematian dan pembunuhan.
Saat hanya tersisa beberapa ribu prajurit yang masih hidup, monster itu berhenti, dia melayang ke arah nona Mimosa dan berhenti di belakangnya.
Dari udara, nona Mimosa mengulurkan tangannya kearah pedang yang menancap di tanah. Seketika, pedang yang menancap itu tiba-tiba nampak bergoyang dan mencair menjadi cairan perak. Cairan pedang itu melayang dan berubah menjadi gelang di pergelangan tangan nona Mimosa.
Mimosa:"Inilah akibat dari menentang Yang Mulia, tidak akan ada ampun atau belas kasihan. Sampah, tetaplah menjadi sampah."
Setelah kata-kata itu, nona Mimosa berbalik dan melayang kembali ke arah retakan sambil di ikuti oleh monster itu di belakangnya.
Tidak ada yang berbicara setelah nona Mimosa pergi, semua orang hanya diam dengan mata penuh penyesalan. Marshal Luik melihat ke bawah, melihat tanah yang berubah menjadi neraka yang di penuhi dengan berbagai potongan mayat yang tercampur dengan genangan lumpur darah.
Prajurit yang masih hidup, mereka jatuh ke tanah tanpa mempedulikan lingkungan sekitar dan menangis dengan sangat keras. Aku dapat memastikan bahwa mereka tidak akan melupakan kenangan ini.
Kenangan berdiri di depan pintu kematian...
(Akhir dari chapter ini.)
#2/2.
Hari ini 2 Chapter, lain kali mungkin 4 atau lebih.