
Filia...
Inilah nasib dari mereka yang lemah. Mereka hanya akan tunduk pada kekuatan yang lebih kuat. Para prajurit itu melemparkan senjata mereka dan jatuh menangis di tanah berlumpur. Tidak peduli seberapa mereka enggan menyerah, di depan kekuatan absolut, mereka tidak akan bisa melakukan apapun selain tunduk.
Sambil mengamati para prajurit dari kekaisaran Xuan Ming, aku memperhatikan sekitar dan menyebarkan deteksiku ke area yang sangat luas, mencoba untuk merasakan fluktuasi energi yang aneh. Jika memang ada kekutan yang kuat bersembunyi, ini adalah waktu yang tepat untuk keluar, tapi yang membuatku kecewa, setelah aku menunggu beberapa saat aku sama sekali tidak merasakan fluktuasi energi yang aneh.
Aku memandang orang-orang yang menyerah di tanah seperti seekor tikus di tempat sampah. Yang tidak aku duga, sekelompok prajurit sekitar lebih dari seratus orang, mereka tetap berdiri dengan memegang erat pedang di tangan mereka. Mata mereka tidak di arahkan ke pasukanku, tapi mata mereka melihat lurus ke arahku. Dalam mata itu, aku bisa melihat tekat dan ke keras kepalaan dari orang-orang itu.
Sebelumnya aku memang memperhatikan kelompok mereka. Bahkan, saat pertarungan yang putus asa di awal, mereka tetap tidak memadamkan semangat perjuangan mereka. Aku terus melayang di udara sambil memperhatikan mereka, menunggu mereka untuk mengatakan sesuatu.
Tidak seperti yang aku duga. Mereka tidak mengucapkan sepatah katapun padaku. Seorang yang mungkin adalah pemimpinnya, dia mengalihkan perhatiannya dari ku dan melihat pasukanku yang sedang berbaris.
"Demi tanah air dan keluarga yang ada di belakang kita... Maju... Jangan pernah putus asa... SERANG...!!"
"Hua...!"
"Serang... Bunuh mereka...!"
Dia mengangkat pedangnya dan berlari memimpin orang-orang di belakangnya untuk menemui pasukanku. Benturan itu terjadi sangat cepat. Lebih dari seratus orang tidak pernah gentar menghadapi ratusan ribu pasukanku yang sedang berbaris...
Perlu aku akui, bahwa aku mengagumi keberanian mereka. Tapi... Aku juga membenci musuh patriotis. Mereka akan berjuang hingga akhir dan membuat semuanya menjadi lebih sulit.
Suara dentang senjata kembali terdengar. Lebih dari seratus orang itu bergerak secara fleksibel di antara pasukanku dan bertarung dengan orang-orang di depannya. Meskipun mereka sangat kuat, tapi di bandingkan dengan pasukanku, meskipun pasukan Zero, mereka tetap hanyalah sampah.
Tapi, meskipun sampah, kemampuan bertarung mereka setidaknya setara dengan seorang zero yang telah di latih dalam pertarungan. Mereka dapat bertahan lama dalam menghadapi pasukanku, tentu saja pasukanku yang melawan mereka hanya beberapa orang saja, dan yang lainnya hanya menonton pertunjukan.
Mungkin karena terangsang oleh pertempuran oleh orang-orang itu, pasukan Xuan Ming yang telah terduduk lama dan putus asa, mereka seakan mendapatkan kembali sebuah harapan. Berapa orang berdiri dengan tubuh berlumpur dan kembali memegang erat senjata di tangan mereka.
"Berjuang... Berperang hingga akhir...!"
"Bunuh Musuh... Serang...!."
Mereka juga berlari dan kembali bergabung dalam pertarungan. Dengan beberapa pelopor, banyak orang juga mulai berdiri dan meraih senjata apapun yang ada di dekat mereka.
Wajah, armor, dan tubuh mereka begitu gelap karena lumpur yang menempel, seakan mereka menyatu dengan lingkungan yang suram ini, tapi cahaya pantang menyerah di mata mereka benar-benar menyilaukan.
Mereka langsung berlari kembali dan berbenturan dengan pasukanku. Hanya dalam waktu singkat, lebih dari 600.000 orang kembali bangkit dan melanjutkan perjuangan mereka.
Pertarungan tahap ke dua di mulai...
Bukan karena aku tidak mau menghabisi mereka sesegera mungkin, tapi melawan musuh yang keras kepala dan pantang menyerah seperti ini adalah latihan yang tepat untuk pasukanku. Lagi pula, aku juga ingin melihat, sampai batas mana semangat juang mereka dapat bertahan...
Meskipun energi mereka sudah hampir habis dan bahkan mencapai batasnya, tapi semangat juang mereka menjadi bahan bakar untuk terus berperang. Sama sekali tidak terlihat bahwa mereka telah melewati waktu berperang yang begitu lama.
Mayat dan tunggul mulai menumpuk semakin tinggi. Perlu di ketahui, sejak awal perang hingga saat ini, perang ini sudah menelan korban jiwa lebih dari 800.000 orang dari kedua belah pihak. Meskipun di awal perang pasukanku memiliki lebih sedikit orang, tapi semakin lama perang berjalan, keunggulan pasukanku menjadi semakin terlihat. Terutama bahwa prajurit Tier satu milikku sama sekali belum berkurang.
Kata 800.000 orang bukanlah sekedar angka, tapi setiap angka adalah nyawa. Bisa di bayangkan betapa kejam perang yang berlangsung sebentar ini. Berbagai senjata dan teknik bertarung di gunakan dalam perang, hanya menyisakan pikiran untuk membunuh musuh.
Perang di permukaan semakin kejam. Tidak ada lagi yang memiliki mentalitas teman atau rekan. Mereka menggunakan berbagai macam sihir daya hancur tinggi untuk menyerang musuh tanpa memperkirakan bahwa serangan itu mungkin juga akan berdampak pada rekan mereka.
Waktu terus berlalu, medan perang begitu kacau dan berdarah, setiap menit dan setiap detik akan ada teriakan putus asa dan nyawa yang di hilangkan.
Dalam pasukanku, aku tidak hanya menggunakan prajurit biologis, tapi juga prajurit mekanik. Aku melihat seorang prajurit Robot humanoid zero yang di ledakkan oleh sihir prajurit Xuan Ming hingga seluruh tubuhnya menjadi kepingan logam yang tersebar di Medan perang.
Prajurit Robot humanoid atau «ARTINOID–WARINE» (ARTificial Intelligence humaNOID– WAR machINE) merupakan prajurit mekanik yang di ciptakan oleh Sister Argent yang di tinggalkan di Moon Palace. Hampir seluruh prajurit robot dan peralatan teknologi tinggi di seluruh Moon Palace di ciptakan oleh Sister Argent.
Bukan berarti member lain tidak bisa membuatnya, tapi untuk teknologi robotika dan kecerdasan buatan, sister Argent adalah yang terbaik. Bagaimanapun di dunia nyata dia adalah anak dari pemilik perusahaan pengembangan robot dan kecerdasan buatan terbesar di seluruh dunia saat itu. Selain itu, Sister Argent sendiri merupakan anak yang di sebut jenius dalam bidang robotika.
Melihat prajurit ku mati satu persatu, sebenarnya ada perasaan sakit hati yang samar. Bagaimanapun, aku dan para saudari member guild membuat para prajurit itu dengan sepenuh hati. Mulai dari mengumpulkan bahan, desain karakter, hingga program mereka kami buat dengan menghabiskan banyak waktu dan usaha.
Meskipun aku sakit hati melihat mereka di hancurkan, tapi aku juga ingin melihat apakah mereka dapat berkembang melalui perang ini.
Perang terus berlanjut. Indera perasa waktu mulai menjadi semakin samar di tengah ketegangan dan api perang yang masih terus bergejolak.
Melihat bahwa kemenangan sudah mulai condong ke arah kami, aku mengangguk dengan puas, tapi aku tidak bisa terus melihat prajuritku yang tersisa mengalami kematian dan kerusakan.
Tidak mungkin aku ingin melihat kerugian begitu saja, kan?. Untuk menanggulangi kerusakan yang lebih lanjut, aku memutuskan untuk kembali ke Medan perang dan memanen lebih banyak Exp.
Dengan sedikit kepakan sayap, aku terbang lurus ke arah pusat perang. Bagi orang luar, sayap yang ada di belakangku memiliki suhu yang sangat tinggi, tapi bagiku yang memiliki darah Moon Phoenix, aku sama sekali tidak bisa merasakannya.
Sampai di pusat perang, aku memperhatikan orang-orang yang berteriak dan terus maju tanpa takut mati itu dengan sedikit perasaan kagum dengan semangat juang mereka.
Entahlah, semenjak darah Phoenix dan dua darah lainnya menyatu ke dalam tubuhku, aku sama sekali tidak memiliki perasaan kasihan atau enggan melihat Medan orang yang di penuhi oleh orang-orang mati.
Yah, mungkin saat ini aku sudah mewarisi sifat dari Phoenix dan Elf. Perlu aku jelaskan di sini. Ras Phoenix dan ras elf memiliki banyak kesamaan dalam sifat mereka, seperti: kesombongan, kebanggaan, dan kasih sayang.
Ras Phoenix dan Ras Elf, mereka sama-sama sombong. Mereka adalah dua ras yang di sayangi oleh alam. Terutama ras Phoenix, mereka adalah ras yang setara dengan naga dan terlahir di zaman awal. Mereka adalah kaisar di antara binatang buas, salah satu dari empat binatang buas awal atau bisa di sebut dewa bagi ras binatang.
Sementara elf, mereka adalah ras yang terlahir di zaman ke tiga, sama dengan manusia. Hanya saja mereka adalah ras yang sangat sensitif terhadap mana sekaligus ras cantik dengan umur yang sangat panjang.
Karena mereka adalah ras yang sangat sensitif dan di sukai oleh mana, ras elf dapat dengan mudah menguasai sihir dan berbagai teknik bertarung yang menggunakan mana. Terlebih lagi, dengan sensitivitas mereka terhadap mana, mereka menjadi lebih mudah menerobos halangan dan masuk ke tier selanjutnya.
Karena kelebihan kedua ras itu, kedua ras itu sangat bangga dan menganggap ras lain sebagai ras yang lebih rendah daripada mereka. Itu adalah kesombongan dan kebanggaan dari ras yang berdiri di puncak dunia. Tentu saja jika di bandingkan dengan empat ras binatang dewa, elf jauh lebih rendah.
Dan untuk kasih sayang, meskipun ras Phoenix dan ras Elf sangat bangga dan sombong hingga ke tulang-tulangnya, dan menganggap ras lain sebagai ras rendahan, tapi mereka juga memiliki kasih sayang yang besar. Mereka akan sangat menyayangi keluarga mereka, bahkan jika mereka berbeda ras. Jika Phoenix ataupun elf menyukai seseorang dari ras yang berbeda, mereka tidak akan pernah melepaskannya dan sangat setia. Mereka akan mengorbankan nyawa mereka demi pasangannya. Mereka juga hanya akan mencintai satu untuk selamanya, bahkan jika cinta mereka tak terbalaskan.
Itulah kenapa ibu dan ayah bisa saling mencintai. Dan nenek, dia melihat ayah dengan sedikit ketidakpuasan. Itu semua karena sifat alami mereka. Yah, meskipun darah elf nenek dan ibu sangat tipis.
Namun, satu hal yang paling mencolok dari sifat ras Phoenix dan juga ras Elf, yakni mereka kejam. Sebagai binatang buas, Phoenix sangat kejam dan tidak memiliki perasaan dalam menghancurkan dan pembantaian. Bahkan ras Phoenix di sebut sebagai ras pembawa bencana. Itu karena ras Phoenix menyukai keindahannya, jika mereka melihat sesuatu yang menurut mereka merusak keindahan atau menggangu mereka, mereka akan menghancurkannya tanpa pandang bulu.
Aku menghembuskan nafas ringan dan mengambil keputusan untuk menggunakan sihir AOE sekala besar untuk dengan segera mengakhiri perang ini. Tentu saja aku tidak berniat untuk membunuh semua prajurit musuh, tapi aku harus menghancurkan mental mereka hingga berkeping-keping.
Saat aku sudah mengambil keputusan dan siap mengeksekusinya, tiba-tiba aku merasakan mana yang mengamuk. Aku memperhatikan sekitar Medan perang. Dari jarak sekitar 3km, aku melihat sekitar 3000 penyihir berkerudung berbaris mengelilingi sebuah lingkaran sihir. Mereka menusukkan pedang ke perut mereka dan membiarkan darah merah mengalir ke seluruh lingkaran sihir sambil terus merapalkan mantra.
Oh, Sihir pengorbanan?. Aku tidak tahu seberapa kuat sihir pengorbanan mereka, tapi jika itu di Alterion, sihir pengorbanan tidak akan lebih rendah dari sihir Tier tiga.
Sihir pengorbanan sendiri adalah sihir yang di gunakan oleh orang-orang Tier rendah untuk mengeluarkan sihir Tier tinggi. Karena mana yang tidak mencukupi, mereka harus menggunakan nyawa dan darah banyak orang untuk menutupi kekurangan mana itu.
Bukan hanya NPC, para pemain di Alterion juga kadang menggunakan sihir semacam itu di tahap awal. Tahap awal karena mereka hanya menggunakan sihir Tier tiga hingga puncak Tier tiga. Bukan karena mereka tidak bisa menggunakan teknik itu untuk memanggil sihir Tier yang lebih tinggi, tapi semakin tinggi tingkat sihir yang di panggil, maka akan semakin besar pula pengorbanan yang di butuhkan.
Terutama, jika mereka menggunakan teknik itu untuk memanggil sihir yang lebih kuat dari Tier tiga, mereka juga akan menggunakan kekuatan jiwa dan bahkan menggunakan jiwa mereka.
Seperti yang pernah aku katakan, jiwa adalah hal yang sangat penting dalam game Alterion. Jika kekuatan jiwa di konsumsi terlalu banyak, maka orang itu akan mengalami masa kelemahan hingga seluruh kekuatan jiwanya yang hilang terisi kembali. Dan jika jiwa mereka hancur, mereka akan terkena banned dan tidak di izinkan untuk memasuki Alterion lagi.
Perlahan, lingkaran sihir yang di sirami darah itu mulai menyala merah. Langit di atas Medan perang juga memiliki lingkaran sihir raksasa berwarna oranye panas. Lingkaran sihir itu setidaknya mencakup area seluas 20km dan hampir menelan seluruh Medan perang.
Mana di udara mengamuk dan tersedot dengan gila ke arah lingkaran sihir itu. Tak perlu waktu lama, bola api raksasa yang berpijar mulai terbentuk. Bola api itu sangat besar dan panas, seakan di dunia Helheim yang penuh kegelapan, tiba-tiba melahirkan sebuah matahari.
Suhu panas dan udara yang terdistorsi menggangu jalannya peperangan. Asap dan debu mulai tersebar karena tekanan masa yang sangat besar dari bola api itu.
Setelah bola api itu muncul, para penyihir yang mengorbankan diri itu menjadi kering dan berubah menjadi abu di tanah. Dengan kematian penyihir terakhir, bola api itu juga jatuh ke arah Medan perang, menimpa para prajurit yang sedang berperang.
Tapi jangan lupa, bahwa di langit Medan perang saat ini di kuasai oleh pasukan Valkyrie yang telah aku panggil. Ada ratusan ribu dari mereka dan masing-masing antara Tier dua dan tiga.
Valkyrie mengangkat kepala mereka dan melihat bola api raksasa yang jatuh. Mereka mengangkat tombak emas di tangan mereka secara bersamaan.
Boommm...!
Benturan dari bola api dan perisai itu sangat keras. Udara bergetar dan suhu panas menyebar hingga puluhan kilometer jauhnya. Lumpur yang tercipta dari darah para prajurit di Medan perang, menguap menjadi kabut berbau busuk dan anyir yang sangat menyengat. Bahkan aku merasa sedikit mual dengan bau itu.
Langit yang merah menjadi oranye menyala, seakan langit pun ikut terbakar oleh bola api. Pemandangan spektakuler itu berlangsung selama beberapa menit. Tapi, beberapa menit itu adalah beberapa menit yang penuh dengan kekuatan teror dan kehancuran.
Pemandangan mengerikan seperti itu hanya sedikit mempengaruhi prajurit yang berperang. Bukan karena mereka tidak peduli, tapi mereka tidak ada waktu untuk memikirkan lebih banyak hal.
Setelah aku yakin bahwa sihir pengorbanan itu telah di tahan, aku mengalihkan kembali perhatianku untuk peperangan.
«Racial Magic, Tier 3: Moon Dust»
Bola-bola cahaya putih agak kebiruan seukuran ibu jari mulai terbentuk di sekeliling sayapku. Bola-bola cahaya itu berjumlah ribuan yang sangat padat.
Udara yang semula panas, tiba-tiba turun drastis ke titik beku. Lapisan es tipis terbentuk di pipi kanan dan kiriku. Meskipun demikian, sebenarnya aku sama sekali tidak merasakan dingin. Aku hanya merasakan bahwa suhu udara sedikit turun, dan bahkan cenderung sejuk.
Swos...!!.
Dengan kepakan sayapku, ribuan bola cahaya putih kebiruan itu melesat ke tengah pasukan Xuan Ming dengan membawa jejek ekor putih berasap seperti komet yang sangat panjang.
Bang...!
Bang...!
Bang...!
...
Begitu bola cahaya putih kebiruan itu membentur tanah di sekitar prajurit Xuan Ming, bola-bola cahaya itu meledak. Semua yang berjarak kurang dari 20m langsung di uapkan menjadi serbuk es, sementara mereka yang berjarak hingga empat puluh meter membeku menjadi patung es.
Meskipun jarak efektif ledakan bola cahaya itu hanya sekitar 40m, tapi orang-orang yang di luar jarak itu masih terkena dampak yang signifikan. Kulit mereka terbakar oleh api putih kebiruan dan mulai terkelupas dengan asap dingin yang membekukan.
Api yang membakar mereka sama sekali bukan api yang panas, namun sebaliknya, api yang membakar mereka memiliki suhu yang sangat dingin hingga mampu membakar kulit makhluk biologis dengan sangat parah.
Jika manusia terkena, dia tidak akan bisa membedakan apakah api itu panas atau dingin, tapi mereka bisa melihat bahwa di tanah berlumpur, lapisan es tebal mulai terbentuk.
Dengan jumlah bola putih kebiruan itu yang cukup banyak, area yang berdampak juga sangat luas dan menyebabkan banyak korban berjatuhan. Bukan hanya itu, tapi tanah berlumpur yang membeku juga mempersulit pergerakan mereka dan membuat banyak prajurit Xuan Ming terjatuh karena lapisan es.
«Ice Magic, Tier 3: Thousands of frozen thorns»
Dari tanah yang membeku, tiba-tiba duri-duri es tajam mencuat dan menusuk para prajurit yang ada di atasnya. Duri-duri es tajam itu sangat padat dan keras dengan jumlah yang sangat banyak, sehingga korban yang terkena serangan itu juga sangat banyak. Mereka yang tertusuk oleh duri es itu tidak sempat meneteskan darah dari luka mereka dan langsung membeku menjadi patung es.
Dengan hadirnya duri es, Medan perang semakin tidak bersahabat. Korban yang berhasil lolos kadang akan tanpa sengaja terjatuh ke kelompok duri es dan langsung di pakukan di sana.
Dalam dua serangan berturut-turut, berhasil menjatuhkan korban lebih dari tiga ratus ribu orang prajurit. Dengan berkurangnya semakin banyak prajurit Xuan Ming, tekanan yang mereka derita menjadi semakin besar dan korban yang berjatuhan menjadi semakin banyak.
Inilah kenapa orang yang telah memasuki Tier menganggap bahwa zero itu sangat lemah. 100 zero sebanding dengan satu Tier 1. Di katakan sebanding bukan karena mereka bisa mengalahkan Tier satu, tapi mereka sudah bisa memberikan perlawanan kepada Tier satu. Dan jika zero melawan Tier 2, maka tidak peduli seberapa banyak mereka, mereka hanyalah sayur yang bisa di panen.
"Menyerahlah... Tidak peduli seberapa keras kalian bertarung, kalian hanya seperti daun kering di tengah badai. Apa gunanya kalian terus melakukan perlawanan yang tidak berguna dan menimbulkan lebih banyak kematian. Menyerahlah, dan akan aku simpan nyawa kalian...!"
Aku menggunakan gelombang mental untuk mengirim pesan ke seluruh Medan perang supaya bisa di dengar oleh semua orang.
Menyadari bahwa apa yang aku katakan adalah kebenaran dan merasakan bahwa mereka akan kalah, mereka sudah ingin menyerah, tapi mereka masih ragu-ragu karena mereka takut jika menyerah, nyawa mereka juga akan melayang. Yang aku lakukan dengan mengirim pesan itu adalah untuk memperkuat keputusan menyerah mereka.
Di tengah keputusasaan dan kematian yang semakin mendekat, kata-kata menyerah adalah jalan terakhir mereka. Perang bukan hanya kontes kekutan dan strategi, tapi perang juga merupakan kontes permainan perasaan musuh. Semakin lemah mental musuh, semakin mudah mereka runtuh...
"A... Aku, aku menyerah....!"
Dari pinggir Medan perang, aku mendengar teriakan penyerahan yang sedikit tenggelam oleh suara peperangan. Dia melemparkan senjatanya dan segera berlari, menjauh dari Medan perang.
"A, aku juga menyerah..."
"Kami menyerah..."
Dengan adanya contoh yang pertama, maka yang kedua, ketiga, dan seterunya mulai muncul. Lambat laun, orang yang menyerah menjadi semakin banyak. Mereka melempar senjata usang mereka dan menyingkir ke pinggir Medan perang.
Dalam waktu kurang dari satu jam setelah orang pertama menyerah, hampir semua prajurit menyerah. Hanya beberapa yang belum menyerah dan terus melawan, namun perlawanan mereka hanya seperti setetes air tawar yang jatuh ke lautan, tanpa meninggalkan gelombang sekecil apapun.
Aku melihat Medan perang yang semakin tenang karena perang akan berakhir. Di salah satu posisi Medan perang, aku melihat seorang prajurit yang kembali berdiri dari kubangan lumpur yang lengket. Bagian tangan kirinya sudah terpotong dan Ada sekitar tiga pedang yang menancap dari bagian depan tubuhnya dan menembus hingga ke punggung.
Dengan luka fatai seperti itu, orang biasa di pastikan akan mati, tapi dia masih memegang erat senjatanya dan mencoba kembali berdiri. Dia mendekati prajurit dengan langkah pelan dan terhuyung-huyung dan mengayunkan pedang dengan tangan gemetar.
Dentang...!
Suara pedang itu berdentang saat membentur armor prajuritku. Hanya saja, karena luka yang parah dan kondisi yang melemah, dia sama sekali tidak menimbulkan goresan pada armor prajuritku.
Dengan serangan itu, prajurit itu kembali terjatuh dan tidak bangkit kembali. Sepertinya serangan yang dia lakukan adalah serangan terakhir sebelum kematian. Aku terbang mendekat dan memperhatikan prajurit yang berlutut di tanah berlumpur itu.
Dia adalah prajurit yang memimpin perlawanan di perang ke dua. Tidak aku sangka, bahwa dia akan benar-benar memegang teguh semangat pertarungannya hingga akhir. Dia pantas untuk di hormati sebagai pejuang sejati...
Saat ini, perang sudah benar-benar berakhir...
Aku terbang kembali ke ketinggian yang sama dengan para Valkyrie dan menyaksikan seluruh Medan perang yang sangat luas. Di ujung Medan perang, ada sebuah benteng yang tepat berada di kaki pegunungan berbatu. Dari atas, aku bisa melihat beberapa ratus orang yang lari menggunakan Enderhorse. Di tengah kelompok itu, ada dua orang yang sepertinya adalah bangsawan dalam perang ini. Pakaian mereka sudah kotor dengan jejak darah di beberapa tempat.
Saat aku melihat mereka, mereka juga menoleh ke arahku.
Swos...!
Ada hembusan angin di belakangku yang semakin mendekat. Tidak perlu berbalik badan, aku sudah tahu siapa itu.
Arkne:"Yang Mulia, haruskah kita membunuh mereka?."
Filia:"Tidak. Kita tidak perlu melakukan itu. Biarkan mereka kembali dan membawa berita kekalahan kepada pemimpin mereka."
Aku berhenti sebentar dan memberikan perintah lanjutan kepada Arkne.
Filia:"Perintahkan satu kapal udara untuk mengikuti mereka dan untuk mencegah keluarga kaisar melarikan diri. Biarkan pasukan itu menjadi perintis dan mempersiapkan sambutan untuk kita."
Arkne:"Segera, Yang Mulia."
Arkne segera menghilang seperti hembusan angin. Aku kembali melirik Medan perang yang menyedihkan dan prajurit Xuan Ming yang di tangkap karena menyerah.
Total pasukan Xuan Ming yang tersisa kurang dari 300.000 orang, sementara pasukanku masih memiliki lebih dari 600.000 orang termasuk Tier satu yang masih utuh.
Senjata usang, kubangan lumpur berdarah, anggota tubuh yang terpotong, dan patung es yang di pakukan oleh duri es. segala kesedihan Medan perang dapat di lihat di hamparan yang luas ini. Menjadi catatan hitam menyedihkan dalam sejarah selama berabad-abad.
Filia:"Valkyrie: Requiem...!"
(Akhir dari chapter ini).
Maafkan aku sudah membuat kalian menunggu lama.
Selamat menikmati reader tersayang. Sampai jumpa lain kali...(づ ̄3 ̄)づ╭~