
Filia:"nenek. saya hanya ingin pergi ke kota untuk melihat sesuatu"
Trainee:"apakah ke kota?. kalau begitu nenek akan ikut denganmu".
Filia:"apa nenek tidak masalah untuk pergi ke kota?"
Trainee:"iya. nenek tidak masalah. lagi pula nenek juga bisa mengawasimu supaya tidak melakukan hal-hal yang berbahaya lagi"
ugh... itu agak kejam. aku tidak tahu bagaimana orang lain melihatku, tapi aku tidak mungkin melakukan hal yang berbahaya di kota, oke?!.
karena sudah di putuskan kalau nenek akan ikut, jadi kami semua turun ke lantai pertama. sesampainya di lantai pertama, aku melihat Felmina dan Rurui yang sudah menunggu di depan tangga. Rurui mengenakan pakaian maid seperti biasa, sementara Felmina mengenakan gaun loli merah yang cantik dengan sulaman yang rapi dan rumit. dia terlihat sangat manis.
Filia:"apa kamu sudah siap?"
Felmina:"iya".
Felmina menjawab pertanyaanku dengan antusias. sepertinya dia memang menyukai pergi ke kota. aku memperhatikan nenek yang tersenyum lembut dan melangkah maju untuk memberikan tepukan kepala pada Felmina.
Felmina:"n, nenek?"
nampak dari ekspresinya, bahwa Felmina sedikit terkejut dengan tindakan nenek yang tiba-tiba.
Trainee:"tidak apa. aku cuma mau menepuk kepala cucuku yang manis"
nenek mengatakan itu kepada Felmina dengan kelembutan di matanya. aku sepertinya memahami apa yang coba di lakukan nenek.
meskipun Felmina sudah di anggap sebagai keluarga, tapi nampaknya Felmina masih agak canggung saat bertemu dengan nenek, jadi aku menduga kalau nenek melakukan itu untuk menghilangkan jarak antara dirinya dan Felmina supaya menghilangkan kecanggungan yang tidak nyaman itu.
karena semua orang sudah siap, dan kereta kuda juga sudah menunggu di depan, jadi kami semua berangkat ke kota. aku duduk di kereta putih besar bersama dengan Felmina dan nenek. kereta kuda yang kami naiki di tarik oleh enam kuda putih terbaik. formatnya mirip dengan saat aku pergi ke akademi, tapi kali ini bukan ibu, melainkan nenek. Ilma dan Rurui juga menaiki kereta kuda coklat yang di tarik oleh empat kuda.
setelah semuanya masuk, kusir kuda segera mengendalikan kuda untuk melaju menuju ke kota. kota hari ini nampak sangat ramai, jauh lebih ramai daripada biasanya. berbagai macam kereta berjalan di seluruh kota. di pinggir-pinggir jalan juga terdapat jauh lebih banyak pedagang daripada biasanya.
terdapat banyak kereta mewah, besar, dan kecil yang berlalu lalang. beberapa adalah kereta milik pedagang kaya dan yang lainnya adalah milik dari keluarga bangsawan tertentu. semaraknya kota mungkin di picu oleh pendaftaran siswa akademi hari ini.
Trainee:"kotanya cukup baik, tapi itu masih jauh jika di bandingkan dengan «Lignum»"
Lignum merupakan ibu kota Holy Kingdom. meskipun aku belum pernah melihatnya secara langsung, tapi di buku dan menurut yang di katakan ibu, Lignum merupakan sebuah kota yang jauh lebih besar dan indah daripada ibu kota Regulus. di sana tinggal berbagai macam ras dan suku.
Filia:"apa nenek juga sering pergi ke kota Lignum?"
Trainee:"ya. nenek sepertimu, nenek lebih suka menghabiskan waktu di luar daripada di istana yang membosankan"
Felmina:"saya dengar bahwa di kota Lignum terdapat banyak hal yang indah. apakah itu benar, nenek?"
Trainee:"ya, itu benar. selain seperti apa yang tercatat di buku, di kota Lignum terdapat jauh lebih banyak hal yang mengagumkan".
setelah itu nenek menceritakan banyak hal tentang ibu kota Lignum dan berbagai keistimewaan yang di miliki oleh Holy Kingdom. Felmina nampak sangat tertarik dengan hal-hal yang di ceritakan oleh nenek. bukan cuma Felmina, aku juga tertarik dengan hal-hal itu. melihat dan meneliti hal baru merupakan sebuah kesenangan bagi seorang gamers.
percakapan terus berlanjut hingga kereta berhenti di depan sebuah penginapan tiga lantai. bangunan cukup baik jika di lihat dari luar, lingkungannya juga bersih dan rapi. aku mendapatkan informasi tempat ini dari data yang di serahkan oleh Sebas kepadaku, lalu karena aku belum mengetahui seluk-beluk dari kota ini, aku menyerahkan alamat itu kepada pak kusir. seperti yang aku harapkan dari kusir keluarga bangsawan, mereka sudah menghafal jalan-jalan di seluruh ibu kota.
aku segera turun dari kereta bersama dengan Felmina dan nenek. Ilma dan Rurui juga berdiri dengan tenang di belakang kami. selain kami, ada enam kesatria yang bertugas untuk mengawal kereta kami sepanjang jalan. mereka membungkuk dengan hormat setelah membukakan pintu gerbong. dua dari enam kesatria itu pergi terlebih dahulu ke dalam penginapan untuk melihat kondisi di dalam.
karena tempat itu aman setelah pengecekan kesatria, maka aku segera masuk ke dalam penginapan bersama yang lainnya dengan di dampingi oleh empat kesatria, sementara dua kesatria yang tersisa tetap di luar untuk berjaga-jaga. Memang terdengar berlebihan, tapi di dunia dimana ketertiban tidak sebaik seperti di dunia modern, dan kejahatan masih ada di mana-mana, maka hal itu merupakan hal yang biasa. bahkan tidak jarang seorang bangsawan yang sudah membawa pengawal dan kesatria tetap mendapat serangan atau percobaan pembunuhan.
hal seperti itu biasanya karena murni perampokan atau karena partai politik oposisi yang menyimpan dendam, atau merasa keberadaan dari bangsawan tertentu akan menghalangi jalan mereka. di dunia bangsawan jauh lebih mengerikan di banding dengan alam liar. jika di alam liar mungkin kita menghadapi bandit atau binatang buas, tapi hal itu dapat di atasi dengan kekuatan kasar. itu jauh berbeda dengan dunia bangsawan yang menggunakan berbagai cara untuk dapat menjatuhkan pihak lain demi keuntungan pribadi. bahkan tidak jarang mereka akan menggunakan cara terselubung untuk menyingkirkan lawan politiknya. musuh yang tidak memberikan ancaman tapi langsung bertindak merupakan musuh yang paling menakutkan.
sambil berjalan masuk ke dalam penginapan, aku mengeluh tentang kekejaman politik di dunia ini. sesampainya di dalam, aku melihat banyak orang yang sedang menikmati makanan mereka, lalu mengalihkan perhatiannya pada kelompok kami. yah, itu wajar saja sih. bangsawan yang biasanya di pandang tinggi muncul di depan mereka saat ini.
jika aku menilai dari kondisinya dengan benar, sepertinya penginapan ini kebanyakan di gunakan oleh pedagang dan petualang yang singgah di kota ini. tapi, petualang yang menginap di tempat ini merupakan petualang berpangkat tinggi, itu dapat di lihat dari perlengkapan mereka yang terlihat baik.
aku pergi ke meja resepsionis yang di jaga oleh seorang gadis muda, mungkin sekitar 15-16 tahun. dia mengenakan tutup kepala dari kain dan memakai baju coklat sederhana. dia juga mengenakan celemek yang memiliki beberapa tambalan di atasnya. dia memiliki mata dan rambut yang berwarna hitam kecoklatan. warna rambut yang agak jarang di temui.
Filia:"permisi"
"i, iya. a, ada yang bisa saya bantu?"
aku hanya bertanya dengan santai, kamu tidak perlu sampai segugup itu, kau tahu.
Filia:"apakah anak-anak yang di titipkan oleh Guild Perdagangan ada di sini?"
"a, anak-anak?"
dengan agak takut dan ragu-ragu, gadis itu bertanya dengan sedikit kebingungan.
Filia:"beberapa waktu yang lalu ketua Guild Perdagangan menitipkan sejumlah anak untuk tinggal sementara. apakah anak-anak itu ada di sini?"
mendengar pertanyaanku, gadis itu nampak merenungkan sesuatu. mungkin dia mencoba untuk mengingat soal yang aku tanyakan. setelah beberapa saat, gadis itu nampak mengingat sesuatu dan mengambil sebuah buku tebal dari bawah mejanya. di memeriksa sebentar dan nampak menemukan sesuatu.
"ada sekitar tiga belas anak yang datang kemari beberapa waktu yang lalu. mereka tinggal di lantai tiga bersama dengan dua pelayan yang baru-baru ini datang. a, apakah itu mereka?"
sepertinya itu memang mereka. dan dua pelayan itu mungkin pelayan yang aku sewa untuk mengurus anak-anak itu.
Filia:"panggilkan anak-anak itu. suruh mereka menemui ku".
"b, baik"
gadis itu segera berlari menaiki tangga, sementara aku, nenek, dan Felmina mencari tempat untuk duduk. Ilma dan Rurui berdiri di belakang kami. untuk kesatria, mereka hanya berdiri di suatu sudut sambil memberikan rasa penindasan kepada orang-orang. aku harap orang-orang itu dapat menikmati makanan mereka.
Trainee:"sayang, sebenarnya apa yang terjadi?"
nenek tampak penasaran dan bingung dengan apa yang terjadi. bukan hanya nenek, Felmina juga tampak bingung dengan apa yang terjadi. itu karena saat aku membawa anak-anak waktu itu, aku meninggalkan Felmina di rumah karena dia masih tertidur.
aku ingin menjelaskan semuanya, tapi sebelum itu aku sudah mendengarkan langkah kaki yang terburu-buru dari tangga. aku melihat gadis itu turun dan menghampiriku dengan tergesa-gesa.
"m, mereka sedang mempersiapkan diri nona. mereka akan turun sebentar lagi"
(akhir dari chapter ini)
see you next time :)
jika kalian memberikan saran, aku akan sangat menghargainya.