Still Loved Even In The New World

Still Loved Even In The New World
CHAPTER 127: Obrolan Sederhana.



aku berjalan mendekati pangeran dan yang lainnya. tak lama saat aku berjalan, pangeran dan yang lainnya mengarahkan pandangannya kepadaku.


Sophia:"selamat siang, nona Filia."


Filia:"selamat siang. ada apa ini?."


aku tidak tahu apa yang begitu menyenangkan untuk di bahas di tempat seperti ini, jadi aku bertanya secara langsung.


Sophia:"kami mendengar bahwa, nona akan pindah ke asrama, jadi kami hanya ingin mampir."


"Putri..!"


tiba-tiba aku mendengar suara Ilma dari belakang, jadi aku berbalik dan melihat Ilma sedang membawa cermin yang cukup besar, setidaknya ketinggian cermin itu lebih tinggi daripada diriku sendiri. cermin itu berbingkai kayu tipis dengan ukiran rumit dan indah.


Filia:"apa kamu butuh bantuan?."


Ilma:"tidak, saya baik-baik saja. ini juga sebagai latihan."


mendengar itu, aku menyingkir dan memberi jalan pada Ilma supaya dia bisa membawa cermin itu ke dalam kamar.


Ilma:"maaf, permisi, permisi."


Ilma melewati kami dengan terus mengatakan maaf dan permisi.


Filia:"kalau begitu, silahkan masuk. maaf jika mungkin masih agak berantakan."


begitu Ilma lewat, aku mengundang pangeran dan yang lainnya untuk masuk dan berbicara. di dalam adalah ruangan yang luasnya setengah dari kamarku di mansion, meskipun demikian, kamar ini cukup luas untuk tempat tidur besar dan beberapa meja kursi.


berbeda dari kamarku di mansion yang di dominasi oleh warna putih dan emas, kamar ini di dominasi oleh warna putih dengan aksen biru muda yang terlihat lembut dan elegan.


ada sebuah pintu dan jendela kaca besar yang mengarah ke balkon yang cukup luas untuk dua buah meja bundar dan sepuluh kursi putih bersih yang di bagi sama rata untuk mengelilingi meja bundar itu. jendela kaca itu di lapisi oleh gorden biru muda dengan motif awan tipis di bagian bawahnya.


jarak beberapa meter di dari dinding terdapat sebuah ranjang besar yang di tutupi oleh kelambu biru transparan di sekelilingnya. di sebelah kiri tempat tidur terdapat meja rias biru muda dengan ornamen emas di sekelilingnya. sementara di sebelah kanan di ruang yang cukup luas, di sana terdapat meja persegi dengan tiga kursi di sekelilingnya.


di bagian sudut ruangan juga terdapat piano dengan vas bunga besar di sebelahnya. dalam vas bunga itu terdapat tanaman Sansevieria berwarna hijau yang menambahkan kesan segar di dalam ruangan.


aku cukup puas dengan kamar ini. terlihat nyaman dan rapi, sesuai dengan apa yang aku harapkan.


aku melihat Ilma yang dengan hati-hati membungkuk dan meletakkan kaca besar itu di dekat lemari putih besar di dekat dinding.


meskipun terdengar banyak benda di dalam ruangan, tapi sebenarnya masih menyisakan ruangan yang cukup luas untuk seekor anak anjing berlari-lari dengan bebas. tentu saja aku tidak akan memasukkan anak anjing ke dalam kamar untuk mencobanya.


setelah meletakkan cermin besar itu, Ilma berdiri sambil mengelap dahinya dengan punggung tangan untuk menyeka keringat tipis di dahinya.


Ilma buru-buru berjalan ke arahku dan membungkuk dengan hormat. tentu saja karena aku dan yang lainnya berdiri bersama, jadi Ilma memberikan satu hormat dan mewakili semua orang.


Ilma:"apakah anda puas dengan kamarnya, Putri?."


aku mengangguk dan tersenyum.


Filia:"ya. sangat puas.... Ilma, bawa pangeran dan yang lainnya ke balkon, aku akan menambahkan sesuatu terlebih dahulu."


Ilma:"saya mengerti."


Ilma memimpin pangeran dan yang lainnya untuk duduk di balkon, dimana ada kursi yang cukup untuk menampung semua orang.


aku berjalan ke dekat dinding yang masih menyisakan ruang yang cukup luas. aku mengeluarkan sebuah rak kayu putih yang sedikit transparan. jika ada orang yang melihatnya, tidak akan ada yang percaya bahwa rak ini terbuat dari kayu. itu karena warna putih dari rak ini sangat indah dan alami, seperti mutiara dari tiram berkualitas. sangat jauh dari kata kayu.


rak kayu itu memiliki 3 tingkat. panjang dari rak itu sendiri sekitar 4m, lebar 30cm, dan tinggi 1m. aku meletakkan dudukan untuk biola di rak paling atas. sebuah biola putih mutiara dengan motif mawar biru di atasnya sebagai pengisi untuk hiasan di rak. di samping biola aku meletakkan tempat untuk seruling bambu putih dengan hiasan burung Phoenix yang indah. di samping rak, aku meletakkan dudukan untuk gitar akustik berwarna putih salju dengan gambar kristal es biru muda.


sementara itu, di rak di tengah dan paling bawah, aku meletakkan banyak buku dengan sampul berbagai warna.


meskipun hanya terlihat seperti hiasan, tapi sebenarnya ini merupakan item Tier Epic yang langka. butuh banyak perjuangan untuk mendapatkan item-item ini. dan untuk buku-buku itu, itu adalah buku-buku yang berisi beberapa kisah klasik dari Alterion. aku sebenarnya hanya iseng untuk mengumpulkan buku-buku itu. meskipun demikian, di dalam beberapa buku terdapat pengenalan sihir dan lainnya, jadi itu cukup berguna di dunia ini.


melihat hiasan dengan puas, aku pergi ke balkon dan menemui pangeran dan yang lainnya. mereka berempat telah duduk di sana dengan tenaga sambil meminum teh yang di sediakan oleh Ilma.


balkon ini sendiri langsung menghadap ke arah jalan utama di taman asrama, tempat biasanya siswa berkumpul dan mengobrol santai waktu jam istirahat. karena itu, pemandangan yang di sajikan cukup nyaman untuk menikmati angin, meskipun rerumputan hijau dan bunga yang berwarna-warni telah tertutupi oleh selimut salju putih.


Filia:"maaf karena telah membuat anda menunggu."


aku langsung mengambil tempat duduk yang tersisa.


Filia:"Ilma, kamu bisa istirahat dulu."


melihat Ilma yang berdiri dengan wajah yang sedikit merah karena lelah, aku menyuruhnya untuk beristirahat terlebih dahulu.


Ilma:"terima kasih Putri, saya mengerti."


Ilma pergi dengan patuh dan meninggalkan kami berlima untuk berbicara. jangan melihat bahwa ini adalah musim dingin, tapi di balkon tetap terasa hangat. itu karena di bagian pembatas balkon, terdapat dua kristal merah api yang menyala dan memberikan rasa hangat bagi orang yang duduk di balkon. itulah kenapa banyak siswa yang biasanya duduk di balkon untuk melihat hamparan salju.


aku hanya duduk diam sambil menikmati secangkir teh hangat. ok, sebenarnya aku benar-benar tidak pandai dalam memulai percakapan apapun. bagaimana menurutmu dengan orang yang ditawan di rumah sakit sepanjang hidupnya?, apakah menurutmu dia bisa memulai percakapan dengan mudah?!.


bahkan di dalam game aku hanya bicara seperlunya dan tidak pernah memulai percakapan.


Elion:"jadi nona Filia, apakah anda akan mulai tinggal di asrama siswa mulai hari ini."


pembukaan yang tiba-tiba dari pangeran benar-benar menyelamatkanku dari suasana canggung karena tidak bisa memulai pembicaraan.


Filia:"sebenarnya mungkin belum. saya harus kembali ke mansion malam ini. lusa nenek harus kembali ke Holy Kingdom, jadi nenek ingin saya menemaninya sebelum ia kembali ke Holy Kingdom."


Sophia:"oh. sayang sekali. padahal malam ini saya berniat untuk mengajak nona Filia untuk pergi ke pesta bersama teman-teman yang lain."


Filia:"saya sangat menyesal akan hal ini."


aku tahu tentang hal ini. ibu mengatakan bahwa beberapa anak bangsawan dan siswa lain yang tinggal di akademi akan mengadakan acara pesta untuk sekedar saling mengenal.


Sophia:"tidak, tidak apa-apa, saya bisa mengerti."


aku meneguk teh dan memperhatikan bahwa Aria dan Stern masih duduk di sana dengan canggung. mereka hanya memperhatikan teh mereka tanpa menyentuhnya.


Elion:"oh benar. sepertinya nona Aria masih mengalami beberapa masalah dalam pelatihannya."


seperti yang diharapkan. sebagai seorang pangeran, dia harus pandai dalam memahami kondisi dan perasaan orang lain. yah, karena pangeran sudah menarik ku ke dalam topiknya, jadi aku ikuti saja. lagi pula aku juga tidak pandai dalam mencari topik pembicaraan.


Filia:"Aria, bisa aku melihatnya?. aku akan coba membantumu sebisa mungkin."


Aria mengangguk dan pergi ke samping untuk menunjukkan sihirnya. perlahan, bola cahaya mengembun di tangannya dan memancarkan cahaya yang terang.


aku menatap Aria dengan bingung dan bertanya-tanya. melihat tatapanku, Aria menundukkan kepala dengan semburat merah di pipinya.


Filia:"em... anu... sebenarnya apa yang salah?."


Aria menatapku dengan tidak bisa di percaya. oke, aku benar-benar tidak tahu di mana masalahnya. bukankah ini sudah sihir cahaya.


Aria:"s, saya hanya bisa seperti ini. hanya, hanya bisa menggunakannya untuk penerangan dan tidak ada fungsi yang lain."


aku mengangguk dan tersenyum. kembali ke tempat duduk, aku masih menyeruput kembali teh yang sudah mulai agak mendingin. aku memegang tempat teh dan nyala api putih perak dengan kilatan plasma petir mengembun di tanganku. perlahan, uap panas yang sudah mulai menipis di teko teh, mulai mengepul dan mendidih lagi.


setelah mendidih, aku melepaskan tanganku dan mengisi kembali cangkirku yang sudah kosong.


Elion:"ehemm..... kami sudah mencari berbagai cara untuk pemanfaatan yang lebih luas, tapi kami tidak bisa menemukannya karena tidak ada catatan tentang sihir cahaya."


Filia:"bukankah seharusnya ada dasar dari pengetahuan sihir cahaya?."


Elion:"tidak. sebelumnya sihir cahaya hanya di yakini keberadaannya, tapi belum pernah ada yang melihatnya. kami mengetahui adanya sihir cahaya dari catatan sejarah dan beberapa prasasti yang di temukan setelah penggalian reruntuhan kuno."


Sophia:"saya pernah mendengar bahwa raja pertama ras Harphi menggunakan sihir cahaya. itupun sudah beberapa ribu tahun yang lalu, jadi tidak ada bukti konkret tentang hal itu."


jadi seperti itu. aku baru menyadari bahwa tingkat pengetahuan di dunia ini sedikit lebih tertinggal daripada duniaku yang dulu. dulu di dalam Alterion pemain bisa menggunakan Light Magic dengan mudah karena kami mengetahui kuncinya.


Filia:"itu wajar jika ras Harphi memiliki pengguna cahaya. setidaknya jika ada ras Harphi yang berhasil menembus darah mereka dan menembus tingkat kehidupan yang lebih tinggi, mereka akan berubah menjadi Angel yang memiliki atribut dasar berupa cahaya."


aku sengaja tidak menggunakan konsep Tier satu atau yang lainnya untuk menjelaskan hal ini. itu karena aku bahkan ragu apakah orang-orang ini mengetahui tentang konsep Tier.


Filia:"oke lupakan dulu soal Harphi. kita bahas dulu masalah yang di alami Aria."


Elion:"lalu, apakah anda memiliki jalan keluar, nona Filia?."


aku meminum teh lagi dan tiba-tiba memiliki sebuah pemahaman. sejak awal aku memperhatikan bahwa pangeran tampaknya sangat memperhatikan Aria. apakah mungkin bahwa mereka memiliki hubungan seperti itu di usia muda?!!.


meskipun aku seperti ini, aku juga belajar satu atau dua hal tentang hubungan laki-laki dan perempuan oke!.


aku tidak akan mempermasalahkan hal itu jika memang benar, tapi jika pangeran mendekati Aria karena kemampuannya dan berusaha untuk menggunakannya demi kepentingannya sendiri, maka aku tidak keberatan untuk ikut campur dalam hal ini.


Elion:"n, nona. apakah ada yang salah?."


pangeran bertanya padaku dengan agak canggung dan suara yang tergagap. tanpa sadar ternyata aku memberikan pandangan tajam kepada pangeran. salahkan aku, aku benar-benar tidak menyadarinya.


Filia:"tidak, tidak ada apa-apa."


aku mengalihkan perhatianku kepada Aria yang memusatkan perhatiannya kepadaku.


Filia:"sebenarnya kamu sudah bisa menggunakan sihir cahaya. hanya saja, kamu masih kehilangan kunci supaya sihir cahaya bisa di gunakan lebih fleksibel."


Aria:"kunci?."


Filia:"itu benar. kuncinya adalah pemahaman."


meskipun tidak ada yang berbicara, tapi aku bisa tahu dari wajah mereka bahwa mereka tidak mengerti.


Filia:"aku yakin bahwa kamu bisa menggunakan sihir cahaya seperti ini karena kamu menggunakan penerangan sebagai referensi, bukan?!."


Aria:"s, saya hanya menggunakan batu cahaya sebagai contoh."


Filia:"batu cahaya hanya di gunakan sebagai penerangan. jika kamu menggunakan itu sebagai referensi, maka itu akan membatasi penggunaan sihir cahaya milikmu."


aku kembali berdiri dan membuat bola cahaya di tanganku. bola cahaya ini berwarna putih emas yang sangat terang. bola cahaya yang terang itu semakin meredup dan akhirnya hanya menjadi secerah cahaya yang di keluarkan oleh Aria.


Filia:"cahaya memiliki sifat. yang perlu kamu pahami adalah sifat dari cahaya itu sendiri. dengan memahami sifat itu, kamu bisa memanfaatkan cahaya."


Filia:"jika cahaya itu lemah, itu hanya akan menjadi penerangan, tapi jika cahaya cukup kuat, itu dapat menjadi senjata yang paling mengerikan. apakah kamu tahu bahwa hal yang paling cepat di alam semesta adalah Foton?!.


cahaya merupakan paket Foton yang bergerak sangat cepat. tapi mari tinggalkan pemahaman yang rumit itu.


hal pertama yang perlu kamu pahami adalah cahaya itu sendiri. cahaya dapat menghasilkan energi dalam bentuk panas. semakin terang cahaya, maka akan semakin tinggi suhu yang dapat di hasilkan. akan sulit memanfaatkan suhu ini, tapi ada satu cara yang paling sederhana."


aku merubah bola cahaya di tangan menjadi ribuan keping yang lebih kecil dari kunang-kunang. partikel Cahya itu mengelilingi di sepanjang lenganku, dan aku mengulurkan tanganku ke arah patung wanita air mancur di tengah taman.


partikel cahaya itu bergerak dan berkumpul kembali dengan sangat cepat di telapak tanganku. kemudian, seberkas cahaya laser seukuran pensil tertembak lurus ke arah leher patung itu. kepala patung itu jatuh dan masih menyisakan asap serta bekas terbakar yang sangat halus dan rapi di leher patung itu. bukan hanya leher patung, ubin beku di belakang patung itu juga memiliki celah dalam seukuran pensil yang masih berasap karena suhu tinggi.


aku berbalik dan menatap kembali kepada orang-orang yang bengong di belakangku.


Filia:"jika cahaya di pusatkan dan di kumpulkan dalam satu titik, cahaya itu akan menghasilkan suhu panas yang sangat tinggi hingga bahkan mampu melelehkan logam. perlu kamu ketahui, cahaya di kenal sebagai elemen sihir yang memiliki penetrasi yang sangat kuat karena suhu tinggi yang di hasilkan. jika level sihir cahaya cukup tinggi, bahkan armor kelas atas pun dapat di tembus dengan mudah."


aku melambaikan tangan dan sebuah buku muncul di tanganku. ini hanya buku yang tidak berguna bagiku, tapi buku ini menyimpan pengetahuan tentang cahaya di dalamnya, jadi aku pikir buku ini akan bermanfaat untuknya.


Filia:"ambil buku ini. ini akan banyak membantumu."


Aria nampak ragu-ragu untuk menerima buku itu, tapi setelah beberapa paksaan dariku, dia akhirnya mau menerimanya.


putri Sophia menjadi sangat aktif dan melemparkan banyak pertanyaan kepadaku dengan mata berkilau. yah, syukur jika putri tidak terlalu gugup seperti pertemuan pertama kami.


Sophia:"nona Filia, saya mendengar bahwa masih ada sihir kegelapan yang juga sangat langka. apakah anda tahu tentang sihir kegelapan?."


Arsh:"b, bukankah itu sihir yang jahat?!."


sepanjang percakapan tadi, ini adalah pertama kalinya Stern mengambil inisiatif untuk berbicara.


Elion:"ya. dalam buku selalu di sebutkan begitu."


aku meletakkan cangkir teh dan mengutarakan ketidaksetujuanku tentang pendapat itu.


Filia:"Darkness Magic bukanlah sihir jahat. sebenarnya semua sihir itu bisa baik atau jahat tergantung dari penggunanya. sama seperti pisau, jika koki yang menggunakannya, itu akan di gunakan untuk mengiris dan mengolah bahan makanan, tapi jika pisau di gunakan oleh pembunuh, maka pisau itu akan di gunakan untuk melukai seseorang. jadi tidak peduli apa itu, itu akan berbeda fungsi tergantung dari orang yang menggunakannya. sebenarnya saya cukup baik dalam sihir kegelapan."


mata putri Sophia menyala dan berkilau. dia dengan tidak sabar mendesak ku untuk menjelaskan tentang sihir kegelapan.


ughh.... aku tidak tahu akan sampai mana obrolan sederhana ini akan berlangsung. huh...!


aku mengambil nafas dalam dan menjelaskan kepada yang lain apa yang aku ketahui.


(akhir dari chapter ini)


ada kesalahan bisa langsung tandai di kolom komentar. see you next time:)